GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 35 (Ungkapan Maaf Alvaro)


__ADS_3

Alvaro benar-benar meluapkan emosi kepada Sandra yang terus menjelekkan Felica. Bahkan Sandra menuduh jika Felica telah menggoda Alvaro dan itu sukses membuat Alvaro kembali mengeluarkan sifat aslinya. Kejam, dingin bahkan dia tidak melihat siapa yang akan dia siksa.


"Kalian urus dia, Saya tidak mau membuat tangan saya kotor." Ucap Alvaro pergi meninggalkan sebuah ruangan dengan pencahayaan yang begitu remang.


Beberapa penjaga menunduk saat Alvaro keluar dan berjalan menuju mension utama.


Felica menuruni tangga dan mencari keberadaan Alvaro, entah dimana laki-laki itu hingga sudah hampir jam 7 malam.


"Bik,, lihat Alvaro?" Ucap Felica saat bertemu dengan salah satu Pelayan.


"Aku di sini." Ucap Alvaro tiba-tiba berjalan masuk.


Felica menautkan kedua alisnya, Kenapa Alvaro datang dari pintu samping dari mana bukannya dia bilang ada urusan.


"Aku mandi sebentar. Jika lapar makan lah dulu." Alvaro mengusap pucuk rambut Felica dan berjalan menuju kamarnya.


Felica menatap punggung Alvaro hingga masuk ke dalam Lift. Ada yang aneh dengannya bahkan wajahnya terlihat berbeda.


"Lisa." Panggil Felica.


"Ya Nyonya."


"Apa Ada masalah, pas aku datang mension sangat sepi dan sekarang semua pelayan tampak sibuk."


"Tidak Nyonya, tadi kami hanya sedang mengerjakan tugas kami. Apa Anda sudah mau makan?"


"Em tidak, aku belum lapar."


"Baiklah saya ke dapur sebentar Nyonya."


Felica mengangguk dan dia berjalan menuju ruang tengah. dia mengambil remote dan mulai menonton film di sana.


Di dalam kamar.


Alvaro baru saja membersihkan tubuhnya. Dia mengambil celana pendek dan juga kaos putih. sungguh membuatnya semakin tampan dengan memakai pakaian santai.


Dia berjalan menuju lift untuk menemui gadisnya.


Matanya menatap Felica yang tengah duduk menonton film. Dia pun berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.


"Kamu sudah mandi."


Alvaro hanya mengangguk dan bersandar, tangannya memijat pelipisnya. Ucapan Sandra benar-benar membuatnya marah. Jika dia tidak bisa mengontrol emosi sudah pasti Sandra akan habis di tangannya.


"Apa ada masalah?"


Alvaro menautkan kedua alisnya dan menatap gadisnya. menatap wajah Felica membuatnya lebih tenang.


"Tidak. Kamu tidak makan?"


"Aku masih kenyang, atau kamu mau makan.?"


"Aku juga masih kenyang."


Felica mengangguk dan kembali menonton film. Alvaro menemani gadisnya menonton film di sana.


Entah sejak kapan, ternyata Felica malah telah tertidur pantas saja Alvaro tidak lagi mendengar suara dari gadis di sampingnya.


"Ternyata tidur, pantas saja tidak ada lagi celotehan." Gimana Alvaro menatap Felica yang tengah tertidur.


Dia pun membenarkan posisi tidurnya dan dengan sangat hati-hati membopong tubuh gadisnya menuju kamarnya.


Dengan sedikit kesusahan, Alvaro akhirnya berhasil membuka pintu kamar Felica dan membaringkannya dengan pelan.


Di tatapnya wajah damai Felica saat tertidur. Semenjak kedatangan di mension telah banyak mengubah hidupnya bahkan dia sudah tidak lagi keluar malam dan kini hidupnya pun sangat sehat berbeda saat sebelum Felica datang. Alvaro jarang berada di rumah bahkan dia hanya bisa di hitung berapa kali pulang ke mension.


"Padahal kamu hanya seorang gadis kecil. tapi kedatangan mu merubah semuanya. Kamu berhasil membuat hidupku kini berwarna." Lirih Alvaro menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Felica.


Alvaro mendekatkan wajahnya dan mengecup dalam kening Felica.

__ADS_1


"Good night little girl"


Alvaro menarik selimut dan menutupi tubuh Felica.


Dia pun tidak mematikan lampu, karena dia tau Felica tidak bisa tidur dalam keadaan gelap.


Perlahan Alvaro berjalan keluar dan membiarkan gadisnya tidur.


**********


Keesokan Harinya.


Felica membuka matanya. Pertama yang dia lihat adalah ruangan dengan bercat hijau dan dia tau jika dia sudah berada di kamarnya.


Dia berpikir semalam berada di ruang tengah bersama Alvaro berarti dia tertidur dan Alvaro yang membawanya ke kamar.


Felica beranjak bangun dan masuk kamar mandi, dia menggosok gigi dan membasuh wajahnya.


Dia akan menyimpan sarapan di bawah. dengan menggulung acak rambutnya Felica menuju lift. Beberapa pelayan sudah tampak melakukan tugasnya. beberapa penjaga pun tampak sudah berdiri di tempat biasa mereka berjaga.


"Selamat pagi Pak Lendra."


"Pagi Nyonya."


Felica tersenyum dan masuk ke dalam dapur, hanya ada Lisa dan dia pelayan yang sedang menyiapkan sarapan.


"Nyonya, Ada yang bisa saya bantu?" Ucap Lisa.


"Tidak Lisa, em kalian mau masak apa pagi ini."


"Apa Nyonya menginginkan sesuatu."


Felica terdiam.


Dia membayangkan membuat Sandwich sepertinya enak.


"Baik Nyonya."


Felica mengangguk dan mulai membuatnya, dia bahkan membuat bukan hanya untuk dirinya juga Alvaro namun Felica membuat untuk semua orang di mension.


Setelah beberapa menit semua telah siap dan tertata di meja makan.


"Oya Bik, tolong ini bawa ke depan. berikan semua penjaga sandwich ini."


"Baik Nyonya."


Felica mengangguk namun matanya menatap seseorang yang sejak sore tadi tidak dia lihat. Ya Dimana Sandra kenapa dia tidak melihatnya apa Sandra sedang ijin tapi seharusnya dia tau.


"Lisa, Dimana Sandra kenapa dari sore aku tidak melihatnya."


"Saya kurang tau Nyonya"


"Oh ya sudah, aku ke kamar dulu ya."


"Silahkan Nyonya."


Semua orang di larang untuk memberitahu Felica dimana Sandra. begitu pun dengan Lisa walaupun Lisa dekat dengan Felica namun dia tetap tidak akan memberitahunya biarkan Tuannya yang akan memberitahu nanti.


Alvaro yang sudah bersiap langsung menuju lantai bawah. namun Lendra segera memanggilnya.


"Maaf Tuan."


"Ada apa?"


"Ini soal Sandra, dia sudah sangat lemah."


"Biarkan saja, Saya tidak peduli."


"Tapi bagaimana jika dia,-

__ADS_1


"Sandra, Kenapa dia?" Ucap Felica yang sudah berada di belakang mereka.


"Saya permisi Tuan, Nyonya." Pamit Lendra meninggalkan mereka.


"Al, dimana Sandra apa yang terjadi. Dari sore bahkan aku tidak Melihatnya."


"Dia baik-baik saja, sekarang kita sarapan."


"Jangan bilang jika kamu membawanya ke ruang bawah karena aku bukan?"


Deg.!


Alvaro menghentikan langkahnya.


"Jawab aku Al. Dimana Sandra sekarang."


"Alvaro. Jawab."


"Di ruang bawah."


Felica menggeleng dan segera berjalan menuju ruang bawah. Dia tau ruangan itu karena dulu dia pun pernah berada di sana.


Beberapa penjaga kaget saat Felica datang, dan mereka langsung menunduk saat Alvaro berjalan di belakangnya.


"Astaga Sandra." Ucap Felica saat melihat Sandra terbaring lemah dengan beberapa luka. bahkan wajahnya sangat pucat.


"Al, kita harus bawa ke rumah sakit."


"Biarkan saja, dia berhak mendapatkannya."


"Setelah apa yang sudah dia lakukan?"


"Kamu bisa bicara dengannya tanpa harus menyiksanya. kamu lihat bagaimana keadaannya sekarang. Bawa dia ke rumah sakit atau aku tidak mau bicara dengan kamu."


Alvaro menghela napasnya dan meminta penjaga membawanya.


"Bawa dia ke mension belakang dan panggil Gabriel untuk memeriksanya."


Dua orang langsung membawa tubuh lemah Sandra.


"Hati-hati."


Felica menatapnya, dia pun kembali menatap Alvaro yang masih berdiri di sana.


"Kenapa kamu membebaskannya, bahkan jika kamu mau aku bisa menghabisinya." Ucap Alvaro membuat Felica memicingkan matanya.


"Tidak semua kejahatan di balas kejahatan."


"Apa kamu memaafkannya."


"Aku tidak mau Sandra semakin membenci aku."


Alvaro terdiam.


Dia begitu kagum dengan gadis di depannya. Felica memiliki hati bak malaikat.


"Maaf."


Felica menatap Alvaro. Dia tidak mau Alvaro bersikap kasar dengan semua orang di Mension bagaimana pun kita semua satu keluarga.


"Maaf aku telah mengecewakan mu." Ulang Alvaro.


Felica menggeleng dan menghampiri Alvaro.


Dia pun memeluk tubuh laki-laki di depannya.


"Aku tidak marah, aku hanya tidak mau kamu berbuat jahat dengan semua orang." Lirih Felica dalam pelukannya.


Alvaro mengangguk dan membalas pelukan gadisnya.

__ADS_1


__ADS_2