
Bastian masih berpikir siapa laki-laki yang menjemput Caca di toko, bahkan laki-laki itu hanya menunggu di mobil namun Caca sendiri tampak menurut Dengannya. Apa Caca di tekan olehnya atau bahkan Caca takut dengannya namun jika melihat reaksi Caca, tidak sama sekali adanya rasa takut ataupun tertekan.
Caca bahkan tampak tersenyum menatapnya. Tapi jika memang laki-laki itu baik, kenapa Caca datang bersama seorang wanita dan juga dua orang bodyguard.
Dimana Sebenarnya Caca tinggal, apa yang sudah terjadi dengannya selama ini.
Bastian benar-benar penasaran dengan kehidupan Caca selama ini.
"Kamu masih memikirkan Caca?" Ucap Dinda menghampiri Bastian.
"Aku hanya khawatir dengannya, apalagi terhadap laki-laki yang menjemputnya tadi siang."
Dinda tersenyum dan duduk di samping Bastian, walaupun Bastian juga bukan anaknya namun Dinda sudah menyayangi sama hal nya dengan Caca. Bahkan Dinda tau jika selama ini Bastian menyukai Caca.
"Ibu rasa Caca bahkan terlihat nyaman, bahkan melihat Caca sekarang Ibu yakin jika mereka memperlakukan Caca dengan sangat baik."
"Tapi bagaimana jika Caca malah di tekan olehnya, atau Caca bahkan Sebenernya tidak nyaman tinggal bersama mereka."
"Sebenarnya sudah dua kali Caca datang ke toko dan selama itu juga Ibu melihat senyuman di wajah Caca. bahkan senyuman yang begitu tulus, senyuman yang selama ini tidak pernah Caca keluarkan."
Sebastian terdiam.
Dia pun melihat kebahagiaan dari sorot mata Caca namun bagaimana pun dia tidak mau terjadi sesuatu dengan Caca.
Wanita yang sudah sangat lama dia sukai bahkan dia sendiri belum bisa mengungkap perasaannya.
"Ibu tau kamu bukan khawatir tentang keadaan Caca, tapi kamu khawatir Karena laki-laki itu bukan? kamu tau jika nantinya malah mereka bersama."
Bastian menghela napasnya dan mengangguk.
"Jodoh itu sudah ada yang mengaturnya, jadi kita hanya bisa menunggu Bas. Jika memang Caca adalah jodoh kamu suatu saat Caca pasti akan kembali sama kamu. Yang terpenting saat ini kita tau bagaimana keadaan Caca, bagaimana hidup Caca sekarang dan Ibu lihat Caca bahagia tinggal bersama mereka. Ibu yakin jika mereka memperlakukan Caca dengan sangat baik. Bahkan Kamu Lihat bukan jika ada seorang pengawal yang senantiasa menjaganya juga seorang pelayan perempuan yang juga begitu setia Dengannya."
Bastian kembali terdiam.
Semua yang di katakan Dinda benar. Apa dia hanya merasa takut jika Caca akan melupakannya dan hidup bersama laki-laki itu selamanya.
"Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak. Sekarang kita hanya bisa melihat dan berharap yang terbaik untuk hidup kita kedepannya."
"Iya Bu. Apa Caca meninggal nomor telponnya."
"Sebentar ibu ambil ponselnya."
Bastian mengangguk dan kembali memikirkan perempuan yang sudah salam ini dekat dengannya.
Caca bersama Alvaro sudah dalam perjalanan menuju mension. Alvaro langsung menjemput Caca setelah dari perusahaan. Namun selama dalam perjalanan tidak ada obrolan sama sekali.
__ADS_1
Alvaro yang fokus menyetir dengan masih memikirkan laki-laki yang bersama Caca, sedangkan Caca menatap jalanan lurus sesekali menoleh.
"Oya Al, bukannya kamu bilang masih harus bertemu dengan seseorang."
"Sudah selesai."
"Tapi ini masih siang dan kamu kenapa tidak ke perusahaan."
Alvaro menautkan kedua alisnya dan menatap kilas gadis di sampingnya. Apa Caca masih betah berada di Toko bersama laki-laki itu.
"Kenapa, apa kamu masih mau berada di Toko?"
"Sebenarnya aku masih kangen dengan Bu Dinda."
Alvaro tidak menjawab, dia malah menginjak gas membuat Felica membulatkan matanya.
"Astaga Al, jangan ngebut aku takut."
Alvaro menghela napasnya,,
"Maaf" Ucapnya namun Felica hanya diam.
kedua tangannya saling meremas, dia takut dengan sikap Alvaro bahkan tatapan mata Alvaro begitu mengerikan.
****.. Umpat Alvaro namun Felica masih sangat mendengarnya. tanpa terasa air matanya menetes. Entahlah dia merasa jika Alvaro marah dengannya atau Alvaro memang sedang lelah tapi sikap Alvaro membuatnya takut. selama ini Alvaro tidak pernah marah hanya di saat dulunya dia sampai di mension.
"Kamu menangis?" Ucap Alvaro namun Felica menggeleng dan menyeka air matanya.
Alvaro memejamkan matanya, dia pun menepi dan menatap Gadis di sampingnya.
"Aku minta Maaf." Ucapnya menatap nanar wajah Felica.
"Aku mau pulang." Ucapnya membuat hati Alvaro teriris.
"Ca," Panggil nya membuat Felica menoleh.
Benar saja Alvaro menatap wajah Felica. mata berair dengan hidung mancungnya yang merah membuat Alvaro semakin bersalah.
"Jangan menangis aku mohon, aku minta maaf." Ucapnya lembut dengan menyeka air matanya.
"Aku takut."
"Sst."
Alvaro menariknya ke dalam dekapannya, mengusapnya lembut dan terus mengucapkan kata maaf.
__ADS_1
Sungguh dia sangat merutuki sikapnya hingga membuat gadisnya takut.
"Aku minta maaf."
Felica tidak menolaknya, dia hanya diam dalam dekapan Alvaro. Hingga setelah lebih tenang Alvaro melepaskan dan menatap wajah cantik Felica. di usapnya air mata yang menetes di wajahnya.
"Jangan takut oke, aku minta maaf." Ucap Alvaro menangkap wajah Felica yang menatapnya dan mengangguk.
"Sekarang kita pulang."
Alvaro mengusap lembut Felica dan kembali melajukan mobilnya. Namun Felica kaget saat satu tangan Alvaro menggenggam tangannya bahkan begitu lembut.
Entahlah, namun sikap Alvaro seperti ini membuatnya sangat merasa nyaman.
Felica membiarkannya hingga mobil masuk ke dalam parkiran mension.
Alvaro menoleh, namun di lihatnya Felica yang malah tertidur.
Pandangan yang membuatnya tersenyum.
Dia pun perlahan keluar dan membopong tubuhnya.
"Se-
Alvaro langsung memberi kode supaya semua terdiam, dia tidak mau jika Gadisnya kembali bangun.
Dengan membopong ala bridal, Alvaro membawa Felica menuju kamarnya.
Kamar Alvaro ya guys, berbeda seperti biasanya jika Alvaro akan membawa Felica ke kamarnya namun kali ini ke kamar dirinya.
Dengan perlahan Alvaro menurunkan di atas ranjang king size yang begitu empuk.
Felica tampak nyaman, Alvaro melepaskan sepatu yang di pakai gadisnya dan meletakkan ponselnya di atas meja.
Di tatapnya kembali wajah Felica, dia pun mendekatkan wajahnya dan mengecup dalam kening Felica.
"Maaf karena membuatmu ketakutan."
Setelahnya, Alvaro masuk ke dalam ruang kerjanya dan membiarkan Felica tidur di kamarnya.
Sebastian yang baru saja sampai di rumahnya pun masih dengan memikirkan Felica.
Dia sangat ingin menanyakan semuanya kepada Felica. Dan dia baru ingat jika saat di Toko sempat minta nomor Caca kepada Bu Dinda.
Bastian pun mengambil ponselnya dan mencari nomor Felica. dia segera menekannya dan mencoba menghubunginya namun tidak di angkat walaupun nomornya aktif. Bastian kembali mencobanya namun tetap saja tidak di angkat.
__ADS_1
Bastian pun akhirnya mengirimkan pesan kepadanya dan memintanya untuk segera menghubunginya balik.
Bastian berharap jika Caca bisa menghubunginya. Dia sangat khawatir dengannya.