
Felica hanya berada di dalam kamarnya tanpa keluar, dia pun sama sekali tidak membuka ataupun bermain ponselnya. pikirannya terus dengan ucapan Sandra. Dia tau bagaimana lelahnya bekerja apalagi jika uang itu untuk membiayai keluarganya. Felica sangat tau karena dulu dia pernah bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga pamannya.
"Nyonya ini sudah waktunya makan siang, Anda mau sarapan di bawah atau saya bawa ke kamar."
"Aku belum lapar Lisa."
Lisa berjalan mendekat, dia menatap wajah gadis yang sudah sangat dekat dengannya.
"Apa ada yang mau Anda ceritakan nyonya."
Felica menggeleng.
"Aku hanya lelah, boleh tinggalkan aku sendiri dulu."
"Baiklah, Jika Anda ingin sesuatu panggil saya."
Felica hanya mengangguk. Lisa akan membiarkan Felica sendiri.
********
Alvaro menatap benda pipih yang berada di sampingnya.
Sudah sampai siang namun gadisnya tidak menghubunginya.
Karena penasaran dia pun mencari nomor Felica dan menghubunginya namun Nomornya tidak aktif.
"Kenapa malah tidak aktif." Gumam Alvaro dia langsung menghubungi Lisa untuk menanyakan keberadaan Felica.
Tidak lama sambungnya Telp nya terhubung.
"Selamat Siang Tuan Alvaro "
"Dimana Felica, kenapa dia tidak menjawab Telp saya."
"Maaf Tuan, setelah Tuan berangkat Nyonya hanya mengurung dirinya di kamar. Nyonya bahkan tidak makan siang."
Alvaro menautkan kedua alisnya.
Padahal setelah sarapan, hubungan mereka baik-baik saja.
"Kamu ke kamar dan berikan ponselnya."
"Baik Tuan."
Alvaro mendengar suara langkah dan sepertinya Lisa masuk ke dalam kamar Felica.
"Tuan."
"Dimana Felica, berikan ponselnya."
"Nyonya tidur Tuan, apa perlu saya bangunkan."
"Jangan, biarkan dia tidur. Bilang saya menghubunginya."
"Baik Tuan."
__ADS_1
Alvaro menutup telponnya dan merasa khawatir dengan keadaan gadisnya. Apa dia salah bicara dengannya tadi pagi hingga membuatnya marah tapi dia tidak merasa ucapannya menyakitkan.
Alvaro benar-benar tidak tenang. Dia ingin seger pulang dan menemui gadisnya.
Namun, tidak lama Miko datang dan memberitahu jika mereka ada meeting dengan beberapa staffnya.
Meeting yang telah di tunda dua kali karena Alvaro sendiri yang membatalkannya hingga mau tidak mau mereka kini meeting.
"Maaf Tuan, semua Staff sudah menunggu di ruang meeting."
Alvaro mengangguk dan berjalan keluar.
Miko pun mengikutinya hingga sampai di ruang meeting. Beberapa karyawan langsung berdiri dan menundukkan sedikit tubuhnya saat melihat Bos mereka masuk.
"Tidak perlu basa-basi, kita langsung saja meeting nya."Ucap Alvaro yang memang sudah ingin bertemu dengan gadisnya.
Beberapa staff saling menjelaskan semua bagian masing-masing. Karena memang setiap bulannya Alvaro selalu mengadakan meeting bersama semua Staff mengenai perkembangan Perusahaan.
Alvaro terlihat hanya diam namun dia sama sekali tidak mendengarkan ucapan semua staffnya.
Miko sangat tau jika Sahabat sekaligus Bosnya sedang memikirkan sesuatu.
"Bagaikan Tuan Alvaro. Apa ada yang perlu di revisi dari semua Laporan Staff." Ucap Miko.
"Tidak. Meeting selesai." Ucap Alvaro langsung meninggalkan ruang meeting membuat semua Staff merasa bingung. Biasanya mereka akan lembur setelah di adakannya meeting bulanan karena Alvaro selalu saja tidak puas bahkan membuat semua Staff pusing.
"Kalian kembali ke ruangan."
"Baik Pak Miko "
Miko mengangguk dan berjalan mengejar Alvaro ke ruangannya. Dia tau jika Sahabatnya memikirkan sesuatu.
Alvaro hanya melirik dan kembali bermain ponselnya. dia masih menunggu Felica menghubunginya.
"Sebelumnya Saya minta Maaf, apa kita bisa bicara sebagai seorang sahabat." Ucap Miko dan Alvaro mengangguk.
"Lo kenapa, gue lihat Lo sama sekali tidak fokus bahkan saat meeting tadi. Biasanya Lo tidak pernah puas dengan laporan yang semua Staff berikan tapi tadi. dengan mudahnya Lo mengiyakan semuanya. Lo lagi mikirin apa sih."
"Apa ucapan gue menyakitkan."
Miko menautkan kedua alisnya.
"Ucapan Lo yang mana?"
"Tadi pagi."
Miko kembali berfikir sejenak, setelah sampai di Kantor bahkan Miko sama sekali tidak masuk ke dalam ruangan Alvaro dan setau dirinya Alvaro tidak memarahi karyawan atau staf kantor lainnya.
"Bukannya setelah sampai kantor Lo sama sekali tidak membentak karyawan."
Alvaro menatap Miko.
"Felica."
Satu nama yang membuat Miko mengerti sekarang.
__ADS_1
"Kalau gue boleh jujur, lebih baik Lo lebih bicara halus deh Al. Termasuk ucapan Lo tadi pagi sedikit menyinggung nya. Lo tau selama ini gimana hidupnya."
Alvaro terdiam.
Miko benar, tidak seharusnya dia bicara seperti itu. tapi bukan bermaksud membuat Felica sedih.
"Jadi Lo mikir itu sampai buat Lo tidak fokus?"
Alvaro mengangguk.
"Lo suka dengannya."
Alvaro menautkan kedua alisnya dan menatap Miko.
"Maksud gue, apa Lo punya perasaan terhadapnya."
"Kenapa Lo berpikir sampai kesana, gue hanya butuh jawaban Lo soal ucapan gue tadi pagi."
Miko tertawa.
Dia sangat tau bagaimana sikap sahabatnya itu. Tidak sebentar dia mengenal Alvaro hingga dia sangat mengenalinya.
"Al, gue kenal Lo udah lama. Gue tau gimana Lo. Sikap Lo terhadap Felica sangat berbeda bahkan itu terlihat jelas. siapa pun yang melihat pun tau kalau Lo ada perasaan dengannya."
Alvaro kembali diam.
Dia sendiri tidak mengerti dengan sikapnya. Sikap yang entah dia tidak sadari terhadap Felica. Sikap yang begitu saja mengalir saat ingin memperdulikannya, menjaganya dan membuatnya bahagia.
"Sebagai sahabat Lo, gue mau yang terbaik buat Lo. Gue senang kalau Lo memang menemukan perempuan yang membuat Lo bahagia. Lo berhak membuka kembali hati dan perasaan Lo. Lupakan apa yang sudah terjadi. Lihat apa yang kini ada di hadapan Lo."
Alvaro menghela napasnya.
"Sekarang Lo pikirkan semuanya, gue balik ke ruangan."
Miko menatap Alvaro dan menggelengkan kepalanya.
Dia akan membiarkan sahabatnya sendiri dan berpikir semuanya. Dia tau Alvaro bulan laki-laki bodoh yang tidak bisa berpikir dan mengambil keputusan.
"Apa gue mencintai gadis itu.
Tapi, dia hanya gadis tawanan dan juga gadis yang membuat uang gue tidak kembali. tapi kenapa gue sama sekali tidak bisa berbuat kasar dengannya. setiap dekat dengannya gue selalu ingin melindunginya. setiap gue jauh darinya kenapa gue selalu mengingatnya.
kenapa gue sangat ingin membuatnya bahagia dan melupakan apa yang sudah terjadi dengannya."
Alvaro memijat pelipisnya.
Felica membuatnya pusing dengan perasaannya. Perasaan yang sudah begitu lama dia tutup.
Dia tidak mau kembali merasakan kehilangan.
Cukup dia di tinggalkan dua perempuan yang sangat dia cintai. Kehilangan yang membuat hidupnya hancur. membuatnya hampir gila.
Sementara Miko.
Dia masih terdiam. Dia berharap jika Sabahat nya mendapatkan kebahagiaannya. Alvaro berhak bahagia bersama seseorang dan menutup semua masa lalu yang membuatnya hampir kehilangan nyawanya.
__ADS_1
Sebagai seorang sahabat, Miko mendukung apapun yang akan membuat Alvaro bahagia.
Dia tidak mau Alvaro kembali seperti dulu yang selalu menyiksa diri sendiri tanpa memikirkan kesehatannya.