GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 9 (Felica Pingsan)


__ADS_3

Caca mengerjapkan matanya, tangannya masih memegang perutnya yang semakin sakit, kepalanya pun sangat pusing hingga pandangan sedikit kabur namun dia memaksa nya untuk bangun. Ya dia harus bisa menahan semuanya karena dia tidak mau terlihat lemah di mata Alvaro.


"Nyonya Felica" Ucap Lisa berdiri di depan pintu.


"Lisa"


"Iya ini saya Nyonya, Saya membawa makanan juga minuman. Anda harus minum juga makan nyonya."


"Kenapa kamu kesini Lisa, kamu bakal kena hukuman."


"Tidak Nyonya, Nyonya belum makan dari kemarin.


Sekarang lebih baik Nyonya segera makan sebelum penjaga datang."


Lisa sengaja datang lebih pagi dan membawa makan juga minuman untuk Felica. Dia bahkan secara diam-diam datang ke ruang bawah tanah untuk memberikannya.


"Tapi Lisa, kamu bakal kena hukuman."


"Astaga Nyonya wajah Anda sangat pucat, lebih baik Anda makan dulu."


Felica menggeleng, dia tidak mau jika Lisa kembali di hukum karena menolong dirinya.


"Nyonya anda kenapa?"


Pandangan Felica semakin buram bahkan dia sedikit menghilang hingga tubuhnya tumbang ke lantai membuat Lisa berteriak histeris.


"Nyonya Felica"


Beberapa penjaga yang sedang berjalan langsung berlari,,


"Lisa, ada apa?"


"Nyonya, Nyonya Felica pingsan."


Penjaga pun langsung membuka kunci pintunya, dan benar saja Felica tergeletak di lantai dengan wajah yang sangat pucat.


"Bagaimana ini?"


"Ada Apa?" Ucap Suara Bariton yang sangat mereka kenal.


Alvaro berjalan mendekat.


Dia memang berniat melihat Felica, gadis yang selalu membatah semua ucapannya.


"Tu- Tuan" Kaget Lisa menunduk.


Alvaro tidak menghiraukan, dia menatap Felica yang tergeletak di lantai dengan wajah sangat pucat.


****, Umpatnya langsung membopong tubuh Felica.


"Panggil Gabriel sekarang."


Lisa segera mengekorinya, sementara Lendra yang melihatnya segera menghubungi Gabriel untuk segera datang ke mension.


Sandra yang melihat Alvaro membopong tubuh Felica dengan wajah khawatir pun mengepalkan tangannya.


Selama ini dia berusaha menggoda dan mengambil perhatian Alvaro namun tidak sama sekali berhasil namun gadis yang baru saja satu bulan berada di mension berhasil membuat Alvaro khawatir.


Lisa yang melihat Sandra pun menghampirinya.


"Kenapa wajah kamu Sandra?"


Sandra menatap Lisa malas, dia sangat tau bagaimana Lisa yang selalu tidak pernah dekat dengannya.


"Kamu lihat bagaimana Tuan sangat khawatir dengan keadaan Nyonya Felica? jadi buang jauh-jauh niatan kamu untuk mendapatkan Tuan Alvaro karena itu tidak akan pernah terjadi."

__ADS_1


Lisa berjalan masuk ke dalam dapur.


Walaupun dia pun sangat khawatir dengan keadaan Felica, namun melihat Sandra yang kepanasan membuat dia senang.


Gabriel yang langsung datang setelah mendapatkan telpon dari Lendra pun segera masuk ke dama mension.


"Dimana Alvaro." Ucapnya khawatir.


Gabriel merupakan Dokter keluarga yang juga tidak lain merupakan teman satu kampus Alvaro. Mereka cukup dekat dan berteman sejak lama. Bukan hanya dengan Daniel dan Miko saja. karena mereka berempat memang sudah dekat dari bangku kuliah.


"Silahkan di kamar Dokter Gabriel."


Gabriel yang mengerti segara berjalan menuju kamar Alvaro, karena yang dia tau jika Alvaro lah yang sakit.


"Di kamar sebelah Dokter." Ucap Lendra saat Gabriel yang akan masuk ke dalam kamar Alvaro.


Tanpa menunggu lama Gabriel membuka pintu kamar, matanya menatap tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Alvaro duduk di samping seorang gadis yang terbaring lemah dengan wajah pucat.


"Apa sudah bosan hidup?" Ucap Alvaro yang memang sangat tidak suka akan menunggu.


"Cih, bahkan gue langsung meninggalkan pasien yang sekarat karena Pak Lendra telpon. gue kira Lo yang sakit tapi ternyata?" Ucapan Gabriel terpotong karena dia memang tidak tau siapa gadis cantik itu.


"Dia-


"Periksa dia atau Rumah sakit bakal aku tutup."


"Ya Ya ya"


Gabriel langsung membuka tas yang dia bawa dan langsung memeriksa keadaan Felica.


Gabriel menghela napasnya.


"Apa Lo siksa dia"


"Gue bakal infus dia, dan setelah bangun dia harus makan juga minum karena dia dehidrasi juga dia punya riwayat mahgh."


Alvaro terus menatap Gabriel yang sedang memasang infus di tangannya.


"Al, Lo masih hutang penjelasan soal gadis ini."


"Dia hanya penjamin hutang."


"Jadi hanya karena dia hanya jaminan hutang Lo siksa dia. Lo liat Tubuhnya sangat kurus."


Alvaro menatap tak Gabriel.


"Bukan urusan Lo."


Gabriel menghela napasnya.


Dia sangat mengenal Alvaro, dia tau jika Alvaro berubah setelah kejadian waktu itu.


"Gue udah kasih vitamin di dalam infusnya, nanti gue kirim obatnya. satu lagi dia memiliki sakit mahgh jadi dia harus makan teratur."


Lagi dan Lagi Alvaro hanya diam.


"Gue balik ke Rumah sakit dulu. kalau ada apa-apa telpon gue.* Ucap Gabriel membereskan semua alat-alatnya dan berjalan keluar.


Alvaro yang masih berada di kamar pun masih menatap wajah Felica. Wajah yang begitu damai dengan tidurnya.


Bayangan semua soal Felica pun terlepas jelas di ingatnya. Bagaimana selamat ini hidup Felica yang hanya dijadikan alat untuk memberikan uang oleh keluarga Pamannya. Kehidupan yang sangat pahit Felica alami setelah kematian kedua orangtuanya.


namun, Alvaro segera mengelak semua pikirannya dia beranjak bangun dan terlihat Lisa yang berada di luar.

__ADS_1


"Kamu jaga dia dan kabari saya jika dia bangun."


"Baik Tuan."


Lisa berjalan mendekat.


Di tatapnya lekat wajah Felica yang masih tertidur, selang infus di tangannya dengan wajah sangat pucat membuat Lisa ikut merasakan kesedihan.


Sebulan mengenal Felica, membuat Lisa tau bagaimana sifat asli dari Felica.


Menurut Lisa, Felica merupakan wanita yang sangat baik dan periang.


"Cepat bangun Nyonya, saya khawatir melihat Anda seperti ini.". Batin Lisa terus menatap wajah cantik Felica walaupun terlihat sangat pucat.


Alvaro yang baru saja menuju lantai bawah pun tidak sengaja berpapasan dengan Sandra yang akan berjalan menuju dapur.


Alvaro mengacuhkannya dan berjalan melewati Sandra begitu saja, namun melirik atau menatapnya.


Padahal Sandra sengaja berjalan lebih pelan untuk bisa bertemu dengan Alvaro.


Miko yang sudah sampai di mension pun segera berdiri dan menatap Alvaro yang berjalan mendekat.


Alvaro memberitahu Miko untuk membawa semua berkas yang harus dia tandatangani ke mension, karena hari ini Alvaro tidak akan ke perusahaan.


"Selamat pagi Tuan."


"Hem"


Alvaro duduk di ikuti Miko yang Langsung membedakan beberapa berkas yang dia bawa dari Kantor.


"Kamu handle semua hari ini dan kabari Saya."


Miko mengangguk.


Walaupun mereka berusaha, namun Miko terlihat begitu menghormati Alvaro dan dia sudah bekerja lama dengan Alvaro karena bagaimana pun Alvaro pernah membantu keluarganya. dan sebagai balas jasa Miko bekerja dengan Alvaro di perusahaan.


"Baik Tuan, Saya Permisi."


"Sudah berapa kali gue bilang, panggil gue Alvaro jika kita tidak sedang di Kantor."


"Sorry, kebiasaan gue."


Alvaro hanya diam dan menatap beberapa berkas di hadapannya.


"Oya tadi gue Lihat Gabriel,-


"Gadis itu pingsan."


"Maksud nya, Felica."


"Siapa lagi kalau bukan Gadis tawanan gue."


Miko menggeleng.


Namun dia tidak mau ikut campur dengan masalah Felica.


"Gue balik ke Perusahaan dulu."


"Hem"


Miko beranjak bangun dan keluar dari mension.


Beberapa penjaga tampak menunduk saat melihat Miko berjalan.


"Saya balik dulu."

__ADS_1


"Silahkan Tuan Miko."


Miko mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya.


__ADS_2