GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 13 (Kesedihan Felica)


__ADS_3

Felica masih belum keluar kamar semenjak siang tadi, sementara Alvaro pun tidak keluar Mension. Dia terus berada di mension menemani Felica walaupun sebenarnya mereka hanya berada di dalam kamar masing-masing.


Alvaro yang berada di ruang kerjanya pun hanya terus diam memikirkan perasaan Felica, bayangan bagaimana Wajahnya saat bertemu dengan Johan hingga dia menangis sungguh membuat hatinya ikut hancur..


Entahlah, namun itu yang Alvaro rasakan saat ini.


Tok,


Tok,


Tok,


"Permisi Tuan" Ucap Lendra masuk.


"Tuan memanggil saya?"


Alvaro menghela napasnya, dia pun menatap laki-laki paruh baya yang sudah cukup umur berdiri di hadapannya.


"Apa Felica keluar kamar?"


"Nyonya belum keluar kamar, bahkan Nyonya meminta Lisa keluar kamarnya.


Alvaro langsung beranjak bangun, dia berjalan keluar dan langkahnya berhenti tepat di depan pintu kamar Felica.


Ceklek.


Pintu terbuka, Alvaro berjalan masuk dan melihat Felica yang berbaring dengan memeluk batal di sana.


"Sudah aku bilang, aku mau sendiri Lisa." Ucap Felica tanpa mengubah posisi tidurnya.


"Sampai kapan kamu akan menangis."


Deg.!


Felica langsung menoleh, dia segera bangun dan menyeka air matanya saat melihat Alvaro berdiri menatapnya.


"Maaf Tuan" Ucap Felica menunduk.


"Untuk apa kamu terus menangis hanya karena orang-orang sampah seperti mereka."


"Tapi mereka keluarga aku."


"Apa orang yang menjual kita itu termasuk keluarga?"


Felica diam, semua ucapan Alvaro benar.


Namun dia belum bisa menerima semua ini. Rasanya terlalu sakit mengingat kenyataan jika dia sudah tidak lagi memiliki keluarga.


"Sekarang kamu sudah menjadi milik Saya dan saya tidak suka melihat siapapun menangisi hal yang tidak penting."Ucap Alvaro keluar meninggalkan Felica yang kembali meneteskan air matanya.


Lisa yang baru saja akan menuju kamar pun melihat Alvaro, dia menunduk dan membuka pintu kamar Felica dengan membawa makanan serta obat yang memang masih harus Felica minum.


"Nyonya sudah waktunya Anda minum obat."


"Astaga Nyonya"


Lisa segera meletakkan nampannya, dia duduk di samping Felica yang malah langsung memeluknya erat.

__ADS_1


Menumpahkan kesedihannya dalam pelukan Lisa.


"Nyonya tenang ya."


Lisa berusaha menenangkan Felica, dia membalas pelukannya dan mengusap lembut bahu Felica.


"Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi hiks Hiks hiks."


"Nyonya jangan bicara seperti itu, masih ada Tuan Alvaro, Lisa dan juga semua orang yang ada di mension."


Felica menggeleng.


"Aku bahkan bukan siapa-siapa di sini Lisa, aku aku hanya jaminan hutang saja aku hanya tawanan di sini."


Lisa menggeleng dan kembali memeluk Felica.


Rasanya dia ikut merasakan kesedihan yang Felica rasakan.


"Sekarang aku tidak tau jalan hidup aku kedepannya, aku hanya sebuah robot sekarang. aku hanya seorang tawanan."


Sungguh Felica begitu menyedihkan sekarang.


"Jangan pernah berpikir seperti itu Nyonya, kami semua menyayangi Anda. Dan soal Tuan Alvaro,- Ucapan Lisa terhenti


Apa yang harus dia katakan soal Alvaro.


"Kamu tidak bisa bicara bukan, Karena memang Aku hanya gadis tawanan Tuan Alvaro."


Lisa menatap Felica.


Sungguh begitu malang nasib Felica. Apa yang bisa dia lakukan untuk membantu Felica.


Apa sebegitu jahatnya hingga Felica berpikir jika dia hanya sebuah tawanan.


"Tuan Anda,-


Alvaro menatap Sandra yang berdiri di sana. Dia pun segera berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Sandra terus menatap Alvaro hingga tidak lagi terlihat tubuhnya, dia menoleh ke dalam kamar Felica yang masih menangis bersama Lisa di dalam.


"Dasar wanita tidak tau malu. sudah tau dia hanya seorang tawanan hutang Tapi bergaya sepeda nyonya di mension ini. Aku tidak akan pernah membiarkan dia hidup seperti Nyonya karena Nyonya yang sebenarnya adalah aku. ya aku yang akan menjadi istri Alvaro."


Sandra berjalan turun.


"Apa yang kamu lakukan Sandra, bukannya lantai dua bukan tugas kamu untuk membersihkannya." Ucap Lendra.


"Maaf Pak Lendra aku hanya ingin tau bagaimana keadaan Nyonya Felica."


Lendra menatap tajam Sandra, dia tidak tau Maksud dari ucapannya.


"Nyonya Felica baik-baik saja, kamu kerjakan semua tugas kamu."


"Baik Pak."


Sandra berjalan turun, sebenarnya dia berencana untuk kembali menemui Felica namun malah bertemu Lendra membuatnya mengurungkan niatnya.


*******

__ADS_1


Keesokan harinya.


Alvaro sudah bersiap untuk ke Kantor. Namun langkanya kembali terhenti tepat di depan kamar Felica.


Pintu kamar masih tertutup rapat, membuatnya mengernyit padahal biasanya Lisa sudah berada di sana bersama Felica.


"Tuan" Ucap Lisa yang baru saja datang.


Alvaro mengernyit saat melihat Lisa,


"Apa dia belum bangun?" Ucapnya


"Nyonya sudah bangun, tapi Nyonya terlihat tidak tidur semalam Tuan."


Alvaro langsung membuka pintu kamar, Felica yang masih duduk di atas ranjang pun menoleh.


Terlihat jelas mata sembab juga wajah sedikit pucat membuat Alvaro tidak mengerti apa yang di pikirkan oleh gadis di depannya.


"Tu- tuan" Ucap Felica menunduk.


Alvaro terus menatap Felica hingga membuatnya semakin ketakutan.


"Apa aku terlihat begitu menakutkan?" Ucapnya dengan tatapan tanpa beralih.


Felica menggeleng.


"Sekarang turun dan kita sarapan."


"Tapi aku tidak lapar."


"Apa kamu lupa jika aku paling tidak suka ada orang sakit di Mension ini."


"Jika memang Anda tidak suka, kenapa tidak bunuh saja aku. aku juga sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini." Ucap Felica dengan beraninya bahkan dia menatap Alvaro dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Oh jadi kamu ingin mati, tapi sayangnya aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Kamu ingat siapa kamu,_


"Aku akan selalu sadar jika aku adalah Gadis tawanan Anda Tuan Alvaro." Potong Felica dengan mulai bercucuran air matanya.


Sudah cukup lelah Felica dengan semuanya, dengan semua yang terjadi terhadap hidupnya. ditinggalkan kedua orangtuanya di Usia muda, hidup bersama keluarga pamannya namun hanya di jadikan alat untuk mereka mendapatkan uang dan kini dia hidup sebagai gadis tawanan.


Rasanya dia hanya ingin mati secepatnya dan menyusul kedua orangtuanya.


"Bagus jika kamu Sadar, maka turuti semua ucapanku." Ucap Alvaro berjalan keluar dan meninggalkan Felica dengan Isak tangisnya.


Lisa yang berada di sana langsung masuk dan memeluk Felica.


Dia tau apa yang di rasakan olehnya saat ini, namun dia sama sekali tidak bisa berbuat apapun.


"Kenapa hidup aku seperti ini Lisa" Ucap Felica di dalam pelukan Lisa.


"Nyonya jangan bicara seperti itu."


"Tidak ada seorang pun yang menginginkan aku, bahkan sekarang aku sudah tidak lagi memiliki siapapun. Aku ingin menyusul kedua orangtuanya."


"Astaga Nyonya, Nyonya harus kuat. Saya tau Anda orang yang kuat dan orang tua anda pasti juga akan bersedih melihat Anda seperti ini."


Lisa mencoba menenangkan Felica dengan terus memeluknya.

__ADS_1


Baginya Felica sudah seperti adik kandungnya sendiri. karena mengingat usia Felica dua tahun dibawah dirinya.


__ADS_2