
"Aduh, bagaimana ini? Kenapa Andra mengingat- ingat nama Zilya lagi?? Aku harus bagaimana ini?” gumam Elea dalam hati. Ia kembali merasa takut dan cemas.
“Argh … kenapa aku tidak bisa mengingatnya.” Andra masih berusaha keras untuk mengingat nama itu.
“Andra … sebaiknya kamu istirahat saja ya. Tante Tika bilang kamu jangan berpikir yang berat- berat dulu, supaya kepala mu tidak sakit lagi ….” Elea berusaha mengalihkan perhatian Andra agar ia tak mengingat- ingat nama Zilya lagi.
“Tapi, aku ____ “ Andra nampak keberatan dengan usulan Elea.
Elea mendekat dan menatap lekat Andra, lalu tangannya menggenggam kedua tangan Andra
"Andra, sekarang kan gadis yang ada dalam mipi mu sudah ada disini. Jadi kamu tidak perlu mengingat- ingat lagi mimpi itu. Aku tidak akan pernah jauh dari mu lagi … Aku janji ….” Ucapnya mengusap- usap punggung tangan Andra sembari tersenyum untuk meyakinkannya.
Andra pun membalas senyuman dan menatap wajah Elea yang menurutnya adalah wanita yang sangat dirindukannya itu. “Terimakasih Elea ….” ucapnya dengan setulus hati.
“Sama- sama … sekarang kamu istirahat ya.” Elea melepaskan tangan Andra lalu berdiri.
“Kamu mau kemana?” tanya Andra yang seolah takut akan ditinggal pergi lagi oleh Elea.
“Aku akan keluar menemui Tante Tika, sekalian aku mau menelpon dan memberitahukan mama kalau aku sedang disini. Soalnya aku tadi belum sempat bilang, takutnya mama mengkhawatirkan aku yang belum pulang,” ucap Elea panjang lebar.
“Yasudah kalau begitu … maaf ya jadi merepotkan kamu.” Andra jadi merasa tidak enak hati.
“Enggak kok … aku keluar dulu ya, supaya istirahat mu gak terganggu.” Elea lalu bangkit dari duduknya.
“Iya ….” Andra pun kembali berbaring dengan terus memancarkan rona bahagia di wajah tampannya. Ia kini bisa tidur tanpa memikirkan cara untuk menemukan gadis yang selalu datang dalam mimpinya itu.
“Akhirnya kau datang juga gadis mimpi ku ….” ucapnya tersenyum dengan terus memandangi Elea yang sedang berjalan menuju keluar kamar.
Usai Elea menutup pintu kamar, ia perlahan memejamkan matanya dengan membawa perasaan bahagia yang membuncah di dalam dadanya.
“Elea, kalian sudah selesai ngobrolnya?” tanya Kartika yang melihat Elea keluar dari kamar Andra.
“Iya Tante … Tadi Andra merasa pusing lagi, lalu aku menyarankannya untuk beristirahat. Jadi aku keluar dulu supaya dia bisa tidur dengan nyaman. Hehehe,” ucapnya tersenyum malu.
“Terimakasih ya Elea … Tante senang sekali, ternyata kamu gadis yang selama ini dicari oleh Andra” ucapnya turut berbahagia.
“Aku juga senang dan tidak menyangka jika Andra selama ini mencariku … Aku pun selalu menantikannya dan berharap bisa kembali bertemu dengannya lagi setelah ia pergi tanpa kabar dua belas tahun yang lalu.”
__ADS_1
“Dan akhirnya sekarang kalian kembali dipertemukan … Sepertinya kalian telah menamukan cinta sejati.” ucap Kartika.
“Hehehe … Tante ….”
“Tante harap kamu tidak akan menyakiti atau pun mengecewakan Andra," ucapnya penuh harap.
“Tentu saja tidak akan Tante … Karena aku memliki perasaan yang sama dengn apa yang dirasakan Andrs pada gadis yang selalu datang dalam mimpinya itu.”
“Sekali lagi terimkasih ….”
“Tante, jangan bilang terimakasih terus ih, aku kan jadi gak enak.”
“Tante tidak tahu harus berkata apa lagi, karena akhirnya Tante bisa melihat senyuman kebahagiaan pada Andra setelah sekian lama.”
Elea tersenyum mendegar perkataan Kartika yang begitu mendukungnya untuk menjalin hubungan dengan Andra. Ditambah ia memiliki celah untuk masuk ke hati Andra meski dengan cara licik.
“Oh, iya Tante … Aku mau menghubungi Mama dulu, takutnya Mama mengkhawatirkan aku yang belum pulang. Soalnya tadi belum sempat bilang kalau aku mau ke sini.”
“Iya... Tante titip salam buat Yessinta..."
“Siap Tante … “
“Aduh, gawat … Kalau Andra menceritakan tentang masa kecil kami, Mama bisa- bisa mengatakan soal aku, Andra dan Zilya... Aku harus mengulur waktu, supaya bisa membujuk Mama agar tidak membahas soal Zilya di depan Andra," gumam Alesha dalam hati.
“Em … Maaf Tante, apa ini tidak terlalu cepat? Aku kan baru bertemu dengan Andra tiga hari yang lalu. Em, sebaiknya nanti aku jelaskan dulu pada orang tua ku tentang aku dan Andra yang saling terkait sejak masa kecil kami. Lagi pula, hubungan kami ini belum jelas apa namanya,” ucap Elea.
“Maksudnya tidak jelas bagaimana?” tanya Kartika heran.
“Em, maksudnya kami kan belum saling mengikat, maksudnya Andra baru mengetahui kalau aku adalah gadis dalam mimpinya. Tapi dia belum menyatakan perasaannya pada ku, atau meminta ku untuk menjalin hubungan dengannya.” Elea memperjelas maksud dari perkataannya.
“Hah? Kok bisa? Tante sengaja tadi meninggalkan kalian agar dia bisa menyatakan perasaannya ama kamu alias nembak kamu.” Kartika merasa tak habis pikir jika putranya bisa menyia-nyiakan kesempatan begitu saja.
“Hehehe, Tante … segala sesuatunya kan membutuhkan proses. Andra pasti masih sangat terkejut dengan kehadiran ku yang selama ini dicarinya. Makanya dia tidak terburu- buru menyatakan cinyanya sama aku. Lagi pula kami belum begitu saling mengenal.” ucap Elea memberi alasan agar bisa mengulur waktu.
“Aku ingin mengikuti apa yang dikatakan Tante, supaya aku bisa meluluhkan hatinya. Dan aku tidak mau ika hubungan kami dilandaskan keterpaksaan semata. Tapi ingin didasarkan akan cinta. Jadi biarlah mengalir dengan sendirinya,” ucap Elea mencoba mencari perhatian dari Kartika. Padahal sesungguhnya ia ingin sekali segera menjadi kekasihnya Andrs secara resmi.
“Hmm, baiklah kalau begitu. Tante akan mendukung mu sepenuhnya. Tante ke ruang kerja dulu ya. kamu kalau butuh apa- apa tinggal bilang saja sama ART. Atau ke Bi Minah.”
__ADS_1
“Iya, Tante ….”
Kartika beranjak pergi meninggalkan Elea di ruang tengah. Elea pun segera menghubungi Yessi dan memberitahukan keberadaanya di sana untuk menjenguk Andra yang sakit.
**
Sore hari Elea baru bisa pulang dari sana setelah menunggu Andra bangun dan ia berpamitan pada Andra.
Sesampainya di rumah ia langsung menemui Yessi dan memeluknya dengan perasaan bahagia yang tiada tara.
“Wah … apa yang menyebabkan anak Mama sebahagia ini?” tanya Yessi penasaran.
“Aku senang banget Ma, akhirnya aku bisa bersama Derald lagi,” ucap Elea semangat.
Yessi melepaskan pelukan Elea karena terkejut. “Apa? Derald? Maksud kamu?”
“Iya Derald … ternyata Andra itu adalah Derald, sahabatku yang selama ini aku nantikan kehadirannya.” Elea memberitahukan ibunya.
“Hah? Kok bisa? Bukannya Derald itu anaknya Risma?” tanya Yessi heran.
“Bukan Ma, Tante Risma itu ibu asuhnya, ibu kandungnya itu Tante Kartika,” ucap Elea, ia lalu menjelaskan pembicaraannya dengan Kartika saat makan malam itu tentang Derald yang hilang ingatan.
“Alhamdulilah kalau begitu … Akhirnya kamu dan Derald bisa bertemu lagi. Berarti tiggal bertemu dengan Zilya ….” ucap Yessi.
“Engak, Ma … jangan sebut nama itu lagi, baik di depan ku atau di depan Andra.” Elea tiba-tiba terlihat kesal.
“Apa? Memangnya kenapa?” tanya Yessi heran.
“Pokoknya gak boleh, titik.” Elea bicara dengan tegas, lalu beranjak pergi ke kamarnya meninggalkan Yessi di ruang tengah.
“Ada apa dengan anak itu? bukannya selama ini ia ingin bertemu dengan Zilya?” gumam Yessi dalam hatinya dengan terheran- heran.
Timbul berbagai pertanyaan di kepala Yessi yang merasa aneh dengan putrinya. Karena ia tahu betul jika Elea juga selalu menantikan Zilya dan ingin meminta maaf pada sahabat masa kecilnya itu. Sampai- sampai Elea sering memimpikan Zilya.
-
-Bersambung ….
__ADS_1
-
-