
Alvaro masih terdiam dengan semua ucapan Miko saat di ruangannya. Bahkan dia sendiri tidak mengerti dengan hati dan perasaannya. Apa benar jika dia memiliki perasaan kepada gadis kecil yang hanya dapat jadikan tawanan olehnya. Namun di balik semua itu, Alvaro memang tidak bisa berbuat kasar ataupun menyiksa Felica. bahkan dia selalu berusaha membuat gadisnya selalu tertawa dan dia sendiri sudah berjanji jika akan membahagiakan Felica dan tidak akan kembali menorehkan luka di hatinya.
Hingga suara seseorang membuyarkan lamunannya.
Isabella berdiri di depan Alvaro dengan membawa makanan yang entah sejak kapan berada di sana.
"Sudah berapa kali saya bilang, jangan asal masuk."Ucap Alvaro dingin.
"Aku sudah mengetuknya berulangkali tapi kamu tidak mendengarnya. Memangnya kamu sedang memikirkan apa?"
Alvaro menatap tajam sekretarisnya, bahkan Isabella melupakan siapa dirinya saat ini.
Walaupun mereka memang dulu pernah kuliah bersama namun Alvaro tidak pernah menyukai orang lain bersikap seperti dekat dengannya terkecuali sahabatnya.
"Ini di Kantor jika Kamu lupa."
"Oke Maaf, Ini saya bawakan makan untuk Anda Tuan. Saya lihat Anda bahkan tidak keluar untuk makan siang."
"Bawa saja, saya sudah makan."
Isabella menatap selidik, tidak ada bungkusan makanan di dalam ruangan Alvaro bahkan kopi yang dia buatkan pagi tadi pun sama sekali tidak di sentuh olehnya.
"Saya tidak percaya, bahkan Anda tidak meminum kopi."
"Jika tidak ada hal penting silahkan keluar."
Isabelle menatapnya kesal.
Dia pun berjalan keluar. sudah sangat lama dia menyukai Alvaro sejak kuliah namun Alvaro sangat dingin dan dia begitu sulit untuk di dekati.
Alvaro sendiri merasa tidak bisa fokus, beberapa kali dia menatap ponselnya dan tidak ada Telp masuk dari Felica. Apa gadisnya masih tidur. Bahkan ini sudah hampir jam 2 siang. Tidak mungkin Felica akan tidur selama ini.
****,, Umpat Alvaro beranjak bangun dan keluar ruangan.
"Tuan Anda,-
"Kamu urus semuanya." Ucap Alvaro masuk ke dalam lift khusus.
Miko menggeleng.
Dia tau jika sahabat nya pasti akan pulang ke rumah. Dia tau bagaimana Alvaro. Namun dia merasa senang jika Sahabatnya bisa kembali menata hati dan perasaannya.
Sementara di rumah.
Felica baru saja membuka matanya, Lisa yang memang berada di dalam kamar pun Segera mendekat.
"Lisa."
"Ya Nyonya."
"Aku tidur terlalu lama, kamu menunggu di sana selama itu?"
Lisa mengangguk.
Alvaro memang memintanya untuk terus berada di dalam kamar sampai Felica bangun.
Sebegitu khawatirnya Alvaro hingga membuat Lisa hanya bisa menghela napasnya karena sikap posesif Tuannya.
"Tuan meminta saya menunggu hingga Anda bangun nyonya."
__ADS_1
"Alvaro?"
"Tuan menghubungi Anda tapi tidak aktif."
Felica menoleh ke arah meja, dia memang belum membuka ponselnya.
"Aku belum mengaktifkan ponselnya."
"Tuan juga berpesan jika Anda di minta untuk menghubunginya."
"Ya Aku akan menghubungi nanti."
"Apa Anda ingin makan Nyonya?"
Felica menggeleng.
"Aku tidak lapar."
"Tapi Anda belum makan dan ini sudah hampir sore."
"Apa Sandra di bawah?"
Lisa menautkan kedua alisnya.
Dia tidak paham kenapa Felica malah mencari Sandra ada apa sebenarnya.
"Sandra ada di bawah dan sedang melakukan pekerjaannya."
"Aku ke kamar mandi dulu."
"Silahkan Nyonya."
Sementara Alvaro segera masuk ke dalam rumahnya, dia langsung menuju Lift dan ingin segera bertemu dengan gadisnya. Entah kenapa dia merasa begitu khawatir dengannya dan tidak ingin membuat gadisnya marah kepadanya.
Klek..
Pintu terbuka membuat Lisa menoleh saat sedang membereskan tempat tidur.
"Tuan."
"Dimana Felica."
"Nyonya sedang ke kamar mandi."
Alvaro mengangguk dan meminta Lisa untuk keluar kamarnya, dia ingin bicara dengan Felica.
Sedangkan Felica, dia malah membuka pakaiannya dia sangat ingin mandi dan tidak hanya membersihkan wajahnya.
Selang beberapa menit, Felica baru menyadari jika dirinya tidak membawa bathrobe ataupun handuk.
Dia pun berjalan mendekat ke arah pintu dan berteriak dari dalam.
"Lisa kamu masih di sana bukan, aku lupa tidak membawa handuk kamu bisa tolong ambilkan." Ucap Felica sedikit berteriak.
Alvaro yang mendengarnya pun berjalan masuk walk in closet dan mengambil handuk di sana.
"Terima Kasih." Ucap Felica saat dia menerima handuknya.
Dia pun membuka pintu dan berjalan keluar tanpa menyadari jika ternyata Alvaro sudah berada di dalam kamarnya dengan menatapnya dengan tatapan yang begitu membuatnya tersiksa.
__ADS_1
Felica hanya memakai handuk dan sedikit mengekspos kaki jenjangnya, paha putih mulusnya membuat Alvaro dengan sudah payah menelan Saliva nya.
Alvaro sedang membuka ponselnya, Miko mengirimkan pesan kepadanya dan dia menoleh saat pintu kamar mandi terbuka namun matanya di sajikan dengan Felica yang hanya memakai Handuk dengan rambut yang masih basah.
"Ehem."
Felica langsung menoleh mendengar suara seseorang, Kini pandangannya tertuju kepada seorang laki-laki yang tengah duduk di sofa dengan menatapnya tajam.
"Al- Alvaro.. kenapa kamu di dalam." Kaget Felica yang sedang asik menatap wajahnya di depan cermin.
Alvaro membuang wajahnya.
Dia harus mengendalikan dirinya, bagaimana pun dia adalah laki-laki normal dan akan terpancing melihat pemandangan seperti ini.
"Apa kamu mau tetap memakai itu." Ucap Alvaro membuat Felica membulatkan matanya dan sedikit berlari masuk ke dalam Walk in closet.
Felica merutuki dirinya, kenapa dia bisa tidak melihat adanya Alvaro di sana.
Felica langsung mengambil pakaiannya dan memakainya. Hanya memakai Kaos over size dengan celana jeans biru panjang.
Dia pun berjalan keluar, wajahnya begitu malu sampai tidak berani menatap Alvaro.
Alvaro menautkan kedua alisnya menatap Felica yang bertingkat aneh.
Dia pun berjalan mendekat membuat Felica semakin gugup, bagaimana tidak mereka hanya berdua dan di dalam satu kamar. apalagi tindakannya tadi membuatnya sangat malu.
"Ka- kamu mau apa?" Ucap Felica saat Alvaro berdiri tepat di depannya.
Alvaro tidak menjawab, namun dia mengambil handuk kecil di tangan Felica.
"Kamu akan sakit jika membiarkan rambut kamu basah."
deg.
Felica terdiam dengan tindakan Alvaro yang mengeringkan rambut basahnya. Alvaro bahkan melakukannya dengan begitu lembut.
Tidak ada obrolan di sana, hanya ada Alvaro yang masih mengeringkan rambut panjangnya.
"Sudah kering Al." Ucap Felica dan Alvaro meletakkan handuknya.
Felica menatap jam yang masih pukul 3 sore, tapi kenapa Alvaro sudah berada di rumah.
"Kamu sudah di rumah, sejak kapan?"
"Sejak kamu berteriak tadi."
"Hah, jadi kamu yang mengambilkan aku handuk?"
Alvaro mengangguk.
Astaga Felica merutuki tingkahnya, dia merasa semakin malu.
"Kenapa kamu belum mengaktifkan ponselnya."
Felica langsung menatap paper bag yang masih sama saat Alvaro memberikannya pagi tadi.
"Maaf aku ketiduran tadi."
Alvaro menatap wajah Felica. Ucapan Miko kembali terekam jelas di otaknya.
__ADS_1
Apa benar dia menyukai Gadis di depannya.