Gadisku Yang Hilang

Gadisku Yang Hilang
Kamu Ganteng Banget


__ADS_3

Andra terus memandangi isi pesan tersebut dengan raut wajah terkejut dan perasaan bertanya- tanya.


“Siapa dia? Kenapa dia bisa tahu nama kecil ku?” gumamnya dalam hati.


Nampaknya Andra tak berniat membalas pesan tersebut , namun ia segera menelpon nomor baru yang belum ada di kontak teleponnya itu.


Tut ……… tut …….


Nada sambungan pun terdengar yang menandakan panggilannya telah terhubung.


“Hallo ….” Sapa orang diseberang sana yang mengangkat telpon tersebut.


Andra terdiam sejenak, ia mendengar suara yang terasa begitu merdu di telinganya, hingga membuatnya tak bisa berkata apa- apa.


“Hallo … Derald ….” ucap orang yang ditelpon itu, karena tak mendapat sahutan dari Andra.


Deg …


Andra semakin tak ingin mengeluarkan suaranya saat nama kecilnya disebutkan oleh orang itu.


“Hallo, Derald … apa kamu masih di situ?” tanya nya lagi setengah berteriak, karena tak kunjung mendapatkan jawaban.


Andra pun terperanjat dan membuyarkan lamunanya. “Iy iya hallo … ini dengan siapa ya?”


“Ya ampun, kamu tidak mengenali suara ku ya? aku teman sekelas mu,” ucapnya terkekeh.


“Hah, teman sekelas ku?” Andra malah kembali bertanya.


“Iya, kita ini teman satu kelas di kampus. Dan semalam kita sudah makan malam bersama … Apa sekarang kamu sudah ingat?” ucapnya memberi clue.


“Elea??” ucap Andra tak menyangka.


“Hehehehe, Iya aku Elea … akhirnya kau bisa mengingat ku ....” ucapnya terdengar bahagia


“Hari ini kamu ke kampus kan?”


“Ya.” Andra menjawab dengan singkat dan ketus.


“Em, tadi Tante Kartika menelepon ku, katanya kamu mau menjemput ku dan berangkat ke kampus bareng. Apa itu benar?” tanya Elea.


“Hufh, Mama … selalu saja bertindak sesuka hati tanpa bertanya dulu pada ku,” Andra menggerutu dalam hati.


“Hei … “ Elea menunggu jawaban Andra.


“Iy iya.” Andra yang terperanjat, asal menyahut.

__ADS_1


“Hah, jadi benar kamu akan menjemput ku?” tanya Elea memastikan.


“Eh, bukan … maksudnya, itu … eng aku.” Andra gelagapan dan bingung hars menjawab apa.


“Tadi katanya iya.” goda Elea.


“Aduh , aku harus memberikan alasan apa ini? Malas banget sih harus jemput dia segala … Mama ini apa-apaan sih, katanya tidak akaan memaksakan kehendak, tapi kok kenyataannya lain.” Andra kembali menggerutu dalam hatinya.


“Andra … jadi giman ini? Kalau gak dijemput aku mau berangkat sendiri saja, nanti bisa terlambat ngampus, " ucap Elea.


“Iy iya … aku akan menjemput mu. Share lock aja ya alamat tepat tinggal mu.” Akhirnya Andra tak punya pilihan lain selain mengiyakan permintaannya.


“Yaudah kalau gitu aku share lock sekarang ya. Aku siap- siap dulu … daah ….” Elea terdengar senang, sepertinya Andra berhasil membuatnya begitu bahagia. Ia lalu mengakhiri pembicaraannya di telpon.


“Hufh … Mama Mama … suka sekali bertindak seenaknya.” Gerutu Andra.


"Yasudahlah, sekslian aku cari tahu soal teman kecilku dari Elea..." ucapnya lalu beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai berbersiap, ia berangkat ke kampus. Dan tentunya sebelum itu ia akan menjemput Elea terlebih dahulu.


**


Sementara di kediaman Elea, ia nampak berbunga- bunga. Melakukan segala sesuatu pun sembari senyam senyum sendiri. Untunglah dia hanya seorang diri di kamar, jika ada yang melihat sudah tentu akan menganggapnya kurang waras.


“Derald … akhirnya aku bisa bertemu dengan mu lagi setelah sekian lama,” ucapnya tersenyum sembari memandangi layar ponselnya yang menampakkan foto Andra yang ia ambil diam- diam saat Andra baru kembali dari toilet saat mereka makan malam bersama.


Elea menghela nafasa sejenak. “Seandainya kau tahu, saat pertama kali kita bertemu dulu, aku sudah menyukai mu. Meski kita hanya bisa bersahabat, aku sudah sangat senang karena selalu bisa bersama mu. Dan kini, kau kembali … aku yakin kau kembali untuk ku ….” Ucapnya dengan penuh rasa percaya diri.


“Oh, ya ampun … aku harus segera bersiap- siap … nanti Derald keburu datang lagi …. Pokoknya aku harus berpenampilan secantik dan semenarik mungkin. Supaya bisa membuatnya jatuh hati padaku.”


Elea yang hanya mengenakan handuk kimono karena baru selesai mandi, membuka lemari pakaiannya yang tentunya banyak sekali baju yang dimiliki nya di dalam sana. Namun tetap saja ia kesulitan memilih pakaian mana yang menurutnya paling bagus. Padahal semua bajunya bermerk semua dan bagus- bagus serta modis.


“Aduh … pakai baju yang mana ya … yang ini jelek, yang ini terlalu sederhana, yang ini seperti mau ke pesta, yang ini gak banget …. Aduh … kenapa jadi pusing begini sih???” keluhnya saat memilih pakaian yang akan dikenakannya.


Padahal ia hanya akan pergi ke kampus saja untuk berkuliah, tapi memilih baju saja seolah akan digunakan untuk fashion show.


Tin tin …


Elea langsung terkejut mendengar suara klakson mobil yang diyakininya dalah Andra.


“Oh my God … gimana ini … dia udah datang, sedangkan aku belum memakai baju … aduh … kok jadi begini sih ….” Elea semakin panik bercampur nervous.


Ia kembali memilah milih pakaian yang akan dikenakannya. Akhirnya ia mendapatkan pakaian atasan beserta celana jeasn nya. Ia pun segera mengganti pakaiannya.


Karena terburu- buru, ia pun hanya memakai bedak dan lipstik saja dengan dandanan sederhana. Waktu yang sangat mepet membuatnya tak sempat melakukan hal- hal biasanya. bahkan ia sampai melewatkan sarapanya lagi.

__ADS_1


Elea yang sudah keluar dari kamar, nerjalan dengan terburu-buru menuju ke ruang tamu menghampiri Andra yang sedang duduk di sana sembari ngobrol dengan Yessi yang sebelumnya sudah menyambut kedatangannya.


“Hai, Der… eh Andra maksud ku … ayok kita berangkat.” Elea yang baru saja menghampiri Andra, langsung mengajaknya pergi.


“Loh, sayang … kamu kan belum sarapan … Ayok sarapan dulu sekalian sama Andra, baru nanti berangkat,” ajak Yessi.


“Gak usah, Ma … nanti kesiangan … ada kelas pagi soalnya,” tolak Elea dengan memberi alasan.


“Gak bisa … kemaren saja kamu telat makan langsung sakit. Mama gak mau kalau kamu sampai pingsan lagi di kampus,” cerocos Yessi yang mengkhawatirkan putrinya.


“Iya nanti saja di kampus aku beli makanan … udah ya Ma. Aku pamit,” ucapnya kekeuh tidak mau makan sarapan dulu. Ia pun mencium tangan Yessi. “Assalamu’alaikum, Ma … aku berangkat ya,” ucapnya lalu berdiri di samping Andra.


“Wa’alaikumsalam …. Jangan lupa beli makanan ya, sayang.” Yessi kembali mengingatkan Elea.


“Iya, Ma …”


“Saya juga pamit, Tante …assalamu’alaikum,” ucap Andra yang kemudian mencium tangan Yessi.


“Iya Andra, wa’alaikumsalam … titip Elea ya.”


“Siap , Tante ….”


“Hati- hati ….”


“Iya Tante ….”


Andra pun beranjak pergi keluar bersama Elea. Keduanya menaiki mobil milik Andra yang di parkirkan di halaman depan rumah Ekea.


Andra kemydian melajukan mobilnya menuju kampus.


Selama beberapa saat hanya keheningan yang ada di dalam mobil tersebut. Tak ada satu pun yang bersuara. Rasa canggung seolah telah menyelimutu keduanya.


Andra nampak berkonsentrasi dalam menyetir seolah menghindari berbicara dengan Elea. Sementara Elea tak hentinya memandangi wajah Andra dari jok sebelah pengemudi itu semari senyam senyum sendiri.


“Kamu ganteng banget, Derald ….” Ucapan Elea mampu memecah keheningan. Ia yang baru menyadari kalimat itu terlontar begitu saja, segera membekap mulutnya sendiri.


“Apa?” tanya Andra seolah ia salah dengar.


“Eng eng enggak … aku gak bilang apa- apa kok,” ucapnya gelagapan. Elea enggan mengakui keceplosannya.


“Aduh … Kenapa ini mulut bisa kebablasan gini sih? Nanti dia nyangkanya aku ini cewek yang agresif lagi … argh …. Malu banget ….” gumamnya dalam hati menggerutuki dirinya sendiri.


-


-

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2