
Gabriel telah memeriksa keadaan Sandra dan sudah memberikannya obat. Kini Sandra hanya butuh istirahat untuk beberapa hari saja dan lukanya tidak terlalu parah.
"Ini obatnya, berikan setelah dia sadar dan ini salep yang harus dia oleh di bagian lukanya." Ucap Gabriel.
"Baik Dokter, terimakasih."
Gabriel mengangguk dan berjalan keluar namun Langkahnya terhenti saat melihat Felica datang bersama Alvaro dan mereka kini terlihat semakin dekat.
"Bagaimana keadaannya Dok."Ucap Felica.
"Dia baik-baik saja Nyonya dan hanya perlu beberapa waktu untuk istirahat."
"Syukurlah."
"Kalau tidak ada lagi saya permisi."
Alvaro menatap Gabriel yang melewatinya.
"Lo bener-bener seorang iblis." bisik Gabriel saat melewati Alvaro.
"Kamu dengar dia baik-baik saja, sekarang kita masuk kamu harus sarapan." Ajak Alvaro menggandeng tangan Felica masuk ke dalam mension utama.
"Tapi Al,-
Alvaro menautkan kedua alisnya, hingga Felica hanya menghela napasnya dan berjalan mengikutinya ke meja makan.
"Maaf aku hanya membuat Sandwich."
Alvaro tersenyum melihat wajah gadisnya yang begitu menggemaskan.
"Apapun yang kamu buat pasti aku makan."
Felica tersenyum kenapa Alvaro begitu baik terhadapnya, Ucapan dan sikapnya membuat hatinya tidak karuan. berada selalu dekat dengan Alvaro sungguh menyiksa hatinya. apa dia menyukai Alvaro tapi dia pun tau siapa dirinya.
Alvaro menatap Felica yang hanya diam, dia pun mengusap tangan gadisnya.
"Kenapa tidak makan Hem, apa ada yang kamu pikirkan."
"Tidak." Ucap Felica mulai makan.
Sandra membuka matanya, dia menatap ruangan yang begitu dia kenali. ruangan bercat putih yang tidak lain adalah Kamarnya. Jadi dia sudah kembali ke kamar namun dia menatap tidak ada seorang pun yang berada di sana. Tenggorokannya begitu kering, dia melirik gelas di atas meja dekat tempat tidurnya. Dia sangat haus dengan berlahan dia mencoba bangun namun tubuhnya begitu melah. Tangannya mencoba untuk meraihnya.
Prang.!
"Astaga Sandra." Ucap Felica tepat saat membuka pintu kamar.
Sandra menatap Felica yang berlari masuk dan membantunya.
"Lepas." Ucap Sandra menolak Felica bantu.
Felica mengernyit, dia menatap sebuah gelas yang terjatuh di lantai.
"Biar saya yang bereskan Nyonya." Ucap salah seorang pelayan yang juga datang.
__ADS_1
Felica mengangguk dan duduk di tepi ranjang Sandra sembari menatapnya. Luka memar di beberapa bagian tubuhnya sudah pasti Alvaro yang menyiksanya.
"Kamu pastilah haus, sebentar aku ambil yang baru."
"Tidak perlu"
Felica berbalik menatap Sandra.
Tatapan yang terlihat sangat membencinya.
"Ini kan yang kamu mau, kamu pasti telah meminta Tuan Alvaro untuk menyiksaku. Kamu pasti bicara tidak-tidak supaya aku terlihat bersalah. Sebenarnya apa mau kamu?"
"Apa maksud kamu Sandra. Aku sama sekali tidak bicara apapun kepada Alvaro."
"Harusnya kamu sadar diri, kamu hanya orang baru yang datang di mension dan itu pun karena kamu hanya gadis tawanan. Kamu hanya orang asing yang masuk ke mension dan bersikap seolah kamu adalah Nyonya di sini."
Felica menggeleng.
"Aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu, Aku bingung kenapa kamu begitu membenci aku Sandra. apa aku telah berbuat salah sama kamu."
Sandra tersenyum.
"Ya aku memang sangat membenci kamu. Semua berubah setelah kamu datang. Sekarang kamu keluar dari kamar ini."
Felica menggeleng.
Dia pun keluar dengan perasaan tidak karuan. dia bahkan tidak mengerti dengan semua ucapan Sandra. selama ini dia tidak pernah merasa memiliki masalah dengannya.
"Astaga Nyonya Anda." Ucap Lisa.
Dengan segera Lisa masuk ke dalam kamar.
"Apa yang kamu katakan kepada Nyonya Felica."Ucap Lisa membuat Sandra menatapnya.
"Bukan urusan kamu."
"Aku benar-benar tidak mengerti sama kamu Sandra, bahkan setelah Tuan Alvaro bicara seperti itu kamu masih berani membuat Nyonya Felica menangisi."
"Aku heran, kenapa kamu begitu peduli dengan wanita itu bahkan kamu sendiri tau siapa dia hanya seorang Tawanan karena sebuah hutang dan bukan perempuan spesial."
"Kamu bakal tau Akibatnya jika Tuan tau apa yang sudah kamu lakukan."Ucap Lisa meninggalkan kamar Sandra.
Di dalam kamarnya.
Felica duduk di kursi balkon kamar. pandangannya entah kemana namun semua ucapan Sandra membuatnya merasa bersalah juga bingung.
"Nyonya." Ucap Lisa membuat Felica menyeka air matanya.
"Ya Lisa ada apa."
"Apa saya bisa duduk di sana."
Felica mengangguk.
__ADS_1
Lisa menatap Felica, dia tau jika wanita di sampingnya baru saja menangis.
"Apa kita bisa bicara sebagai seorang teman."
Felica kembali mengangguk.
Lisa menghela napasnya, dia kembali menatap lurus dengan duduk di sampingnya.
"Apa mau cerita dengan saya, kenapa Anda menangis. Apa Sandra mengucapkan sesuatu yang membuat Anda sedih."
"Apa aku begitu jahat Lisa."
"Jika saya boleh bicara jujur, Anda adalah perempuan yang begitu baik. bahkan Anda seperti malaikat. Sikap Anda, bahkan Anda sama sekali tidak pernah merasa sombong dengan perhatian Tuan."
"Tapi kenapa Sandra mengatakan jika aku sudah merebut semuanya."
Lisa tersenyum.
"Itu karena Sandra tidak mengenal Anda lebih dekat. Dia hanya merasa iri dengan sikap Tuan terhadap Anda."
"Iri? maksudnya."
"Siapa yang tidak merasa iri dengan sikap Tuan kepada Anda. Selama ini Tuan bahkan tidak pernah memperlakukan siapapun begitu lembut. Tuan hanya bersikap lembut kepada Anda. dan hanya Anda yang bisa membuat Tuan menurut."
Felica menautkan kedua alisnya.
"Intinya jangan pernah merasa jika anda merebut sesuatu, membuat semuanya menjadi seperti ini atau apa yang Sandra katakan. karena semua yang di ucapkan salah. Sekarang apa Anda tidak menginginkan semua lebih baik kita melakukan sesuatu dari pada memikirkan sesuatu yang tidak penting."
Felica terdiam.
Dia pun menyeka air matanya dan mengangguk.
"Makasih ya Lisa, kamu memang teman yang begitu baik. aku senang bisa bertemu dengan kamu."Ucap Felica memeluk Lisa.
Lisa membalas pelukannya,
"Oya, aku minta sama kamu jangan katakan ini sama Alvaro ya. aku tidak mau jika Sandra mendapatkan hukuman juga siksaan dari nya lagi. Aku hanya tidak mau Sandra semakin salah paham."
"Baik Nyonya."
"Kamu bilang jika saat ini kita bersikap sebagai teman."
Lisa terkekeh.
Dirinya sebagai seorang perempuan pun begitu merasa gemas dengan tingkah Felica apalagi seorang laki-laki pantas saja Tuannya begitu peduli dan perhatian dengan gadis cantik di sampingnya.
"Baiklah,, Apa kita hanya akan tetap di sini."
"Tidak- tidak, sebenarnya aku ingin menemui seseorang."
"Maaf Nyo,- Maksud saya Caca jika soal itu harus mendapatkan ijin dari Tuan."
"Ya aku mengerti. Apa aku coba menanyakannya dulu."
__ADS_1
Lisa mengangguk membuat Felica beranjak untuk mengambil ponselnya.