GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 34 (Emosi Alvaro)


__ADS_3

Felica hanya diam dan masih berada di dalam kamarnya bersama Alvaro yang sedang berbicara dengan seseorang di seberang telpon.


Sampai akhirnya Alvaro memutuskan Telp nya saat melihat Felica yang duduk menunggunya.


Felica mendongak saat Alvaro mengusap pucuk rambutnya.


"Sudah?" Ucapan dan Alvaro mengangguk.


"Sekarang kita turun, kamu belum makan sejak siang bukan?"


"Aku sudah makan"


"Sarapan dan setelah itu kamu tidak makan, Lisa sudah melaporkan semuanya.


Ih, Lisa bisa-bisanya dia melaporkan semua kepada Alvaro sudah pasti dia akan kena marah.


"Ta- tapi Al, aku belum memasak dan,-


"Kita bisa makan di luar."


Felica menautkan kedua alisnya.


"Ada sesuatu yang juga ingin aku bicarakan."


Felica mengangguk dan beranjak bangun setelah Alvaro mengandeng tangannya.


Beberapa penjaga menunduk saat melakukan bos mereka keluar. Bahkan dengan masih terus menggandeng tangan gadis yang entah sejak kapan telah mengisi hatinya.


"silahkan Tuan." Ucap seorang yang langsung membuka pintu mobilnya.


Alvaro masuk ke dalam mobil dan melaju keluar bersama Felica yang duduk di sampingnya.


Mobil melewati jalanan yang sedikit padat karena memang mereka keluar di jam pulang kerja.


"Al, kenapa kamu sudah pulang. Bahkan kamu sangat sibuk bukan?"


"Seorang gadis seperti sedang merajuk hingga sampai tidak mengaktifkan ponselnya."


"Hah, bu- bukan seperti itu Al. aku memang belum membuka ponselnya."


Alvaro melirik kilas Felica.


Mereka kembali diam hingga mobil berhenti di depan sebuah Cafe yang entah Felica sendiri baru datang ke sana.


"Kita makan di sini?"


"Kenapa, kamu tidak mau atau kita pindah tempat lain."


"Tidak-tidak,, aku mau."


Mereka pun turun dan masuk ke dalam.


"Kamu masuk duduk dan pesanlah, aku ke toilet sebentar."


"Eum."


Felica duduk di kursi yang pojok dan memesan dua makanan untuk dirinya juga Alvaro.


Dia menatap sekeliling Cafe yang memiliki interior cantik dan juga suasana yang tenang.


Ternyata Alvaro bisa tau juga Cafe seperti ini.


"Kenapa melamun, sudah pesan?"


Felica menoleh dan tersenyum saat Alvaro Dateng dan duduk di sampingnya. Padahal di depannya masih ada kursi namun Alvaro malah duduk di samping.


"Jadi kenapa kamu tidak menghubungiku." Ucap Alvaro menatap Wajah cantik Felica.


"Aku bukan tidak menghubungi kamu Al, aku cuma,- Ucapan Felica terhenti dan mengingat ucapan Sandra.

__ADS_1


"Ada apa? Apa aku melakukan sesuatu?"


Felica terdiam, dia malah hanya memainkan kuku tangannya.


"Tangan kamu bisa sakit." Ucap Alvaro menarik tangan Felica dan menggenggamnya.


"Al, aku boleh minta sesuatu sama kamu."


Alvaro menautkan kedua alisnya.


Selama ini Felica sama sekali tidak pernah meminta apapun darinya.


"Hem."


"Tolong kamu jangan potong gaji Sandra, dia harus membiayai keluarganya, masih ada adiknya yang sekolah Al."


Alvaro menautkan kedua alisnya.


Dia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Alvaro.


"Maksud kamu?"


"Sandra bilang jika karena aku merebut pekerjaannya, mulai memasak dan keperluan kamu hingga kamu memotong gaji hampir setengah.


Al, kembalikan lagi gajinya aku mohon."


"Tunggu, Sandra sudah tidak memiliki keluarga dan biaya hidup adiknya?"


Felica mengangguk.


Alvaro menghela napasnya, sekarang dia tau alasan Felica tidak menghubunginya.


"Jadi karena ucapan Sandra kamu tidak menghubungiku?"Ucap Alvaro dan Felica mengangguk.


"Bukan karena ucapanku tadi pagi?"


Alvaro memejamkan matanya kilas.


"Sekarang dengar, Pertama aku sama sekali tidak pernah memotong gaji Sandra ataupun pelayan di mension. dan yang kedua, jangan pernah percaya dengan Ucapan Sandra soal dia membiayai keluarganya. Orang tua Sandra sudah meninggal dan dia tidak memiliki adik."


"Terus maksud Sandra bicara seperti itu."


"Biarkan saja, yang penting sekarang aku tidak pernah melakukan apa yang Sandra ucapkan."


Felica menatap Alvaro dan tersenyum.


"Maaf aku sudah menuduh kamu."


Alvaro tersenyum dan mengusap pipi Felica.


"Apapun yang kamu dengar soal aku, langsung tanyakan semuanya jangan malah di pendam oke."


"Eum."


"Sekarang kamu makan."


Felica mengangguk dan mulai menikmati makanan di hadapannya.


Alvaro menghela napasnya, dia pun mengambil ponselnya dan meminta Lendra untuk mengumpulkan semua pelayan di mension.


Sementara di Mension semua pelayan khawatir karena sudah sangat lama Tuan mereka tidak pernah mengumpulkan semua pelayan di rumah. Dan jika sudah seperti ini bisa di pastikan semua pelayan akan mendapatkan hukuman dari Tuan mereka.


Hari pun sudah gelap..


Suara mobil membuat semua semakin takut, mereka berpikir kesalahan apa yang sudah mereka buat membuat Bos mereka mengumpulkan semua pelayan tanpa terkecuali.


Felica menatap sekeliling mension, tidak ada seorang pun bahkan mension terlihat begitu sepi.


"Kok tumben sepi, semua orang kemana?"

__ADS_1


"Mungkin mereka sedang melakukan tugas masing-masing. Kamu ke kamar dulu aku ada urusan."


"Eum."


Alvaro menatap Felica yang sudah masuk ke dalam lift. dia langsung menuju ruangan belakang dimana semua pelayan bahkan penjaga berada di sana.


Kedatangan Alvaro dengan wajah Tegas membuat semua menunduk, bahkan terlihat jelas jika saat ini Alvaro sedang menahan emosinya.


"Tuan" Sapa Lendra menunduk.


"Semua sudah berkumpul di sini."


"Sudah Tuan."


Alvaro menatap semua pelayan juga penjaga di mension.


"Apa kalian tau kenapa saya meminta kalian semua kumpul di sini."


"Kalian pasti tau alasannya. Dan sebelum saya bicara apa dari kalian ada yang tau. Apa dari kalian ada yang merasa telah melakukan kesalahan."


Alvaro menatap semua pelayan dan hampir semua diam dengan menunduk.


Matanya kini menatap bagaimana Sandra yang terlihat sangat angkuh. bahkan dia merasa tidak membuat kesalahan.


"Baiklah jika kalian semua hanya diam.


Kalian tau siapa Felica Mabela." Ucap Alvaro sengaja menyebut naman Felica hingga membuat Sandra langsung menatapnya.


"Kalian tau siapa dia. Saya sudah menugaskan kalian untuk memperlakukannya dengan sangat baik, menyiapkan segala kebutuhan. Jangan pernah berpikir jika dia hanya orang lain di mension. Dia datang bersama Saya jadi dia tidak berbeda dengan Saya."


Sandra terlihat mengepalkan tangannya apalagi setelah Alvaro bilang jika Felica sama seperti dirinya yang mengartikan jika Felica merupakan nyonya di mension.


"Semua kembali dengan tugas kalian, Saya tidak mau mendengarkan ada omongan soal Felica."


"Baik Tuan." Ucap semuanya.


"Sandra kamu tetap di sini."


deg.!!


Sandra menatap kaget, apa Felica sudah bicara yang tidak-tidak tentangnya.


"Ba- baik Tuan."


Alvaro menghampiri Sandra yang kini hanya berada Dengannya.


Alvaro menatap tajam Sandra yang hanya bisa menunduk bahkan meremas tangannya.


"Apa yang sudah kamu bicarakan kepada Felica."


"Sa- saya tidak bicara apapun Tuan."


"JAWAB.!"


Sandra memejamkan matanya karena Alvaro membentaknya.


"Ma- Maaf Tuan."


Alvaro tersenyum dan menatapnya tajam.


"Kalian. Bawa dia ke ruang bawah."


"Jangan Tuan saya Mohon."


"Bawa Dia."


Sandra terus memberontak, namun doa orang langsung menyeretnya menuju ruang bawah tanah.


Sudah bisa di pastikan jika Sandra akan mendapatkan hukuman di sana atas apa yang sudah dia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2