
Sudah hampir sebulan Caca berada di mansion Alvaro bahkan selama itu pula dia tidak pernah keluar kamar. Dia tidak pernah tau kehidupan di luar kamar bahkan di luar pintu kamar pun Caca tidak tau. Dia hanya ingat di saat pertama datang dan itupun dia langsung di bawa ke dalam kamar.
Walaupun semua kebutuhan selalu di penuhi, makanan sampai semua pakaian namun tetap saja Caca merasa menderita dan tidak bebas.
Dia sangat ingin keluar walaupun hanya sekedar di taman, dia tau jika di rumah itu ada sebuah taman karena jika dia berdiri di Balkan makan akan terlihat dari atas.
"Nyonya, Apa yang sedang Anda pikirkan?"Ucap Lisa yang memang selalu menemani Caca setiap harinya.
Caca hanya menggeleng.
Dia hanya tidak mau membuat Lisa kembali di hukum karena keinginannya.
"Sudah waktunya makan siang, biar saya siapkan makanan untuk Anda Nyonya. Apa Anda menginginkan makan sesuatu?"
"Tidak, aku tidak ingin makan sesuatu."
"Tapi Nyonya, Anda hanya sarapan dan itu juga sedikit."
Caca menggeleng dan malah berbaring, dia membelakangi Lisa yang masih berdiri bingung.
"Aku lelah, aku mau istirahat."
"Baik Nyonya, saya akan menyiapkan makanan."
Caca tidak mendengar,
Hidupnya sudah tidak ada Arah, setiap harinya dia hanya berada di dalam kamar tanpa melakukan aktivitas apapun karena semua pergerakannya selalu di awasi.
Sementara di dapur.
Lisa tampak diam, dia merasa tidak tega melihat Caca dia tau bagaimana bosannya dia hanya berada di kamar.
"Lisa"
"Maaf Pak Lendra" Ucap Lisa saat Kepala Maid memanggilnya.
Lendra adalah Kepala Maid di mension milik Alvaro, dia sudah bekerja lama dengannya bahkan sejak kedua orangtuanya Alvaro masih hidup. Sehingga semua urusan rumah Alvaro mempercayakannya kepada Lendra.
"Kenapa kamu malah melamun"
"Maaf Pak, saya hanya merasa kasihan dengan Nyonya Caca. Dia pasti merasa sangat bosan hanya berada di kamarnya."
"Sudahlah kita tidak usah ikut campur, karena itu sudah menjadi keputusan Tuan Alvaro. sekarang kamu siapkan saja makan siang untuk Nyonya Caca jangan sampai kamu kena hukuman lagi."
"Baik Pa"
Lisa mulai menyiapkan semuanya, benar apa kata Lendra jika tidak perlu ikut campur urusan mereka.
"Sebenernya seperti apa sih Perempuan yang menjadi tawanan Tuan Alvaro."
Lisa menoleh.
Dia pun menghela napasnya saat Pelayan wanita lain berdiri menatapnya.
"Maksud kamu Nyonya Felica?"
"Siapapun namanya, secantik apa dia sampai-sampai di kurung oleh Tuan Alvaro di lantai atas."
__ADS_1
"Nyonya Felica itu sangat cantik, kulitnya sangat putih mulus seperti bidadari."
"Iya Kah, tapi aku tidak percaya atau bisa saja dia sengaja menyerahkan dirinya supaya bisa lebih dekat dengan Tuan. Apalagi banyak perempuan yang berniat seperti itu."
"Termasuk kamu?"
"Jaga mulut kamu Lisa."
Lisa tersenyum, dia sangat tau bagaimana sikap Sandra yang selalu menggoda Alvaro namun tidak pernah berhasil.
"Bukannya benar, atau kamu takut jika Tuan malah jatuh cinta dengan Nyonya Felica? sudah pasti Sandra karena Nyonya Felica jauh lebih cantik dan juga sangat baik."
Sandra kesal dan langsung pergi meninggalkan Lisa yang tersenyum dengan sikap Sandra.
Dia pun kembali menyiapkan makan siang untuk Felica.
Sandra yang sangat penasaran seperti apa Felica pun dia berjalan menuju lantai dua dimana kamar yang di tempati oleh Caca juga Alvaro.
Selama ini tidak ada sembarang orang yang bisa naik, hanya Maid tertentu saja yang bisa naik.
Sandra yang memang tidak termasuk berjalan pelan dengan menatap sekeliling, suasana lantai dua sepi membuat Sandra dengan mudahnya naik karena tidak ada penjaga di sana.
"Seperti kamar ini yang di tempati wanita itu, seperti apa sih wanita yang begitu spesial sampai tidak ada seorang pun yang boleh melihatnya."
Sandra berjalan mendekat ke arah satu kamar, dia pun membuka pintu kamarnya.
Dengan langkah hati-hati, Sandra berjalan masuk dan melihat seorang perempuan sedang berbaring di atas ranjang.
Kulit putih mulus dengan rambut hitam sebahu namun wajahnya tidak terlihat karena Caca tidur membelakanginya.
"Ka- Kamu siapa?" Ucap Caca saat membuka matanya.
Sekarang dia bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas.
"Saya hanya di perintahkan untuk membangunkan Anda Nyonya."
Caca mengernyit,
"Makan siang sudah siap, dan Anda bisa turun untuk makan di meja makan."
"Tapi selama ini aku bahkan tidak boleh keluar, terus ini ?"
"Tuan sudah mengijinkannya Nyonya."
Caca tersenyum senang.
Dia sangat mengira jika ucapan Sandra benar, dia pun segera beranjak bangun.
"Silahkan Nyonya."
Caca mengangguk dan langsung keluar kamarnya.
Bak seperti keluar penjara, Caca merasa sangat senang karena bisa keluar kamar dan menatap sekeliling.
Dia pun berjalan turun, matanya menatap sekeliling. Semua perabot terlihat sangat mahal.
Sandra yang melihatnya pun tersenyum senang.
__ADS_1
Karena jika Alvaro tau, sudah pasti Lisa akan kena hukuman karena Lisa lah yang bertanggung jawab penuh dengan Felica.
"Ini akibatnya karena kamu berani dengan saya Lisa, jika Tuan tau pasti Tuan akan menghukum kamu lebih berat.
Dan untuk kamu Felica, gue sengaja buka pintu kamar karena Lo tidak cocok bersanding dengan Tuan Alvaro. Hanya gue yang bisa bersama Tuan." Gumam Sandra tersenyum saat melihat Felica terus berjalan turun.
"Nyonya Felica."
Deg.!
Caca berhenti dan berbalik, Lendra yang baru saja masuk ke dalam mension kaget saat Felica berada di lantai bawah.
Padahal selama ini pintu kamar selalu di kunci dari luar. Bagaimana bisa Caca keluar kamarnya.
"Ka- kamu siapa?" Ucap Felica menunduk.
"Saya Lendra Nyonya, apa Nyonya butuh sesuatu? seharusnya Anda berada di kamar dan baru akan meminta sesuatu jika ada seseorang yang masuk ke dalam kamar."
"Tapi-
"Siapa yang mengijinkan Kamu keluar."
Deg.!
Caca menoleh, Alvaro yang baru saja datang langsung berjalan masuk dan tatapannya terus kepada Caca tanpa beralih.
"SIAPA YANG MENGIJINKAN KAMU KELUAR.!" Ulang Alvaro dengan menaikan suaranya.
Caca menunduk kaget, ini pertama kalinya dia mendengar Alvaro berteriak.
"JAWAB..!!"
"Ti_ tidak ada" Lirih Caca menunduk.
"Panggil Lisa kemari"
Caca menggeleng.
"Tolong Tuan, itu bukan salah Lisa. Lisa tidak menyuruh saya keluar. saya sendiri yang keluar kamar."
"Sejak kapan kamu berani melawan saya."
Caca memejamkan matanya.
Mungkin ini sudah saatnya dia bicara, jika selama ini dia hanya diam dan menurut tapi kesabarannya sudah habis.
"Nyonya Felica" Ucap Lisa yang juga kaget.
"Tuan tolong jangan hukum Lisa lagi, ini semua salah saya." Ucap Caca memohon.
"Bawa Dia ke ruang belakang."
"Tidak,, tuan tolong lepaskan saya." Teriak Caca saat tubuhnya di seret ke ruang belakang.
Sementara Lisa hanya bisa terdiam, dia tidak bisa berbuat apapun karena ucapan Alvaro adalah perintah di Mension.
Berbeda dengan Sandra yang tampak tersenyum, dia sengaja ingin memfitnah Lisa karena telah berani dengannya dan juga dia tidak mau Felica terus berada di Mension.
__ADS_1
Selama ini Felica bahkan diperlakukan sangat baik berbeda dengan mereka yang hanya menjadi Maid di sana.