GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 31 (Hadiah Spesial Alvaro)


__ADS_3

Felica menuruni tangga dan langsung menuju meja makan dimana Lisa sedang menyiapkan sarapan.


"Selamat Pagi Lisa" Sapa Felica tersenyum.


"Pagi Nyonya Caca."


"Maaf ya aku tidak membantu siapin sarapan pagi ini aku kesiangan."


"Loh ini tugas kita dong bukan tugas nyonya."


"Seharusnya sih sadar diri siapa kita, bangun pagi dan siapin sarapan tidak malah bangun siang." Sindir Sandra yang baru saja datang membawa piring.


Felica terdiam.


"Sandra.!" Kesal Lisa.


"Benar kan ucapanku Lis, aku sih sadar diri ya harusnya bangun pagi bersih-bersih dan menyiapkan sarapan."


"Ada apa ini." Ucap Alvaro.


"Tuan."


Alvaro menatap Felica yang hanya diam, dia tau jika terjadi sesuatu dengannya.


"Selama Pagi Tuan, pagi ini saya sengaja memasak makanan kesukaan anda."Ucap Sandra bangga.


Alvaro menatap beberapa makanan di meja, bahkan begitu banyak makanan di sana.


"Aku ke kamar dulu." Ucap Felica namun Alvaro menahannya.


"Temani saya Sarapan."


"Tapi Al,-


Alvaro menatapnya membuat Felica mengangguk dan duduk di sana.


"Singkirkan Kopi itu." Titah Alvaro.


"Tapi biasanya Anda,-


"Mulai hari ini tidak ada kopi di meja."


"Baik Tuan."


Sandra menatap tajam Felica, dia kembali membawa kopi yang sengaja dia siapkan ke dapur.


"Kenapa diam, apa kamu tidak berniat mengambilkan sarapan."


"Kamu punya tangan Al,"


"Fe,-


"Iya Iya."


Felica beranjak.


"Kamu mau sarapan apa."


"Masakan kamu."


"Hah, tapi aku belum memasak dan ini sudah siang. kamu bisa kesiangan"


"Saya bosnya."


"Bos yang baik tidak akan memberi contoh tidak baik."


"Tapi saya tidak pernah datang siang."


"Tapi Sandra sudah menyiapkan sarapan pagi ini."

__ADS_1


"Banyak orang di mension, mereka bisa menghabiskannya."


"Baiklah aku kalah, sekarang kamu mau makan apa?"


"Terserah."


"Alvaro."


"Aku tidak pernah memilih makanan."


Felica menghela napasnya dan berjalan masuk dapur.


Di sana dia berpapasan dengan Sandra, tatapan mata Sandra benar-benar membuat Felica Bingung.


"Nyonya kenapa di dapur, apa ada yang Anda butuhkan." Ucap Lisa.


"Aku mau memasak Lisa."


"Memasak."


"Eum,, Alvaro mau aku buatkan sarapan untuknya.


"Apa maksud kamu, bukannya aku sudah memasak. Kamu sengaja meminta Tuan Alvaro tidak makan masakan aku."


"Aku tidak pernah berpikir sampai ke situ."


"Kamu kenapa sih, biarkan Nyonya Caca masak lagian ini juga perintah Tuan. Kamu Lupa apa arti ucapan Tuan."


Sandra langsung keluar.


"Silahkan Nyonya apa perlu saya bantu."


"Tidak usah Lisa terima kasih."


"Sama-sama Nyonya, Saya permisi."


Alvaro kini berada di dalam ruang kerjanya.


Dia tampak sedang menelpon dengan seseorang di seberang sana.


Hingga tidak lama terdengar suara ketukan membuatnya mengakhiri telpon nya.


"Masuk."


Tidak lama terlihat Felica yang membuka pintu dan berjalan masuk.


"Sarapannya sudah siap Al."


Alvaro mengangguk dan mereka berjalan turun.


Sementara semua makanan yang sebelumnya berada di meja kini telah berganti dengan Nasi goreng yang Felica masak.


"Maaf aku hanya sempat masak Nasi goreng seafood, tapi aku janji untuk masakan kamu makan malam nanti."


Alvaro langsung menarik kursinya, dia menautkan kedua alisnya saat Felica masih berdiri di sana.


"Temani saya makan."


Felica mengangguk dan duduk di sana. Mereka tampak menikmatinya.


Entah kenapa Alvaro sekarang lebih menyukai masakan Felica.


Tidak ada obrolan di sana, hanya ada suara sendok saja hingga mereka menyelesaikan sarapannya.


"Mau kemana?" Ucap Alvaro saat Felica beranjak.


"Bereskan piring kotor."


"Biar Sandra yang membereskannya, kamu ikut aku." Ucap Alvaro mengandeng tangan Felica.

__ADS_1


"Selamat pagi Tuan, Nyonya." Sapa Miko yang ternyata sudah berada di depan rumah.


"Pagi Miko."


"Ini yang Anda minta Tuan." Ucap Miko memberikan pager bag kecil.


Alvaro menerimanya dan kini menatap Felica yang masih berdiri di sampingnya.


"Ini untuk kamu."


"Apa ini Al, tapi aku,-


"Kamu hanya tinggal pakai, di dalamnya hanya ada nomor saya dan Lisa."


"Tapi aku masih punya ponsel lama Al, dan ini pasti sangat mahal. Tidak-tidak aku tidak mau."


"Kamu pasti bosan jika di rumah dan ponsel kamu sudah rusak bahkan sangat ketinggalan jaman."


Felica membulatkan matanya, bagaimana bisa Alvaro bicara seperti itu. walaupun itu ponsel lama tapi itu hasil kerja kerasnya selama ini.


"Terus dimana ponsel aku sekarang."


"Sudah saya buang."


"Astaga Al, itu aku beli dari gaji pertama aku kerja."


"Sudah saya ganti bukan, jadi?"


"Terserah kamu." Kesal Felica.


"Kita berangkat sekarang." Ucap Alvaro berjalan menuju mobilnya yang sudah Miko siapkan.


"Permisi Nyonya."


Felica mengangguk dan menatap mobil Alvaro keluar halaman mension. dia pun kembali masuk dengan membawa ponsel keluaran terbaru yang Alvaro berikan.


"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sudah kamu lakukan sampai Tuan Alvaro begitu peduli dengan kamu." Ucap Sandra membuat Felica semakin dibuat bingung.


"Maksud kamu ?"


"Seharusnya kamu tidak pernah datang ke sini. kamu tau karena kamu membuat gaji aku di potong hampir setengah karena Tuan Alvaro lebih mau kamu yang menyiapkan semuanya. Uang yang seharusnya aku berikan untuk Ibuku untuk biaya hidupnya, untuk biaya adik-adik aku sekolah. Sekarang katakan bagaimana aku menjelaskan semuanya kepada Ibuku di kampung."


"Bu-bukan seperti itu."


"Sudahlah mungkin ini sudah takdir aku." Ucap Sandra meninggalkan Felica yang masih berdiri mematung.


Felica kaget dengan ucapan Sandra.


Apa benar Alvaro telah mengurangi Gajinya, seharusnya tidak perlu karena itu adalah hak Sandra.


"Nyonya kenapa masih di sini." Ucap Lisa.


"Aku ke kamar dulu Lisa."


Lisa menatap Felica, dia tau jika ada sesuatu yang terjadi.


Namun dia tidak mau memaksa Felica untuk menceritakannya.


Felica langsung menutup pintunya, dia meletakkan paper bag yang di berikan Alvaro di atas meja. dia sama sekali tidak membukanya dan hanya duduk di atas ranjang dengan masih memikirkan ucapan Sandra.


Apa dia begitu kejam hingga merebut hak yang seharusnya Sandra dapatkan, Sandra masih harus membiayai ibu dan adik-adiknya di kampung.


Felica merasa sangat bersalah, dia harus bicara dengan Alvaro soal ini.


Dia pun menatap pager yang Alvaro berikan, dia pun membukanya. sebuah ponsel terbaru yang bahkan Felica sangat tau berapa harga ponsel itu. Dia tau jika Ponsel yang Alvaro berikan itu adalah model terbaru dan sudah pasti harganya sangat mahal.


Felica teringat jika di dalam ponsel itu hanya ada nomor dirinya juga Lisa, namun dia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Alvaro. dia akan berniat untuk bicara langsung dengannya setelah pulang nanti.


Ya Felica akan bicara dengan Alvaro setelah pulang kerja nanti. dia harus bicara agar Alvaro tidak memotong gaji Sandra tiap bulannya.

__ADS_1


__ADS_2