
Felica mengerjapkan matanya, dia menatap ruangan yang asing dengannya. ruangan dengan bercat abu-abu dan lebih dominan berwarna gelap.
"Sudah bangun.?"
Suara seseorang membuatnya menoleh, Alvaro keluar kamar mandi dengan hanya memakai handuk di pinggangnya bahkan rambut yang masih sedikit basah membuatnya semakin terlihat sangat tampan.
"Al- Alvaro." Kaget Felica memalingkan wajahnya.
Alvaro tersenyum dan mengacak rambut Felica, dia pun berjalan masuk ke dalam walk in closet.
Felica memegang jantungnya yang kini berdetak lebih cepat.
Alvaro keluar dengan sudah berpakaian santai, memakai celana pendek dengan kaos berwarna hitam.
"Ini kamar kamu Al?"
"Hem"
"Kenapa aku di sini dan bukannya di kamar aku sendiri."
Alvaro menatap gadisnya, dia pun berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.
"Memangnya kenapa?"
Felica terdiam.
Dia tau jika Alvaro tidak mengijinkan siapa masuk ke dalam kamarnya namun kenapa Alvaro malah membawakan ke kamar.
"Tidak."
Felica menatap keluar, ternyata sudah sore berarti dia tidak lumayan lama.
"Aku mau mandi dulu." Ucapnya beranjak bangun dan turun.
Alvaro hanya terus menatapnya hingga Felica keluar kamarnya.
Baginya Felica bukan orang lain, bahkan mereka sering tidur bersama.
Sandra yang sudah kembali ke mension pun merasa kaget saat melihat Felica keluar dari kamar Alvaro.
Selama ini hanya orang tertentu saja yang di ijinkan masuk. bahkan selama dirinya bekerja di sana pun tidak tau bagaimana keadaan di dalam kamar.
Sandra memang di ijinkan kembali bekerja namun bukan untuk memasak namun Lendra memindahkannya untuk bersih-bersih.
Felica meminta Alvaro untuk tidak memecatnya.
"Sandra, kenapa kamu sudah ke mension apa kamu sudah sembuh?" Ucap Lendra
"Saya sudah lebih baik Pak."
"Baiklah,, kamu sudah tau bukan tugas kamu sekarang."
"Iya Pa."
"Kerjakan dan jangan membuat masalah."
Lendra berjalan meninggalkan Sandra, dia akan melihat semua pelayan yang sedang melakukan tugas masing-masing.
Sedangkan Alvaro berdiri di balkon kamarnya dengan menyesap nikotin di tangannya.
Dia buka perokok aktif, namun sesekali dia merokok jika sedang merasa lelah ataupun banyak masalah.
Suara bunyi ponsel membuatnya menoleh, dia menatap ponsel Felica yang menyala.
__ADS_1
Dia membuang rokok yang baru dia usap sedikit dan berjalan masuk.
Matanya mengernyit saat melihat beberapa panggilan telpon dari nomor yang tidak di kenal bahkan dia tidak lama terlihat sebuah pesan masuk dari nomor yang sama.
0812xxxx
Caca, ini Kak Bastian.
Tolong telpon balik jika kamu sudah membaca pesan Kakak.
Alvaro terdiam, jadi laki-laki itu bernama Bastian.
Tapi kenapa dia bisa tau Nomor Felica, apa Felica memberikannya.
Tok,,
Tok,,
Tok,,
"Al, aku masuk ya" Ucap Felica dengan menampilkan kepalanya.
"Hem"
Felica masuk ke dalam kamar dan langsung menghampiri Alvaro yang kini duduk di ranjang.
Felica sudah lebih segar, dia memakai kaos over size di padukan dengan celana jean yang hanya panjang semata kaki.
"Aku mau ambil ponsel aku, boleh kan?"
Alvaro mengambil dan memberikannya.
Sedangkan Felica membukanya, matanya menatap banyaknya panggilan masuk dari nomor yang tidak dia kenal dan sebuah pesan.
"Kamu memberikan nomor kamu kepada laki-laki itu?" Ucap Alvaro tiba-tiba.
Felica menggeleng.
Dia memang tidak memberikannya, hanya kepada Ibu Dinda.
"Terus dari mana dia tau nomor kamu, bahkan tadi siang kalian bertemu."
"Aku tidak memberikan nomor aku, aku hanya memberikannya kepada Bu Dinda. Maaf aku tidak minta ijin sama kamu."
Felica tau seharusnya dia lebih dulu minta ijin Karena Alvaro yang memberinya ponsel itu.
"Terus bagaimana dia bisa tau."
"Aku tidak tau, mungkin Bu Dinda yang memberikannya.
Maaf."
Alvaro menghela napasnya.
"Siapa dia sebenarnya"
Felica menatap Alvaro, wajahnya kembali tegas dan membuatnya merasa takut. Tatapan tajam dengan mata elang yang kembali Alvaro lihat kan.
"Dia Sebastian, Dulu dia yang selalu membantu aku saat Paman ataupun Bibi menyiksa aku. Kita memang dekat. Kak Bastian sangat baik, peduli juga menjaga aku."
Alvaro mengepalkan tangannya mendengar cerita Felica. Jadi mereka sangat dekat.
"Kak Bastian juga selalu mengajak aku pergi saat aku sedih, membawa aku bertemu Papa Mama. Menghibur aku saat aku sedih memikirkan kehidupan aku."
__ADS_1
"Jadi kalian dulu sedekat itu. Apa kamu menyukainya." Ucap Alvaro membuat Felica mengernyit.
"Aku menganggapnya seperti kakak aku sendiri. Kak Bastian juga sudah sangat dekat dengan orang tua aku Dulu. kita kenal saat aku masih sekolah SMP dan sejak saat itu aku menganggapnya sebagai kakak karena memang aku sangat ingin memiliki seorang Kakak."
Alvaro menatap wajah Felica.
Ada rasa lega dalam dirinya ketika mendengar jika Felica hanya menganggapnya sebagai seorang kakak.
"Kamu marah karena aku memberikan nomor aku ke Bu Dinda.?"
Alvaro tersenyum dan mengusap wajah Felica.
"Tidak,, Maaf."
Felica tersenyum dan kembali memeluk laki-laki di sampingnya. Entah kenapa dia selalu menyukai Pelukan Alvaro. pelukan yang membuatnya tenang dan nyaman.
"Kenapa peluk?" Ucap Alvaro membuat Felica Mendongak.
"Kenapa, aku tidak boleh peluk kamu?"
"Becanda."
Felica tersenyum dan kembali memeluk Alvaro.
Begitu pun Alvaro yang membalas pelukan gadisnya.
Di tempat lain.
Sebastian terus menatap layar ponselnya. dia berharap jika Felica akan menghubunginya namun hampir satu jam bahkan pesannya pun sudah di baca namun Felica tidak menghubunginya.
Drt drt
Bastian segera menjawabnya.
"Halo Ca."
"Ca,, Ini aku Sela Kak."
Bastian menatap layar ponselnya, ternyata Sela yang menghubunginya padahal dia berharap Caca yang menghubunginya.
"Ada apa kamu menelepon."
"Tadi Kakak bilang Ca, memangnya Kakak menunggu telpon dari siapa?"
"Bukan siapa-siapa, kamu kenapa menghubungiku."
"Gapapa Kak, aku cuma kepikiran kenapa Kakak jarang kelihatan. dulu bahkan Kakak sering ke rumah tapi kenapa sekarang tidak pernah."
"Aku sibuk, apa ada yang ingin kamu bicarakan."
"Tidak, aku hanya ingin tau kakak sedang apa sekarang."
"Maaf Sel, aku masih sibuk dengan pekerjaan. Aku matikan dulu."
Bastian menutup telponnya.
Dia berharap Caca yang menghubunginya namun malah Sela. Dia tidak menyukai sifat Sela dia tau bagaimana sifat asli Sepupu Caca itu.
"Apa kamu sudah melupakan Kakak Ca. apa laki-laki itu sudah mengganti posisi Kakak. Atau bahkan kamu takut dengan laki-laki itu jika menghubungi Kakak.
Kakak tidak akan pernah membiarkan kamu kembali menderita. Kakak akan membuat kamu bahagia dan membawa kamu keluar dari rumahnya.
Aku sudah janji untuk menjaga kamu dan membuat kamu bahagia Ca. Karena sebenarnya Kakak mencintai kamu."
__ADS_1
Bastian berdiri di balkon kamarnya dengan matanya menatap senja sore. Langit berwarna Orange yang begitu cantik dan indah. Namun tidak seindah dengan hati dan perasaannya saat ini.