
Malam semakin larut, Zilya yang sudah selesai mengerjakan PR akhirnya membersekan buku- bukunya dan menyiapkan buku pelajaran sesuai jadwal pelajaran hari esok. Tak lupa buku tugasnya beserta buku pelajaran pun ia masukan ke dalam tas sekolahnya.
Zilya mengambil kalung yang diberikan oleh Derald saat di sekolah tadi. Ia lali beranjak naik ke tempat tidurnya. Zilya duduk dengan terus memandangi kalung yang bdrada di tangannya sembari senyam senyum sendiri.
“Terimakasih Derald, kamu sudah memberiku kalung yang istimewa ini,” ucapnya tersenyum bahagia. Ia pun memakai dengan melingkarkan kalung tersebut di lehernya.
Zilya menyelimuti dirinya dengan selimut bulu tipis bergambar princess miliknya, kemuidan memejamkan matanya untuk tidur.
**
Keesokan harinya, seperti biasa Zilya berangkat ke sekolah diantarkan oleh Lisda dengan membawa satu box roti yang kemudian Lisda titipkan di kantin sekolah pada penjaga warung langganannya.
Sementara Zilya langsung masuk ke kelasnya dan ternyata kedua sahabatnya sudah berada di sana.
“Hai Elea, Derald ….” Sapa Zilya lalu menghampiri keduanya.
“Hai Zilya, apa kau sudah mengerjakan PR matematika?” tanya Derald.
“Sudah dong ….” Jawabnya dengan percaya diri.
“Tolong ajari aku ya, aku gak ngerti cara mengerjakannya.” Derald meminta bantuan.
“Baiklah, ayok aku bantu sebelum ada Bu Guru.”
Zilya pun memantu Derald mengerjakan PR matematika yang baru diajarkan penambahan dan pengurangan. Sementara Elea hanya menonton saja sembari memakan roti keju kesukaannya yang dibeli dari kantin.
Siangnya setelah bel tanda pulang sekolah berbunyi. Zilya, Derald dan Elea berjalan menuju pintu gerbang untuk menunggu jemputan mereka.
Setelah menunggu hampir satu jam, jemputan mereka tak kunjung datang. Zilya yang kakaknya sudah datang lebih dulu, tetap menemani mereka menunggu para ibunya.
“Tumben Mama belum datang?” Elea bertanya- tanya.
“Iya, Mama ku juga belum datang.” Derald pun merasa heran tak biasanya ibunya terlambat menjemputnya sampai hampir satu jam.
“Itu mama ku datang ….” Derald menunjuk ke arah sebrang jalan saat melihat kedatangan ibunya. “Mama ….” Teriak Derald sembari berlari tanpa melihat ke kanan- kiri jalan.
“Derald awas!!!” teriak Elea dan Zilya yang kemudian berlari mengejar Derald.
Cekiit ….
Jebred ….
Ketiga anak itu terpental ke jalan setelah tertabrak mobil.
“Derald !!!”
“Elea !!”
__ADS_1
“Zilya …!!!”
Beberapa teriakan terdengar dari beberapa orang termasuk dari Lisda, Yessi, dan ibunya Derald . Seketika orang- orang berkerumun melihatketiga korban penabrakan.
Tak lama tiga mobil ambulan pun datang membawa ketiganya ke rumah sakit. Sedangkan penabraknya diamankan untuk menunggu kedatangan polisi.
Beruntung Zilya dan Elea hanya mendapat luka- luka ringan. Sehingga setelah mendapat penanganan medis, keduanya diperbolehkan pulang.
Lain halnya dengan Derald yang lukanya parah hingga ia harus masuk ruang operasi. Zilya dan Elea terus menangis karena tak diizinkan tinggal di rumah sakit untuk menjenguk Derald.
Zilya bersama Lisda diantarkan pulang oleh sopir Elea, sedangkan Elea pulang bersama orang tuanya karena Razan menjemputnya.
“Bagaimana kecelakan ini bisa terjadi?” tanya Razan yang nampak marah dengan keteledoran Yessi.
“Maafkan aku Mas, tadi aku terlambat datang karena terjebak macet, dan saat tiba disana. Tiba- tiba Elea dan Zilya berlari hendak menyelamatkan temannya yang nyebrang. Tapi malah mereka bertiga tertabrak mobil itu.” Yessi menjelaskan krinologinya.
“Lain kali jangan terlambat lagi menjemput Elea, kalau perlu kamu menungggunya dari pagi di sekolahnya, mengerti!” ucapnya dengan tegas.
“Iya Mas.” Yessi mengangguk pasrah menerima kemarahan suaminya. Ia pun pagham betapa ketakutannya mendengar kata kecelakaan, setelah delapan tahun yang lalu mereka kehulangan putra mereka karena kecelakaan yang menimpanya.
“Aku akan pastikan penabrak itu mendapat hukuman yang setimpal.” Razan memukul setir karena emosi.
**
Dua minggu telah berlalu, namun Derald belum masuk sekolah lagi. Hal itu membuat Elea dan Zilya sangat sedih dan merindukannya, karena mereka hanya pernah menjenguk Derald ke rumah sakit satu kali dan itu pun dengan memaksa Yessi. Saat itu Derald masih belum sadar.
“Kenapa Derald belum masuk juga ya? apakah sakitnya sangat parah?” tanya Elea sedih.
“Hei, memangnya kalian belum dengar? Mama ku bilang kalau Derald dibawa ke luar negri untuk berobat disana.” Krisna memberitahukan mereka.
“Apa? Tanya Elea dan Zilya serentak . Keduanya kaget bukan main.
“Kamu tahu dari mana, Kris?” tanya Elea heran.
“Rumah ku kan dekat dengan rumah Derald . Jadi aku tahu.” Krisna ternyata teanggaan dengan Derald.
“Terus kapan akan keluar negerinya?” tanya Elea penasaran.
“Katanya kemarin,” ucap Krisna.
“Apa??” Elea dan Zilya kembali terkejut.
“Ah kamu itu telat ngasih beritanya!” Zilya menyayangkan karena terlambat mengetahuinya.
“Iya ih, kenapa kamu baru bilang sekarang sih?” tanya Elea kesal.
“Kan kemarin minggu jadi sekolah libur, jadi aku tidak bisa memberi tahu kalian,” ucapnya lagi.
__ADS_1
“Yah, berarti kita belum bisa bertemu dengan Derald lagi.” Elea semakin sedih.
“Kamu jangan bilang begitu, Elea … Derald pasti akan cepat sembuh dan akan bersama kita lagi. sekolah bersama, main bersama,” ucap Zilya menghibur sahabatnya.
“Lebih baik kalian mendoakan Derald supaya cepat sembuh,” ucap Krisna menyarankan.
“Iya benar- benar … kalau perlu setiap hari kita mendoakan Derald .” Zilya pun setuju dengan ucapan Krisna.
Saat pulang sekolah ada hal yang tak biasa yakni Zilya tidak dijemput oleh Lisda, melainkan oleh neneknya yang sudah benar- benar sembuh.
“Zilya … itu kan Nenek…” Elea menunjuk ke arah pintu gerbang saat melihat wanita paruh baya yang mengenakan hijab.
Zilya yang melihatnya, sangat gembira. Ia berlari dan menyambut kedatangan neneknya. “ Nenek ….” Sapa nya dengan sangat gembira. Ia langsung memeluk neneknya.
“Nenek aku senang nenek menjemputku ke sekolah….” Ucapnya tersenyum bahagia.
“Maaf ya sayang, nenek baru bisa menjemput mu kali ini,” ucap neneknya mengusap- usap kepala Zilya yang memeluk perutnya dengan erat. Karena Zilya yang masih pendek, jadi hanya bisa memeluk sapai perut neneknya saja.
“Gak apa- apa nenek … aku senang sekali,” ucapnya lagi lalu ia melepaskan peukannya perlahan. “Apa nenek sudah sehat?” ia baru ingat menanyakan kondiri kesehatan neneknya.
“Kalau nenek belum sehat, nenek tidak akan bisa menjemput mu kemari. Ayok kita pulang ….” Ajak sang nenek.
“Nenek … apa kabar?” tanya Elea yang menghampiri mereka.
“Ini … ini Elea kan? Temannya Zilya.” Nenek nampak mengingat- ingat Elea yang sebelmnya pernah ke rumah mereka saat mengantarkan Zilya yang sempat menghilang karena diajak pergi bermain olehnya.
“Iya, Nenek ….” Elea pun mengulurkan tangannya lalu menciun tangan nenek.
“Kok gak pernah main lagi ke rumah?” tanya nenek.
“Iya nenek, semenjak kecelakaan waktu itu. Papa melarang ku pergi- pergi tanpa ditemani oleh Mama atau pengawal.” Elea mengutarakan alasannya.
“Apa mama mu sudah menjemput mu?” tanya nenek lagi.
“Iya, nenek … aku sedang menunggu mama yang sedang ke toilet. Sebentar lagi juga aku pulang.” ucap Elea.
“Oh iya, kalau begitu nenek mau ajak Zilya pulang dulu ya. Nanti makin siang cuacanya semakin panas. Assalamu’alaikum…." nenek pun berpamitan dan beranjak pergi bersama Zilya.
“Wa’alaikumsalam …. Nenek … dadah Zilya," Elea melambaikan tangan.
“Dadah Elea ….” Zilya pun beranjak pergi bersama neneknya.
“Elea ….” Teriak seseorang yang memngil nama Alesha.
Nenek tiba- tiba menghentikan langkahnya ..” Suara itu … sepertinya aku mengenali suara itu.” gumam nenek dalam hatti.
-
__ADS_1
-
Bersambung ….