
Hari berganti hari, Elea dan Zilya kini berteman akrab dengan Derald. Ketiganya sering saling membantu, baik dalam pelajaran atau pun bermain dan saat salah satu dari mereka di ganggu oleh teman lainnya.
Genta yang sudah mendapat hukuman tak pernah lagi menganggu ketiga bocah itu. Bagaimana tidak, Razan yang merupakan donatur tetap bagi sekolah Dasar yang sudah berstatus Negeri tersebut, keinginannya tak bisa dibantah oleh sang kepala sekolah.
“Hei, si Genta tak pernah menggangu kita lagi rasanya sekolah ini terasa aman,” ucap Elea yang seang menikmati es krim di kantin sembari menunggu mamanya kan menjemput.
“Hahahha, memangnya si Genta itu penjahit apa.” Zilya menertawakan Genta.
“Penjahat Zilya, bukan penjahit.” Derald mengoreksi ucapan Zilya.
“Eh iya lupa, hahahaha.” Zilya malah kembali tertawa.
“Elea, Tante Yessi mencari mu di depan gerbang sana,” ucap Krisna yang baru datang membertahukan Elea.
“Oh, Mama ku sudah datang. Aku pulang dulu ya teman- teman. Soalnya mau ke rumah Opa.” Elea bangkit lalu berpamitan unuk pulang pada kedua sahabatnya. Tentunya dengan dikawal oleh seorang pengawal.
“Oke … dadah Elea.... ” Zilya pun melambaikan tanganya berdadah ria.
“Dadah ….” Elea pun beranjak pergi.
“Mama kamu belum datang Derald?” tanya Zilya.
“Belum, kakak mu juga belum datang ya?” Derald balik bertanya.
“Iya ….” Zilya mengangguk menampakan wajah sedih. Defran yang melihat hal itu mencari cara untuk menghiburnya.
“Bagaimana kalau kita pergi ke taman depan kelas kita yang ada pohon besar itu loh.” Ajak Derald.
“Ayok ….” Zilya pun bersedia. Ia beranjak pergi bersama Derald dengan box bekas roti dagangannya yang sudah kosong.
Mereka duduk di bangku panjang yang berada di bawah pohon rindang di tengah taman tersebut. Derald mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya lalu memandangi benda itu sembari tersenyum.
“Apa itu?” tanya Zilya heran.
__ADS_1
“Ini kalung dari Mama. Katanya Papa ku yang memberikannya sebelum meninggal,” ucap Derald menjelaskan.
“Oh gitu ya, kok kalung nya ada dua? Apa kamu memakai kedua kalung itu sekaligus?” Zilya nampak bingung.
“Tentu saja tidak, nanti akau dikira toko kalung berjalan.” Derald terkekeh mendengar pertanyaan Zilya.
“Kalungnya memang dibuat berpasangan. Yang satu liontin hati yang terpisah dan yang satu lagi liontin kunci. Jika keduanya didekatkan akan membuat hati ini jadi bersatu, seperti ini.”
Derald mendekatkan kedua liontin itu, dan ternyata benar kedua belahan hati itu bersatu saat liontin kunci di tempelkan di tengahnya. Tentu saja karena kedua liontin itu terdapat magnet.
“Wah bagus sekali. Beli dimana itu?” Zilya merasa tekesan dan takjub.
“Mama bilang dulu Papa memesannya khusus untuk Mama dan Papa,” ucapnya tanpa memalingkan pandangan dari kalung yang dipegangnya itu.
“Wah, aku belum pernah melihat kalung sebagus dan seajaib itu.” Zilya tak menyangka ada hal seperti itu yang bsa ia lihat. Padahal itu karena liontin itu mengandung unsur magnet.
Derald melihat ke arah Zilya yang melihat kalung itu dengan tatapan takjub dan berbinar. Ia tersenyum melihat hal itu.
‘’Apa?” Zilya terkejut mendengarnya.
“Apa kamu mau kalung ini?” Derald kembali mengulang pertanyaannya.
“Tapi, itu kan punya kamu dari mama kamu juga. Nanti kalau dikasih ke aku, Mama kamu bisa marah.” Zilya menolak secara halus karena takut malah akan memberi masalah pada Derald.
“Kamu kan sahabat ku yang sering memebantu ku dan sangat baik pada ku. Jadi kamu boleh memilih salah satu kalung ini.” Derald terus menawarkan kalung tersebuta pada Zilya.
“Tapi …. Elea juga kan sahabat kamu dan aku.” Zilya teringat pada sahabat satunya lagi.
“Kulihat Elea sudah punya kalung, tapi kamu belum. Jadi gak apa- apa kan kaalu aku ngasih kalung ini sama kamu,” ucapnya memberi alasan.
“Benar kah?” Zilya mulai tergoyahkan.
“Iya, sekarang kamu mau pilih yang mana?” Derald mengulang pertanyaan untuk yang ketiga kalinya.
__ADS_1
“Eng ….” Zilya nampak berpikir.
“ Aku pilih yang ini saja.” Zilya pun menunjuk salah satu kalungnya dan Derald langsung memberikannya pada Zilya.
“Terimakasih, Derald . Aku janji akan menjaganya baik- baik,” ucapnya tersenyum, ia lalu memasukan kalung tersebut ke dalam tas nya. Begitu pun dengan Derald.
“Derald …!” panggil seseorang dari depan gerbang dengan melambaikan tangannya. Yang ternyata adalah ibunya.
“Zilya, Mama ku sudah datang. Aku pulang dulu ya.” Derald pun bangkit dan berlari menghampiri ibunya.
“Iya,” Zilya mengangguk. Ia pun berjalan menuju pintu gerbang untuk menunggu Lisda menjemputnya sambil senyam senyum sendiri.
Selang beberapa saat Lisda pun datang menjemput, dan selama perjalanan pulang dengan berjalan kaki, Zilya terus mengingat Derald yang telah memberinya kalung yang bagus, yang bahkan ia sendiri belum pernah memiliki sebuah kalung apa pun.
“Kamu kenapa Zil, kayaknya senang banget?” tanya Lisda heran.
“Eng enggak apa-apa kok Kak,” Zilya menyangkal, malah menampakan seyuman termanisnya pada sang kakak.
“Dasar kamu ini … sana gih ganti baju dulu. Bantuin kaka membungkus roti ya.” titah ya pada adik kecilnya itu.
“Iya, Kak ….” Zilya pun segera masuk ke kamarnya, ia berganti pakaian lalu membuka tasnya dan mengambil kaung yang sudah diberikan oleh Derald tadi.
Zilya tak hentinya memandangi kalung itu sembari tersenyum. “Terimakasih Derald atas hadiah kalungnya. Ini bagus banget, aku gak akan melupakannya sampai dewasa nanti.” Gumamnya dalam hati sembari senyam senyum sendiri.
-
-
Bersambung …
-
Happy Reading
__ADS_1