GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 19 (Sandra Berulah)


__ADS_3

Caca tersenyum saat menatap cookies yang dia telah buat seharian ini.


Semenjak Alvaro memberikan ijin untuknya melakukan apapun membuat Caca tersenyum dan bersemangat untuk memasak ataupun sekedar membuat cookies di dapur.


Lisa yang senantiasa menemaninua pun tampak ikut senang, ternyata bukan hanya cantik namun Caca pun sangat pintar memasak juga membuat kue.


"Selesai" Ucap Caca saat sudah memasukan ke dalam tempat kue.


"Ini semua mau di bawa kemana Nyonya" Ucap Lisa saat selesai mengemas semuanya.


"Em, bagikan saja semua ke penjaga- penjaga ya Lisa."


"Baik Nyonya."


Caca tersenyum, dia pun mengambil satu keler untuk di letakan di meja makan.


Sandra yang baru saja sembuh pun menatap semua penjaga sedang menikmati cookies, bahkan mereka tampak menikmatinya dan juga saling memuji.


"Apa yang kalian makan" Ucapnya berdiri di antara mereka.


"Oh ini San, cookies buatan Nyonya Felica enak banget. Kamu mau coba?"


"Nyonya Felica?"


"Pantas saja Tuan begitu menyayangi Nyonya, bukan hanya cantik, baik tapi juga pinter masak."


"Maksud kalian,? Masak?"


"Iya bener, jadi beberapa hari ini kita selalu di masakin Nyonya Felica dan masakannya enak banget."


Sandra terdiam.


Beberapa hari saja dia tidak masuk ke dalam mension Felica sudah di ijinkan untuk keluar kamar.


"Loh Sandra, kamu sudah sembuh?" Ucap Lendra


"Pak Lendra, sudah Pa."


"Kamu masuk dan lakukan pekerjaan kamu."


"Baik Pa."


Sandra masuk ke dalam mension, dia Sendiri tidak ingin terlalu lama sakit. Dia langsung kembali ke mension saat tubuhnya sudah lebih baik karena tidak mau jika Alvaro nantinya akan memecatnya.


Beberapa hari tidak ke mension dan tidak bertemu dengan Alvaro sungguh membuatnya rindu akan ketampanan Tuannya.


Namun langkahnya terhenti saat melihat cookies yang berada di atas meja, cookies yang sama dengan para penjaga makan tadi.


"Jadi ini cookies yang perempuan itu buat, aku tidak akan pernah biarkan dia mengambil semua milikku termasuk Tuan Alvaro."

__ADS_1


"Sandra, kamu sudah sehat?"


Sandra menoleh, Caca yang baru saja keluar dari dapur pun berjalan mendekat dengan senyuman di wajahnya.


"Oya kamu bisa cobain cookies aku, tapi aku masih belajar sih tidak seperti kamu yang sudah pasti sangat pintar membuat cookies."


Sandra menatap cookies di tangannya, memang terlihat enak dan juga dari tampilannya sangat cantik.


"Tenggorokan ku masih sakit, jadi tidak boleh makan sembarangan."


Caca mengernyit, maksudnya sembarang oleh Sandra bagaimana. Semua bahan untuk membuatnya pun tersedia di dapur mension bahkan semua sama seperti yang dia pakai untuk memasak atau membuat kue biasanya.


"Tapi semua bahannya aku ambil dari dapur."


"Memang dari dapur tapi aku tidak yakin jika cara membuatnya itu bersih."Ucap Sandra berjalan meninggalkan Caca yang masih tidak mengerti dengan ucapannya.


"Loh nyonya Anda kenapa?" Ucap Lisa saat melihat Caca terdiam.


"Gapapa kok, aku ke kamar dulu."


Lisa menatap sikap aneh dari Felica, dia tau jika ada sesuatu. Namun apa yang terjadi sedangkan dirinya baru saja membereskan semua alat masak yang telah di pakai Felica.


Di dalam kamarnya Felica masih terdiam, apa dia salah terhadap Sandra. kenapa selama dia berada di mension hanya Sandra lah yang bersikap jutek kepadanya berbeda dengan semua pelayan ataupun penjaga di mension. Mereka bersikap ramah terhadap Felica.


**********


Alvaro memang selalu mengadakan meeting rutin hampir setiap bulannya.


Kini dia berjalan masuk ke dalam ruangannya.


"Maaf Tuan Alvaro." Ucap Isabella membuat Alvaro menoleh.


"Tuan terlihat sangat lelah karena meeting hari ini, Saya akan membuatnya kopi atau teh hangat untuk Anda."


"Tidak perlu."


"Tapi Tu-


Alvaro langsung menutup pintunya, dia malas mengurusi Isabella yang terus saja ingin mendekatinya.


"Bel, kamu ngapain di situ?" Ucap Miko


Isabella menoleh, tanpa menjawabnya dia lantas menuju meja kerjanya membuat Miko menautkan kedua alisnya bingung.


Dia pun membuka pintu ruangan Alvaro.


"Maaf Tuan, semua rekapan tentang kecelakaan Orang tua Nyonya Felica sudah ada dalam flashdisk ini."


Alvaro menerimanya dan langsung menatapnya.

__ADS_1


Detik dimana dua orang yang berada di sebuah pesta hingga mereka masuk ke dalam mobilnya, dan dalam perjalanan pulang mobil mengalami rem belong hingga tidak terkendali dan menabrak sebuah pembatas jalan. Karena laju mobil yang kencang membuat mobil terjungkir dan meledak membuat dua orang di dalam mobil meninggal di tempat.


"Mobil mereka sudah di sabotase, kabel rem sengaja di potong hingga mobil mengalami rem blong dan akhirnya kecelakaan itu pun terjadi."


"Apa Johan juga yang melakukannya?"


"Benar Tuan, Johan sengaja melakukan semua itu karena ingin mengambil semua harta mereka. Dan di saat kematian mereka kondisi Nyonya Felica sangat terpuruk hingga tidak mengurusi semua harta yang di tinggalkan dan mempercayakan semuanya kepada Johan yang notabene adalah Paman dari Nyonya Felica. Namun karena keadaan itu, mereka malah sengaja memanfaatkan Nyonya Felica untuke mengambil alis semua hartanya."


Miko menjelaskan semuanya tanpa ada yang tertinggal karena Alvaro memang menginginkannya sangat detai.


Alvaro yang mendengarnya pun mengepalkan tangannya kuat, dia tidak menyangka jika Johan bisa melakukan kejahatan seperti ini bahkan Felica sendiri adalah keponakannya.


"Kamu terus awasi semua pergerakan mereka, jangan sampai mereka mengganggu Felica."


"Baik Tuan."


Alvaro kembali menatap rekapan cctv kecelakaan itu. Dia sangat tau bagaimana keadaan Felica saat ini. Di tinggalkan dua orang tuanya sekaligus, di rebut semua hartanya dan dijadikan alat pencari uang selama hidupnya.


Miko menatap keri bagaimana wajah Alvaro saat ini, dia sangat tau jika sahabat sekaligus bosnya sedang sangat emosi.


______


Felica yang baru saja selesai mandi kaget saat melihat Alvaro sudah berada di dalam kamarnya dan menatapnya dengan tatapan tajam seakan ingin menerkamnya.


"Alvaro" Kaget Felica


Glek..


Alvaro menelan kasar ludahnya, menatap penampilan Felica saat ini yang hanya berbalut Bath Robe dengan rambut basahnya sungguh terlihat begitu menggoda.


"Pakai pakaian kamu." Ucap Alvaro memalingkan wajahnya.


Felica Langsung masuk ke dalam walk in closed dan memakai pakaian asal karena dia tidak mau membuat Alvaro menunggu.


"Sudah, Kamu kenapa sudah kembali Al."


Felica berjalan keluar dan berdiri di dekat Alvaro yang masih duduk di sofa.


"Apa kamu bisa memijat?"


Felica menautkan kedua alisnya, namun dia menatap wajah Alvaro yang terlihat sangat lelah.


"Dulu aku pernah memijat Papa saat pulang kerja, Apa kamu juga mau aku pijat?"


"Hm"


"Dimana kamu mau di pijat?"


Alvaro menunjuk kepalanya yang cukup pusing, bukan hanya masalah Perusahaan namun juga karena memikirkan Felica yang entah kenapa mulai masuk dalam pikiran Alvaro.

__ADS_1


__ADS_2