
"Zilya, sayang … kalau kamu mau pergi kemana- mana harus izin dulu ya sama nenek dan kak Lisda. Jangan seperti ini lagi … nenek benar- benar mengkhawatirkan mu,” ucap sang nenek sembari mengusap lembut kepala cucu yang sangat disayanginya itu.
“Iya, nenek … aku minta maaf. Aku gak akan seperti itu lagi.” Zilya menyesali perbuatannya yang membuat neneknya sampai sakit dan sedih.
“Anak pintar … “
“Nenek …” panggil Zilya.
“Iya, kenapa Nak?” sahut nenek.
“Kapan aku akan bertemu orang tua ku? Aku sangat merindukan mereka ….” ucapnya nampak sedih.
“Kamu bersabar yak, Nak… Nanti juga kalau urusan pekerjaan mereka sudah selesai, pasti orang tua mu datang.” ucap nenek yakin.
“Apa mereka tidak menyayangiku? Sampai meninggalkan ku bersama nenek …?” Zilya nampak semakin sedih.
“Justru karena mereka sangat menyayangi mu, makanya mereka mengizinkan mu tinggal bersama nenek.” ucap nenek meyakinkan.
“Oh iya … kamu jangan berjualan roti lagi ya … biar Kak Lisda saja yang jualan. Kamu kan masih kecil, tugas mu hanya belajar saja yang rajin.” lanjur nenek.
“Tapi aku senang bisa membantu nenek … aku kan julannya di sekolah aja, enggak ke empat lain.” Zilya mulai teralihkan dari kesedihannya.
“Kalau kamu tetap memaksa, bagaimana kalau kamu titipkan saja rotinya di warung kantin sekolah mu. Jangan menjajakan dagangan mu sendiri, ya. nenek tidak mau kalau sampai pelajaran mu terganggu, nak.” Nenek memberi saran karena Zilya tetap kekeuh ingin berjualan.
“Iya, nenek ….” Zilya pun mengangguk tanda setuju.
“Yasudah, kamu mandi dulu terus makan ya. Tadi nenek sudah meminta Lisda membuatkan makanan kesukaan mu.”
“Iya nenek ….” Zilya pun beranjak pergi mengikuti perintah sang nenek.
“Siapa wanita tadi … sepertinya aku mengenali suaranya …” Nenek kembali bergumam dalam hatinya.
__ADS_1
**
Sementara di tempat lain, Yessi yang baru pulang bersama Elea langsung disambut oleh Razan yang ternyata sudah lebih dulu pulang. Elea berlari meghampiri Papanya dan langsung memeluk serta menciumnya.
“Kok kalian baru pulang, sayang?” tana Razan heran.
“Maaf Mas, tadi aku belum sempat mengabari karena keasyikan bermain bersama Elea dan Zilya di mall.” Yessi mengutarakan alasan keterlambatan pulangnya.
“Hmmm … Bagus ya sampai kalian melupakan kalau malam ini kita ada makan malam di rumah Papa Aksan. Dalam rangka ulang tahun pernikahan mereka yang ke tiga puluh lima.” ucap Razan.
“Astagfirullah … kenapa aku bisa lupa … ayok kita siap-siap, Mas.” Yessi nampak merasa bersalah pada suaminya.
“Rafa dan Ardi sudah siap sejak tadi. Mereka sudah berangkat duluan bersama Riswan dan Anita serta anak- anaknya.” ucap Razan.
“Iya, Mas … aku benar- benar minta maaf.” Yessi terlihat sangat menyesal.
“Kalau kamu terus minta maaf, kapan kita siap- siapnya sayang … ayok masuk,” ajaknya, lalu ketiganya pun masuk ke dalam rumah untuk mandi dan bersiap-siap.
**
Zilya yang lebih unggul dalam pelaaran, tak pernah bosan membantu Elea agar memahami pelaran yang tak ia bisa.
Bahkan tak jarang jika ada teman yang menggangu, mereka akan saling membantu melindungi. Jika dalam hal ini, Elea bisa menjadi lebih galak dari singa
“Selamat pagi anak- anak ….” Sapa bu guru di depan kelas saat semua muris kelas satu sudah masuk dan duduk di bangku masing- masing.
“Selamat pagi Bu Guru ….” Semua murid membalas sapaan guru mereka.
“Mulai hari ini, kalian memiliki teman baru di kelas ini. Namanya Derald . Ia pndahan dari Surabaya. Ayok sambut teman baru kalian.... "
“Hai Derald, selamat datang di kelas kami….” sapa salah satu murid, pandangan Derald tertuju padanya lalu tersenyum.
__ADS_1
“Hai, teman- teman ….” Delarld melambaikan tangan menyapa teman-teman nya.
“Derald, silahkan kamu duduk di sana. kebetulan bangku disana baru diisi oleh satu murid.” Guru menujuk ke salah satu meja kosong.
“Teriamasih, Bu ….” Derald pun melangkahkan kakinya. Namun saat ia baru setengah jalan, kakinya tersandung kaki seorang anak yang iseng.
Gedebuk …
“Ahahahahahhaa ….” Semua murid malah menertawakannya, namun ada satu orang menghampiri Defran yang jatuh tersungkur.
“Diam … kalian tidak boleh menertawakan seseorang yang sedang terkena musibah. Itu perbuatan tercela….” Guru mendiamkan semua murid yang tertawa.
“Kamu gak apa- apa kan?” tanyanya lalu mengulurkan tangan untuk membantu Derald bangun. Namun Derald seolah menolak bantuannya karena ia bisa bangun sendiri.
Ia pun berdiri dan melanjutkan kembali langkahnya menuju bangku nomor tiga dari depan. Ia pun duduk disana bersama seorang teman sekelasnya.
“Hai, aku Asfar.” Ucanya memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
“Aku Derald , “ jawabnya dan bersalaman dengan temannya itu.
“Hei kamu udah bantu Derald , kok dia tidak berterimakasih pada mu. Apa aku harus mengingatkannya untuk berterimakasih?” tanya Elea pada Zilya.
“Jangan, nanti kamu dimarahi bu guru. Bisa- bisa kamu dihukum lagi seperti dua minggu lalu gara- gara nimpuk wajah Wisnu pakai gorengan.” ucap Zilya yang tak suka mengerjai orang, apalagi teman sekelasnya. Sementara Elea orangynya super iseng.
“Tenang Zilya … orang sombong harus diberi pelajaran …” gumam Elea dalam hatinya sembari tersenyum ketir saat menoleh ke belakang melihat wajah Derald . Ternyata ia pun menatap Elea.
“Apa?” ucapnya pelan sambil melotot pada Derald , namun sang anak malah memalingkan wajahnya, mengacuhkan Elea.
“Dasar anak baru tidak sopan, ih ….” Elea menggerutu pelan.
-
__ADS_1
-
Bersambung ….