
Alvaro segera pulang saat Lendra memberitahu jika Felica sakit, bahkan dia langsung meminta Gabriel ke mension untuk memeriksa keadaan Felica.
"Bagaimana keadaannya?" Ucap Alvaro yang langsung masuk ke dalam kamar.
Gabriel menoleh, sebuah selang infus telah terpasang di tangan Felica bahkan wajah Felica terlihat sangat pucat.
"Sudah gue bilang dia punya sakit mahgh, kenapa Lo masih suka siksa dia."
Alvaro menatap tajam Gabriel, sejak kapan sahabatnya ini begitu berani bicara seperti itu kepadanya.
"Saya tidak butuh Omelan kamu."
"Keadaannya lemah dan dehidrasi, tapi udah gue beri obat di cairan infusnya. setelah sadar harus langsung makan juga minum obat teratur."
Alvaro tidak menjawab namun matanya menatap wajah cantik Felica yang terbaring lemah di atas ranjang.
"Kalau ada apa-apa Telp gue." Ucap Gabriel meninggalkan kamar di susul Lendra yang juga ikut keluar meninggalkan Alvaro di sana.
Alvaro berjalan mendekat, dia pun duduk di tepi ranjang dengan masih terus menatap wajah Felica.
"Permisi Tuan, ini obat dari Tuan Gabriel." Ucap Sandra.
"Letakkan di meja."
Sandra mengangguk dan meletakkannya, dia kembali menatap Alvaro yang terus menatap Felica bahkan sama sekali tidak menghiraukannya.
"Maaf Tuan, apa Anda menginginkan sesuatu atau,-
"Keluar."
Sandra terdiam saat Alvaro langsung memintanya keluar,
"Tapi Tuan, ini sudah waktunya,_
"Saya bilang keluar."
"Ba- baik Taun."
Sandra keluar dan meninggalkan Alvaro, dia tidak mau jika kena marah Alvaro.
Cukup lama Felica pingsan, bahkan selama ini pula Alvaro sama sekali tidak meninggalkan Felica. Dia terus duduk di samping gadis Tawanannya.
Felica mengerjapkan matanya, membuka matanya perlahan dan menatap sekeliling. Tatapannya beralih dimana seorang laki-laki tengah duduk menatapnya.
"Alvaro" lirih Felica.
"Sst,, jangan banyak bicara. Kamu harus banyak istirahat."
Felica terdiam,
tangannya terangkat menyentuh kepalanya yang terasa pusing.
"Kenapa Pusing?"
Felica menggeleng.
"Sekarang makan, jangan sok mogok makan kalau akhirnya seperti ini."
Felica menatap kesal disaat sakit pun Alvaro masih bicara pedas kepadanya.
"Aku tidak lapar."
Alvaro menghela napasnya, dia menatap Felica yang membuang wajahnya.
"Jangan seperti anak kecil, makan atau saya paksa."
Felica tampak tidak mendengar dia terus membuang wajahnya membuat Alvaro meletakkan kembali mangkuk berisi buburnya.
"Felica Mabela."
Deg.!
Sejak kapan Alvaro tau nama dirinya, bahkan selama ini Alvaro sama sekali tidak pernah memanggil namanya.
"Nurut atau saya buat,-
__ADS_1
"A- aku makan sendiri." Potong Felica membuat Alvaro mengambil kembali mangkuknya namun bukan memberikannya tapi Alvaro malah ingin menyuapinya.
"Al,-
"Buka mulut kamu."
Felica membuka mulutnya, Alvaro dengan sabar menyuapi bubur Felica hingga habis.
"Lapar kan? makanya jangan sok kuat. tubuh kamu sangat lemah."
"Iya, kenapa kamu seperti seorang Ibu."
Alvaro menatap Felica Bingung.
"Sekarang minum obatnya dan istirahat."
Felica menurut dan meminumnya.
Alvaro meletakkan gelas di atas meja dan kembali menatapnya.
"Tidur."
"Ya udah aku tidur, terus kamu ngapain masih di sini."
"Kamu lupa ini mension punya siapa?"
Felice lupa jika dirinya hanya seorang tawanan di mension.
Setelah beberapa menit, akhirnya Felica kembali tidur.
Alvaro memijat pelipisnya. Sebenarnya dia harus bertemu dengan beberapa klien namun dia membatalkannya. Selama ini padahal dia tidak pernah membatalkan semua kerjasama dengan beberapa Klien. namun setelah Lendra memberitahu jika Felica sakit membuatnya langsung pulang ke mension.
Tok
Tok
Tok
"Permisi Tuan" Ucap Lendra.
"Anda melewatkan makan siang dan ini sudah hampir sore, apa perlu saya bawa ke sini."
"Tidak perlu. jika saya lapar saya akan turun."
"Baik Tuan."
Lendra keluar dan membiarkan Tuannya berada di sana.
Hingga sudah malam,
Felica terbangun dan menatap Alvaro yang masih berada di kamarnya namun sedang membuka Laptopnya bahkan dia masih memakai kemeja tadi siang hanya jas yang dia lepas.
"Al"
Alvaro menoleh dan menautkan kedua alisnya, dia menutup Laptopnya dan berjalan menghampiri Felica.
"Kenapa bangun, apa kamu perlu sesuatu?" Ucap Alvaro dan Felica menggeleng.
"Lantas?"
"Kamu terus di dalam sini dari siang?"
"Hem"
"Tapi kamu pasti sibuk, aku gapapa kok."
Alvaro menatap Felica membuat si gadis menciut dan menundukkan kepalanya.
"Ma- maaf"
Alvaro menyunggingkan senyumnya, bahkan siapa saja yang melihatnya tidak akan percaya melihat seorang Alvaro tersenyum. Laki-laki kutub yang tidak pernah menampilkan senyuman di wajahnya.
"Permisi Tuan, Ini makanan untuk Nyonya Felica."
"Letakkan di meja."
__ADS_1
"Makanan Tuan mau saya bawa ke sini atau,-
"Nanti saya turun."
Lendra mengangguk dan kembali keluar.
Alvaro berjalan menghampiri Felica dan mengambil nampan berisi makanan.
"Aku makan sendiri, kamu juga makan."
"Aku makan setelah kamu selesai makan."
"Tapi kamu,-
"Apa kamu selalu memberontak seperti ini?"
Felica terdiam dan hanya bisa pasrah saat Alvaro kembali menyuapi nya. Bahkan hari ini Alvaro benar-benar sangat baik dan perhatian Dengannya.
"Kamu juga belum ganti pakaian, jadi selama itu kamu terus di sini?"
"Hem"
"Tapi aku sudah lebih baik."
"Liat wajah kamu sendiri."
Felica menautkan kedua alisnya, ada apa dengan wajahnya apa dia terlihat sangat jelek.
"Memangnya wajah aku kenapa.?"
"Seperti mayat hidup."
Felica membulatkan matanya, bisa-bisanya Alvaro mengatakan dirinya mayat hidup.
"Kalau gak ikhlas gak usah, sini aku makan sendiri." Kesal Felica.
Alvaro memberikannya, dia menatap gadisnya yang terlihat sedikit kesusahan karena tangannya yang masih di infus.
"Susah untuk bilang tolong?" Ucap Alvaro kembali menarik piringnya dan kembali menyuapi Felica hingga habis.
"Minum obatnya."
"Hem"
Felica kesal dan meminumnya.
"Em,, aku sudah makan lebih baik kamu makan dulu. Aku bisa sendiri kok."
Alvaro beranjak bangun, dia keluar kamar untuk membersihkan tubuhnya. Seharian dia hanya berada di kamar Felica.
Sandra berjalan mondar mandir, dia sangat kesal dengan sikap Alvaro yang begitu perhatian dengan Felica. Beberapa kali dia melihat Alvaro mengusap wajah Felica dan bahkan menyuapinya.
Sungguh membuatnya kesal dan semakin membenci Felica. Seharusnya yang mendapatkan perhatian Alvaro itu dirinya dan bukan Felica yang hanya sebatas gadis tawanan.
"Sandra."
"Iya Pak Lendra."
"Siapkan makan malam untuk Tuan."
"Baik Pa."
Sandra segera menyiapkannya, dia sengaja akan menyiapkan sesuatu untuk Alvaro. dia tidak mau jika Alvaro semakin dekat dengan Felica. dia akan membuat makanan yang paling enak dan spesial.
Alvaro yang baru saja selesai mandi pun telah berganti pakaian dengan pakaian santainya.
Memakai kaos lengan pendek dengan celana jeans panjang hitamnya.
Dia berjalan menuruni tangga, beberapa pelayan menunduk hormat saat Alvaro berjalan melewati mereka.
"Silahkan Tuan, makan malam sudah siap." Ucap Sandra tersenyum.
Alvaro tidak menghiraukannya, dia langsung menarik kursi dan duduk di sana.
"Biar Sa-
__ADS_1
Prang.!!