GADIS Tawanan ALVARO

GADIS Tawanan ALVARO
Bab. 17 (Kembalinya senyuman Felica)


__ADS_3

Page Harinya, Felica sudah bangun sangat pagi bahkan di saat Lisa belum datang ke kamarnya Caca sudah mandi dan terlihat segar dengan hanya memakai celana jeans panjang dan kaos putih.


Rambut panjangnya sengaja dia urai.


Caca berjalan menuruni tangga untuk sampai di lantai bawah, padahal jika mau Caca bisa menggunakan lift namun Caca berpikir hanya orang malas saja yang selalu masuk lift.


"Selamat pagi Nyonya" Sapa Lendra yang sedang mengawasi beberapa pelayan yang sedang bekerja.


"Pagi Pak Lendra."


Caca menatap sekeliling, hampir semua pelayan memiliki tugas masing-masing dan mereka terlihat melakukan semua tugasnya.


"Apa Anda membutuhkan sesuatu, atau saya panggilkan Lisa?"


"Tidak gak usah Pak, aku hanya ingin ke taman."


"Silahkan Nyonya."


Caca tersenyum dan berjalan menuju samping rumah, dimana adanya taman dengan bunga di sana.


Caca memejamkan matanya dan menghirup udara pagi yang begitu segar, namun matanya menangkap taman bunga lili putih yang begitu rapi dan cantik. Langkahnya terus tertuju ke sana hingga dia pun berjongkok di depannya.


"Waw ternyata ada bunga lili juga, cantik banget."


Felica menciumnya, harum yang begitu khas.


Namun dia menunduk karena teringat dengan Bu Dinda di toko. Bagaimana kabarnya pasti sangat khawatir dengan Dirinya.


Alvaro yang baru saja keluar kamar dan berdiri di balkon kamarnya menautkan kedua alisnya saat melihat seseorang berada di taman Bunga Lili milik Ibunya.


"Felica" Gumam Alvaro saat melihat Felica lah yang berada di sana.


Matanya terus menatap apa yang di lakukan gadis Tawanannya itu.


Felica yang kini beralih duduk di sana pun tampak terus menciumi Bunga Lili yang memang sangat dia sukai.


"Ehem."


Felica menoleh dan langsung berdiri saat melihat Alvaro berdiri menatapnya.


"Alvaro."


"Ngapain kamu di situ."


Felica tersenyum dan kembali menatap lili.


"Bunga Lili putih, Jadi kamu juga menyukai Lilin putih Al?"


"Mama saya yang menyukainya."


Felica mengangguk,,


"Cantik wangi, tapi ini sangat terawat memang nya siapa yang merawatnya."


"Pelayan."


"Em, boleh gak aku yang merawatnya. Aku suka dengan Lili."


Alvaro menatap Felica bingung, bahkan banyak wanita di luar sana yang merasa senang jika hanya berada di dalam ruangan dengan fasilitas dan semua kebutuhan terpenuhi berbeda dengan Felica yang malah menginginkan keluar dari sangkar emasnya.


"Lakukanlah asal jangan pernah merusaknya."


"Serius Al."

__ADS_1


"Hem."


"Makasih Al."


Felica kembali berjongkok dan menciuminya, sementara Alvaro hanya berdiri dan menatapnya.


"Selama Pagi Tuan Alvaro."


Alvaro menoleh, terlihat Sandra berdiri di sampingnya dengan wajah sembab.


"Ada apa."


"Saya mau ijin Tuan, tubuh saya sangat tidak enak. kepala saya pusing."


"Lantas."


"Saya- saya mau ke dokter Tuan."


"Pergilah dan istirahat jika memang benar sakit." Ucap Alvaro berjalan masuk.


Sandra tersenyum, dia menyangka Alvaro peduli dengannya. Mendengar ucapan Alvaro yang terlihat khawatir membuatnya merasa jika peluang untuk mendekati Alvaro sedikit berhasil.


Sudah beberapa menit Felica berada di sana, dia pun beranjak bangun dan berjalan masuk.


"Nyonya Anda mau kemana?" Ucap Lisa saat melihat Felica akan masuk ke dalam dapur.


"Dapur."


"Biar saya yang ambilkan, apa Anda membutuhkan sesuatu."


"Astaga Lisa, aku hanya ingin pergi ke sana."


"Tapi Nyonya,-


Ternyata memang Alvaro begitu menyukai kebersihan dan kerapian.


"Nyonya jangan,-


"Sst Lisa, aku hanya ingin memasak sarapan. sudah lama aku tidak memasak."


"Tapi Nyonya Tuan tidak mengijinkan Anda memasak."


Felica tidak mendengarnya, dia pun mengambil beberapa bahan makanan dan mulai memasaknya.


"Lisa, kenapa kamu biarkan Nyonya Felica masuk dapur."Ucap Lendra yang baru saja datang.


"Maaf Pa, tapi saya sudah melarangnya namun Nyonya bersih keras ingin memasak.


Alvaro memang tidak mengijinkan Felica untuk melakukan apapun di mension. Dia memang hanya tawanan namun bukan berarti Alvaro akan memerintahkannya sesuka hati. Bahkan selama ini Alvaro memberikan semua kebutuhan Felica.


"Biar saya bantu Nyonya."


"Tidak, kamu diam di sana Lisa."


Lisa mengangguk dan hanya bisa berdiri menatap Felica yang memang terlihat begitu lihai memainkan alat dapur. Hingga hampir satu jam terlihat beberapa masakan tertata rapi di meja makan.


"Al, Sarapan dulu." Ucap Felica saat melihat Alvaro berjalan turun.


Alvaro menatap heran masakan di meja.


"Maaf kangen pengin masak, tapi kalau semua ini buka selera kamu gapapa kok biar nanti,-


"Duduk." Potong Alvaro.

__ADS_1


Felica menurut dan duduk di sana dan menatap Alvaro yang tengah mengambil makanan juga menikmatinya.


"Enak kan?" Ucap Felica terus menatap Alvaro.


"Hem"


"Jadi nih cewek pinter masak juga, masakannya pun jauh lebih enak dari pada masakan koki ataupun Sandra." Batin Alvaro Sambil menatap Felica yang juga tengah menikmati sarapannya.


Setelah beberapa saat,


Alvaro selesai dan beranjak bangun.


"Em tunggu Al." Ucap Felica membuat Alvaro menautkan kedua alisnya.


"Aku boleh ya main-main di dapur."


"Hah?"


"Maksud aku masak, aku pengin buat kuker juga boleh ya."


"Terserah."


"Yey, makasih" Ucap Felica langsung memeluk Alvaro.


"Ma- maaf."


Felica langsung melepaskan pelukannya dan menunduk.


"Bocil." Lirih Alvaro berjalan melewati Felica.


Felica membulatkan matanya, bahkan Alvaro masih saja memanggilnya Bocil.


Namun, dia senang karena dia sudah bisa melakukan apapun di mension tidak seperti dulu yang hanya berada di dalam kamar.


Alvaro masuk ke dalam mobilnya, sedangkan beberapa penjaga menundukkan kepalanya saat melihat bos mereka berjalan keluar.


*****


Berbeda dengan Felica yang sudah hidup dengan kebahagiaan, Keadaan keluar Johan malah tampak menyedihkan. Uang yang mereka dapatkan dari Alvaro saat itu habis tanpa tersisa hanya untuk berfoya-foya.


"Astaga Ma, kamu tidak masak?" Ucap Johan menatap meja makan yang malah tanpa adanya makanan apapun.


"Masak kata kamu Pa, dari mana uang untuk membeli makanan?"


"Terus kemana uang yang kemarin aku kasih Ma, itu tidak sedikit."


"Habis lah Pa, lagian Mama pakai untuk ke salon beli baju juga skincare."


Johan menghela napasnya.


"Ya udah lah Pa, mending hari ini Papa cari uang deh."


"Cari kemana lagi Ma?"


"Tuan Alvaro lah, lagian kita hanya mendapatkan uang 200juta, sementara Jika kita menjual Felica di luar bisa mendapatkan 500juta karena Felica yang masih perawan."


Johan terdiam.


Apa dia bisa mendapatkan uang dari Alvaro kembali, sedangkan saat itu Alvaro sudah mengatakan jika urusan mereka telah selesai dan dirinya tidak bisa menganggu Felisa lagi.


"Gimana Pa, mending sekarang deh Pa."


"Oke Ma, kalau mereka tidak memberikannya lebih baik kita ambil Felica lagi dan menjualnya ke orang lain." Ucap Johan tersenyum.

__ADS_1


Mariska pun tersenyum mendengarnya, Dia akan memanfaatkan Felica untuk bisa mendapatkan uang. bahkan di saat Felisa tidak lagi di uang.


__ADS_2