GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 14 (Sela berulah)


__ADS_3

Alvaro duduk di salah satu ruangan VVIP di Bar biasanya dia datang, namun tidak terlihat adanya Daniel di sana padahal biasanya Daniel selalu berada di sana setiap malam.


Namun Alvaro datang bukan untuk mabuk ataupun melakukan hal bodoh, dia datang hanya untuk melupakan semua masalah. Dia datang hanya memesan minuman biasa dan bahkan dia sama sekali tidak meminta untuk di temani oleh perempuan di sana.


"Tumben banget Lo kemari" Ucap Daniel yang tiba-tiba masuk.


Daniel baru saja datang, dan dia melihat adanya mobil Alvaro yang terparkir di depan Bar.


"Lo ada masalah Al?"


Alvaro memijat pelipisnya, masalah Perusahaan itu sama sekali tidak membuatnya seperti ini karena dia sangat pandai dalam hal bisnis terbukti Perusahaan yang di rilisnya dari kecil kini sudah berkembang bahkan dengan beberapa cabang di setiap kota bahkan luar negeri.


"Jangan bilang soal wanita?" Lanjut Daniel membuat Alvaro mengernyit.


"Gak usah sok tau."


"Gue tau gimana Lo Al, dan Gue harus tau siapa cewek yang Lo bawa ke Mension. Selama ini Lo sama sekali tidak pernah dekat dengan perempuan manapun setelah,-


"Jangan bahas soal dia."


"Oke Fine, Tapi siapa gadis itu.?


"Dia hanya tawanan gue."


"What tawanan? tapi tidak biasanya Lo bawa ke Mansion bahkan Lo memperlakukan dia dengan sangat baik."


Alvaro menatap Daniel.


"Loh Al Lo mau kemana? Ucap Daniel saat malah Alvaro beranjak bangun dan keluar.


Daniel menggeleng.


Dia sangat tau bagaimana sifat sahabat nya itu, namun dia sangat penasaran siapa gadis itu.


Karena menurut cerita Gabriel jika gadis itu sangat cantik juga di perlakukan sangat baik oleh Alvaro di mension.


Alvaro terus berjalan keluar melewati beberapa orang yang berada di sana, bahkan beberapa perempuan yang berpapasan dengannya tampak menatapnya dengan terlihat mereka menggoda.


Alvaro mengernyit saat melihat keributan di lantai bawah, terlihat seorang wanita yang sangat mabuk membuat keributan di sana.


"Ada apa ini?" Ucap Alvaro membuat beberapa orang menoleh.


Alvaro yang notabene merupakan pelanggan VIP Bar pun cukup di kenal.


"Tuan Alvaro, biasa Tuan perempuan ini terus saja Memesan tapi dia tidak bisa membayarnya."


Alvaro menatap perempuan yang sudah sangat mabuk di sana. Namun dia sedikit mengenalinya.


"Hai Tuan, akhirnya kita Ketemu lagi" Ucap Sela beranjak bangun dan langsung menghampiri Alvaro.


Beberapa pengunjung langsung pergi, mereka mengira jika wanita itu merupakan teman dekat Alvaro.


Sela terus berusaha mendekati Alvaro dan mencoba untuk memeluknya namun Alvaro sama sekali tidak membiarkan tubuhnya di sentuh oleh Sela.


"Tuan, kenapa kamu begitu tampan."


Sela terus meracau tidak jelas bahkan dia terus saja menempelkan tubuh dengan Alvaro.


"Jangan sentuh saya."


"Hahahaha, kamu jangan munafik. aku sering bertemu cowok-cowok seperti kamu."


Alvaro menghubungi seseorang untuk datang ke Bar malam ini.

__ADS_1


Sebenarnya Alvaro tau siapa Sela. karena semua soal Felica sudah dia dapatkan.


"Permisi Tuan." Ucap seseorang menghampiri nya.


"Urus dia."


"Baik Tuan. Ayo ikut."


"Kalian siapa, aku hanya mau pergi dengan laki-laki tampan itu."


Sela terus memberontak saat dia orang laki-laki berbadan tegak membawanya keluar.


Alvaro masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.


*****


Felica meremas selimut di tubuhnya, keringat bercucuran keluar di keningnya.


Mimpi buruk sedang Felica alami, dia terus berteriak ketakutan juga minta tolong.


Tubuhnya seakan sangat susah untuk bangun.


"Lepas,, tolong lepasin aku.


Papa, Mama, tolong Caca."


"Tolong, aku tidak mau."


Alvaro yang baru saja sampai menautkan kedua alisnya, dia mendengar suara awas berteriak minta tolong.


Langkahnya berhenti di depan kamar Felica, dan benar saja jika Felica seperti mimpi buruk.


Alvaro langsung masuk dan mengusap lembut bahu Felica.


Felica membuka matanya, dia menatap Alvaro yang tepat berada di sampingnya tanpa menunggu dia langsung memeluknya erat dengan Isak tangis.


Alvaro terdiam.


Entahlah, dia paling tidak suka siapapun menyentuhnya namun saat Felica dia sama sekali tidak bisa menolaknya.


"A- aku takut hiks hiks hiks."


Alvaro memejamkan matanya,tangannya terulur mengusap lembut rambut Felica.


"Ada aku di sini, tidak apa" Ucap Alvaro lembut.


Felica terdiam,


Detik berikutnya dia langsung melepaskan pelukannya dan menunduk.


"Ma- maaf Tuan." Ucapnya tanpa berani menatap wajah Alvaro.


"Semua itu hanya mimpi buruk." Ucap Alvaro dengan masih duduk di samping Felica.


Alvaro terus menatapnya, wajahnya terlihat pucat bahkan keringat masih terlihat di keningnya.


Sebenarnya mimpi apa hingga membuat Felica ketakutan seperti ini.


Tiba-tiba terdengar suara petir membuat Felica semakin ketakutan. Bahkan dia menutup telinganya dengan masih terisak.


Bayangan dimana kecelakaan kedua orangtuanya malam itu kembali terbayang. Felica harus menatap dengan kedua matanya sendiri dimana kedua orangtuanya tergeletak dengan darah yang berceceran bahkan petir juga hujan membasahi bumi.


"Felica." Ucap Alvaro khawatir.

__ADS_1


"Engga Papa,Mama, kalian hiks hiks hiks."


Alvaro msnarik ke dalam pelukannya, memeluknya begitu erat membuat Felica lebih tenang.


Setelah beberapa lama,


Alvaro melepaskan pelukannya dan menatap wajah Felica.


Hatinya terbesit kekhawatiran, juga penasaran dengan kehidupan Gadis di depannya ini.


"Sekarang kamu istirahat." Ucap Alvaro.


Felica mengangguk dan kembali berbaring, Alvaro masih di sana namun Felica langsung menahan tangan Alvaro saat akan beranjak.


"Ma- maaf Tuan, tapi aku mohon temani aku hingga aku tidur. Aku aku takut." Ucap Felica memohon.


Alvaro terdiam.


Dia tidak bisa menolaknya bahkan melihat wajah Felica seperti sangat katakutan membuatnya hanya bisa mengangguk.


Alvaro kembali duduk.


Namun, Felica malah terus menggenggam tangan Alvaro dan mulai memejamkan matanya.


Detik, Menit hingga hitungan jam namun genggaman tangan Felica sama sekali tidak terlepas.


Alvaro sangat ingin melepaskannya namun dia tidak tega hingga membiarkannya.


Rasanya dia mulai mengangguk, akhirnya dia pun terlelap di samping Felica dengan tangan yang masih setia Felica genggam.


Keesokan Harinya.


Lisa membuka pintu kamar Felica seperti biasanya, namun dia melihat pemandangan yang membuatnya urung kembali masuk.


"Tuan Alvaro bersama Nyonya di kamar?" lirih Lisa.


Dia pun kembali keluar karena tidak mau mengganggu tidur mereka.


"Lisa, kenapa kamu kembali." Ucap Lendra


"Saya tidak berani mengganggu tidur nyonya karena,-


Ucapan Lisa terhenti membuat Lendra menautkan kedua alisnya.


"Ada apa?"


"Tuan Alvaro tidur bersama Nyonya."


"Apa kamu bilang?" Ucap Sandra yang mendengar semuanya.


"Sandra" Ucap Lendra kaget.


"Memangnya kenapa? bukannya itu malah baik. Selama ini Tuan tidak pernah membawa wanita ke mension hanya Nyonya Felica saja bukan jadi tidak ada yang salah jika mereka memang tidur bersama."


"Tapi Nyonya hanya tawanan karena hutang keluarganya, dia sama sekali tidak cocok dengan Tuan Alvaro."


"Lantas, siapa yang cocok bersanding dengan Tuan. Nyonya Felica bahkan sangat cantik sudah pasti Tuan akan menyukainya."


"Sudah-sudah, kalian lanjut mengerjakan pekerjaan kalian sebelum Tuan bangun dan melihat kalian ribut."


Lisa masuk ke dalam dapur, sementara Sandra mengepalkan tangannya.


Dia tidak akan membiarkan Felica merebut hati Alvaro.

__ADS_1


__ADS_2