
Alvaro Sampai di Perusahaan dan langsung sibuk dengan beberapa berkas yang harus dia tangani juga banyaknya email masuk untuk mengajaknya kerjasama padahal selama ini banyak perusahaan yang langsung di tolaknya namun mereka tampak tidak putus asa untuk bisa bekerjasama sama Dengannya.
"Permisi Tuan. Perusahaan Humala terus menghubungi kita, mereka menanyakan soal kerjasama yang mereka ajukan." Ucap Isabella.
"Katakan jika Saya menolak kerjasama mereka."
"Tapi Tuan, mereka,-
"Apa kamu tidak mendengarnya?"
"Baik Tuan."
Isabella terus menatap Alvaro yang sama sekali tidak menatapnya, padahal dia sengaja mengubah penampilan nya agak bisa di lirik oleh bosnya namun tetap saja Alvaro cuek.
Isabella pun berjalan keluar.
Alvaro menyandarkan tubuhnya, dia teringat dengan Felica apa yang sedang dia lakukan di mension. Melihat senyuman membuat Alvaro ikut merasa senang.
Tok,,
Tok,,
"Masuk"
Isabella kembali masuk dengan membawa minuman, dia berjalan mendekat dan meletakkan kopi di meja Alvaro.
"Saya buatkan kopi susu untuk Anda Tuan, karena Saya lihat anda begitu sibuk hari ini. Atau Anda juga mau pijatan. Saya bisa melakukannya jika memang Anda menginginkan nya."
Alvaro menatap Isabella yang tampak tersenyum.
Isabella berpikir jika Alvaro akan setuju, hingga membuatnya semakin dekat dan kedua tangannya akan menyentuh bahunya.
"Saya akan memotong tangan kamu jika menyentuhnya."
Deg.!
Isabella langsung menarik tangannya, dia pun berjalan mundur.
"Keluar dan bawa kopi ini."
"Ta- tapi Tuan."
"Saya paling tidak suka bantahan."
Isabella langsung Keluar dengan membawa kembali minumannya. Dia tau jika Alvaro paling tidak suka orang yang menentangnya. Di Perusahaan setiap Ucap Alvaro adalah sebuah perintah dan tidak ada satu orang pun yang berani dengan semua perintahnya.
Miko yang akan masuk pun heran dengan sikap Isabella.
"Lo kenapa Bel?"
"Bukan urusan Lo."
Miko menautkan kedua alisnya, dia pun membuka pintu ruang Alvaro dan masuk ke dalam.
Isabelle memang salah satu teman satu kampus mereka dan selama ini Isabella terkenal menyukai Alvaro namun sikap Alvaro yang selalu dingin dan menolaknya.
"Maaf Tuan"
"Ada apa?"
"Di bawah ada Johan, dia ingin bertemu dengan Anda bahkan dia datang bersama Istrinya."
__ADS_1
Alvaro mengernyit.
"Mau apa mereka kemari?"
"Mereka hanya bilang ingin bertemu Anda Tuan."
"Kita keluar temui mereka."
"Baik Tuan."
Miko mengikuti Alvaro yang berjalan keluar.
Sementara Johan beserta Mariska yang berada di Lobi perusahaan menatap kagum bangunan tinggi nan megah bahkan dengan penjagaan ketat di sana.
Dia sangat yakin jika pemilik Perusahaan ini yang tidak lain adalah Alvaro memang begitu kaya Raya.
"Lihat Pa, kantornya saja seperti ini. Jika hanya uang 100juta lagi tidak ada apa-apa nya bagi dia." Bisik Mariska.
"Mama benar, Papa bahkan baru datang ke kantornya bagaimana dengan rumahnya."
Di saat keduanya sedang menatap takjub Perusahaan Alvaro, tiba-tiba seseorang datang menghampiri nya.
"Mau apa lagi kalian datang." Ucap Alvaro dingin.
Johan dan Mariska menatapnya, mereka pun beranjak bangun.
"Tuan Alvaro bagaimana kabar Anda." Ucap Johan basa-basi.
"Saya tidak ada waktu, jadi langsung saja apa tujuan kalian kemari."
Johan tersenyum.
"Saya mau meminta uang 100juta."
"Uang?"
"Uang 100juta bagi Anda tidak banyak, lagian Anda mendapatkan Felica yang masih perawan bahkan Anda bisa terus bermain dengannya." Ucap Mariska tanpa malu.
"Felica itu keponakan Anda, kenapa Kalian menjualnya."Ucap Miko
"Dia memang keponakan saya, tapi Uang lebih penting buat kamu."
Alvaro sekarang tau bagaimana kehidupan Felica, bagaimana sikap mereka terhadap dirinya.
"Bukannya saya sudah memberikan uang itu."
"Anda benar sudah memberikan uang itu, tapi menurut saya jika hanya uang 200juta itu tidak setara dengan apa yang sudah kami berikan."
Alvaro semakin tidak mengerti.
"Menurut Anda Felica itu sebuah barang yang dengan gampangnya di perjual belikan?."
Johan juga Mariska hanya diam, mereka saling pandang.
"Setelah semua yang sudah kalian lakukan terhadapnya, mengambil harta orang tuanya setelah sebelumnya kalian lebih dulu membunuh mereka."
Deg.
Johan terdiam, dia tidak menyangka dengan apa yang di katakan oleh Alvaro.
"Ma- Maksud Anda?"
__ADS_1
"Kalian hanya buang-buang waktu saya, saya peringatkan Felica itu sekarang sudah menjadi orang saya dan saya tidak akan pernah membiarkan siapapun termasuk kalian menganggunya."
Alvaro berjalan masuk dan meninggalkan Johan dan Mariska yang berdiri mematung di sana.
"Kalian urus mereka." Titah Miko kepada beberapa penjaga di sana.
"Silahkan keluar."
"Lepas, kami bisa keluar sendiri." Ucap Mariska yang langsung nyelonong keluar.
Isabella yang juga melihat semuanya, bahkan dia mendengar apa yang sudah Alvaro katakan merasa aneh juga bingung siapa orang yang mereka ributkan.
"Tadi Alvaro bilang Felica, siapa dia sebenarnya kenapa Alvaro terlihat begitu marah dengan kedua orang itu. Apa dia kekasih Alvaro.?
Tidak Tidak, bahkan selama ini Alvaro tidak terlihat dekat dengan siapapun setelah hubungannya kandas beberapa tahun yang lalu. lantas siapa Felica?"
Isabella kembali melangkah masuk, dia akan mencari tau siapa orang yang mereka maksud.
Di dalam ruangannya Alvaro tampak marah, bagaimana bisa Johan kembali meminta uang kepadanya.
"Tuan" Ucap Miko.
"Pastikan mereka tidak lagi datang ke Perusahaan."
"Baik Tuan." Ucap Miko keluar dan tanpa sengaja dia berpapasan dengan Miko di sana.
"Tuan Miko."
Miko menautkan kedua alisnya, Isabella yang memang sengaja menunggu Miko pun segera menghampiri.
"Kenapa Bel."
"Siapa orang tadi kenapa mereka sama sekali tidak punya sopan santun."
"Hanya orang-orang kecil."
"Tapi mereka menyebut Felica, memangnya siapa dia?"
Miko menatap Isabella.
Dia tau jika wanita di hadapannya ini sedang mencari tau apa yang terjadi.
"Bukan siapa-siapa, lebih baik kamu kembali bekerja sebelum Tuan Alvaro semakin marah." Ucap Miko berjala. meninggalkan Isabella yang masih dengan rasa penasarannya.
Baik Johan ataupun Mariska terlihat sangat emosi karena tidak bisa mendapatkan uang dari Alvaro.
Padahal mereka sudah begitu yakin jika mereka akan kembali mendapatkan uang.
"Bagaimana ini Pa, kita tidak mendapatkan uang lagi."
"Papa juga bingung Ma, tapi kenapa Alvaro bisa tau semuanya. Siapa sebenarnya Alvaro."
Mariska mengangguk.
"Papa bener, tapi bagaimana jika Alvaro malah melaporkan kita ke polisi Pa. Mama tidak mau ya masuk penjara."
"Mama tenang ya, Papa Yakin jika Alvaro tidak akan berani melaporkan kita ke polisi. Bagaimana pun Alvaro juga salah karena dia menahan seorang perempuan "
Johan tersenyum.
Kali ini dia bisa mendapatkan cara untuk bisa kembali mendapatkan uang dari Alvaro.
__ADS_1
Bagaimana pun Polisi juga akan menangkap Alvaro karena dia sudah menjadikan seorang wanita sebagai tawanan di rumahnya.
Melisa yang melihat bagaimana yakinnya Johan pun tersenyum. Dia yakin jika suaminya bisa kembali mendapatkan uang.