Gadisku Yang Hilang

Gadisku Yang Hilang
Ada Yang Janggal


__ADS_3

Andra yang tak bisa menolak perintah Kartika akhirnya mengalah dan menerima pengawalan yang diberikan ibunya itu. Tak lama dua orang pengawal itu datang. Mereka lalu berangkat ke rumah tempat masa kecil Andra dulu.


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, mereka tiba di rumah yang sudah hampir 12 tahun kosong itu.


Andra masuk ke dalam bersama Bi Minah dan diikuti kedua pengawalnya.


Andra menegdarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah itu, namun tak ada satu pun yang diingatnya. Ia merasa tak asing di rumah itu, namun semua tak ada yang membuatnya mengingat sesuatu.


Bi Minah mengajaknya ke kamar yang dulu di tempatinya pun, ia tetap tak bisa megingat tempat itu.


“Ini beneran kamar ku, Bi?” tanya nya memastikan.


“Iya, Den … ini kamar Den Andra.” Minah pun mengangguk.


“Berarti Bibi tahu dong, aku suka main dengan siapa saja?” Andra baru menanyakan hal itu pada Bi Minah, padahal ia sudah kembali ke Indonesia sejak seminggu yang lalu.


“Aden tidak pernah main keluar, karena lebih suka menghabiskan waktu di kamar dengan menggambar dan bermain robot- robotan sama bibi atau bu Risma,” ucap Minah memberitahu kan.


“Jadi aku tak pernah main dengan siapa pun?” Andra kembali bertanya.


“Iya, kalau di rumah gak pernag keluar. Kata Bu Risma bilang berbahaya kalau Den Andra keluar rumah. Makanya kalau sekolah jiga suka diantar jemput langsung oleh Bu Risma. Kadang beliau juga menunggu di sebrang sekolah sampai jam pelajaran selesai.” Minah menceritakan betapa sayang dan perhatiannya majikannya yang terdahulu pada Andra.


“Tapi Mama Tika bilang, aku pernah punya teman sekolah yang tinggal di sekitar sini.”


“Oh iya, itu namanya den Krisna kalau gak salah. Tapi, setelah dia naik ke kelas dua dia pindah ke luar kota kalau tidak salah...Kata pembantu di rumah itu sih tuan nya pindah dinas katanya.”


“Apa? Jadi teman sekolah ku itu sudah tidak tinggal di sini lagi?” tanya Andra terkejut.


“Iya Den … ayahnya itu seorang pegawai negeri dipindah tugaskan ke Kalimantan kalau tidak salah.” ucap bi Minah mengingat- ingat.


Andra menghela nafas panjang. Ia merasa kedatangannya kesana sia- sia belaka. Kekecewaan nampak jelas pada raut wajahnya.


“Jadi benar, selama ini aku tak punya teman,” lirihnya sedih.


“Punya kok Den … Den Andra punya teman- teman di sekolah.” Minah seolah memberi angin sejuk pada Andra.

__ADS_1


“Maksud bibi? Aku punya teman- teman di sekolah?” tanya Andra yang terkejut mendengar ucapan Minah.


“Iya Den ….” Minah mengangguk sembari tersenyum.


“Bukannya aku hanya berteman dengan Elea saat masih sekolah SD di sini? karena setelah aku sekolah di Amerika aku hanya berteman dengan Diego di sana. Bahkan saat di Singapura pun aku tak punya teman dekat,” ucap Andra memastikan.


“Saat sekolah SD Aden punya beberapa teman, em … dua orang kalau tidak salah. Soalnya kalau bekal makanan Den Andra suka minta dibuatkan tiga kotak. Katanya untuk dua teman Den Andra” ucap Minah sembari mengingat- ingat.


“Apa? Tapi … Elea bilang aku hanya bersahabat dengannya, karena anak- anak lain sering mengerjai ku.” Andra masih belum percaya dengan informasi yang didapatkan dari Minah.


“Ada dua kok, Den. Tapi bibi gak tahu nama keduanya. Den Andra hanya sering cerita ke Bu Risma, kalau ke Bibi hanya minta makanan banyak aja saat membawa bekal ke sekolah.” Minah meyakinkan Andra.


“Jadi Bibi gak tahu teman ku yang satunya lagi?” tanyanya kembali bersedih, ia masih belum bisa menemukan identitas gadis kecil yang selalu datang dalam mimpinya.


“Enggak, Den ….” Minah menggelengkan kepalanya.


Andra yang merasa sedih dan kecewa memijat- mijat kepalanya untuk mengingat masa lalunya yang sudah terhapus di memorinya. Namun ia malah merasakan pusing dan tak mengingat apa pun.


“Den Andra kenapa?” tanya Minah khawatir.


“Enggak apa- apa Bi … hanya sedikit pusing,” jawabnya sembari memijat kepalnya yang semakin terasa pusing.


“Enggak usah Bi, lebih baik kita pulang saja. Aku akan beristirahat di rumah.” Andra malah minta pulang.


“Baik, Den,” ucapnya lalu Minah memanggil kedua pengawal yang berdiri di depan pintu kamar.


Andra pun diapah oleh kedua pengawalnya berjalan menuju keluar rumah. Ia lalu masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan rumah itu.


Andra merasakan sakit kepala karena terlalu berusaha keras mengingat masa lalunya. Ia pun tertidur di dalam mobil dengan menggunakan bantal leher dan kursi yang di dongkakkan ke belakang.


Sesampainya di rumah, ia segera dibawa ke kamarnya, dan Minah pun menghubungi Kartika serta menelpon dokter keluarga. Tak lema Kartika dan Dokter pun datang bersamaan.


Setelah ia selesai diperiksa, dokter meminta agar Andra jangan sampai diberi beban pikiran yang berat dan harus banyak beristirahat. Bahkan ia menyarankan untuk membawa Andra liburan ke tempat- tempat yang sejuk untuk menenangkan pikirannya seperti ke pantai, ke puncak, ke wisata alam lainnya.


Dokter kemudian berpamitan pulang usai memberi resep obat serta vitamin untuk Andra.

__ADS_1


“Trimakasih banyak dok,” ucap Kartika pada dokter yang ia antarkan sampai ke pintu depan rumahnya.


“Sama- sama, Bu … Semoga Andra lekas sembuh, saya permisi dan jangan lupa dengan saran saya tadi,” ucapnya lalu pamitan pergi


.


“Iya dok, nanti akan saya bicarakan dengan Andra, ” ucapnya mengangguk dan ia terus berdiri di depan pintu dengan mata tertuju pada sang dokter.


Kartika lalu kembali masuk ke rumahnya setelah mobil dokter keluar dari dari halaman rumahnya. Ia menemui Minah untuk meminta penjelasan.


“Bi, kenapa bisa seperti ini?” tanyanya memulai interogasi.


“Den Andra berusaha keras mengingat masa lalunya, Bu,” ucap Minah berteus terang.


“Memangnya kamu cerita apa sama dia sampai dia seperti itu?” tanya Kartika heran.


“Saya hanya bilang kalau Den Andra punya dua teman saat masih sekolah, Bu ….” ucapnya dengan merengkuh karena merasa bersalah.


“Apa? Dua teman? Tapi dia bilang kalau dia hanya berteman dengan Elea … Lalu siapa temannya yang satu lagi?” tanya Kartika kaget.


“Saya kurang tahu, Bu … Dulu Den Andra hanya bercerita pada Bu Risma saja tentang dua temannya itu. Kalau sama saya gak pernah cerita. Hanya saja kalau bawa bekal ke sekolah, Den Andra selalu meinta dibuatkan untuk tiga orang. Dan katanya untuk kedua temannya di sekolah.” Minah menjelaskan panjang lebar.


“Oh, ya ampun … kasihan sekali anak itu berusaha keras mengingat masa lalunya … Lalu, apa teman yang tinggal dekat rumah Risma sudah di temuinya?” Kartika baru teringat tujuan Andra pergi ke rumah kakaknya.


“Enggak, Bu … Setahu Bibi, den Krisna itu sudah pindah ke Kalimantan setelah ia naik ke kelas dua SD. Ayahnya pindah tugas kesana, Bu ….” ucap Minah sembari mengingat- ingat.


Kartika menghela nafas berat. Ia merasa sangat sedih dengan kondisi putranya yang berusaha keras mengingat masa lalunya itu. Namun malah membatnya sakit seperti itu. ingin rasanya ia memindahkan rasa sakit putranya pada dirinya.


Kartika baru teringat sesuatu, ia lalu memikirkan hal yang terasa janggal baginya.


“Kenapa ucapan Bi Minah dengan Elea berbeda ya? Ada yang janggal ini ... Apa Elea berusaha mempermainkan Andra dan memanfaatkan amnesia-nya untuk bisa mendapatkan cinta Andra?” tanya nya dalam hati.


“Awas saja kalau dia berani melakukan hal itu … Aku tidak akan tinggal diam ….” gumamnya dalam hati, lalu ia mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi seseorang.


-

__ADS_1


-


Bersambung …


__ADS_2