GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 15 (Memberi Kebebasan Felica di Mension)


__ADS_3

Caca membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah dimana Alvaro tidur di sampingnya dengan posisi duduk dan kini pandangannya menuju tangan mereka yang saling menggenggam, bahkan satu tangan Alvaro berada di pinggangnya.


Ingin rasanya Caca mengangkat tangan Alvaro namun dia tidak ingin membangun laki-laki di sampingnya apalagi mengingat apa yang telah terjadi semalam Alvaro menenangkannya di saat mimpi buruk.


Di tatapnya wajah Alvaro, wajah yang sangat sempurna. Hidung mancung,alis tebal bibir merah namun sifat Alvaro yang sulit di tebak. Kadang bagai malaikat namun kadang seperti seorang iblis yang selalu memenjarakan Caca.


"Sudah puas bukan menatap wajah tampan saya."


Deg.!


Felica langsung memalingkan wajahnya.


Sejak kapan Alvaro terbangun, padahal matanya masih tertutup.


Alvaro membuka matanya, namun Dia memijat pelipisnya entah kenapa kepalanya sedikit pusing mungkin karena dia tidak tidur dengan baik.


"Apa kamu akan terus menggenggam tangan saya."


Felica langsung menatap tangannya dan segera melepaskan.


"Ma- maaf Tuan"


"Sudah berapa kali saya bilang panggil saya Alvaro."


"Maaf Tu,- Em maksudnya Alvaro."


Alvaro membenarkan duduknya, dia terlihat meregangkan otot tangannya yang juga terasa pegal karena semalaman terus di genggam Felica.


"Maaf Alvaro tangan Anda,-


"Apa kamu sangat suka mengucapkan kata Maaf?"


"Ma-


Alvaro menghela napasnya dan beranjak bangun.


"Satu hal yang mau aku bilang, mulai hari ini kamu boleh keluar kamar tapi tidak boleh keluar mension."


"Hah, Anda serius? Aku boleh keluar kamar?"


"Apa ucapanku pernah tidak serius?"


"Berarti aku boleh ke dapur, ke taman dan juga,-


"Kenapa kamu begitu cerewet hah?"


"Maaf" Ucap Felica langsung menutup mulutnya.


Alvaro menggeleng dan keluar kamar.


Sementara Felica tampak senang dan langsung berlari masuk kamar mandi.


Sandra yang melihat Alvaro keluar kamar Felica pun tampak tidak senang, dia mengepalkan tangannya. Selama ini dia berusaha untuk mendekati Alvaro namun tidak pernah berhasil bahkan dia sudah berusaha menggoda dengan memakai pakaian **** pun tetap tidak berhasil namun gadis polos yang bahkan baru sebulan berada di mension sudah bisa meluluhkan hati Alvaro.


"Sandra, kamu belum menyiapkan sarapan untuk Tuan kenapa malah masih di sini?"


Sandra menoleh, Lisa berdiri di sana dengan tatapan yang membuat Sandra kesal.


"Bukan urusan kamu." Ucap Sandra langsung masuk ke dapur.


Lisa menggeleng.


Dia tau bagaimana sikap Sandra selama ini, dia tau bagaimana Sandra berusaha menggoda Alvaro dan obsesinya menjadi istri seorang Alvaro sama sekali tidak pernah terwujudkan.


"Selamat pagi Lisa." Ucap Felica yang datang dengan sudah terlihat cantik memakai dress yang sangat cocok di tubuhnya.

__ADS_1


"Selamat Pagi Nyonya Felica, Anda kenapa keluar kamar?"


Felica tersenyum.


"Tuan em Maksud aku, Alvaro sudah mengijinkan aku keluar kamar."


"Benarkan Nyonya?"


Felica mengangguk dan terus menampilkan senyum manis di wajahnya, Lisa bisa melihat bagaimana bahagianya Felica saat ini dan dia sendiri bisa ikut merasakan kebahagiaannya.


"Oya aku sudah bilang, panggil aku Caca."


"Maaf Nyonya, saya sudah terbiasa."


"Kamu itu, Baiklah tapi jangan Felica oke Caca saja."


"Baik Nyonya Caca."


Caca tersenyum dan menatap sekeliling.


Mension yang sangat besar dan hanya di tempati oleh Alvaro bersama beberapa pelayan juga penjaga saja. Sebenarnya dia penasaran dimana keluarga Alvaro kenapa selama ini dia tidak pernah melihat orang lain di mension.


"Selamat pagi Tuan." Ucap Lisa menunduk saat melihat Alvaro yang sudah tapi akan ke kantor.


Felica menoleh dan tatap keduanya bertemu, Alvaro tampak menatap Felica yang terlihat cantik pagi ini. Apa karena kebebasan dari Alvaro atau karena selama ini dia tidak menyadari kecantikan Felica.


"Maaf Tuan, sarapan sudah siap." Ucap Sandra


"Kita sarapan." Ucap Alvaro saya melewati Felica.


"Silahkan Nyonya" Ucap Lisa dan Felica mengangguk.


Mereka berjalan menuju meja makan, Sandra yang melihat semua itu semakin dibuat panas.


"Itu karena agar Tuan Alvaro bisa memilih ingin sarapan apa." Kini Sandra yang menjawabnya.


"Tuan Anda,-


"Kamu ambilkan saya sarapan." Ucap Alvaro menatap Felica.


"Hah Aku,?"


"Siapa lagi, jangan buang-buang waktu saya."


"Baiklah"


Felica mengambilkan Nasi goreng juga telor mata sapi di piring Alvaro.


"Nyonya Tuan tidak,- Ucapan Sandra terputus karena Alvaro malah menikmatinya.


Padahal selama ini Alvaro tidak menyukai telor mata sapi, namun kali ini Alvaro malah membiarkan Felica mengambilkannya.


Felica pun menikmati sarapan paginya dengan terus tersenyum, bagaimana tidak selama hampir satu bulan lebih dia hanya berada di dalam kamar tanpa bisa melihat keadaan luar bahkan dia pun tidak memiliki akses untuk menghubungi siapapun.


Walaupun selama ini dia bagaikan ratu namun tetap saja membuat Felica bosan.


Setelah sarapan selesai,


Alvaro beranjak bangun, namun Felica menahannya.


"Tunggu"


Alvaro mengernyit, Felica tampak berjalan mendekat dan dia membenarkan dasi yang sedikit miring.


"Tolong bisa menunduk sedikit, Anda terlalu tinggi." Keluh Felica saat sedikit sulit menggapainya.

__ADS_1


Alvaro yang notabene memiliki tinggi 185cm sementara Felica yang hanya 155cm membuatnya kesulitan.


Alvaro pun sedikit menunduk membuat Felica dengan mudahnya membenarkan dasi pada lehernya.


"Selesai" Ucapnya tersenyum.


Alvaro terus menatap Felica, entah kenapa melihat Felica yang tampak ceria membuatnya ikut merasakan senang.


"Selamat pagi Tuan, Nyonya" Sapa Miko menunduk.


"Pagi" Ucap Felica tersenyum.


"Kita berangkat sekarang Tuan"


"Hem"


"Kalian hati-hati di jalan bye"


Miko menautkan kedua alisnya, pagi ini wajah Felica berbeda bahkan sebelumnya Felica selalu menampilkan wajah sedih.


"Dia,-


"Cepat jalankan Mobilnya" Potong Alvaro saat Miko ingin menanyakan sikap Felica yang berubah.


"Baiklah."


Mobil melaju keluar Mansion.


Felica kembali ke meja makan dan akan membereskannya, namun terlihat Sandra di sana.


"Aku bantu ya." Ucap Felica namun Sandra malah menatapnya tajam.


"Tidak perlu"


Felica terdiam dan menatap Sandra yang sibuk membersihkannya.


"Oya Anda harus tau jika sebenarnya Tuan Alvaro tidak menyukai Telor." Ucap Sandra meninggalkan Felica yang masih terdiam di sana.


Felica tidak tau jika Alvaro tidak menyukai telor, namun kenapa dia malah memakannya tadi kenapa dia tidak menolaknya.


"Lisa"


"Ya Nyonya, ada yang bisa saya bantu."


"Tidak, aku hanya ingin tanya.


Apa Alvaro tidak menyukai telor?"


"Benar Nyonya, memangnya kenapa?"


"Tadi aku memberikannya telor dengan nasi goreng, aku tidak tau jika dia tidak suka telor tapi tadi, dia tetap memakannya."


Lisa tersenyum menatap wajah Felica yang begitu menggemaskan.


"Kenapa kamu malah tersenyum Lisa."


"Nyonya begitu menggemaskan jika seperti ini, tapi Tuan tidak marah dan tetap memakannya berarti Tuan menghargai apa yang Nyonya berikan."


"Tapi seharusnya dia bisa menolaknya, dia tidak suka dan aku,-


"Tidak usah merasa bersalah, karena Nyonya sendiri juga tidak tau Tuan tidak menyukai telor."


Felica terdiam.


Dia merasa bersalah dan tidak enak, mungkin malam nanti dia akan meminta maaf kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2