
Sela terus memikirkan soal Felica, bagaimana bisa dia bersama Laki-laki tampan itu yang selalu Sela temui di Club. Dia harus bertanya kepada kedua orangtuanya.
"Papa belum pulang Ma." Ucap Sela keluar Kamar.
"Kamu kaya tidak tau Papa kamu."
Sela menghela napasnya dan duduk di depan Mariska, benar-benar dia tidak pernah berpikir kenapa nasib Felica selalu beruntung darinya.
Sejak dulu Felica selalu unggul darinya bahkan membuat banyak laki-laki yang menyukai dan mengejarnya.
Berbeda dengan Sela.
Alvaro masih setia memandang wajah cantik Felica yang sudah terlelap.
Felica tidur di saat mereka masih di jalan, dengan terpaksa Alvaro membopongnya dan membawanya ke kamar.
"Permisi Tuan, apa Anda ingin memakan sesuatu?" Ucap Sandra berdiri di depan pintu kamar Felica.
"Saya sudah makan."
"Apa Anda mau saya buatkan kopi atau,-
"Tidak." Potong Alvaro tanpa beralih menatap Felica yang sudah terbaring di atas ranjang.
Sandra mengepalkan tangannya, selalu saja Felica yang di perhatikan bahkan dirinya seperti tidak lagi di anggap.
Dulu Alvaro selalu memintanya untuk membuat makan juga kopi untuk dirinya namun setelah adanya Felica semua berubah. Alvaro seperti tidak membutuhkannya lagi.
"Kamu bisa keluar, Felica sedang tidur."
"Maaf Tuan."
Sandra kembali menutup pintunya, dia berjalan turun dengan terus merasa kesal.
Alvaro menatap Felica yang masih memakai sepatunya, dia pun melepasnya dan meletakkan di rak tempat biasa.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk."
"Tuan manggil Saya?"Ucap Lisa masih berdiri di depan pintu.
"Kamu gantikan pakaiannya dan jangan sampai membuatnya terbangun."
"Baik Tuan."
Alvaro berjalan keluar dan meninggalkan Lisa yang langsung melakukan perintahnya.
"Tuan benar-benar peduli dengan Anda, dan aku begitu senang melihat bagaimana sikap Tuan sekarang lebih baik dan lembut."
Lisa tersenyum dan segera melakukannya, dia sangat menyayangi Felica seperti adiknya. Karena selama ini Felica begitu baik dan juga menggemaskan.
Di dalam Kamarnya,
Alvaro membersihkan tubuhnya setelah seharian bersama Felica. Dia merasa senang dan juga lebih tau bagaimana sifat dari gadisnya itu.
Bayangan Felica saat tersenyum dan tertawa terus berputar. Bagaimana Felica yang begitu manis dan menggemaskan. Alvaro tidak bisa melupakannya begitu saja.
__ADS_1
"Kenapa senyumannya selalu berputar, kenapa aku selalu ingin membuatnya tersenyum."
Alvaro menghela napasnya dan kembali melangkah keluar. entah mengapa langkahnya menuju kamar Felica dan kini gadisnya sudah berganti piyama dan terlihat lebih nyaman.
Senyuman terukir di wajahnya, senyuman yang entah kapan dia tunjukan namun di saat bersama Felica, di saat melihat Felica dan di saat soal Felica Alvaro selalu menunjukan senyuman tulusnya.
Setelah memandangnya cukup lama, Alvaro pun merasa lelah dan ngantuk. Akhirnya dia pun beranjak naik dan berbaring di samping gadisnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, matanya sudah terpejam.
Sela yang masih menunggu Johan pun terus berjalan mondar-mandir. Dia sangat penasaran apa hubungan Felica dengan Alvaro. Laki-laki yang membuatnya penasaran dan laki-laki yang sama sekali tidak pernah menatapnya.
tidak lama terdengar suara pintu terbuka, Johan masuk ke dalam rumahnya.
"Papa kenapa baru pulang."
Johan menoleh, Sela yang baru saja keluar kamarnya dan langsung menghampiri laki-laki paruh baya yang terlihat lebih kurus dan lebih tua dari umurnya.
"Kamu belum tidur?"
Sela berjalan menghampiri Johan yang terlihat mengambil air putih dan meneguknya.
"Sela sengaja nunggu Papa pulang."
Johan mengernyit, untuk apa anaknya menunggu dirinya biasanya Sela tidak pernah seperti ini.
"Memangnya ada apa?"
Sela menghela napasnya dan menatap Johan.
"Sebenarnya dimana Papa pinjam uang selama ini."
"Kenapa kamu menanyakan itu."
Johan menatap Sela, kenapa putrinya tau Alvaro.
"Ya Papa meminjam uang kepadanya, memangnya kenapa Sela. Papa sangat lelah."
"Jadi benar Alvaro dan Papa menjaminkan Felica kepadanya."
Johan mengangguk.
"Papa tau siapa Alvaro?"
"Papa tau Sela, Dia pengusaha sukses dan memiliki banyak cabang di berbagai daerah juga di luar negeri. Memangnya kenapa kamu bertanya semua itu."
"Kenapa Papa tidak menjaminkan Sela saja."
Johan semakin tidak mengerti dengan ucapan putrinya.
"Beberapa kali Sela bertemu dengannya dan semenjak itu Sela sangat ingin dekat dengannya apalagi dia sangat tampan. Sela gak mau tau pokoknya Sela mau Alvaro."
Johan mengernyit.
"Tapi kamu tidak tau bagaimana sifat aslinya, dia memang sangat tampan dan menjadi incaran semua perempuan tapi di balik wajah tampannya dia sangat kejam dan berdarah dingin. Dia selalu membuat siapa saja hancur."
Sela sudah mencari tau semua soal Alvaro dan semua yang di ucapkan Johan benar namun di balik semua itu dia tetap sangat ingin dekat dengan laki-laki itu. Apalagi melihat bagaimana Alvaro terhadap Felica. Dia yakin jika dia bisa mendapatkan Alvaro dan menjadi wanita hebat dengan bisa mendapatkan seorang Alvaro Vernando.
"Sela tidak mau tau, Papa harus bisa membuat Sela dekat dengan Alvaro." Ucap Sela kembali masuk ke dalam kamarnya dan menutup nya kasar.
Johan menghela napasnya.
__ADS_1
Bagaimana bisa Putrinya ingin dekat dengan Alvaro laki-laki dingin dan kejam.
Johan menghela napasnya dan berjalan menuju kamarnya.
*******
Keesokan harinya.
Felica membuka matanya, namun dia menyadari seseorang yang tengah memeluknya dari belakang. sebuah tangan kekar memeluk erat pinggangnya.
Walaupun dia tau siapa pemilik tangan itu, namun Felica Bingung bagaimana bisa Alvaro tidur di kamarnya.
Dia pun memutar tubuhnya dengan sangat hati-hati. Matanya menatap wajah tampan yang begitu damai masih terlelap di sana.
"Ehem,, Sudah puas memandangnya"
Felica kaget, dia segera memalingkan wajahnya.
"Kenapa kamu tidur di sini, dan kenapa bisa aku berada di kamar bukannya,-
"Apa kamu lupa kamu tidur seperti orang mati."
"Hah iya kah? terus bagaimana bisa aku berada di kamar."
"Kamu tidur sambil berjalan."
Felica menautkan kedua alisnya.
Apa benar yang Alvaro katakan, tapi dia tidak memiliki riwayat seperti itu.
"Kamu,-
Alvaro tersenyum membuat Felica memicingkan matanya.
"Gak lucu." Kesal Felica membuat Alvaro kembali tersenyum.
Alvaro masih setia menatap wajah canyon Felica, walaupun dari samping tetap saja Felica sangat cantik. Tangannya pun masih betah berada di perut gadisnya.
"Astaga."
Felica segera beranjak bangun dan menatap pakaian yang dia pakai sudah berganti dengan piyama berbahan satin yang begitu lembut.
"Si- siapa yang,-
"Lisa yang mengganti pakaiannya, apa kamu mau aku yang menggantikannya."
"Alvaro."
"Bersiaplah dan kita sarapan." Ucap Alvaro mengusap pucuk rambut Felica dan berjalan keluar.
Felica terdiam dengan sikap lembut Alvaro. Walaupun selama ini Alvaro sangat baik namun tindakan kali ini membuat hati Felica terhanyut.
Alvaro berjalan menuju kamarnya dengan memakai pakaian santai dan rambut yang masih sedikit acak-acakan namun tidak membuat ketampanannya berkurang.
Sandra menatapnya, Alvaro keluar dari kamar Felica apakah semalam mereka kembali tidur bersama. Sebenarnya apa hubungan mereka.
Semua itu semakin membuat Sandra membenci Felica dan sangat ingin membuatnya keluar dari mension.
****************
Hai hai..
__ADS_1
Maaf buat dua hari ini yang telat Up nya karena lagi sedikit ada acara.
Yuk tinggalkan jejak kalian di kolom komentar.