
Keduan rekan bisnis bersama anak-anak merekanpun mulai menyantap makan malam yang sebelumnya sudah dipesan oleh Razan sebagai menu favorite di restoran bintang lima tersebut.
Andra nampaknya merasa canggung, karena baru kali ini ia duduk begitu dekat dengan Elea, meski keduanya sudah bertegur sapa, tetap saja tak menghilangkan kecanggungan diantara keduanya.
Apalagi saat keduanya diam- diam saling menoleh yang ternyata malah membuat mata mereka beradu pandang.
Elea juga nampak merasakan hal yang sama, ia terlihat malu- malu saat menyantap makanannya. Bahkan ia hanya makan sedikit, padahal perutnya masih terasa lapar.
Razan dan Yessi bermain mata dengan tersenyum sumringah saat memergoki Andra dan Elea saling curi- curi pandang. Sepertinya mereka punya niat terselubung karena mengajak anak- anak mereka makan malam bersama.
“Ma … sepertinya mereka cocok ya?” bisik Razan pada Yessi.
Yessi mengangguk sembari tersenyum.” Iya, Mas ….” bisiknya.
“Mama gak nyangka, ternyata kalian sudah saling kenal ya... Jadi kami tidak perlu repot- repot memperkenalkan kalian,” ucap Kartika seolah paham apa yang sedang dibicarakan Razan dan Yessi yang sedang berbisik- bisik.
Andra dan Elea tersenyum kaku mendengar penuturan Kartika. Mereka sepertinya paham arah pembicaraan Kartika kemana.
“Tuh kan, bener … mama pasti ada niat terselubung memaksa ku ikut ke acara makan malam ini.” gumam Andra dalam hati.
“Maksud Bu Kartika apa ya bicara seperti itu? “ gumam Elea dalam hati nampak bingung dan heran. ”Hah… jangan- jangan mereka berniat menjodohkan ku dengan Andra?” batin Elea menerka.
Elea benar- benar terkejut dengan apa yang dipikirkannya. Namun tak bisa dipungkiri, ada rasa bahagia yang membuncah di dalam dadanya. Karena sahabat masa kecilnya yang dulu ia cintai, kini telah kembali dan bahkan akan dijodohkan dengannya.
Senyum bahagia pun terukir di bibir manis Elea kala ia membayangkan hal- hal indah bersama Andra yang selama ini sangat dirindukannya. Jauh dari image sombong dan angkuh yang selama ini ia perlihatkan di depan orang lain, kini ia tampak anggun dan ramah serta murah senyum.
Namun lain halnya dengan Andra yang menampakan raut ketidaksukaannya. Entah ia kecewa karena ibunya tiba- tiba merencanakan hal di luar dugaannya. Entah karena wanita yang akan dijodohkan dengannya adalah Elea, gadis yang terkenal karena kecantikannnya dan juga kesombongannya.
“Kalian pasti heran kan dengan pertemuan ini?” Kartika menebak- nebak dari raut wajah kedua anak muda itu.
“Jadi begini … Pak Razan dan saya sudah setahun ini menjadi rekan bisnis semenjak saya pulang dari Amerika dulu. Saya pernah bercerita kalau saya tinggal disini bersama anak perempuan dan anak laki- laki. Berhubung kakaknya Andra sudah memiliki pasangan, sedangkan Andra belum. Lalu kami berniat mempertemukan kalian berudua malam ini.” Kartika menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
“Iya benar, dan ternyata kalian sudah saling mengenal toh.” Razan pun mengamini ucapan Kartika.
“Maksudnya … kami ini akan dijodoh kan?” tanya Andra yang masih terkejut.
Kartika tersenyum mendengar kesimpulan yang diambil oleh putranya itu.
“Andra, kalau jodoh itu kan sudah diatur oleh Allah, kami hanya berniat memperkenalkan kalian berdua saja. Ya kalau kalian merasa cocok dan menjalin hubungan, kami bersyukur. Atau kalian hanya berteman saja, tidak apa- apa. Karena kami tidak ingin memaksakan kehendak pada kalian. Betul kan Pak Razan, Bu Yessi?” Kartika meminta pendapat rekan bisnisnya itu.
“Iya betul Bu … saya sependapat dengan gagasan ibu.” Razan kembali mendukung ucapan Kartika.
“Iya, saya juga setuju … jadi kami menyerahkan sepenuhnya pada kalian berdua.” Yessi pun turut menyetujuinya.
Sementara Andra terlihat kaget dan bingung, seolah ia tak mau menerima apa pun alasan Kartika yang melakukan hal penting tentang dirinya tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengannya di rumah sebelum mereka menghadiri acara makan malam itu.
“Maaf semuanya, saya permisi ke toilet sebentar.” Andra bangkit lalu beranjak pergi keluar ruangan tersebut.
Tiba- tiba terdengar suara ponsel berdering, dan ternyata itu milik Yessi. Ia pun pamitan pergi keluar ruangan untuk mengangkat telponnya.
“Emm … maaf Tante … bolehkah saya menanyakan sesuatu?” tanya Elea nampak ragu- ragu.
“Tentu saja boleh ….” Kartika menyambutnya dengan ramah.
“Apakah Andra dulu pernah sekolah di SD Negri Hirnayasa?” Elea memberanikan diri menanyakan hal yang sejak semalam mengganjal di kepalanya.
Katika nampak terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Elea. Ia menghela nafas panjang, lalu berusaha besikap tenang dan kembali melemparkan senyuman.
“Iya, benar ….” Ucapnya mengangguk.
“Berarti Andra itu adalah Derald?” Elea kembali bertanya.
“Tentu saja benar … Derald itu nama panggilan masa kecilnya, tapi saya lebih suka memanggilnya Andra … Eh, kok kamu tahu tentang SD dan nama Derald ?” tanya Kartika heran.
__ADS_1
“Dulu saya satu sekolah dengan Andra saat kelas satu SD. Tapi, semenjak kecelakaan itu dia menghilang. Em … Selama ini dia kemana Tante?" Elea kembali mengorek informasi.
“Setelah Andra mengalami kecelakaan, ia dibawa ke Singapura untuk berobat disana. Dan setelah sembuh ia dibawa ke Amerika dan tinggal bersama saya di sana.” ucap Kartika.
“Benarkah? Tapi, dulu yang mengantarkan Andra____”
“Itu kakak saya, Mbak Risma... Andra sering memanggilnya dengan sebutan Mama juga. Dulu saat Andra berusia empat tahun, saya mulai bekerja di Amerika. Tapi dia tidak mau ikut, jadinya tinggal bersama kakak saya di sini.” Kartika menjelaskan.
“Oh, gitu ya Tante ….” Elea pun mulai paham.
“Iya ….” Kartika kembali mengangguk.
“Itu berarti kamu dan Andra sudah kenal sejak kecil dong, sayang?” tanya Razan yang sejak tadi memperhatikan pembicaraan Kartika dan Elea.
“Iya, Pa ….” Elea mengangguk sembari tersenyum.
“Wah, sepertinya mereka sudah ditakdirkan berjodoh ya, Pak Razan,” ucap Katika seolah sangat berharap Elea dan putranya, Andra bisa menjadi sepasang kekasih.
“Sepertinya begitu, Bu Tika ….” Razan mengamini.
Sementara Eela nampak tersipu malu mendengar ucapan Kartika. Ia seolah sangat berharap jia hal itu terjadi. Betapa tidak, pria yag sejak kecil dicintainya kini bisa didapatkannya dengan dukungan kedua orang tua mereka.
“Akhirnya … aku bisa bersama mu, Derald.... ” gumam Alesha dalam hatinya. Ia tak hentinya mengulas senyum di dibir manisnya.
Kartika yang melihat itu pun nempak senang, namun dari raut wajahnya ia nampak menyembunyikan sesuatu di balik rencana perjodohan Elea dan Derald.
“Awal yang bagus …” guman Kartika dalam hati demgan tersenyum ketir.
-
Bersambung ….
__ADS_1
Happy Reading ….