
Caca duduk di tepi ranjang setelah selesai membersihkan tubuhnya, dia masih penasaran dimana Pelayan kemarin kenapa bahkan setelah dua hari dia tidak bertemu dengannya dan dari kemarin pelayan lain lah yang selalu masuk ke dalam kamarnya.
"Permisi Nyonya, ini sarapan untuk Anda."
Caca langsung menoleh, matanya menatap pelayan yang dulu datang kembali. Dia segera beranjak bangun.
"Kamu tidak kenapa-kenapa kan?" Ucap Caca khawatir.
"Saya tidak apa-apa Nyonya."
"Terus dari mana saja kamu kemarin?"
"Saya hanya,-
"Tunggu, kenapa dengan wajah juga tangan kamu kenapa begitu banyak memar."
"Itu akibat kamu yang tidak menurut dengan semua perintah saya." Ucap Alvaro tiba-tiba masuk.
"Tuan"
"Ma-maksud Anda?"
"Dia lah yang bertanggung jawab dengan semua kebutuhan kamu, jadi selama kamu terus melawan saya maka dia lah yang akan mendapatkan hukuman."
Caca menggeleng.
"Jadi turuti semua perintah saya jika kamu memang tidak mau dia saya hukum."
Alvaro berjalan keluar setelah mengatakannya, sementara Caca menatap pelayan yang masih setia berdiri di sana.
"Saya minta maaf, karena saya kamu mendapatkan hukuman."
"Tidak Nyonya, ini memang konsekuensinya jika salah salah dalam bekerja."
Caca meras sangat bersalah, dia tidak tau jika nantinya akan menjadi seperti ini.
"Nyonya silahkan sarapan"
Caca mengangguk Dia tidak mau membuat semua orang menderita karenanya.
"Apa itu sangat sakit?"
"Tidak Nyonya."
"Siapa nama kamu?"
"Saya Lisa Nyonya."
"Lisa, kamu mau berteman dengan saya?"
"Tapi Nyonya saya hanya seorang pelayan di mension ini."
"Memangnya kenapa, apa kamu tidak mau berteman dengan Saya?"
"Bukan seperti itu Nyonya."
"Lantas?"
"Baik Nyonya saya mau berteman dengan Anda."
"Terima kasih Lisa, sekarang kita berteman."
Lisa tersenyum dan mengangguk.
Caca kembali menikmati sarapannya, setidaknya dia merasa senang karena memiliki seorang teman di mension ini.
Alvaro yang baru saja selesai sarapan pun segera keluar.
__ADS_1
Terlihat beberapa pengawal langsung menundukkan kepalanya.
"Silahkan Tuan" Ucap Miko membuka pintu mobil.
Alvaro masuk ke dalam di susul Miko yang kemudian melajukan mobilnya keluar Halaman mewah Mension milik Alvaro.
"Miko"
"Ya Tuan"
"Cari tau semua tentang Gadis itu dan segera laporkan ke saya hari ini juga."
"Baik Tuan"
Alvaro kembali diam dan membuka tabletnya, dia membuka semua email masuk dari banyak perusahaan yang mengirimkan proposal kerjasama.
Semua sangat ingin bekerja sama dengan Perusahaan Vernans yang sangat terkenal dalam dunia Bisnis.
Namun, Alvaro tetap saja sangat teliti dalam setiap melakukan projek kerjasama. Dia tidak sembarangan menerima kerjasama dari mereka karena bukan tanpa sebab karena sudah pasti mereka hanya ingin membuat Perusahaan mereka naik daun karena bisa bekerjasama dengan Perusahaan Milinya.
Mobil sampai di depan sebuah Gudang mewah nan tinggi, Miko membuka pintu mobil dan mereka berjalan masuk.
"Selama Pagi Tuan" Sapa setiap karyawan yang bekerja di sana.
Alvaro terus berjalan tanpa menatap mereka, walaupun sikapnya yang sangat dingin dan kejam namun semua karyawannya sangat betah bekerja di sana. Bukan tanpa sebab, karena Alvaro memang peduli dengan semua Karyawan nya.
"Maaf Tuan, hari ini Anda ada janji untuk bertemu dengan dua Pemimpin Perusahaan yang ingin kembali mengajak kerja sama."
"Kapan?"
"Siang ini juga sore nanti, karena mereka akan kembali ke Negara nya malam ini."
"Siapkan semuanya dan kita setujui pertemuan itu."
"Baik Tuan"
"Baik Tuan."
Miko berjalan keluar.
Selama di Perusahaan, Miko lah yang selalu membantu Alvaro. Miko yang sebenarnya memang sahabat sekaligus teman kuliahnya dulu dan hubungan mereka sangat dekat. Namun jika berada di Perusahaan Miko akan bersikap profesional.
Alvaro membuka laptopnya dan langsung tersambung dengan CCTV di dalam kamar Caca.
Alvaro menatap Caca yang hanya duduk di sofa dan berpindah di kasur, berbaring dan kembali duduk.
Selama berada di Mension, Caca memang sama sekali tidak di perbolehkan keluar kamar.
***********
Di tempat lain, Dinda yang merasa khawatir dengan keadaan Caca pun berniat untuk pergi ke rumahnya.
Dia takut jika Caca sakit karena sudah beberapa hari Caca tidak datang ke Toko bahkan nomornya pun tidak bisa di hubungi.
Tok,,
Tok,,
Tok,,
"Permisi"
"Sebentar, Siapa sih pagi-pagi ganggu orang tidur saja." Ucap Mariska yang memang baru saja terbangun karena suara ketukan pintu rumahnya.
Ceklek.
"Kamu termasuk, mau apa datang pagi-pagi."
__ADS_1
"Maaf jika saya mengganggu, tapi Saya hanya ingin mencari Caca. Sudah beberapa hari Caca tidak ke toko apa dia sakit?"
Mariska menghela napasnya.
"Caca tidak ada di rumah."
"Maksud Bu Mariska."
"Iya Caca gak ada di rumah, dia tidak pulang sejak dua hari kemarin."
"Astaga, dimana dia sekarang Bu, gimana dengan kabarnya. Apa Anda sudah mencarinya."
"Buat apa saya mencarinya, dia juga gak mau pulang sendiri. Sudahlah saya mau tidur lagi."
Brak.
Dinda kaget saat Mariska menutup kasar pintu rumahnya, dia selain khawatir dengan keadaan Caca.
"Astaga Caca, dimana kamu sekarang nak? apa kamu baik-baik saja? "
Dinda sangat khawatir dengan keadaan Caca, dimana dia harus mencari keberadaan nya.
Sedangkan Caca tidak memiliki saudara lain di sana dan hanya Keluarga pamannya namun mereka pun tidak tau keberadaan nya.
Dinda kembali berjalan keluar, perasaan nya tidak enak takut terjadi sesuatu dengan Caca yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
######
Caca yang sudah sangat merasa bosan pun tidak tau harus melakukan apalagi. Dia di Kurung di dalam sebuah kamar mewah namun tetap saja Caca terasa bosan karena dia tidak di perbolehkan untuk keluar kamar.
Akhirnya Caca pun berjalan menuju Balkon kamarnya, dia berdiri di sana.
"Kenapa begitu banyak penjagaan di mension ini, siapa sebenarnya laki-laki itu." Gumam Caca saat melihat begitu banyak penjaga berjas hitam yang berdiri di setiap sudut bahkan mereka terlihat begitu menyeramkan.
"Nyonya Anda sedang apa?" Ucap Lisa menghampiri Caca.
"Aku hanya bosan terus berada di kamar, apa aku bisa keluar?"
"Maaf Nyonya, tapi Tuan tidak mengijinkan Anda untuk keluar kamar."
Caca merasa kesal, dia seperti di penjara di sangkar emas tanpa bisa keluar sama sekali. Namun matanya menatap sebuah mobil masuk dan tidak lama terlihat Alvaro keluar.
Dalam hitungan detik, tatapan mata keduanya bertemu, Alvaro menatap ke arahnya dengan tatapan elang yang sangat tajam.
"Aku akan bicara dengannya."Lirih Caca
"Kenapa Nyonya?"
"Aku akan bicara dengannya"
"Apa yang mau kamu bicarakan." Ucap Alvaro yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar.
Bagaimana bisa dia berjalan secepat itu, padahal baru saja dia turun dari mobil.
"Saya permisi Tuan" Ucap Lisa berjalan keluar."
"Apa yang mau kamu bicarakan, jangan membuang waktu saya"
Caca berdecak kesal, kapan sih laki-laki di hadapan nya ini tidak menyebalkan. Namun melihat tatapan matanya Caca merasa takut untuk mengucapkan.
"Sa- Saya bosan di kamar, apa saya boleh keluar?" Lirih Caca namun bisa di dengar Alvaro.
"Turuti perintah saya atau Lisa yang akan kembali dapat hukuman." Ucap Alvaro meninggalkan kamar Caca.
Deg.!!
Caca menggeleng, dia tidak mau kembali membuat orang menderita karena ulahnya.
__ADS_1