
Hari ini Eela bertingkah tak seperti biasanya, ia lebih banyak melamun dan saat pelayannya ada yang membuat kesalahan pun ia hanya melengos begitu saja tanpa berkomentar apa pun.
Ternyata pertemuannya dengan mahasiswa yang bernama Andra, mampu membuatnya tak bisa berhenti memikirkanya.
Hingga malam tiba pun, Elea masih tak bisa melupakan pria itu.
“Sial … kenapa bayangan pria itu terus menari- nari di kepala ku?” ucapnya menggerutuki dirinya sendiri..
“Argh … sebaiknya besok aku tanyakan langsung padanya tentang hal ini. Kalau terus begini, bisa membuatku gila atau mati penasaran.”
Eela pun akhirnya memilih untuk tidur agar bisa mempersiapkan diri menghadapi pria yang disinyalir adalah sahabat masa kecilnya esok.
**
Keesokan harinya, ia pergi ke kampus pagi- pagi sekali. Bahkan ia sampai melewatkan sarapannya.
“Aku harus menemui pria yang mengaku bernama Andra itu … Tapi, sebaiknya aku menemuinya secara diam- diam agar tidak menjadi bahan gunjingan orang….” gumamnya berialog sendiri.
“Bagaimana mungkin aku seorang Elea terlihat mengejar- ngejar seorang pria. Apalagi dia mahasiswa baru di sini. Bisa lebur harga diri gue….” Gumamnya dalam hati dengan perasaan kesal dan jengkel.
Elea memutuskan untuk menunggu Andra di parkiran tepat di sebelah tempat biasa ia memarkirkan mobilnya. Ia sengaja mengosongkan tempat parkir di sebelahnya untuk memberi tempat parkir pada Andra.
Sepertinya ia melupakan satu hal, jika tempat parkir di kampusnya terbilang cukup luas. Namun ia nampaknya yakim sekali jika Andra akan memarkirkan mobilnya di tempat yang sama seperti kemarin. Selain tempatnya yang teduh, juga lebih dekat ke gedung kampus.
Namun sayang, penantiannya sia- sia belaka. Setelah ia menungu selama satu jam lebih, Andra tak kunjung datang. Ia pun mematikan mesin mobilnya dan memutuskan untuk segera keluar dari mobilnya, karena sebentar lagi ia ada kelas.
“Sial banget sih gue … udah nungguin dia lama- lama, eh gak muncul sama sekali batang hidungnya pun.” Elea berjalan sembari menggerutu kesal.
__ADS_1
Saat ia sampai di kelas, ternyata Andra sudah berada di tempat duduknya.
“Dasar kampret … gue nungguin sampai kering di parkiran, ternyata orangnya sudah ada di sini … sial banget sih gue hari ini!” gumamnya dalam hati.
Elea kemudian duduk di kursinya yang terhalang oleh dua kursi dari tempat Andra duduk. Pria itu nampak sibuk membaca buku. Sepertinya ia tak menyadari kehadiaran Elea di kelas.
Tak lama dosen pun masuk dan seperti biasa sebelum kelas dimulai, sang dosen memberikan lembar kertas absensi untuk diisi dengan nama dan tanda tangan mahasiswa sebagai tanda kehadiran dalam kelas mata kuliah tersebut.
Untuk mata kuliah pertama ini, Andra mengisi absensi setelah Eela. Lain halnya saat mata kuliah kedua dan tentunya berganti dosen juga kembali mengisi absensi. Kali ini Andra mengisi absesnsi lebih dahulu.
Setelah melewati dua mahasiswa di sebelahnya, kini giliran Eela yang mengisi daftar kehadiran tersebut. Betapa terkejutnya ia saat membaca nama lengkap Andra yakni Andra Derald Mahendra.
Elea membekap mulut dengan teplapak tangannya.
“Jadi … dia benar- benar Derald ?” gumamnya dalam hati dengan ekspresi wajah terkejut.
Tak bisa dipungkiri ada rasa bahagia membuncah di dalam dadanya. Ternyata sahabat lamanya telah datang kembali setelah hampir 13 tahun hilang ditelan bumi. Ia merasa tak sabar ingin menemuinya dan berbicara padanya.
Setelah Dosen mengakhiri kelasnya, Elea langsung berdiri dan bergegas menghampiri Andra. Ia melebarkan senyumnya secantik mungkin. Wajahnya berseri- seri yang menggambarkan ia sedang merasa sangat bahagia.
Namun saat ia baru sampai di hadapan Andra, tubuhnya mendadak terasa lemas dan kepala nya pun pusing berkunang- kunang.
“Derald … aku____” belum selesai bicara, tubuh Eela sudah oleng, dan akhirnya jatuh ke lantai.
Brukk ….
Elea tiba- tiba pingsan tepat di hadapan Andra. Semua orang yang masih ada di kelas terkejut, apalagi Tanti yang nampak sangat panik melihat Elea tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
__ADS_1
Andra dengan segea menolong Elea. Ia mengangkat dan menggendong Elea ala bridal style. Lalu ia membawa Elea ke klinik kampus yang terletak di luar gedung kelas.
“Dok, bagaimana keadaan teman saya?” tanya Tanti panik.
“Tubuhnya nampak lemas, tapi tensi darahnya normal. Sepertinya ia kurang asupan makanan sehinga mempeengaruhi system kerja lambungnya.” Dokter menjelaskan hasil pemeriksaannya.
“Tapi gak bahaya kan?” Andra nampaknya mengkhawatirkan Elea dan hal itu membuat Tanti tersenyum lebar.
“Hmmm … sepertinya Andra juga menyukai Elea… wah ternyata gayung pun bersambut.” Tanti bergumam sembari senyam senyum gak karuan.
“Permisi … permisi …” datang dua orang pria berpakaian hitam- hitam yang merupakan pengawal Elea. Hal itu mampu membuyarkan lamunan Tanti.
“Kami diutus Pak Razan untuk menjaga Nona muda. Kami akan membawa Nona Muda ke rumah sakit untk mendapatkan penanganan yang lebih bagus dan tepat,” ucap salah seorang dari pengawal tersebut yang menunjukan kartu identitasnya.
“Baiklah … itu lebih baik. Tapi, bagaimana kalian membawa nya?” tanya Dokter heran.
“Sebentar lagi ambulance akan segera datang,” ucap pengawal. Ternyata mereka sudah bergerak cepat setelah mendengar anak majikannya jatuh pingsan. Tentunya mereka tahu alasannya, karena Elea telah melewatkan sarapannya saat pagi tadi.
“Tunggu Pak .. saya ikut ya, saya teman sekelasnya Elea,” ucap Tanti dan beruntung ia diperbolehkan untuk ikut.
Andra yang sejak tadi hanya diam dan mengamati mereka, tak berbuat apa pun. Karena ia tahu jika Elea akan selalu dijaga oleh pengawal utusan orang tuanya. Ia pun keluar dari ruangan medis tersebut setelah kepergian kedua pengawal dan Tanti yang membawa Elea.
“Kenapa dia tadi pingsan di hadapan ku? Bukankah tadi dia masih senyam- senyum saat menghampiriku?” gumam Andra dalam hati.
-
-Bersambung …
__ADS_1
-
Happy Reading