GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 28 (Senyuman Felica)


__ADS_3

Setelah mengantar Caca ke toko, kini mereka berada di sebuah pinggir jalan karena Caca merasa lapar. Mereka melewatkan sarapan dan Caca meminta untuk makan bubur ayam di pinggir jalan. Walaupun sebelumnya Alvaro menolah namun melihat Caca yang memohon akhirnya dia pun mengangguk setuju.


Saat ini tengah duduk menunggu pesanan mereka.


"Kamu sering makan di tempat seperti ini?"


"Em, makanan di sini juga enak kok."


"Tapi ini di pinggir jalan."


"Tetap saja bersih."


Alvaro hanya diam, dia mengambil ponselnya dan terlihat pesan dari Daniel menanyakan dirinya.


"Wah pasti ini sangat enak." Ucap Caca menatap semangkuk Bubur ayam dengan tangannya akan mengambil sambal namun Alvaro langsung mencegahnya.


"Jangan pakai sambal, ingat perut kamu."


"Tapi Al, sedikit saja."


"Felica Mabela"


Caca menghela napasnya dan mengangguk.


Sudah tidak bisa bernegosiasi lagi jika Alvaro sudah memanggil lengkap namanya.


Alvaro sesekali melirik Caca yang masih menikmati bubur ayam, sementara dirinya belum sama sekali. Baru kali ini dia makan di pinggir jalan dan dia merasa jika itu tidak bersih.


"Kenapa tidak makan, ini enak loh?"


"Apa kamu tidak takut sakit perut, ini makanan pinggir jalan."


Caca menatap sekeliling, walaupun pinggir jalan namun sangat ramai.


"Tapi bersih Al, kamu lihat aja gerobaknya dan juga gimana pedagang membuatnya."


Alvaro terdiam,,


"Makanya coba dulu."


Dengan ragu-ragu Alvaro mulai menyendok nya, dia tampak diam sembari menikmati namun Felica tersenyum saat Alvaro kembali menyendok nya bahkan beberapa kali hingga satu mangkuk habis.


"Enak kan?"


Alvaro mengangguk.


Sebenarnya dia malu juga karena semangkuk habis, namun dia tidak bisa pungkiri jika memang sangat enak.


"Mau kemana lagi?"


"Aku tidak tau, selama tinggal di rumah Paman aku hanya pergi ke Toko saja."


Alvaro terdiam, dia pun beranjak bangun.


"Mau kemana?"


"Bayar dulu, setelah itu kita jalan-jalan."

__ADS_1


Caca menatap Alvaro yang berjalan menghampiri penjual bubur, dia tampak memberikan selembar uang seratus ribuan dan penjual tampak berterimakasih.


"Yuk" Ajaknya dan Caca mengangguk.


Mereka masuk ke dalam mobil.


Tidak ada lagi obrolan di dalam, Caca bahkan tidak tau Alvaro akan mengajaknya kemana.


Mobil sampai di parkiran sebuah Mall besar.


"Kita ke Mall?"


"Kenapa, kamu tidak suka?" Ucap Alvaro menatap Caca.


"Aku hanya sudah sangat lama tidak datang ke Mall."


Alvaro membuka pintu mobil dan berjalan memutar, Caca pun keluar dan mereka berjalan masuk.


Mall terlihat begitu ramai, mungkin karena libur membuat semua orang datang ke sana. Walaupun yang lebih mendominasi adalah kaum hawa.


Caca yang berjalan di samping Alvaro tampak heran, banyak pengunjung yang terus menatap Alvaro beberapa diantara mereka bahkan terdengar saling berbisik memuji ketampanan Alvaro yang bak pangeran timur. Namun Alvaro sendiri tampak cuek, dan hanya berjalan.


"Al,"lirih Caca membuat Alvaro menoleh.


"Pelan jalannya, aku capek."


Alvaro lupa jika saat ini dia bersama Caca bukan bersama Miko seperti hari-hari biasanya.


Dia pun mensejajarkan jalannya dan berjalan mengikuti langkah Caca masuk ke dalam sebuah Lift. Biasanya Alvaro akan masuk ke dalam lift khusus namun kali ini dia masuk ke dalam lift umum dengan banyak orang yang juga ikut masuk ke dalam.


Caca memundurkan langkahnya saat begitu banyak orang yang masuk, Alvaro yang melihatnya pun segera menarik pinggangnya dan membawanya lebih dekat agar tidak berdesakan.


Caca menatap wajah Alvaro dari bawah karena memang Alvaro yang memiliki tubuh sangat tinggi sementara dirinya hanya sebatas dada.


Ada perasaan aman, tenang juga senang jika dia bersama Alvaro karena dia selalu di merasa di lindungi.


Tatapan Caca beralih ke pinggangnya, dimana Alvaro masih setia memeluknya bahkan kini posisinya berganti berdiri di depan Alvaro.


Ting.


pintu List terbuka, semua orang pun berhamburan keluar begitupun dengan Alvaro dan Caca.


Mereka berjalan mengelilingi Mall, seseorang Caca menoleh kanan kiri.


"Apa kamu tidak ingin membeli sesuatu?"


Caca menggeleng, dia memang tidak suka membuang uangnya dengan membeli barang-barang yang menurutnya tidak penting, banyak pakaian yang bisa dia pakai. apalagi saat ini dia tinggal bersama Alvaro dan memiliki banyak pakaian bermerek di kamarnya yang belum dia pakai.


"Bukannya perempuan sangat menyukai belanja?"


"Tidak, aku tidak suka membuang uang untuk membeli sesuatu yang bahkan tidak terlalu penting. karena aku tau bagaimana susah dan lelahnya bekerja."


Alvaro menatap Caca, gadis di sampingnya ini memang berbeda dengan gadis di luar sana yang bahkan akan merengek manja untuk di belikan sesuatu.


Langkah Caca berhenti tepat di depan kedai Es Krim yang sedang sangat viral. Banyak pengunjung yang mengantri di sana. Sebenarnya sudah sangat lama dia ingin mencicipinya namun, di dulu dia selalu mengurungkan niatnya karena Paman juga Bibinya akan meminta uang hasil kerjanya setiap hari hingga dia hanya bisa menatap orang lain menikmatinya.


Alvaro mengikuti pandangan mata Caca.

__ADS_1


"Kamu tunggu di sini sebentar."


"Kamu mau kemana Al."


Caca menatap Alvaro yang berjalan menuju kedai Es Krim, dia bahkan terlihat membelinya dan kembali dengan beberapa bungkus.


"Ini" Ucapnya menyerahkan


"Kenapa membeli begitu banyak, memangnya siapa yang mau makan?"


"Aku tidak tau rasa apa yang kamu suka, jadi aku membeli semua rasa."


Caca membulatkan matanya kaget.


"Tapi aku,-


"Kamu sedari tadi melihat kedai itu."


"Dulu aku sangat penasaran dengan rasa es krim viral itu, tapi uang hasil kerja harus selalu di minta Paman juga Bibi tanpa menyisakannya." Ucap Caca menunduk.


Rahang Alvaro mengeras, entah mengapa dia merasa tidak terima dengan semua tindakan yang di lakukan oleh Johan terhadap Felica.


"Aku janji akan mengembalikan semua kebahagiaan kamu."


Caca menatap beberapa bungkus plastik es krim di tangannya, dia tidak mungkin menghabiskan Semuanya sendiri.


"Al,"


"Hem"


"Apa aku boleh kasih es krim ini sama anak kecil itu?"


Alvaro menatap dua anak kecil yang tampak melihat kedai es krim. Bahkan orang tuanya tampak seperti berbicara dengan mereka.


"Boleh?" Ulang Caca dan Alvaro mengangguk.


Caca segera berjalan mendekat,,


"Hai Adik,, ini buat kalian." Ucap Caca tersenyum membuat dua anak kecil juga ibunya menoleh.


"Tidak usah Non."


"Gapapa Bu, saya sudah makan tadi. ini buat kamu dan ini juga kamu."


Kedua anak kecil itu tampak senang.


"Terimakasih Non, mereka memang selalu merengek ingin membeli es itu tapi saya tidak memiliki uang untuk membelinya."


Caca tersenyum dan mengusap bahu seorang wanita itu.


"Sama-sama Bu, Kalian makan yang bener ya jangan belepotan sambil duduk juga makannya."


"Bilang apa kalian"


"Terimakasih Kakak cantik."


"Sama-sama sayang, dadah."

__ADS_1


Alvaro terus menatap Caca, dia tersenyum melihat apa yang dilakukan gadisnya. Caca sangat baik dan memiliki hati yang sangat lembut.


Namun bukan semua itu yang membuat Alvaro tersenyum, namun sebuah senyuman yang kembali hadir di wajah gadisnya.


__ADS_2