Gadisku Yang Hilang

Gadisku Yang Hilang
Berusaha Mengingat


__ADS_3

"Jangan pergi Zilya … Jangaaaaann ….” Andra membuka matanya dan ia bangkit dari tidurnya langsung ke posisi duduk. Deru nafasnya begitu gusar, seperti habis lari dikejar- kejar maling.


“Andra… sayang … kamu kenapa, Nak?” Kartika yang sudah berada di samping tempat tidur langsung duduk di sebelah Andra dan mengusap kepalanya yang penuh keringat, sementara Elea terdiam mematung dengan ekspresi wajah terkejut dibgawang pintu kamar.


“Oh my God … jadi anak gadis yang selalu datang dalam mimpinya itu benar- benar Zilya seperti dugaanku ….” Alea bergumam dalam hati.


"Apa kamu mimpi buruk lagi, nak?” tanya Kartika saat melihat anaknya bercucuran keringat dengan masih ngos-ngosan.


“Dia … dia sudah pergi meninggalkan ku, Ma. Dia sudah pergi ….”ucapnya dengan deru nafas yang begitu cepat.


“Siapa Andra? Siapa yang meninggalkan mu?” tanya Kartika.


“Anak gadis yang ada dalam mimpiku itu, Ma ….” ucap Andra dengan raut wajah sedih.


Elea yang sebelumnya merasa terkejut dan takut, kini bisa bernafas lega. Karena Andra tidak menyebutkan nama Zilya dalam keadaan sadar seperti ini. Pikirnya ia memanggil Zilya hanya saat mengigau saja.


Kartika mengambil gelas yang ada di atas lemari laci di samping tempat tidur, lalu menyodorkannya pada Andra. “Sebaiknya kamu minum dulu, nih.”


Andra pun menerima gelas itu dan meminum airnya sampai habis. Ia lalu menghela nafas penjang beberapa kali dengan intruksi dari Kartika untuk menstabikan pernafasannya.


“Andra, gadis itu tidak pergi. Dia sekarang ada di sini di kamar ini, tuh lihat ….” Kartika menunjuk ke arah Elea yang masih berdiri mematung sembari melamun.


“Elea?” Andra memandang Elea dengan tatapan penuh tanda tanya. Elea pun terperanjat dan membuyarkan lamunannya.


“Iya, dia Elea… Mama pikir gadis itu adalah Elea, karena dia sahabat terdekat mu satu- satunya. Dan ia juga yang berusaha menyelamatkan mu saat kecelakaan itu.” ucap Kartika.


“Elew, mendekatlah kemari...." Kartika memanggil Elea.


“Iy iya Tante,” ucapnya gugup yang disertai perasaan takut. Ia melangkah masuk ke dalam kamar dengan perlahan mendekat ke ranjang tempat Andra dan Kartika duduk.


“Andra, kamu tidak perlu mencari keberadaan anak gadis yang selalu datang dalam mimpi mu... Karena sekarang ia sudah berdiri di hadapan mu,” ucap Kartika dengan penuh keyakinan untuk meyakinkan putranya. Nampaknya ia tak membahas soal nama yang disebutkan Andra saat berteriak tadi.


Andra masih merasa bingung mencerna perkataan ibunya. Nampak jelas keragu- raguan dalam dirinya, seolah ia menolak jika Elea adalah anak gadis itu.


“Apa benar Elea adalah anak gadis itu? kenapa aku masih ragu untuk mempercayai hal itu … Tapi, seperti yang mama bilang, jika dia yang berusaha menyelamatkan ku dari kecelakaan itu,” gumamnya dalam hati.


“Semoga Andra mempercayai apa yang dikatakan oleh Tante Kartika … Lagi pula ia tak menyebutkan nama Zilya lagi, berarti ia masih belum mengetahui nama anak gadis itu.” Elea pun bergumam dalam hati dengan perasaan harap- harap cemas.


“Elea …” panggil Andra.


“Iy iya …” sahut Elea.

__ADS_1


“Jadi kamu lah anak gadis itu?" tanya Andra.


Elea tersenyum kaku dengan penuh keragu- raguan. Ada rasa takut dalam dirinya jika ia berbohong dan sampai ketahuan oleh Andra, maka ia tak akan bisa mendapatkan maaf dari Andra. Namun rasa cintanya yang terlalu besar, sepertinya mampu membutakannya untuk menghalalkan segala cara agar bisa bersama Andra.


“A aku gak tahu harus bilang apa … jika memang aku yang selalu datang dalam mimpi mu, aku merasa sangat tersanjung, hehe,” ucapnya sungkan, ia lalu memberi senyuman termanisnya pada Andra.


Andra pun membalas senyumannya, meski ia masih merasa ragu.


“Nah, sekarang kamu tidak perlu mencarinya kemana- mana lagi. Karena ia sudah ada di sini. Mama pergi dulu ya, siapa tahu kalian ingin mengobrol.” ucap Kartika yang kemudian bangkit.


Kartika membawa gelas kosong lalu beranjak pergi meninggalkan mereka berdua di dalam kamar. Ia sengaja membuka pintu kamarnya untuk menghindari hal- hal yang diluar dugaan. Walau bagaimana pun keduanya adalah manusia normal dan khilaf bisa menerpa siapa saja.


“Elea…. ”


“Andra…. ”


Keduanya bicara bersamaan.


“Kamu saja duluan,” Andra mempersilahkan Elea bicara lebih dulu.


“Kamu aja, Andra ….” Elea malah kembali melempar.


“Hehehe …”


“Pasti gak nyaman ya berdiri seperti itu?”


“Em, gak apa- apa kok ….”


“Di depan meja sana ada kursi, kamu bisa membawanya kemari dan dipakai duduk.” Andra menunjuk ke arah meja belajarnya yang terletak di dekat jendela kamar. “Atau aku saja yang akan membawakannya,” ucap Andra yang hendak bangkit.


“Eh jangan jangan ….” Elea mencegah Andra bangun dai tempat tidurnya.


“Biar aku ambil sendiri … Kamu kan masih sakit, kursinya ada rodanya ini kok jadi aku tinggal dorong saja gak perlu diangkat,” ucapnya lalu beranjak pergi mengambil kursi tersebut. Ia mendorongnya hingga ke samping tempat tidur Andra, lalu mendudukinya.


“Terimakasih ya sudah mau repot- repot menjenguk ku kemari,” ucap Andra merasa canggung.


“Gak repot kok, kebetulan tadi aku lagi jalan keluar, eh Tante Tika menelpon dan mengajak ku bertemu di kafe... Dan setelah aku tahu kamu sakit, aku ikut kesini deh.” Elea menjelaskan kedatangannya ke sana.


Andra menatap Elea semberi melemparkan senyuman manis dari bibir nya. Dan hal itu mampu membuat Elea tersipu malu.


“Mungkin mimpi itu pertanda jika gadis itu adalah Elea. Karena mimpi itu datang disertai kedatangan Elea kemari … Sepertinya dugaan Mama benar,” gumam Andra dalam hati.

__ADS_1


“Andra … kau jangan menatap ku seperti itu … malu tahu.”


Andra terkekeh mendengarnya. “Terimakasih sudah hadir dalam dunia nyata ku. Selama ini kamu hanya datang dalam mimpi ku. Aku benar- benar merasa senang, karena akhirnya bisa menemukan mu, Elea..." ucap Andra.


Elea kembali tersipu malu mendengar ucapan Andra. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, karena dengan begitu cepat ia sudah bisa mendapatkan hati Andra. Walau tak bisa dipungkiri, ia mendapatkannya dengan cara curang.


Elea menghela nafas sejenak. “Aku juga merasa sangat bahagia. Setelah penantianku selama dua belas tahun, akhirnya bisa kembali bertemu dengan mu, Andra.”


“Dan aku tak menyangka jika kamu selalu memimpikan ku … Mungkin itu karena aku yang selalu memikirkan dan merindukan mu. Seolah aku mengirimkan pesan padamu yang menghilang begitu saja setelah kecelakan itu.” Elea berusaha meyakinkan Andra bahwa gadis itu adalah dirinya.


“Aduh ….” Andra mengusap kepalanya yan kembali terasa sakit.


“Kamu kenapa?” Elea nampak khawatir melihat Andra seperti merasa kesakitan.


“Kepala ku pusing lagi,” ucapnya memijat kepalanya.


“Sebaiknya kita ke rumah sakit saja, supaya kamu mendapatkan perawatan yang maksimal. Kalau di rumah saja, kamu hanya minum obat saja kan?” Elea yang khawatir memberi saran.


“Tidak perlu, minum obat dan istirahat saja sudah cukup. Dokter bilang juga tadi tidak perlu dirawat di rumah sakit kok.” Andra menolak saran Elea dengan halus.


“Yasudah kalau begitu kamu tidur lagi saja ya, supaya cepat membaik.”


“Terimakasih ya, kamu sangat perhatian,” ucap Andra tersenyum sembari memijat kepalanya.


Elea pun membalas senyuman Andra.


“Oh iya, sepertinya tadi dalam mimpiku aku menyebutkan nama seseorang. Zi … Zi … siapa ya?” Andra nampak mengingat- ingat.


Deg …


Elea terkejut mendengar Andra ternyata mengingat nama yang disebutkan saat ia mengigau tadi. senyumnya pun seketika lenyap berganti dengan perasaan cemas dan takut.


-


-


Bersambung ….


-


Happy Reading ….

__ADS_1


__ADS_2