Gadisku Yang Hilang

Gadisku Yang Hilang
Dimana Ini??


__ADS_3

"Eughhhh..." Yessi kembali mengejan sesuai instruksi dokter serta para bidan di ruang bersalin.


"Ayok, Bu... Dorong, sebentar lagi bayinya keluar...." ucap salah seorang bidan.


"Eughhh... Eughhh...." Yessi mengejan sekuat tenaga hingga ia menjambak rambut suaminya yang menemani di ruang bersalin.


Oek oek oek...


"Selamat, Bu... Bayinya perempuan," sang dokter memberi ucapan selamat.


Kebahagiaan kini tengah menyelimuti pasangan Razan dan Yessi dengan kelahiran anak keempat mereka yang berjenis kelamin perempuan.


Bagaimana tidak, setelah kesedihan yang menerpa karena kehilangan putra ketiga mereka, kini hadir bidadari cantik di tengah keluarga mereka yang mampu mengobati rasa sakit ditinggal anak tercinta.


Ditambah keduanya sangat mengharapkan memiliki anak perempuan seteleh ketiga anak mereka sebelumnya berjenis kelamin laki- laki.


Razan tak hentinya mengucap syukur dan terus memeluk seta menciumi sang istri yang telah menjadikannya seorang ayah lagi untuk yang keempat kalinya.


Meski ini keempat kalinya ia menemani istrinya bersalin, tetap membuatnya sedih dan menangis haru melihat betapa kesakitannya sang itri saat melahirkan putri mereka.


Kini Yessi sudah berada di ruang rawat inap VVIP dan tengah menyusui bayinya.


“Sayang, putri kita sangat cantik. Dia mirip sekali dengan mu.” Razan memuji hasil maha karyanya yang kini sudah terpampang nyata hadir di dunia.


“Tentu saja dia mirip dengan ku, hehehe. ” Yessi tersenyum kemudian ia menghela nafas panjang.


"Akhirnya kita bisa memiliki anak perempuan ya, Mas ... Aku gak sabar unuk memakaikannya pakaian dan aksesoris yang lucu- lucu.”


Yessi kembali tersenyum sumringah memandangi bayi mungil yang sedang melahap ASI nya.


“Tapi maaf sayang … sekarang kau punya saingan di rumah.” Razan menggoda sang istri.


“Saingan?” tanya Yessi heran.


“Iya saingan … Mulai sekarang kamu tidak lagi mendapat predikat paling cantik di rumah, karena ada peri cantik ini yang hadir di tengah- tengah keluarga kita.” Razan memperjelas apa yang dimaksudkannya.


Yessi terkekeh mendengar gurauan suaminya. “Gak apa- apa, yang paling penting aku tetap menjadi yang tercantik di hati mu.”


“Hahaha … itu pasti, gak tahu deh kalau besok.” Razan kembali mengoda sang istri.


“Eh, maksudnya apa?” Yessi terkejut mendengarnya.


“Memangnya putri ku ini tidak akan mengisi hatiku, hem?” Razan mengusap lembut kepala putrinya yang masih asyik minum ASI.


Yessi tersenyum bahagia sembari memandangi bayi mungil itu. “Mas … tadi katanya Mas udah punya nama untuk anak kita. Siapa namanya?”

__ADS_1


“Zeelea Queenza Pranayudha .” Razan menyebutkan nama lengkap yang sudah ia siapkan untuk putrinya.


“Wahh, nama yang cantik.” Yessi memuji nama pemberian suaminya itu.


“Tentu saja, secantik paras putri kita ini.” Razan mencium pucuk kepala bayi yang berada dalam gendongan istrinya itu. Mata Razan tak hentinya memandangi putrinya hingga ia tertidur.


"Aku ingin memanggilnya Elea," ucap Yessi.


“Tentu sayang... Sini, biar Mas yang meletakannya pada tempat tidur bayi.” Razan dengan sangat hati- hati mengambil baby Elea dari pangkuan Yessi. Hingga tak sengaja topi penutup kepala sang bayi terlepas.


“Mas, hati- hati dong … Topi kerpusnya kan jadi lepas. Sebentar aku pasangin lagi.”


Razan terkekeh, “Maaf sayang.”


Yessi pun memasangkan kembali topi sang bayi. “Eh apa ini?” tanya Yessi heran.


“Kenapa? Elea kenapa?” Razan takut terjadi sesuatu dengan putrinya.


“Ini loh mas, dibelakang telinganya ada tanda hitam menyerupai bulan sabit.” Yessi memperhatikan dengan seksama tanda itu.


“Masa sih?” Razan kemudian melihatnya. “Wah, putriku sayang … ternyata kamu memiliki tanda lahir persis seperti yang papa miliki.” Razan semakin bahagia.


“Iya, Mas … ternyata dia menuruni tanda lahir itu. Padahal anak- anak kita sebleumnya gak ada yang meliliki tanda lahir seperti itu," ucap Yessi merasa takjub.


“Putri ku juga … Jangan lupa kalau akulah yang mengandung dan melahirkannya.” Yessi meningatkan.


“Hei, apa kau lupa sayang? Suami mu ini yang bekerja keras menciptahan mahakarya secantik ini.” Razan tak mau kalah.


“Hahahaha … dasar kamu ini, Mas.” Yessi mencubit perut Razan dan mereka pun tertawa bahagia.


Keluarga dan sanak saudara dekat datang berkunjung silih berganti untuk melihat dan memberi kado pada bayi perempuan yang baru dilahirkan oleh Yessi itu.


Semua menyambut bahagia kehadiaran cucu perempuan pertama di keluarga Pranayudha, karena ketiga anak pak Aksan Pranayudha hanya memiliki anak- anak yang berjenis kelamin laki- laki.


“Wah, akhirnya Papa bisa memiliki cucu perempuan … terimakasih ya Yessi, sudah memberikan hadiah terindah di ulang tahun Papa,” ucapnya sembari menggendong bayi merah itu.


“Oh ya ampun … aku sampai lupa kalau hari ini Papa ulang tahun. Selamat ulang tahun Papa, semua doa terbaik untuk Papa.” Ucap Yessi.


“Terimakasih Yessi …” Aksan tersenyum sumringah.


“Sama- sama, Pa.”


"Dan ini hadiah kecil untuk cucuku yang cantik." Sukma memberikan sebuah kotak kecil dengan diikat pita cantik pada Yessi.


"Coba kamu buka," titahnya pada sang menantu.

__ADS_1


Yessi membuka kotak tersebut dan merasa senang dengan isinya.


"Wah, kalungnya cantik sekali. Terimakasih banyak Mama."


" Sama- sama... Nanti kamu bisa memakaikannya pada cucu ku yang cantik ini." Sukma pun senang melihat menantunya menyukai hadiah pemberian dari nya.


Yessi meminta Bi Surti menyimpan kotak hadiah dari mertuanya ke dalam tas miliknya yang berada di dalam laci penyimpanan di ruangan tersebut.


**


Hari mulai sore, Yessimasih diharuskan dirawat di rumah sakit, karena usai melahirkan sempat mengalami pendarahan dan tensi darahnya cukup tinggi.


Razan yang tak tega jika harus menjauhkan bayi mereka dari ibunya, memutuskan agar bayi mereka pun tetap di rumah sakit sampai ibunya sembuh total dan diperboehkan pulang.


Tentunya Razan pun ikut menemani di sana bersama salah satu asisten rumah tangganya, karena Yessi sudah tak memiliki ayah dan ibu lagi. Sedangkan Bu Sukma ibunya Razan sudah tua, sehingga tak bisa ikut menjaga.


“Bi Surti, tolong tidurkan baby Elea di tempat tidur bayi,” ucap Yessi yang sudah selesai menyusi hingga bayi nya tertidur pulas. Bi Surti pun segera melaksanakan titah majikannya.


“Bi, Mas Razan kemana?” tanya nya yang tak melihat keberadaan suaminya di ruang rawat inap VVIP tersebut.


“Tadi sehabis shalat isya, Pak Razan pergi keluar Bu … katanya ada perlu dan ibu tidak perlu menunggunya. Kerena Bapak pesan kalau ibu harus banyak istirahat.” Bi Surti menjelaskan panjang lebar.


“Oh iya kalau gitu, Bi … Aku tidur dulu ya, ngantuk banget, takutnya nanti malam baby Elea bangun karena lapar.”


“Iya, Bu .. saya akan menjaga ibu dan bayi ibu sampai Pak Razan kembali." ucap Surti.


“Terimakasih, Bi …” Yessi pun menarik selimut lalu tidur.


**


“Uhuk uhuk uhuk …”


“Sayang, akhirya kamu sudah sadar …” Razan nampak sangat mengkhawatirkan istri nya.


" Emh, ini dimana Mas?" tanya Yessi bingung.


-


Bersambung ….


Hai semua... Selamat membaca karya perdana ku, semoga kalian suka...


Jangan lupa like, komen, rate bintang 5 ya...


Terimakasih semua...

__ADS_1


__ADS_2