
Prang..!!
Alvaro langsung beranjak bangun setelah dia mendengar suara pecahan. Bahkan dia segera berlari menuju lantai dua dimana suara pecahan itu.
Felica menatap pecahan gelas di lantai, dia mencoba beranjak untuk membersihkannya namun suara seseorang membuatnya berhenti.
"Tetap di sana." Bentak Alvaro membuat Felica terdiam.
Alvaro berjalan masuk dan menghampiri Felica, dia pun meminta Sandra untuk membersihkannya.
"Kamu bersihkan pecahan itu, jangan sampai masih tersisa."
"Baik Tuan."
Alvaro membantu Felica naik ke atas ranjangnya, dia terlibat begitu khawatir dengan Felica. sedangkan Sandra yang berada di sana pun hanya bisa membersihkan lantai yang terdapat pecahan gelas.
"Ma- Maaf Al aku tidak sengaja." Ucap Felica yang ketakutan.
Alvaro menghela napasnya dan menatap Felica yang terlihat ketakutan.
"Apa kamu tidak kenapa,?"
Felica menggeleng.
"Aku cuma ingin ke kamar mandi, tapi tidak sengaja menyambar gelas itu."
Alvaro tidak menjawabnya, namun dia langsung membopong tubuh Felica.
"Al"
"Diam atau kamu akan jatuh."
Felica terdiam dan membiarkan Alvaro membawa ke kamar mandi melewati Sandra yang masih berada di sana. bahkan dia semakin kesal dengan sikap mereka.
"Dasar perempuan tidak tau diri, dia sengaja melakukan itu supaya Tuan Alvaro semakin peduli dengannya. Aku tidak akan pernah biarkan itu terjadi."
Alvaro mendudukkan Felica di atas kloset,,
"Ka- kamu keluar dulu."
"Aku di depan, panggil kalau sudah selesai."
Felica mengangguk dan menatap Alvaro yang berjalan keluar. Dia pun menghela napasnya.
Alvaro masih setia berdiri di depan pintu kamar mandi, menunggu Felica yang berada di dalam kamar mandi.
"Tuan semua sudah bersih."
"Kamu bisa keluar."
"Tapi anda belum makan."
"Al, aku sudah selesai." Teriak Felica dari dalam kamar mandi.
Alvaro membuka pintu dan masuk ke dalam tanpa menghiraukan ucapan Sandra. Bahkan Sandra masih berdiri di sana hingga menatap Alvaro yang kembali menatap Alvaro yang begitu perhatian dengan Felica.
__ADS_1
Felica menatap Sandra yang masih berdiri di sana.
"Maaf Tuan, Anda belum makan dari siang."Ulang Sandra membuat Felica menatap Alvaro.
"Kamu kenapa tidak makan Al, sekarang kamu makan dulu aku gapapa."
"Aku tinggal sebentar saja kamu sudah pecahin gelas bagaimana aku tinggal lama."
"Astaga Al, aku tidak sengaja pecahin nya."
"Bagaimana jika tadi terkena tangan atau kaki kamu."
Felica terdiam, apa maksud ucapan Alvaro. apa dia mengkhawatirkan dirinya atau dia hanya merasa di rugikan karena gelas mahal yang dia pecahkan.
"Maaf" Ucap Felica menunduk.
Alvaro mengusap wajahnya kasar, bukan bermaksud untuk menakuti gadisnya namun dia hanya khawatir jika terjadi sesuatu dengannya.
"Sekarang kamu istirahat." Ucap Alvaro dan Felica mengangguk.
Alvaro membantu menyelimuti tubuh Felica dan dia duduk di tepi ranjang dengan masih menatap Felica yang telah menutup matanya.
Alvaro menatap pintu kamar yang kembali terbuka, Sandra datang dengan membawa nampan berisi makan juga segelas air putih.
"Ini makanan Anda Tuan."
"Letakkan di meja."
Sandra mengangguk dan meletakkannya, dia menatap Alvaro yang setia menemani Felica seharian ini bahkan dia sampai melewatkan makan siang juga makan malam hanya untuk menemani Felica.
"Maaf Tuan."
"Sekarang keluar, Felica harus istirahat."
"Baik Tuan."
Sandra melangkah keluar, sebenarnya dia sangat ingin bicara dengan Alvaro namun dia takut jika malah membuat Alvaro marah dan menghukumnya.
Felica yang sudah terlelap pun membuat Alvaro menghela napasnya. Hanya dengan Felica dia bisa bersikap seperti ini membatalkan bertemu klien, melewatkan makan malam dan meluangkan waktu kosong hanya untuk menemaninya.
"Kamu hanya seorang Gadis tawanan, Gadis yang di jadikan Jaminan hutang paman kamu tapi kenapa aku sangat sulit untuk membenci ataupun bahkan menyiksa kamu. Begitu pilu kehidupan kamu sebelumnya membuat aku sangat sulit melakukan semua itu."
Ting..
Sebuah pesan masuk di ponsel Alvaro membuat sang empunya membukanya pesan dari Daniel yang memintanya untuk kembali datang ke Club malam ini. karena sudah lama dia tidak datang.
Alvaro menatap Felica, dia tidak berniat untuk kembali meninggalkannya. walaupun Alvaro hanya duduk di Club tanpa minum namun dia memang sering datang ke sana.
Setelah membalasnya, Alvaro kembali menyimpan ponselnya. Dia berjalan menuju sofa dan kembali membuka Laptopnya. Melupakan perutnya yang juga belum terisi sejak siang. Rasanya tidak lapar.
********
Sementara Daniel menautkan kedua alisnya membaca pesan balasan dari Alvaro. Jika dia menolak datang dan sedang sibuk.
Namun Daniel tau jika Alvaro sudah pulang sejak siang tadi setelah Miko memberitahukannya.
__ADS_1
"Wow tumben sekali seorang Dokter Gabriel datang ke Club." Ucap Daniel saat melihat Gabriel masuk ke dalam ruang VVIP dimana biasa mereka kumpul.
"Dokter juga butuh refreshing."
Daniel terkekeh dan memanggil pelayan untuk membawakan minuman.
"Lo mau minum?"
"Dokter tetap harus menjaga kesehatan."
"Gaya Lo, tapi Lo datang ke Club dan merokok."
Gabriel tidak menghiraukannya dan tetap menyesap rokok di tangannya.
"Lo tau Varo sibuk?"
Gabriel menautkan keningnya,
"Ya sibuk, walaupun gue tau sahabat gue itu Pengusaha Sukses tapi dia selalu datang ke sini tapi beberapa hari gue ajak dia nolak terus."
Gabriel tersenyum.
"Pasti sibuk apalagi gadisnya sedang sakit."
"Hah apa Lo bilang?"
"Lah Lo belum tau kalau Alvaro menyimpan seorang gadis di mension."
Daniel menggeleng.
Selama ini dia tau jika Sahabatnya itu anti dengan yang namanya perempuan. Apalagi membawanya ke mension.
"Gak usah becanda deh Lo, gue tau gimana anti nya Alvaro sama cewek."
"Terserah."
"Tapi gue penasaran kenapa Lo bisa tau, Miko juga gak ada cerita sama gue."
"Dua kali gue ke mension untuk periksa keadaan perempuan itu."
"Tunggu-tunggu,, Jadi Lo udah liat tuh cewek."
Gabriel mengangguk.
"Cantik?"
"Dia hanya seorang gadis kecil, tapi cantik sih. kulitnya putih mulus dan,-
"Wah gue bilang Alvaro, Lo Muji gadisnya bisa mampus Lo." Ucap Daniel terkekeh membuat Gabriel menatapnya tajam.
Memang Antara Alvaro, Daniel, Gabriel juga Miko memang sudah berteman lama bahkan mereka bersahabat. Hanya Miko lah yang bekerja dengannya berbeda dengan Gabriel yang memilih menjadi seorang dokter dan Daniel yang hanya menikmati usaha keluarganya.
******
Alvaro menatap jam yang ternyata sudah pukul 12 malam, dia memijat pelipisnya yang sedikit pusing. Mungkin karena dia terlalu lelah juga melewatkan makan membuatnya pusing.
__ADS_1
Alvaro melirik Felica yang masih terlelap, dia pun berjalan mendekat. Di tatapnya wajah damai Felica saat tertidur perasaannya begitu tenang di setiap menatap wajah Felica. Dia pun duduk di sana dengan terus menatap wajah Felica. Karena cukup lelah membuat Alvaro akhirnya ikut membaringkan tubuhnya di samping Felica dengan masih menghadapnya. Tidak butuh waktu lama akhirnya Alvaro pun ikut terlelap.