GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 24 (Perhatian Alvaro 3)


__ADS_3

Lisa bergegas menuju kamar Felica setelah tau jika gadis yang sudah seperti adik kandungnya sakit, karena rasa khawatirnya membuat Lisa langsung membuka pintu kamar namun betapa terkejutnya saat matanya menatap dimana dia pasang sejoli tengah saling berpelukan dalam satu selimut.


Alvaro yang tertidur di dalam kamar Felica pun terlihat memeluknya, bahkan Felica tampak sangat nyaman berada dalam pelukan. Hingga mereka masih berdamai dalam mimpi indahnya padahal sudah jam 7 pagi.


Dengan perlahan Lisa menutup kembali pintu kamarnya, dia tidak mau mengganggu tidur mereka.


"Mau apa kamu San" Ucap Lisa saat melihat Sandra yang juga berada di lantai dua.


"Mau apa lagi, ini sudah jam 7 tapi Tuan belum bangun. Pasti Tuan sangat kelelahan kemarin."


"Tidak perlu, Lebih baik kamu melakukan pekerjaan lain."


Sandra menautkan kedua alisnya, siapa Lisa kenapa bisa dia memerintah dirinya.


"Hei sadar, kita sama-sama pelayan di sini."


"Aku selalu sadar siapa aku, tapi tidak tau dengan kamu sendiri."


"Gak jelas" Ucap Sandra kembali berjalan namun Lisa kembali menahan tangannya.


"Apa lagi."


"Oke jika itu mau kamu, sekarang ikut aku."


Lisa menarik tangan Sandra sampai di depan pintu kamar Felica.


"Aku akan membangunkan Tuan Alvaro bukan gadis tawanan itu."


Lisa tersenyum dan membuka perlahan pintu kamarnya.


"Sekarang kamu bisa lihat, apa kamu tetap berpikir jika Nyonya Felica hanya seorang gadis tawanan?"


Sandra terdiam dan menatap dalam.


Tangannya mengepal bahkan perasaannya benar-benar marah melihat apa yang dia lihat. Selama ini Alvaro bahkan sangat enggan dia sentuh namun saat ini di sebuah kamar Alvaro tidur bersama Felica yang notabene hanya seorang gadis Tawanan.


"Sekarang kita keluar, biarkan mereka istirahat."


Lisa berjalan keluar dan meninggalkan Sandra yang masih menatapnya.


Dia sengaja melakukan semua itu untuk bisa membuat Sandra sadar akan perasaan gila yang dia miliki untuk bisa mendapatkan Alvaro.


Di sisi lain, Felica merasakan sesuatu berat di perutnya rasanya dia sangat ingin membuka matanya namun dia terlalu nyaman tidur malam ini.


Alvaro yang merasakan pergerakan, akhir membuka matanya perlahan dia menatap wajah cantik yang masih menutup matanya tepat berada di depan wajahnya.


bibir pink mungil sungguh membuatnya gemas dan ingin rasanya dia cicipi namun dia sadar jika saat ini Felica sedang sakit.


"Eum"


Alvaro segera kembali menutup matanya, dia tidak ingin jika Felica tau dia menatapnya.


Sama halnya dengan Alvaro, Felica membuka matanya dan kaget saat tidak sengaja wajah mereka begitu dekat bahkan tangan Alvaro yang masih setia memeluknya. Namun bukan menghindar tapi Felica malah begitu betah menatap wajah tampan Alvaro. Alis hitam tebal. hidung mancung sungguh wajah yang begitu sempurna.


"Kamu,, kenapa selalu membuatku galau dengan sikap kamu Al. terkadang kamu sangat baik dan perhatian tapi kamu juga sangat mengerikan saat sedang marah. Sebenarnya bagaimana sifat asli kamu?" Lirih Felica.


Alvaro hampir saja membuka matanya, namun dia tahan dan ingin mendengar apa yang akan di ucapkan gadisnya itu.


"Al" Ucap Felica menggoyangkan lengan laki-laki yang masih sangat betah memeluknya.

__ADS_1


"Hem"


Alvaro membuka matanya, tatapan keduanya saling bertemu bahkan hembusan napas Alvaro sungguh sangat terasa di kulit wajah Felica.


"Kenapa kamu tidur di sini?"


Alvaro menghela napasnya, kini tatapannya lurus ke langit-langit kamarnya.


"Ini Mension saya jika kamu lupa."


Felica menutup mulutnya, dia lupa jika dia lah menumpang di mension.


"Iya Aku lupa, Maaf"


Felica berusaha beranjak bangun, namun Alvaro langsung sigap membantunya.


"Aku bisa sendiri."


"Dengan tangan yang masih di infus?"


Felica menghela napasnya, selalu saja dirinya salah. Dia hanya tidak mau merepotkan siapa pun.


"Aku mau ke kamar mandi."


Alvaro beranjak bangun dan langsung membopongnya, lagi dan lagi Felica di buat kaget dengan sikap Alvaro.


"Perlu saya bantu atau,-


"No, tunggu di depan."


Alvaro mengangguk dan berjalan keluar, namun suara ketukan pintu membuatnya menoleh.


"Masuk" Ucap Alvaro membuat Pintu terbuka.


"Selamat pagi Tuan."


"Ya"


Lisa meletakkan makanan di atas meja, dia pun pamit untuk kembali keluar namun Langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang.


"Lisa" Ucap Felica yang berdiri di depan pintu.


"Kenapa tidak panggil saya" Ucap Alvaro menoleh.


"Nyonya Caca"


Felica tersenyum dan langsung berjalan menghampiri Lisa.


"Hati-hati" Ucap Alvaro namun Felica langsung memeluk Lisa.


Rasanya dia begitu merindukan Lisa, padahal baru dua hari saja tidak bertemu.


"Akhirnya kamu kembali"


Lisa tersenyum dan melepaskan pelukannya.


"Nyonya baik-baik saja kan?"


"Eum"

__ADS_1


"Kamu temani Dia dulu."


"Baik Tuan."


Alvaro lebih mempercayai Lisa dalam menjaga Felica, melihat betapa dekatnya mereka bahkan Felica yang begitu terlihat menyayangi Lisa membuatnya tenang jika Felica bersama Lisa.


"Pelan-pelan Nyonya."


Lisa membantu Felica duduk di ranjang, Lisa benar-benar sangat memperhatikan apapun soal Felica. Karena memang Lisa menganggap Felica sebagai adiknya sendiri. Kasih sayang juga perhatiannya begitu tulus.


"Kapan kamu kembali?" Ucap Felica menatap Lisa.


"Sebenarnya sudah semalam Nyonya, setelah Pak Lendra menghinggapi saya jika Anda sakit, saya segera pulang."


"Terus kenapa tidak langsung menemui ku, apa kamu tidak merindukan aku?"


Lisa tersenyum,


Felica benar-benar seperti anak kecil yang begitu menggemaskan.


"Sebenarnya,-


"Permisi Nyonya"


Baik Felica ataupun Lisa menoleh, Terlihat Dokter Gabriel masuk bersama Lendra.


"Bagaimana keadaan anda pagi ini Nyonya."Ucap Gabriel tersenyum menatap Felica.


"Aku rasa aku sudah sehat kembali."


Gabriel mengangguk sembari mengeluarkan alat-alat untuk memperiksa Felica.


Lisa segera menyingkir dan membiarkan Felica di periksa.


"Keadaan Anda sudah lebih baik, saya akan melepas infusnya tapi Anda tetap harus banyak istirahat, makan teratur juga minum vitamin."


"Makasih Dokter."


Gabriel tersenyum, dia benar-benar kagum dengan wajah cantik Felica bahkan di saat sakit pun Felica tetap terlihat cantik pantas saja Alvaro begitu betah berapa di mension.


"Bagaimana keadaannya" Ucap Alvaro yang tiba-tiba masuk.


"Keadaannya sudah membaik, tapi dia harus banyak istirahat juga makan teratur."


Alvaro menatap Gabriel yang sedang melepas infus di tangan Felica. Sesekali Felica meringis.


"Bisa kerja dengan pelan." Ucap Alvaro berjalan mendekat. dia duduk di samping Felica


"Astaga, ini sudah begitu pelan Tuan Alvaro Vernando."


Alvaro tidak menghiraukannya, dia memegang tangan Felica yang telah di infus. sedikit bengkak.


"Baiklah, aku bakal kirim Vitamin untuk Nyonya Felica."


"Kamu antar Gabriel."


"Baik Tuan."


Gabriel menggeleng dan berjalan keluar di ikuti Lendra juga Lisa.

__ADS_1


"Kutub Utara mulai mencair Pak Lendra." Ucap Gabriel membuat Lendra tersenyum.


Memang setelah kedatangan Felica di mension membuat Alvaro berubah. bahkan Alvaro lebih sering di mension dan jarang keluar. Alvaro bahkan tidak lagian sering marah kepada seluruh pelayan juga penjaga mension.


__ADS_2