
Felica membuka matanya, namun tatapannya langsung tertuju dengan wajah tampan seseorang yang masih terlelap di samping menghadapnya membuat Caca hampir saja kaget dan mengurungkan niatnya untuk berteriak.
Alvaro masih terlelap di sampingnya.
Jadi semalam Alvaro tidur di kamarnya, setelah kejadian semalam membuat Caca langsung terlelap dan tidak menyadari apapun.
"Morning." Ucap Alvaro membuka matanya bahkan dengan suara masih parau.
Caca tersenyum dan akan beranjak bangun. Namun Alvaro menahan tangannya.
"Bersiaplah." Ucap Alvaro beranjak bangun.
Caca menatap bingung Alvaro hingga tubuhnya sudah tidak terlihat lagi.
Namun walau begitu Caca tetap bersiap, dia tidak mau jika Alvaro marah menunggunya.
Sementara Alvaro sudah bersiap dengan pakaian santainya, dia duduk menunggu Caca yang sedang bersiap.
Tidak lama terlihat Caca menuruni anak tangga. Sama dengan Alvaro, Caca pun hanya memakai pakaian santai. Celana jeans hitam dengan kemeja biru muda di padukan dengan flat shoes. Tubuh ramping walaupun tidak begitu tinggi membuatnya tetap terlihat sangat cantik.
"Maaf Tuan, ini kunci mobilnya." Ucap Lendra.
Alvaro menerimanya dan kembali menatap Caca yang berdiri di sana.
"Ayo" Ajaknya berjalan keluar.
Caca sedikit berlari mengejar langkah lebar Alvaro.
Mobil sudah siap di halaman, bahkan dua orang penjaga langsung membuka pintu mobil.
"Terimakasih" Ucap Caca.
"Sama-sama Nyonya."
Kali ini Caca duduk di samping Alvaro, dan untuk kedua kalinya Alvaro tidak bersama Miko ataupun sopir mereka.
Caca hanya terus menatap keluar, entah sudah berapa lama dia tidak keluar. tidak melihat keadaan luar karena selama ini dia hanya berada di dalam mesion tanpa bisa keluar dan melihat suasana luar.
Alvaro menoleh,
"Oya Al, kita mau kemana?" Ucap Caca menatap Alvaro.
Ya dia melupakan untuk bertanya jika mereka akan pergi kemana hari ini.
"Terserah, apa kamu mau ke suatu tempat?"
Caca terdiam seakan memikirkan sesuatu sampai dia kembali menatap Alvaro. Apa Alvaro akan menurutinya saat ini dia sangat ingin pergi ke suatu tempat.
"Kenapa diam?" Lanjut Alvaro membuat Caca menggeleng.
"Aku bakal menjadi sopir kamu hari ini, kemanapun bakal aku antar."
"Apa kamu serius?"
"Kapan aku berbohong."
"A- aku sangat ingin ke Malam orang tuaku, sudah lama aku tidak datang menemuinya."
Tanpa berpikir panjang, Alvaro melajukan mobilnya menuju Makam.
Caca sempat mengernyit saat mobil sampai di parkiran Makan, sejak kapan Alvaro tau jika orangtuanya di makamkan di sana.
"Ayo turun, kenapa diam?" Ucap Alvaro membuka pintu mobil.
__ADS_1
Caca mengangguk dan mereka berjalan keluar.
Sangat ingin rasanya Caca membeli bunga, namun dia tidak mempunyai yang sepeserpun. Tidak mungkin dia juga meminta uang kepada Alvaro.
"Kamu duluan, nanti aku susul." Ucap Alvaro.
Caca mengangguk dan berjalan menyusuri beberapa makam hingga dia sampai di depan sebuah makam yang terawat. Caca menatap sekeliling apa telah ada seseorang yang datang ke makam apalagi melihat bunga yang bertabur di atas makan terlihat masih segar.
"Ini" Ucap Alvaro menyodorkan bunga tabur.
Caca sempat terkejut, namun dia menerimanya seraya mengucapkan terimakasih.
Alvaro berjongkok di samping Caca yang tampak menaburkan bunga. Bahkan Caca sesekali mengusap Batu Nisan yang masih tertancap di sana.
"Halo Pa, Ma, Caca datang menemui kalian.
Maaf karena Caca baru bisa datang, Bagaimana kabar kalian di surga."
Caca menghela napasnya dalam.
Ingin rasanya dia menceritakan semua keluhnya di depan makan Orangtuanya seperti biasanya namun dia tidak mau karena ada Alvaro di sampingnya.
"Kalian bahagia di sana ya, Caca selalu kirim doa untuk kalian. Caca sayang kalian."
Alvaro terus menatap Caca, hatinya terenyuh melihat gadis di sampingnya. Gadis yang masih sangat muda dan seharusnya masih harus bersama keluarganya. Namun berbeda dengan Caca yang di haruskan bersikap dewasa di usianya yang masih sangat muda.
"Aku janji bakal menjaga kamu, Bahkan aku berjanji di depan makan Orang tua kamu." Batin Alvaro sembari masih menatap Felica yang tampak menyeka air matanya.
"Sudah?" Ucap Alvaro saat Felica beranjak.
"Eum."
Alvaro mengangguk dan mereka kembali menuju mobil, namun dia kembali teringat dengan bunga yang bertabur di atas makan orang tuanya.
"Tidak, aku hanya merasa heran. di atas makam Papa Mama ada taburan bunga yang masih segar, makam pun terawat padahal aku sudah lama tidak datang. siapa yang merawatnya."
Alvaro terdiam.
Dia tidak tau siapa orang yang selalu datang ke makam, dia hanya mendapatkan informasi dari Miko dimana makam orang tua Felica.
"Mungkin kuncen."
"Em bisa jadi. Tapi kenapa kamu tau malam orangtuanya aku di sini."
"Aku tau semua tentang kamu."
Felica menautkan kedua alisnya.
"Semua soal aku?"
Alvaro tidak menjawabnya, dia kembali melajukan mobilnya keluar parkiran makam.
"Al"
"Hem"
"Kamu bener mau anter aku kemana pun hari ini?" Ucap Felica hati-hati.
"Memangnya mau kemana lagi?"
"Tidak, terserah kamu saja."
Alvaro menautkan kedua alisnya. Namun bukan Alvaro jika dia tidak bisa menebak isi pikiran Felica.
__ADS_1
Alvaro melajukan mobilnya menuju sesuatu tempat dimana sudah pasti Felica akan sangat bahagia.
"Al ini?" Ucap Caca saat mobil berhenti tepat di depan sebuah toko bunga.
"Pergilah aku akan menunggu di sini."
"Terimakasih Al."
Felica membuka pintu mobil, dia segera masuk ke dalam toko.
Ting.
"Silahkan ada yang bisa saya bantu."
"Caca" Ucap Dinda saat melihat Felica berdiri menatapnya.
Caca tersenyum dan segera berlari memeluknya, menumpahkan rasa rindunya kepada Dinda yang sudah seperti ibu pengganti dirinya.
Begitupun dengan Dinda yang membalas pelukannya.
"Kamu kemana saja Ca, gimana kabar kamu, kamu baik-baik saja bukan?" Ucap Dinda menangkap wajah Caca.
"Caca baik-baik saja Bu, Maaf Caca baru bisa datang. Dan Maaf Caca sudah membuat Bu Dinda khawatir."
Dinda kembali memeluk Caca erat, Caca yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri dan sudah selama satu bulan lebih menghilang dan kini kembali datang.
"Cerita sama Ibu, kemana saja kamu selama ini."
Mereka duduk di kursi, Caca terus menggenggam kedua tangan Dinda.
"Ibu jangan khawatir dengan Caca ya, Caca baik-baik saja dan sekarang Caca bersama orang baik."
"Tapi Ca, Bibi kamu bilang kalau kamu sekarang menjadi tawanan hutang-hutang mereka. Apa itu benar dan bagaimana selama di sana. mereka tidak menyiksa kamu kan Nak?"
Caca tersenyum dan menggeleng.
Dia tidak bisa menceritakan dimana dia tinggal selama ini.
"Ibu tenang ya, mereka tidak menyakiti Caca bahkan mereka sangat baik kepada Caca."
"Syukurlah, Ibu tenang dengernya."
"Caca permisi ya Bu, Caca janji Caca akan kembali datang. Ibu jaga kesehatan ya, jangan kelelahan. Maaf karena Caca tidak bisa kembali membantu Bu Dinda di toko."
Dinda mengangguk.
"Caca pamit dulu Bu, Assalamualaikum."
"Wa'alaikusalam."
Dinda menatap Caca yang berjalan keluar, sebenarnya dia masih sangat merindukan Caca.
Caca tidak ingin Alvaro menunggunya lama, dia pun kembali masuk ke dalam mobil dengan menyeka air matanya.
Alvaro menoleh, dia mengambil tisu dan mengusapnya.
"Kita bakal kembali datang kapanpun."
Caca menoleh, dia tersenyum dan mengangguk.
Dinda yang melihat Caca masuk ke dalam mobil mewah pun Bingung, apa Caca datang bersama seseorang tapi dia tidak melihat orang di dalam mobil.
Tidak lama terlihat Bastian yang datang ke toko. Hampir setiap hari Bastian datang ke Toko untuk menanyakan soal Felica.
__ADS_1