Gadisku Yang Hilang

Gadisku Yang Hilang
Pesan Tak Dikenal


__ADS_3

Andra masuk ke kamarnya dengan membawa rasa penasaran sekaligus kesal, karrna ulah ibunya. Ia membersihkan dirinya lalu berganti pakaian.


Ia mengambil sebuah kotak dari dalam laci lemarinya dan membawanya ke tempat tidur. Andra duduk di atas ranjang dan membuka kotak itu. Wajahnya nampak berbinar dengan senyuman mengembang di bibir manisnya, sembari memandangi isi kotak tersebut.


Senyumnya luntur kala ia berusha mengingat gadis itu, namun kepalanya malah terasa sakit yang tentunya membuat hatinya pun sakit.


“Kenapa sulit sekali mengingat mu? Kau dimana teman kecil ku, cinta pertama ku?” tanya nya pada barang itu dengan tatapan sendu.


“Dengan benda ini semoga aku bisa menemukan mu. Meski aku tak bisa mengingat wajah mu dengan jelas, bahkan nama mu pun aku tidak ingat,” ucapnya lagi.


“Ingin rasanya aku membenturkan kepala ku lagi agar aku bisa mengingat mu, mengingat nama mu, dan bisa segera menemukan dirimu.” Andra memijat kepalanya yang kembali terasa sakit.


“Hati ini sungguh sangat merindukan mu, gadis mimpi ku … Apakah kau juga merindukan ku? Masih mengingat ku?"


“Datanglah padaku, ingatkan aku tentang masa lalu yang pernah kia lalui, karena semua itu sudah terhapus dalm ingatan ku. Sungguh aku sangat ingin bersama mu.” ucapnya lirih.


Ia pun tertidur dengan menggenggam benda itu di tangannya. Berharap akan bertemu lagi dengan gadis itu dalam mimpinya, yang semenjak ia pulang dari Amerika belum memimpikan gadis itu lagi.


Malam semakin larut, suasana begitu sepi. Karena semua umat tengah beristirahat setelah menjalankan roda kehidupan di siang hari.


Andra pun tidur dengan nyenyak, hingga Kartika mendatanginya ke kamarnya pun ia tak menyadarinya.


Kartika mengusap kepala putranya dengan lembut. Ia tak pernah berhenti mengkhawatirkan Andra semenjak mengalami kecelakaan yang menyebabkan Andra hampir meninggal bahkan hingga ia kehilangan sebagian ingatannya.


“Selamat malam, sayang ….” Ucapnya, lalu ia mencium kening putranya, dan kembali keluar dari kamar Andra.


**


“Derald … Derald … tunggu aku … jangan pergi … Derald …Deralf... awas!!!”


“Tidaaaakkkk ….” Andra terbangun dari tidurnya dengan berteriak. Deru nafasnya nampak begitu cepat seperti telah melakukan olahraga lari marathon, keringat pun bercucuran.


Ceklek …


Terdengar suara pintu terbuka, seseorang masuk ke kamar Andra dan menyalakan lampu. Ia segera menghampiri Andra di tempat tdirurnya yang duduk dengan nafas ngos- ngosan.


“Kamu kenapa sayang?” tanya Kartika panik. Ia duduk di sebelah putranya.

__ADS_1


“Aku, aku mimpi buruk lagi Ma … kecelakaan itu______” Andra tak sanggup melanjutkan ucapannya lagi.


Kartika segera memeluk Andr untuk menenangkannya. “Sudah sayang … sudah, jangan diingat lagi ya. Tenangkan dirimu, nak ….” Ucapnya mengusap-usap punggung Andra.


Setelah beberapa saat Andra sudah mulai terlihat tenang, dan Kartika pun perlahan melepaskan pelukannya. Ia mengambil gelas yang berisi air minum di atas meja laci sebelah ranjang yang diberi penutup.


“Kamu minum dulu ya ….” Kartika menyoodorkan gelas tersebut, dan Andra pun segera meminumnya hingga habis tak tersisa.


“Ini masih tengah malam, kamu tidur lagi ya.” ucap Kartika.


“Enggak Ma, aku gak mau tidur lagi … Aku takut mimpi itu datang lagi ….” Andra ampak masih ketakutan.


“Tenang sayang, Mama akan menemani mu disini sampai kamu tidur ya. Kamu harus tidur … ingatlah, besok kamu akan bertemu Elea untuk menanyakan tentang masa kecil kalian bukan?” bujuk Kartika.


Andra pun mengangguk, ia kembali membaringkan tubuhnya, dan menarik selimutnya lagi.


Kartika mengusap- usap kepala Andra dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, hingga putranya itu kembali tertidur.


Kartika yang sudah tak bersuami, lebih memilih menjanda dan mengurus kedua anaknya sendiri semenjak suaminya meninggal dunia. Ia berjuang sangat keras hingga bisa sesukses sekarang demi menghidupi kedua anaknya agar bisa hidup berkecukupan.


“Mama akan selalu menjaga mu, Nak … Mama akan berusah sekuat tenaga membuat mu bahagia, karena kamu tak sempat mendapatkan kaksih sayang dari mendiang Ayah mu yang meninggal saat kamu masih dalam kandungan Mama,” ucapnya lirih.


Kartika yang tak sanggup membendung air matanya, kemudian pergi meninggalkan kamar Andra. Ia tak ingin suara tangisannya membangunkan kembai sang putra yang sedang tertidur lelap. Ia kembali mematikan lampu kamar Andra, lalu keluar dari kamar tersebut.


**


Pagi ini udara terasa dingin, seakan menyeruak ke seluruh tubuh dan menusuk ke pori- pori. Kicauan burung semakin menghiasi indahnya pagi ini. Andra yang baru selesai jogging, berjalan menuju ruang makan. Dan disana sudah ada Mama dan Kakaknya yang tengah menyantap sarapan.


“Hari ini kamu kuliah?” tanya sang Kakak.


“Iya, Kak …” jawab Andra yang bau duduk di kursi meja makan ikut bergabung dengan Mama dan kakaknya.


“Nanti kalau gak ada jadwal kuliah, sekali- kali main lah ke kantor. Biar tahu sedikit demi sedikit tentang perusahaan kita.” Ucap sang kakak.


“Kan udah ditangani sama Kak Inka dan Mama … Nanti kalau aku kesana malah akan membat kekacauan." Andra menolak secara halus.


“Kekacauan? kekacauan apa maksud mu?” tanya Inka heran.

__ADS_1


“Nanti para karyawati disana bisa- bisa berkerumun ingin bersalaman dan mendapatkan tanda tangan ku, bahkan ingin berfoto bersama ku,” ucap Andra dengan berbangga diri.


“Cih, pede banget. Memangnya dirimu itu bintang film terkenal apa?” Inka malah mengejek adiknya.


“Hahaha … masa kak Inka tidak bisa melihat aura ketampananku ini yang bisa menggemparkan seuruh jagat raya.” Andra semakin percaya diri.


“Bukan jagat raya, tapi kebun raya bogor noh.” Inka terus mengejek sang adik.


“Sudah sudah … kalian itu kok malah bercanda. Makan sarapan kalian! Ingat Inka, pagi ini kita ada meeting dengan klien penting.” Kartika menghentikan aksi kedua kakak beradik itu yang mengganggu sarapannya.


“Iya, Ma ….” Inka pun kembali memakan sarapannya.


Sementara Andra pergi meninggalkan ruang makan setelah meneguk satu gelas jus buah. Andra kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap pergi ke kampus.


Hari ini tak seperti biasanya, Andra begitu semangat untuk pergi ke kampus. Bukan karena perjodohannya dengan Elea, melainkan ia mendapat titik terang untuk menyelidiki gadis yang selama tiga belas tahun ini selalu datang dalam mimpinya, yang bahkan wajah dan namanya saja ia tidak ingat.


Ting


Terdengar suara ponsel yang menandakan ada pesan masuk. Andra pun segera membuka aplikasi chat di ponselnya.


“Hah, nomor siapa ini? Kok tidk ada namanya dalam kontak ku?”tanyanya heran. Ia pun membuka pesan tersebut.


-


08110220330


“Selamat pagi Derald …”


-


Deg …


Athar terkejut bukan main saat melihat nama Derald disebutkan oleh si pengirim pesan.


“Bagaimana bisa dia mengetahui nama kecil ku? Siapa dia? ” tanyanya dalam hati.


-

__ADS_1


-


Bersambung ….


__ADS_2