
Tepat pukul 7 malam Alvaro sampai di mension bersama Miko yang langsung berpamitan dengannya. Alvaro berjalan masuk melewati beberapa pengawal yang selalu berjaga di setiap sudut ruangan.
Matanya menatap sekeliling, biasanya Felica berada di lantai bawah atau bahkan dia sedang menunggu nya di meja makan untuk makan malam bersama namun suasana Mension terlihat sepi.
"Tuan sudah pulang, apa perlu saya buatkan minuman?"
Alvaro menoleh, Sandra tersenyum menatapnya.
"Dimana Felica."
Senyuman di wajah Sandra hilang seketika, Alvaro bahkan langsung menanyakan keberadaan wanita itu. Bahkan ucapannya sama sekali tidak di jawabnya.
"Saya tidak melihatnya Tuan."
Alvaro kembali melangkah menuju lift, dia langsung menuju lantai atas dimana Kamar nya.
Ting.
Pintu Lift terbuka, terlihat penjaga yang langsung menunduk saat melihat tuannya datang.
Kakinya terus melangkah hingga tepat berada di depan pintu kamar Felica. tidak ada suara apapun di dalam bahkan Lisa pun tidak terlihat.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka terlihat Lisa yang keluar dengan sebuah nampan berisi makanan yang masih utuh.
"Tu- Tuan" Kaget Lisa saat mendapati Alvaro berdiri di sana. Bahkan di saat dirinya membawa makanan yang sama sekali tidak di sentuh Felica. Sudah pasti Alvaro akan marah dan kembali menghukumnya.
"Kenapa makanan masih utuh!"
"Maaf Tuan, Nyonya Felica tidak mau makan bahkan semenjak siang pun tidak keluar kamar."
Alvaro langsung masuk ke dalam,
Felica yang berada di atas ranjang pun kaget dengan kedatangan Alvaro yang masuk ke dalam kamarnya.
"Alvaro."
"Kenapa tidak makan."
"Aku tidak lapar."
"Bukannya saya sudah membebaskan kamu untu melakukan apapun, tapi sepertinya kamu lebih suka untuke menjadi seorang tahanan dan menyiksa diri."
Felica terdiam.
Rasanya sangat lelah menjadi dirinya saat ini. Harus hidup dengan aturan yang sama sekali tidak dia sukai. Hidup dengan bayangan jika dirinya hanya seorang jaminan hutang.
"Jawab jika ada yang bertanya.!"
Felica menghela napasnya dan memberanikan diri menatap Alvaro yang menatapnya tajam.
"Anda benar Tuan, Saya memang lebih pantas berada di dalam kamar tanpa adanya kebebasan. Karena Saya sadar siapa saya."
__ADS_1
Alvaro menautkan kedua alisnya.
Kenapa gadis di depannya ini bersikap seperti ini, bersikap menentang seperti sebelumnya padahal beberapa hari Felica sudah bersikap manis dan Alvaro menyukainya.
"Jika itu mau kamu." Ucap Alvaro keluar.
Lisa yang mendengarnya pun hanya bisa menghela napas semua ini karena ucapan Sandra membuat Alvaro kembali marah dengan Felica.
Caca kembali menangis setelah kepergian Alvaro, dia membenamkan wajahnya dengan Isak tangis yang begitu pilu. Andai saja dia bisa menyusul orang tuanya, andai saja dulu dia tidak selamat maka semua ini tidak akan terjadi. dia akan hidup bahagia bersama orangtuanya.
"Nyonya." Ucap Lisa membuat Felica menoleh.
Tanpa menunggu lama, Caca langsung memeluk erat tubuh Lisa dengan masih terus terisak.
Lisa mencoba menenangkannya, bagaimana pun dia sangat tau perasaan Caca yang sangat rapuh.
Alvaro menatap wajahnya di depan cermin, rasanya begitu emosi saat melihat Felica kembali menentangnya.
Sandra tersenyum melihat apa yang sudah terjadi, dia bahkan sangat membenci Felica apalagi semenjak kedatangannya semua orang bersikap baik kepadanya. Bahkan Alvaro pun sangat peduli dengannya.
"Lebih baik seperti ini, dan aku bakal membuat Felica keluar dari mension ini atau bahkan di siksa oleh Tuan Alvaro."
********
Keesokan harinya..
Alvaro berada di meja makan sendiri tanpa adanya Felica seperti beberapa hari kemarin. Bahkan kini Sandra yang kembali memasak dan menyiapkan semuanya.
"Ya Tuan."
"Pastikan gadis itu tetap makan, saya tidak mau dia kembali sakit."
"Baik Tuan."
Alvaro mengangguk dan beranjak bangun. Sangat tidak nafsu makan pagi ini. Lidahnya sudah mulai menyukai masakan Felica dan kini harus Sandra yang kembali memasak.
"Loh dimana Tuan Alvaro Pak." Ucap Sandra membawa segelas kopi.
"Tuan sudah berangkat."
"Tapi Tuan belum sama sekali sarapan, semalam juga Tuan tidak makan malam."
"Sebaiknya kamu bereskan semuanya, dan siapkan sarapan untuk Nyonya Felica." Ucap Lendra berjalan meninggalkan Sandra yang membulatkan matanya.
"Apa, aku siapin sarapan untuk perempuan itu.?"
Sandra melenggang masuk ke dalam dapur tanpa berniat menyiapkan sarapan untuk Felica.
Sedangkan Caca yang masih berada di dalam kamarnya pun menatap mobil Alvaro yang keluar mension. Dia berada di balkon kamarnya menikmati udara pagi yang sangat segar namun dirinya sangat tidak bersemangat.
Lisa yang selalu menemaninya, sedang ada urusan keluarga nya dan mengharuskan dirinya pulang ke kampung.
"Aduh perut aku, ini pasti karena aku tidak makan dari kemarin. Tapi aku bisa menahannya. Dan jika memang aku tidak bisa bertahan setidaknya aku bisa menyusul Papa dan Mama di surga."
__ADS_1
Felica tersenyum dan mengusap perutnya yang sedikit perih. Bagaimana tidak, dia yang memiliki sakit mahgh.
Detik berganti detik, menit bahkan jam hingga sekarang siang telah berganti.
Felica meringkuk di atas ranjang sembari memegang perutnya yang semakin sakit.
Air matanya pun kembali menetes menahan rasa sakit. Nafasnya mulai sesak.
Lendra menatap jam yang sudah pukul 1 siang, namun Sandra sama sekali tidak menyiapkan makan siang untuk Felica.
"Sandra."
"Ya Pa Lendra."
"Apa kamu sudah menyiapkan makan siang untuk Nyonya Felica."
Sandra menghela napasnya.
"Belum Pa."
"Astaga jam berapa ini."
"Maaf Pak Lendra, bukannya saya hanya di tugaskan untuk menyiapkan makanan untuk Tuan Alvaro dan bukan untuk Nyonya Felica."
"Jadi kamu juga tidak menyiapkan sarapan untuk Nyonya Felica?"
Sandra menggeleng.
"Tuan pasti akan sangat emosi jika tau semua ini, sekarang kamu siapkan dan antar langsung ke kamar Nyonya Felica."
"Tapi Pak,-
"Jika kamu masih ingin bekerja di mension, ikuti semua ucapan saya."
Sandra masuk ke dalam dapurnya dan menyiapkan makanan untuk Felica.
Lendra terus mengawasinya, dia tidak mau jika kena marah atau bahkan kena siksa dari Alvaro.
"Ini Pak."
Lendra menerimanya.
"Ingat Sandra, Kamu di sini hanya bekerja jadi lakukan pekerjaan kamu dengan baik." Ucap Lendra yang langsung pergi dengan membawa nampan berisi makanan juga segelas air putih.
Sandra semakin membenci Felica.
Semua orang kenapa bisa bersikap baik dengannya, apa sebenarnya yang sudah di lakukan Felica.
"Sialan karena wanita itu hampir semua orang membenciku, aku tidak akan pernah biarkan dia merebut semuanya. aku akan membuatnya semakin tersiksa berada di mension ini bahkan membuatnya di buang oleh Tuan Alvaro. Karena Tuan Alvaro hanya milikku tidak akan pernah aku biarkan siapapun mendekatinya dan mendapatkannya termasuk Felica gadis tawanan Tuan Alvaro."
Sandra pergi menuju kamarnya.
Rasanya berada di sana hanya membuatkan kesal. semua orang membicarakan Felica dan menyalahkan dirinya.
__ADS_1