
Kring kring kring …
Suara bel sekolah sudah berbui nyaring. Bagi kelas satu dan dua itu adalah penanda berakhirnya jem pelaaran mereka. Sedangkan bagi kelas tiga sampai enam, itu adalah penanda jam istirahat.
Zilya dan Elea begitu semangat untuk pulang. Keduanya membersekan buku- buku dan memasukannya ke dalam tas. Setelah mendapat aba- aba dari ketua kelas, mereka memberi salam pada Guru lalu berbaris untuk mencium tangan Guru dan beranjak keluar dari kelas secara tertib.
Sebelum pulang, Zilya pergi ke warung kantin untuk mengambil kotak roti yang ia titipkan tadi pagi. Elea pun menemaninya.
“Wah, rotinya sudah habis ya.” ucap Elea saat melihat kotak tersebut kosong.
“Iya, dek. Anak- anak sangat suka dengan rotinya. Besok bawa lagi ya, kalau perlu lebih banyak. soalnya tadi juga banyak yang gak kebagian.” ucap sang pemilik warung.
“Wah, alhamdulillah … hore hore ” Zilya mengucap syukur lalu berjingkrak- jingkrak gembira dengan Elea.
“Ini uangnya ….” Pemilik warung pun memberikan uang hasil penjualan roti tersebut pada Zilya.
“Terimakasih banyak bu, nanti aku bilang sama nenek untuk menambah jumlah rotinya,” ucap Zilya dengan penuh semangat.
Zilya membuka tas nya dan menyimpan uang itu ke dalam tas nya.
“Loh, kok kotak pensil ku gak ada?” tanya Zilya heran.
“Masa sih? Memangnya tadi gak dimasukin lagi setelah Krisna meminjam pensil mu? " tanya Elea heran.
“Ya ampun, jangan- jangan masih dikolong meja. Aku ambil dulu ya, nanti aku gak bisa ngerjain PR kalau gak ada pensil,” ucapnya lalu ia dan Elea pun beranjak pergi meninggalkan kantin tersebut.
Alesha menemani Zilya kembali ke kelas, dan ternyata disana masih ada orang. Keduanuya pun masuk dan menghampiri mereka yang sedang nmembuli anak baru.
“Hei, kamu anak baru saja belagu. Sini serahkan uang jajan mu, kalau tidak, aku akan menhajar mu.” Ancamnya dengan mengepung anak baru itu bersama kedua temannya.
“Ti tidak mau, ini uang jajan ku, kalian gak boleh mengambilnya!” Anak baru itu tak mau menuruti.
“Heh, dasar kau, ya.” anak itu mencengkram kerah baju si anak baru dan menempelkan punggunya ke dinding.
“Hei, Genta!! Kamu gak boleh jahat seperti itu! aku akan melaporkan mu pada bu guru!” Zilya mendorong lengan Genta yang bertubuh gembul itu.
“Diam kau penjual roti, tidak usah menggurui ku.” Genta malah menghardik Zilya.
__ADS_1
Elea yang kesal ikut mendorong Genta.”Heh, jangan menghina sahabat ku, dasar buntelan kentut!”
“Apa kau bilang?” Genta melepaskan Derald dan mengarahkan pandangannya pada Alesha dengan tatapan marah.
“Eh itu ada Bu Guru … Bu Guru, ini Genta nakal!” teriak Zilya menunjuk ke arah pintu, Genta dan kedua temannya pun mengarahkan pandangan pada pintu kelas. Zilya dan Elea menginjak kaki mereka, lau berlari bersama Derald keluar kelas.
“Hei tunggu!! Kurang ajar kalian!” Genta semakin kesal dan marah karena sudah dibodohi oleh Zilya.
“Ayo cepat kita lari ke gerbang sekolah. Disana sudah ada pengawal ku!” teriak Elea pada kedua temannya yang ikut berlari.
Genta dan kedua temannya terus mengejar ketiga annak tersebut. Murid- murid lain yang melihat kejadian itu hanya beranggapan kalau mereka sedang bermain- main saja dan membiarkannya tanpa membantu.
Elea, Zilya dan Deralg, terus berlari hingga mereka sampai di depan mobil yang diparkir di pingir jalan.
“Nona, kenapa lari- lari?” tanya seorang pengawal. “Cepat buka pintu mobilnya, kita harus segera pergi!” ucap Elea pada sang pengawal. Mereka bertiga pun masuk.
“Ada apa nona Elea?” tanya salah satu bodyguard.
“Ayok jalan Pak!” Elea mengeluarkan perintah, dan sang sopir pun menyalakan mesin dan melajukan mobilnya.
“Kita mau kemana? Nanti mama ku mencari ku.” Ucap Derald.
“Baik, Non ….” Pak sopir yang duduk bersebelahan dengan pengawal pun melaksanakan titah nona muda nya itu.
“Tenang saja, kita tidak akan kemana- mana.” ucap Elea memastikan. Zilya menenangkan Derald yang nampak masih ketakutan.
“Aduh ya ampun, si Genta itu nakal banget sih, mentang- mentang sudah kelas dua suka menindas anak kelas satu.” Zilya menggerutu kesal.
“Iya, nanti aku bilangin ke kakak Ardi sama KaK Rafa, biasr si Genta dihajat sama mereka.” Elea berniat mengadukanya pada kedua kakaknya.
“Jadi dia itu selalu jahat pada semua orang?” Derald membuka suara lagi dan ikut berkomentar.
“Iya, dia suka minta uang. Mungkin sama mama nya gak pernah dikaksih uang jadi nya minta ke anak- anak lainnya. Dulu aja saat Zilya suka jualan, dia suka ngambil roti tanpa membayarnya.” Elea membeberan kelakuan Genta.
“Apa dia pernah dihukum?” tanya Derald lagi.
“Tidak pernah … Katanya dia cucunya kepala sekolah,” ucap Zilya kesal.
__ADS_1
“Hah? cucu kepala sekolah?” Elea dan Derald nampak terkejut.
“Iya .…” Zilya mengangguk.
“Baiklah, nanti aku akan bilang sama Papa aku, supaya si Genta itu dihukum dan gak pernah ganggu anak lain lagi.” Elea berniat mengadukannya pada Razan dengan yakin.
“Eh, kita sudah sampai sekolah lagi,” ucap Zilya saat mobilnya berhenti.
“Eh iya, ayok kita turun ….” Ajak Derald .
“Tungu dulu, siapa tahu si Genta masih ada di sekitar sini. Kita tunggu di mobil saja, sampai mama kamu jemput, Defran.” Elea mencegah mereka untuk keluar dari mobil.
“Eh iya benar, nanti si Genta bakalan gangguin kamu lagi, Derald .” Zilya pun setuju dengan usulan Elea.
Mereka pun berdiam diri di dalam mobil hinga beberapa saat. Tak berselang lama Derald melihat Ibunya datang.
“Itu mama ku, aku turun dulu ya. Terimakasih sudah menolongku.” Ucapnya kemudian ia turun dari mobil. Ia Langsung berlari menghampiri ibunya.
“Pak sopir, kita antarkan Ziyla pulang ya,” titahnya lagi pada sang sopir.
“Eh rumah ku kan dekat, tinggal jalan kaki.” Zilya menolak diantarkan.
“Gak apa- apa … biar cepat sampai, nanti kan kamu juga jalan kaki masuk gang. Lagi pula kamu kan tadi bilang kalau Kak Lisda gak akan menjemput mu.” Elea memaksa.
“Baiklah sahabatku … hehehehe.” Zilya pun akhirnya bersedia sembari cengengesan.
“Ah kamu suka pura- pura, padahal senang kan diantar pakai mobil, wle.” Elea menjulurkan lidahnya mengejek Zilya.
“Hahahaha … tahu aja.” Zilya malah tertawa kegirangan.
Sang sopir pun kembali melajukan mobilnya. Zilya dan Elea memperhatikan Derald yang terlihat sedang berbicara bersama ibunya. Keduanya terus memandangi anak laki- laki itu sembari mengulas senyum hingga anak itu tak terlihat lagi.
-
-
Bersambung …
__ADS_1
-
- Happy Reading ….