
"Hallo … Elea, bisakah kita bertemu?” Kartika langsung to the poin saat Elea mengangkat panggilan telponnya.
“Iya, hallo Tante... Tentu saja dengan senang hati Tante.” Elea pun mengiya kan ajakan Kartika.
“Baiklah, kita bertemu di kafe flower. Saya akan segera berangkat. Saya tidak suka menunggu!” ucapnya dengan nada tegas.
“Baik, Tante … saya akan segera ke sana. Kebetulan saya juga sedang berada di luar rumah.”
Kartika mengakhir sambunga telponnya. Ia berjalan menuruni tangga dan memanggil salah satu ART nya.
“Bi, tolong suruh sopir menebus resep obat dan vitamin untuk Andra... Nanti segera berikan pada Andra ya... Ini resep dan uangnya. Saya pergi keluar sebentar.” Kartika menyerahkan resep beserta beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan pada Minah.
“Baik, Bu …."
Kartika beranjak pergi ke tempat yang sudah ia janjikan dengan Elea. Ia menyetir sendiri, karena sopirnya di suruh membeli obat. Dan setelah beberapa saat, ia pun tiba di kafe flower.
Ternyata Elea sudah sampai di sana lebih dulu. Kartika dengan segera menghampirinya setelah ia menelpon Elea menanyakan posisinya dimana.
“Hai, Tante .…” Elea yang sebelumnya duduk, lalu berdiri saat melihat kedatangan Kartika untuk menyambut dan menyapa nya.
“Hai ….” Kartika hanya bicara singkat, keduanya cipika cipiki, lalu duduk di kursi yang berbeda di depan sebuah meja bundar.
“Em, maaf Tante … Ada hal penting apa ya, sampai mengajak ku ketemuan secara mendadak gini?” tanya Elea yang masih bingung.
Kartika menghela nafas panjang. “Elea, kamu tahu kan kalau anak saya itu mengalami amnesia setelah kecelakaan yang dialaminya 13 tahun yang lalu.” Kartika memulai obrolan.
“Iy iya Tante.” Elea menjawab dengan terbata- bata.
“Saya sudah percaya sama kamu, bahkan berusaha mendekatkan kamu dengan Andra... Saya harap kamu tidak menyalahgunakan kepercayaan saya itu.” ucapan Kartika membuat Elea semakin bingung.
“Ma maksud Tante?” tanyanya heran.
“Tolong kamu jangan mempermainkan anak saya karena dia amnesia!” Kartika malah bertele- tele. Seolah sedang bermain tebak- tebakan dengan Elea.
“Maksudnya gimana ya, Tante? Aku benar- benar gak ngerti.” Elea yang semakin bingung meminta penjelasan.
“Kamu bilang sama Andra, kalau saat kalian masih SD hanya kamu temannya satu- satunya... Tapi Bi Minah yang dulu bekerja untuk kakak saya bilang, kalau Andra memiliki dua teman ….” Kartika berbicara panjang lebar.
Deg …
Elea terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka jika kebohongannya akan terbongkar secepat ini. Mulutnya tiba- tiba membisu, ia terjebak dengan ulahnya sendiri. Hingga ia tak mendengarkan ucapan Kartika selanjutnya.
“Aduh, gimana ini … Mampus gue … Bagaimana kalau Andra sampai tahu tentang Zilya dan nanti dia akan mencarinya karena Zilya lah yang dulu lebih dekat dengan Andra,” gumam Elea dalam hati.
“Elea … Elea….” Kartika memanggil- manggil Elea yang terhanyut dalam lamunanya. Elea terperanjat saat Kartika memangilnya dengan nada cukup keras seperti sedang membentaknya.
"iy iya, tante..."
“Saya bertanya sama kamu … kok malah melamun?” tanyanya heran.
__ADS_1
“Ma maaf Tante, sa saya sedang mengingat- ingat sesuatu,” ucap Elea gelagapan.
“Jadi yang benar yang mana? ucapan kamu atau Minah?” Akhirnya tujuannya menemui Elea tersampaikan juga.
“Aduh, gimana ini? Gue musti bilang apa coba? Gue gak mau kehilangan Andra lagi..." Elea menjerit dalam hatinya. Raut wajahnya pun berubah menjadi cemas.
“Kasihan kan Anfra, tadi dia sampai pergi ke rumah Kakak saya untuk mencari tahu dari teman yang merupakan tetangganya. Dan ternyata orangnya sudah pindah,” ucap Kartika yang meminta kejelasan dari Elea.
“Apa? Krisna sudah pindah? Aha, aku punya ide,” gumam Elea dalam hati.
“Em, sebenarnya memang ada satu lagi yang berteman dengan Andra, yaitu Krisna.” Elea pun memulai aksi nya.
“Krisna? Siapa itu?” tanya Kartika yang merasa tak asing dengan nama itu.
“Krisna itu yang tinggalnya dekat dengan rumah Andra yang dulu. Tapi … karena dia sudah pindah ke Kalimantan, makanya aku tidak mengatakan soal dia pada Andra
... Takutnya Andra akan mencarinya ke Kalimantan.”
“Oh iya, tadi saya mendengar nama itu diucapkan oleh Minah... Jadi ternyata teman yang satunya lagi itu laki- laki toh,” ucap Kartika mengangguk pelan.
“Iy iya Tante … Aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini. Tapi, aku hanya takut jika Andra akan terluka. Karena beberapa hari sebelum kecelakan itu, Andra dan Krisna berantem gara- gara ulah seorang anak perempan yang mengadu domba mereka. Anak perempuan itu bilang kalau Andra sudah mengganggunya, sedangkan ia teman baiknya Krisna, Sampai Krisna bilang tidak mau berteman dengan Andra lagi.” Elea kembali mengarang cerita untuk meyelamatkan dirinya sendiri dan tentunya mencegah Andra agar tidak mencari Krisna lagi.
“Apa? Jadi begitu ceritanya ….” Kartika nampak mulai paham.
“Iy iya Tante ….”
Kartika kembali menghela nafas panjang, ia nampaknya merasa lega jika Elea tidak berniat mempermainkan Andra.
“Iya Tante. Aku gak akan membuat Andra bersedih, karena sejak kecil aku sudah menyayangi nya.”
“Terimakasih Elea ….” Kartika menggenggam tangan Elea.
“Aku juga berterima kaksih sama Tante, karena sudah banyak membantu ku agar bisa dekat dengan Andra... Aku janji tidak akan mengecewakannya,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
“Baguslah kalau begitu. Tante juga ingin Andra bahagia, tapi Tante tidak bisa memaksakannya untuk mencintai mu. Kalau untuk urusan hati, kamu sendiri yang harus berusaha meluluhkan hatinya dan membuatnya mencintai mu.”
“Iya Tante … aku akan berusaha meluluhkan hatinya.”
“Tante hanya berpesan, jadilah dirimu sendiri dan jangan meniru orang lain. Dan Tante kasih tahu sama kamu kalau Andra paling benci pada orang yang suka berbohong atau menghianatinya.”
“Iy iya Tante.”
“Oh iya, satu hal lagi yang ingin tante tanyakan sama kamu.”
“Apa itu Tante?”
“Andra sering sekali bermimpi di datangi seorang agdis kecil, namun ia tak bisa melihat jelas wajah anak itu... Bahkan ia pun tak tahu nama anak itu. Dalam mimpinya anak itu selalu menemaninya bermain, dan yang Andra ingat saat kecelakaan itu terjadi ada tangan seseorang yang menaiknya sehingga nyawanya masih terselamatkan dari kecelakaan nahas itu.”
“Apa?” Elea terkejut bukan main.
__ADS_1
“Aduh, jangan- jangan anak gadis itu Zilya … enggak … aku gak boleh membiarkan Andra mengingat Zilya. Dia hanya boleh mengingat ku saja, hanya aku seorang.” Gumam Elea dalam hati.
“Elea …” panggil Kartika.
“Iy iya Tante ….”
“Apakah anak perempuan itu kamu? Soalnya Andra bilang kamu menceritakan padanya kalau saat kecelakan itu terjadi, kamu menarik tangan Andra dan membuat kalian tertabrak mobil bersamaan.”
“Aku gak tahu Tante, mungkin kalau Andra mengingat saat kecelakaan itu terjadi, memang aku yang menarik tangannya.” Elea menundukkan pandangannya.
“Berarti, anak gadis yang selama ini datang dalam mimpi Andra itu adalah kamu.” Kartika menarik keksimpulan sendiri.
“Hah? Apa itu benar Tante?” Elea pura- pura tak berharap.
“Semoga itu memang kamu, jadi Andra tidak perlu mencari anak gadis itu lagi.” ucap Kartika.
“Hhehe, aku merasa tersanjung jika memang anak gadis itu adalah aku.” Elea tersenyum kaku.
“Tante lebih senang malah, jika anak itu adalah kamu … Oh iya, maaf tante tidak bisa lama- lama. Soalnya Andra sedang kurang sehat.”
“Apa? Andra sakit Tante? Sakit apa?” tanya Elea cemas.
“Dia berusaha keras untuk memngingat masa lalunya saat dia berada di rumah Kak Risma. Dan itu membuat kepalanya terasa sakit serta pusing. Dokter bilang Andra harus banyak istirahat dan jangan diberikan beban pikiran berat.”
“Ya ampun Tante … aku ikut ke rumah Tante, ya. Aku ingin melihat keadaan Anrdra.” pinta Elea.
“Tentu saja boleh … Tapi tolong jangan biarkan dia mengingat- ingat masa lalunya dulu ya.”
“Iya Tante.”
“Yasudah kalau begitu ayok kita berngkat sekarang,” ajaknya lalu keduanya pun beranjak pergi dengan mengendarai mobil masing- masing.
*
Setibanya di rumah, mereka langsung menemui Andra di kamarnya yang menurut Bi Minah sedang tidur setelah minum obat. Namun Elea tetap ingin melihat keadaannya. Ia pun masuk ditemani Kartika.
“Tunggu … jangan pergi … jangan tinggalkan aku …” Andra bicara sembari memejamkan matanya. Keringat pun bercucuran seolah tengah berlari.
Kartika dan Elea segera menghampiri Andra yang sedang tidur itu.
“Jangan pergi … Jangan pergi Zilya, jangaaaaaan ….” Andra berteriak dan langsung membuka matanya.
Deg …
Elea terkejut bukan main saat mendengar nama Zilya disebutkan oleh Andra.
“Mampus gue … dia sepertinya mengingat Zilya … Terbongkar sudah kebohongan gue....” gumamnya dalam hati dengan raut wajah cemas dan terkejut.
-
__ADS_1
-
Bersambung.....