
Kamar luas dengan kasur yang begitu empuk bahkan terlihat sangat mewah sangat berbeda jauh dari kamar yang dulu dia tempati saat di Rumahnya.
Alya tidur di gudang samping dapur, dia harus membersihkan tempat itu sebelum menjadikannya sebagai kamar tidurnya karena memang baik Paman ataupun Bibinya tidak memperbolehkan Alya tidur di salah satu kamar mereka. padahal jika mereka ingat rumah yang mereka tempati adalah milik keluarga Caca. Namun mereka mengambil alih semua harta Orang tua Caca saat keadaan Caca masih terpuruk karena kematian orangtuanya.
Ceklek,,
Pintu terbuka membuat Caca langsung menoleh.
"Selamat pagi Nyonya." Sapa seorang pelayan wanita masuk ke dalam kamarnya.
"Ini Sarapan untuk Anda." Lanjutnya meletakkan sebuah nampan berisi makanan juga segelas air putih.
"Bawa saja, saya tidak lapar." Ucap Caca tanpa berselera.
"Maaf Nyonya, tapi Tuan memerintahkan saya untuk melayani Anda. Tuan meminta saya untuk memastikan anda makan."
"Saya bilang tidak lapar."
"Harusnya kamu bersyukur karena Saya masih memberikan kamu makan." Ucap Alvaro masuk ke dalam.
"Tuan" Ucap pelayan dengan menundukkan tubuhnya.
"Kamu boleh keluar."
"Baik Tuan."
Caca terdiam, dia menunduk karena Tatapan Alvaro yang benar-benar sangat mengerikan.
Alvaro menatap makanan yang kembali tidak Alya sentuh, bahkan semalam pun Alya tidak makan makanan yang di bawakan ke kamar.
"Sekarang makan makanan itu."
"Saya tidak lapar."
"Saya tidak mau melihat orang mati di mension saya apalagi orang itu adalah jaminan hutang."
Deg.!
Sakit rasanya mendengar jika dirinya adalah jaminan hutang.
"Sekarang kamu makan karena kamu harus hidup sampai Johan membayar semua hutang-hutang."Ucap Alvaro sebelum dia pergi keluar.
Alya meneteskan air matanya.
Apa ini takdir hidupnya, sampai kapan dia harus hidup seperti ini. Hidup di dalam kamar mewah dengan semua pelayanan namun hati dan perasaannya selalu tersiksa.
"Papa Mama,, hiks hiks ijinkan Caca ikut kalian. Caca sudah gak kuat dengan hidup Caca."
Caca terus menangis dengan keadaannya saat ini, bahkan dia pun tidak bisa memberikan kabar kepada Dinda karena tas dan semua yang dia bawa di ambil oleh laki-laki itu.
"Nyonya"
Caca mendongak.
Matanya sangat sembab, namun Alya tetap terlihat begitu cantik.
"Tolong turuti ucapan Tuan, Tolong Anda makan dari semalam Anda sama sekali tidak makan."
"Tapi saya tidak lapar."
"Sedikit saja, Nyonya bisa sakit jika tidak makan."
"Jika saya memang harus mati, saya siap."
__ADS_1
"Nyong jangan pernah bicara seperti itu."
"Kenapa? bahkan sudah tidak ada lagi orang yang peduli dengan saya. Paman saya bahkan menjadikanku sebagai jaminan atas hutannya."
Sungguh sangat malang nasib Caca, namun apa yang bisa di perbuat saat ini.
"Nyonya yang sabar, Tuan sebenarnya tidak jahat."
Caca tersenyum,,
Bisa-bisanya mereka bilang seperti itu, bahkan ucapan saja sudah sangat menyakitkan hatinya.
"Sekarang Nyonya makan, saya akan menunggu di sini sampai Nyonya makan."
"Terserah." Ucap Alya membaringkan tubuhnya membelakangi pelayan.
Sejujurnya Alya merasa sangat jahat bersikap seperti itu, tapi dia pun sangat ingin keluar dari rumah itu.
Detik berganti menit hingga berganti Jam.
Alya yang kelelahan pun akhirnya tertidur. Namun di saat dia kembali terbangun matanya menatap pelayan yang masih setia menunggunya di sana.
"Kenapa kamu masih di sini, saya bilang saya tidak mau makan."
"Tuan memerintahkan saya untuk memastikan Anda makan Nyonya."
Caca beranjak bangun.
"Kenapa begitu keras kepala sih."Kesal Caca
"Saya minta maaf Nyonya, tapi saya mohon Anda harus makan."
Caca mengacuhkan pelayan itu dan berjalan masuk kamar mandi.
Alvaro yang baru saja pulang langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Bagaimana gadis itu."
"Maaf Tuan, Nyonya tetap tidak mau makan."
"Panggil Pelayan yang mengurus gadis itu." Titah Alvaro membuat semua ketakutan.
Caca yang baru selesai mandi pun berjalan keluar, dia memakai MIDI dress yang begitu pas dengan tubuhnya.
"Permisi Nyonya."
Caca menoleh, dia menautkan kedua alisnya saat melihat pelayan berbeda yang membawa makanan untuknya.
"Dimana pelayan yang biasanya, kenapa ganti kamu?" Ucap Alya karena dia sangat ingat jika pelayan itu bicara jika dirinya menjadi pelayan yang akan mengurus dirinya.
"Maaf Nyonya, mulai sekarang saya yang akan menggantikannya."
"Memangnya kemana dia?"
"Jika kamu tidak mau terjadi sesuatu dengannya, turuti semua ucapan Saya." Ucap Alvaro yang masuk begitu saja.
"Kamu keluar."
"Baik Tuan."
Caca terdiam, dia tidak mengerti dengan ucapan Alvaro.
"Ma- Maksud Anda Tuan."
__ADS_1
"Saya tidak akan mengulang ucapan saya, sekarang kamu makan."
"Tapi dimana dia?" Ucap Alya. Entah dari mana keberaniannya menatap wajah dingin Alvaro.
"Dia bertanggungjawab atas semua kebutuhan kamu, tapi dia tidak bisa melakukannya."
"Tolong jangan lakukan apapun dengannya, Saya mohon." Ucap Alya dengan meneteskan air matanya.
"Jika kamu menuruti semua ucapan saya, semua akan baik-baik saja."
Caca mengangguk dan langsung mengambil piring, dia pun mulai memakannya. walaupun sebenarnya dia tidak lapar dan rasanya sangat sulit dia telan namun dia tidak mau membuat orang-orang menderita karenanya.
Alvaro terus menatapnya tanpa memalingkan wajahnya, hingga terlihat semua makanan habis di lahap Caca.
Alvaro keluar tanpa mengatakan apapun.
"Hiks hiks hiks."
Caca kembali menangis.
Rasanya dunia sungguh kejam dengan dirinya. Di saat bisa keluar dari rumah dia malah masuk ke dalam instan megah namun tetap saja seperti neraka baginya.
Karena lelah menangis akhirnya Caca pun terlelap dengan tubuh yang meringkuk di atas ranjang.
############
Di tempat Lain,,
Alvaro meneguk minumannya. Dia bersama Daniel di sebuah Bar.
"Jadi gimana perusahaan Lo."Ucap Daniel menatap Sahabatnya
"Aman"
Daniel menggeleng.
Alvaro masih tetap sama, dia sangat irit bicara sejak dulu.
"Hai Daniel." Ucap Bertha kembali menghampiri mereka.
Bertha melirik Alvaro yang tetap saja dingin dan tidak sama sekali menatapnya.
Padahal siapapun akan tertarik dengannya, karena memang Bertha adalah wanita langganan VVIP.
"Loh Van, Lo mau kemana?"Ucap Daniel saat Alvaro tiba-tiba beranjak.
Alvaro tidak menjawab, dia terus berjalan keluar namun Langkahnya terhenti saat seseorang menabraknya.
"Aduh"
Alvaro menatapnya tajam, bahkan wanita itu masih terjatuh di lantai.
"Astaga Maaf Tuan" Ucap Sela langsung mengusap dada Alvaro.
Sela sengaja menabrak Alvaro saat melihat, dia sengaja ingin menggodanya.
Alvaro menatap Sela yang tersenyum dengan tangannya yang masih mengusap lembut dadanya.
"Aw" Pekik Sela saat Alvaro menghempaskan tangan Sela dengan kasar.
Sela sengaja merasa kesakitan, dia berpikir jika Alvaro akan membantunya namun kenyataannya Alvaro bahkan meninggalkannya begitu saja tanpa berniat menolongnya.
"Sial, kenapa susah sekali untuk menggodanya padahal tadi gue udah berusaha. tapi dia malah susah sekali tergoda. Tapi wajahnya udah buat gue terpesona. Siapa sebenarnya laki-laki itu sih."
__ADS_1
sela terus menatap Alvaro yang masuk ke dalam mobilnya.
Dia akan terus berusaha mendekatinya, apalagi saat melihat mobil sport keluaran terbaru yang Alvaro gunakan. Semakin membuat Sela menggebu untuk bisa dekat dengannya.