GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 25 (Tingkah Gemas Caca)


__ADS_3

Alvaro masih bersama Felica di dalam kamar, setelah semua orang keluar namun Alvaro malah masih berada di sana dan terlihat memakai pakaian santainya.


"Kamu tidak ke kantor?" Ucap Felica menatap Alvaro yang sedang memainkan ponselnya.


Alvaro menoleh dan meletakkan ponselnya.


"Ada Miko yang mengurusnya."


"Terus?"


Alvaro menautkan kedua alisnya sembari menatap heran Felica.


"Maksudnya kenapa kamu tidak kerja saja, lagian kasihan juga Miko mengurus semuanya sendiri pasti ribet."


"Aku bosnya."


"Kenapa begitu sombong."


Alvaro kembali menatap Felica, membuat Felica tersenyum.


"Maaf"


Tidak ada lagi obrolan di sana, masing-masing hanya diam dengan pikirannya sendiri.


"Permisi Tuan, Anda belum sarapan pagi ini." Ucap Sandra masuk ke dalam kamar.


Alvaro masih terdiam membuat Felica menatapnya bingung.


"Kamu belum makan Al."


"Aku tidak lapar."


"Dasar aneh, bilang aku makan teratur, tidak suka ada orang sakit di mension tapi sendirinya juga sama."


"Apa kamu bilang."


"Benar kan, kamu selalu bicara seperti itu bahkan aku selalu kena marah kalau tidak makan dan sekarang apa, kamu sendiri tidak makan."


"Dasar cerewet." Ucap Alvaro beranjak.


"Alvaro."


"Apa lagi."


"Em, aku boleh keluar? Bosan di kamar."


"Hem"


Felica tersenyum dan beranjak bangun, mereka berjalan keluar sementara Sandra semakin dibuat kesal dengan sikap mereka. Alvaro selalu menuruti ucapan Felica.


Felica mengikuti Alvaro masuk ke dalam lift, mereka masih saling diam hingga pintu lift terbuka dan mereka langsung menuju meja makan.


Felica melihat makanan di meja, juga segelas kopi di sana membuat Felica langsung mengambilnya.


"Aku sudah bilang tidak baik minum kopi pagi hari bahkan setelah sarapan."


Alvaro hanya diam dan membiarkan Felica terus memarahinya, entahlah dia selalu suka dengan sikap Felica yang seperti ini.


Duk..!


Alvaro mengernyit saat Felica meletakkan segelas air putih di depan Alvaro dengan sedikit kasar.


"Sandra" Ucap Felica saat melihat Sandra berjalan.


"Ya Nyonya."


"Mulai besok jangan pernah ada kopi di meja saat sarapan, biarkan Alvaro minum air putih."


"Tapi Nyonya, Tuan selalu minta kopi setiap pagi."


"Turuti Ucapannya" Ucap Alvaro membuat Sandra mengangguk.


Felica kembali menatap Alvaro, kedua tangannya menyilang di atas dada. Sangat mirip seperti seorang Ibu sedang marang terhadap anaknya.


"Kenapa liatin seperti itu."

__ADS_1


"Awas aja aku liat kamu kembali minum kopi."


"Hem."


Alvaro kembali menikmati sarapannya, sementara Felica berada di sana dengan terus menatapnya tanpa berkedip.


"Maaf Tuan, Tuan Daniel datang."


"Wah ternyata benar Lo di ru- mah." Ucapan Daniel terputus saat melihat seorang gadis cantik yang sedang menemani Alvaro sarapan.


"Ngapain Lo ke sini." Ucap Alvaro kembali menyuapkan sarapannya.


Daniel tersenyum menatap Felica, dia berjalan mendekat dan duduk telat berhadapan dengan Felica.


"Gue ke kantor dan Miko bilang Lo tidak datang, ya udah gue ke sini. bay the way siapa bidadari di depan gue ini."


Alvaro segera menatap Felica.


Daniel benar-benar menatap Felica tanpa berkedip.


"Ikut gue."


Alvaro menarik Daniel menuju ruang kerjanya.


Dia tidak mau jika Daniel terus menatap Felica.


"Pantas Lo gak pernah mau dengan Berta ternyata Lo simpan bidadari di mension."


"Dia gadis tawanan gue."


"Apa Lo bilang tawanan, Astaga secantik itu cuma tawanan. Kalau gue bakal jadiin dia istri."


Alvaro menatap tajam Daniel.


"Hehehe, becanda Al. Tapi gimana ceritanya dia jadi tawanan Lo."


"Itu tidak penting, Lo ngapain ke sini."


"Gue cuma penasaran, Gabriel bilang kalau Lo ajak perempuan ke mension. Secara Lo anti banget sama perempuan."


Mereka berada di ruang kerja Alvaro.


Sementara Felica, dia merasa bosan dan lebih memilih untuk masuk ke dalam dapur.


"Nyonya, ada yang bisa saya bantu." Ucap salah seorang pelayan.


"Em tidak, aku hanya ingin membuat sesuatu."


"Apa yang Anda inginkan, biar saya yang akan membuatnya."


"Tidak Tidak, aku buat sendiri saja."


Felica mengambil beberapa bahan, dia sangat ingin membuat Sus kering seperti yang pernah dia buat bersama Sang Mama saat masih hidup.


Dengan begitu lihai, tangan Felica membuat adonan hingga menyiapkan dan membuatnya sendiri.


Setelah sekitar satu jam pun selesa, Felica tersenyum dan menatanya.


"Maaf Bik, tolong bagikan ke semua penjaga di depan ya."


"Baik Nyonya."


Felica membawanya keluar bertepatan dengan Alvaro keluar bersama Daniel.


"Hai kenalin gue Daniel sahabat Alvaro."


"Caca em maksudnya Felica"


"Nama yang cantik sama seperti orangnya."


Alvaro menatap tajam Daniel, bisa-bisanya dia menggoda Felica di depannya.


"Itu sus kering,"


"Oh iya, silahkan di coba."

__ADS_1


Daniel segera mengambilnya, sedangkan Alvaro menatap Felica.


"Kenapa kamu membuatnya, kamu baru saja sembuh."


"Tapi aku sudah sehat Al."


"Apa kamu lupa ucapan Gabriel."


"Al,-


"Felica Mabela."


"Iya, aku masuk kamar."


"Good girl" Lirih Alvaro saat Felica berjalan melewatinya.


Alvaro menatap Daniel yang begitu menikmati sus buatan Felica.


"Enak?"


"Em, sangat enak. pantas saja Lo gak mau semua orang tau soal Caca."


Alvaro semakin menatap tajam Daniel seakan ingin menelannya kasar.


"Santai Brother. Fine gue balik."


Daniel segera berlari keluar, dia tidak mau membangunkan singa yang sedang tidur. Alvaro bahkan begitu menyeramkan.


Felica menghela napasnya kesal, baru saja dia keluar kamar sudah harus kembali ke kamar.


ceklek.


Pintu terbuka, membuat Felica menatapnya namun dia langsung membuang wajahnya saat melihat Alvaro yang datang.


"Kenapa malah membuat kue, bukannya istirahat."


"Aku bosan di kamar, aku cuma bikin sedikit dan itu juga gak buat aku capek."


"Terus."


"Al, aku bosan cuma tiduran di kamar tanpa melakukan apapun."


"Kamu bisa melakukan apapun tapi setelah kamu sembuh."


"Iya Iya." kesal Felica yang akhirnya diam.


Alvaro terus menatap Felica, dia tau jika Gadisnya kesal dan dia juga tau jika sudah pasti Felica sangat bosan hanya berada di dalam mension selama satu bulan lebih.


"Apa kamu ingin keluar?"


"Gak usah."


"Oke."


Felica membulatkan mulutnya hingga membentuk huruf O. laki-laki di hadapannya ini benar-benar sangat menyebalkan.


"Sudahlah aku mau istirahat, kamu lebih baik keluar."


"Kamu Lupa mension ini milik siapa."


"Terserah."


Felica membaringkan tubuhnya, tidak lupa dia menyelimuti seluruh tubuhnya hingga menutup kepala.


"Kamu tidak bisa bernafas jika seperti itu."


"Biarin."


Alvaro menggeleng.


Dia duduk di tepi ranjang dengan terus menatapnya.


Sangat membuat Alvaro gemas dengan sikap Felica yang seperti anak kecil.


"Kenapa dia malah duduk di sana, kenapa dia tidak keluar sih."

__ADS_1


Felica kesal, mana bisa dia tidur dengan seluruh tubuhnya di tutup. tapi dia sedang ngambek dan sangat malu jika dia kembali membuka selimutnya.


__ADS_2