Gadisku Yang Hilang

Gadisku Yang Hilang
Jauhi Dia...


__ADS_3

Neneknya Zilya menoleh ke arah belakangnya untuk menlihat asal suara tersebut. Ia kemudian membalikan lagi pandangannya ke depan dan membekap mulutnya sendiri.


“Apa … itu … itu Bu Yessi … iya, itu Bu Yessi yang ku kenal.” Gumamnya dalam hati. Ia kemudian membalikan badannya berniat meghampiri Yessi. Namun ia mengurungkan niatnya saat melihat dua orang leleaki berpakaian hitam- hitam berjalan di belakang Yessi.


Nenek kembali membalikan badannya dan menutup hidung serta mulutnya menggunakan kerudung bagian bawahnya.”Zilya, ayo cepat kita pulang!” ajaknya dengan tergesa- gesa seolah merasa ketakutan.


“Tapi nek, ada apa ? kenapa kita harus buru-buru segala?” Zilya merasa heran dengan neneknya.


“Sudah jangan banyak tanya, ayok kita harus segera pergi dari sini.” Nenek pun mengajak cucunya berjalan cepat meski dengan terpogoh-pogoh. Selain karena ia baru sembuh, juga karena usianya yang tak muda lagi.


Yessi yang melihat Zilya yang pegri begitu saja bersama orang yang tak biasanya menjemputnya, merasakan kekhawatiran.


“Sayang, itu Zilya pergi sama siapa? Sepertinya bukan Lisda ….” Tanya Yessi nampak cemas.


“Itu neneknya Zilya, Mama.” ucap Elea.


“Oh, neneknya … syukurlah ….” Yessi bisa bernafas lega.


“Ayok ita pulang, sebentar lagi Papa mu pasti akan menelpon kita lewat video call.” Yessi mengajak Elea segera pulang, karena suaminya menjadi overprotektif semenjak kecelakaan tempo hari.


Sementara Zilya masih berjalan bersama neneknya menuju rumah mereka. Neneknya beberapa kali menoleh ke belakang seolah takut diikui oleh seseorang.


Hingga akhirnya mereka pun sampai di rumah. Keduanya langsung masuk dan nenek yang masih terlihat ketakutan dengan segera mengunci pintu rumahnya.


“Nenek kenapa? Nenek kok seperti orang yang takut begitu?” Zilya yang semakin penasaran kembali bertanya.


“Ssssstt, kamu jangan berisik … ayok kita masuk ke kamar,” ajak nenek yang terus menuntun Zilya hingga mereka masuk ke dalam kamar Zilya. Nenek mengajak Zilya duduk di atas tempat tidurnya.


“Zilya, boleh nenek minta sesuatu?” tanya nenek dengan menatap penuh harap.


“Minta apa nenek?” Zilya malah balik bertanya.


“Em, nenek minta kamu jangan terlalu dekat dengan teman sekolah mu yang bernama Elea itu.” Neek mengutarakan permintaanya.

__ADS_1


“Hah? Kenapa nenek? Elea itu kan teman baik ku.” Zilya mepertanyakan alasan neneknya melarang ia berteman dengan Elea.


“Zilya, nenek sangat menyayangi mu. Nenek tidak mau jika sampai terjadi sesuatu dengan kamu,” ucap nenek dengan mengusap lembut kepala Zilya.


“Tapi nenek … Elea itu sangat baik, dia suka menolong ku, membantu ku berjualan dan kami sudah berjanji akan menjadi sahabat selamanya.” Zilya menolak permintan neneknya.


“Zilya, kamu tidak mengerti. Orang tuanya banyak musuh, kalau kamu dekat dengannya. Kamu bisa terkena maslah. Nenek tidak mau kalau sampai ada hal buruk yang terjadi pada mu. Hanya kamu dan Lisda yang nenek miliki di dunia ini.” Nenek mengatakan alasan dari permintaannya.


“Tapi, nenek ….” Zilya masih berusaha menolak.


Nenek menghela nafas panjang, ia menatap mata Zilya dengan penuh harap. “Apa Zilya sayang sama nenek?” tanya nya.


“Iya, aku sayang nenek.” Zilya mengangguk.


“Kalau sayang, berarti Zilya harus menurti permintaan nenek.” ucap nenek kekeuh.


“Tapi, nenek ….” Zilya masih nampak keberatan.


“Gak ada tapi- tapian, Zilya … apa kamu ingat? Dua minggu yang lalu saa kamu mengalami kecelakaan. Nenek tidak mau ada hal buruk lagi pada mu. Nenek sudah berjanji pada orang tua mu, kalau nenek akan melindungi mu sekuat tenaga,” ucapnya meyakinkan sekaligus memberi penekanan pada Zilya agar menurut padanya.


“Maafkan nenek, sayang,” ucapnya sembari mengusap lembut kepala Zilya. Lalu nenek beradiri dan beranjak pergi meninggalkan Zilya di kamarnya. Beliau paham, jika Zilya membutuhkan waktu untuk memikirkan hal yang justru mustahil dilakukan olehnya.


“Nenek jahat, hiks hiks hiks …” Zilya tak kuasa menahan kesedihannya karena harus menjauhi sahabat yang sangat disayanginya dan selalu bersamanya selama beberapa bulan semenjak mereka masuk sekolah.


Nenek pun keluar dan mendapati Lisda yang baru masuk ke dalam rumahnya.


“Lisda, kamu sudah pulang?” tanya nenek.


“Iya, Nek …. Tadi akau ke sekolah Zilya, ternyata kata Elea sudah dijemput oleh nenek,” ucapnya lalu duduk di kursi ruang tamu.


“Lisda, apa kamu kenal dengan orang tuanya Elea?” tanya nenek seolah menginterogasi cucu tertuanya.


“Tahu aja sih, kalau kenal sama mama nya doang, tante Yessi. Tapi kalau Papa nya Elea aku pernah ketemu saat Elea dan Zilya di rumah sakit karena kecelakaan tempo hari.” Lida menjelaskan.

__ADS_1


“Siapa nama ayahnya Elea?” tanya nenek penasaran entah mengetes saja.


“Kalau gak salah namanya, eng... Razan … iya Pak Razan... Soalnya waktu suaminya datang, Tante Yessi memanggil suaminya dengan sebutan Mas Razan,” ucap Lisda sembari mengingat- ingat.


“Memangnya ada apa, nek?” tanya Lisda merasa penasaran.


“Apa? Jadi benar kalau orang yang aku lihat tadi adalah Bu Yessi istrinya Pak Razan … Lalu, siapa kedua pria yang memakai baju serba hitam yang tadi terus memperhatikan bu Yessi dari arah belakangnya.” Nenek bergumam dalam hati.


“Nenek ….” Lisda memanggil neneknya dengan menggoyangkan tangan sang nenek. Beliau pun membuyarkan lamunannya.


“Engggak … enggak apa- apa …nenek pergi ke kamar dulu ya, mau istirahat,” ucap beliau yang bangkit dari duduknya lalu beranjak pergi begitu saja meninggalkan Lisda yang kemudian masuk ke dalam kamarnya.


“Bagaimana ini? Walau bagaimana pun aku harus tetap melindungi Zilya dari bahaya yang mengintainya. Aku tidak boleh sampai lengah.” batin nenek nampak gelisah.


“Tapi … bagaimana bisa dengan kondisi seperti ini aku bisa melindungninya dari orang -orang kejam itu?” Nenek tak hentinya diselimuti kekhawatiran terhadap Zilya, cucu yang amat disayanginya.


Pikirannya menjadi tidak tenang semenjak melihat Yessi dan da orang yang berpakaian hitam- hitam itu. Entah karena ia tak akan membiarkan orang asing mendekati Zilya, entah karena ia memiliki masa lalu yang memberinya trauma hingga sekarang.


Nenek terus memikirkan cara untuk menjauhkan Zilya dari Elea atau pun keluarganya. Akhirnya ia terpikir suatu hal yang mengingatkannya pada suatu tempat yang telah lama tak pernah ia kunjungi.


“Aku punya ide … semoga Zilya dan Lisda tidak keberatan dengan ide yang ku pikirkan ini,” gumamnya berharap seolah mendapatkan titik terang.


Beliau pun kembali beristirahat, sepertinya hal yang mngejutkannya saat di sekolah Zilya, membuatnya kelelahan karena sepanjang perjalanan terus berjalan dengan cepat. Zilya saja yang masih kanak- kanak merasa kecapek-an, apalagi nenek yang sudah tua renta.


“Aku harus segera menemui Lisda dan Zilya.” Ucap beliau lalu bergegas pergi meninggalkan kamarnya.


-


-


Bersambung …


-

__ADS_1


Happy Reading …


__ADS_2