Gadisku Yang Hilang

Gadisku Yang Hilang
Rencana Ke Rumah Lama


__ADS_3

"Jangan- jangan siapa maksud kamu?” tanya Andra yang mendengar ucapan Elea. Walau ia sudah memelankan suaranya, namun Andra masih bisa mendengar nya.


“Eng … bukan siapa- siapa … em … kamu benar- benar tidak ingat masa- masa SD kita?” Elea malah mengalihkan pembicaraan.


“Iya, aku benar- benar tidak ingat apa pun dengan apa yang sudah kulewati sejak aku bayi sampai kecelakaan itu terjadi.” Andra kembali menjelaskan.


Elea terdiam sejenak. Ia nampak memikirkan sesuatu. “Em, saat kita SD kamu cuman dekat sama aku.... Soalnya teman- teman yang lain suka ngerjain kamu, makanya kamu gak mau dekat- dekat dengan mereka.” ucap Elea berbohong.


“Tapi, Mama bilang aku dekat dengan anak tetangganya rumah Mama Risma dulu.” ucap Andra.


“It itu, eng … dia gak sedekat kamu sama aku dulu. Dia cuman berteman seperlunya saja gitu. Eng, memangnya Mama Risma kemana?” Elea menjawab gelagapan.


“Waktu aku dibawa ke Singapura, Mama Risma diculik dan sampai sekarang tidak tahu keberadaannya. Mama Tika sudah melaporkannya ke polisi, tapi tak pernah bisa menemukannya.” ucapnya dengan raut wajah sedih.


“Apa? Ya ampun, kok bisa?” Elea terkejut mendengarnya.


“Aku juga tidak tahu. Mama Tika bilang kemungkinan Mama Risma mengetahui orang yang menabrak ku dulu, makanya mereka menculik Mama Risma.”


“Jadi. Tante Risma sudah tidak bersama Derald lagi. Baguslah, dengan begitu dia tidak akan memberitahukan tentang Zilya. Jadi Derald hanya akan mengingat aku sebagai satu- satunya sahabat yang dekat dengannya,” guman Elea dalam hati.


“Hei, kenapa kamu malah melamun?” Andra menepuk lengan Elea.


“Ah, iy iya kenapa?” Elea terperanjat.


“Terus bagaimana saja kita di sekolah dulu?” Andra melanjutkan sesi wawancaranya.


“Kita sangat dekat dan akrab, kemana- mana selalu berdua. Bahkan saat pulang dan menunggu jemputan pun kita selalu berdua. Hingga kecelakaan itu terjadi.” Elea menundukan kepalanya.


“Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi?” tanya Andra penasaran.


“Saat itu tante Risma datang menjemput mu. Kamu berlari menyebrang tanpa melihat laju kendaraan. Dan saat ada mobil yang hendak menabrak mu, aku berlari menarik tanganmu untuk menyelamatkan mu dan kita sama- sama tertabrak mobil.” Elea menjelaskan kronologinya.


“Jadi, tangan itu … adalah tangan mu?” tanya Andra memastikan.


“Iy iya, memangnya tangan siapa lagi?” Elea kembali menjawab dengan gelagapan.


“Jadi saat itu kaulah yang menyelamatkan ku? Sehingga aku masih bisa hidup sampai sekarang?” ucap Andra.

__ADS_1


“Iy iya ….” Elea mengangguk.


“Jadi dialah orangnya … apa dia juga yang selama ini selalu datang dalam mimpi ku?” Andra bertanya- tanya dalam hatinya.


“Aduh, semoga dia tidak mengingat saat kecelakaan itu terjadi,” harap Elea dalam hatinya.


Keduanya pun seolah terhanyut dalam lamunan masing- masing. Elea ternyata menggunakan cara licik demi untuk bisa dekat dengan Andra. Ia tak berniat mengatakan hal yang sebenarnya, jika dulu Zilya lah yang sangat dekat dengan Andra. Bahkan Elea sering cemburu dengan kedekatan keduanya.


“Maafkan aku Andra, aku hanya ingin menjadikan diriku satu- satunya yang ada di hati mu. Aku tak ingin Zilya mengambil hati mu lagi seperti dulu saat kita masih SD, dan kau malah lebih dekat dengannya.Toh dia juga sudah tidak tinggal di sini dan tak tahu ada dimana,” gumamnya dalam hati sembari memandangi wajah pria yang sedang melamun itu.


“Maaf Mas, Mbak … ini pesanannya,” ucap salah seorang pelayan yang membawakan makanan serta minuman pesanan Andra dan Elea. Dan hal itu mampu membuat keduanya membuyarkan lamunannya.


“Terimaksih ….” Ucap Andra.


Ia dan Elea pun memakan makan siang mereka tanpa bicara sepatah kata pun. Begitu pula saat di perjalanan menuju kampus, mereka tak membicarakan apa pun lagi. Nampaknya Andra beranggapan jika Elea adalah orang yang selama ini dicarinya.


Namun ia tak langsung percaya begitu saja. “Aku harus mencari anak tetangga Mama Risma dulu untuk mengetahui segalanya saat aku kecil dulu,” gumamnya dalam hati.


**


Keesokan harinya Andra tak ada jadwal kuliah. Ia berniat mengunjungi rumah Risma, ibu asuhnya untuk mencari informasi dari teman sekolahnya dulu.


“Inka sudah berangkat duluan. Dia ada meeting di luar, jadi tadi cuman bawa roti sandwich sama susu kotak saja untuk sarapan di jalan.”


“Oh ….” Andra lalu mengambil roti yang diolesi selai coklat.


“Andra … kamu mau kemana pagi- pagi gini kok sudah rapi? Bukannya hari ini gak ada jadwal kuliah?” tanya Kartika yang memperhatikan penampilan Andra dengan terheran- heran. Karena biasanya ia lebih suka tinggal di rumah jika sedang tidak ada jadwal kuliah saat di Amerika juga.


“Aku mau ke rumah Mama Risma,” ucapnya menabur lembaran kacang almond pada roti nya lalu dimakan.


“Apa? Ngapain kamu ke sana?” tanya Kartika lagi. Kini ia terkejut mendengar rumah kakaknya yang menjadi tempat tujuan Andra.


“Aku akan menemui teman sekolah ku dulu yang tinggal di sebelah rumah mama Risma.”


“Jangan, Andra... Akan sangat berbahaya jika kamu pergi kesana. Mama takut jika orang ang menculik Risma masih mengawasi rumah itu … Mama gak mau kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu.” Kartika mencegah Andra karena mengkhawatirkan nya.


“Tapi Ma … aku butuh informasi tentang masa lalu ku itu. Dengan begitu aku akan menemukan anak gadis yang selalu datang dalam mimpiku dan menyelamatkan ku saat kecelakaan itu terjadi.” Andra kekeuh ingin pergi kesana.

__ADS_1


“Elea kan teman sekolah mu, dia pasti memberitahu mu tentang masa lalu kalian, kan?” Kartika nampaknya menjadikan Ekea sebagai alat agar Andra melupakan gadis yang dicarinya.


“Iya, tapi aku butuh informasi lebih banyak lagi, Ma.”


“Memangnya kemarin dia bilang apa aja sama kamu?” tanya Kartika penasaran.


“Dia bilang kalau dulu aku hanya bersahabat dengannya, karena anak- anak yang lain suka mengerjai ku. Dia juga bilang saat kecelakaan itu dia mencoba menarik tangan ku, tapi malah kami tertabrak." Andra mengatakan informasi yang didapatnya dari Elea.


“Hah? Berarti besar kemunginan kalau gadis yang berada di dalam mimpi mu itu adalah Elea … bukan kah kamu pernah bilang jika anak itu pernah menyelamatkan mu dan hanya itu yang kamu ingat?” Kartika menduga- duga dan menyimpulkan sendiri.


“Tapi mama bilang kalau aku juga punya teman yang bertetangaan dengan rumah Mama Risma tempat aku tinggal dulu. Jadi aku akan menemuinya untuk menanyakan informasi lainnya, agar aku bisa menemukan gadis itu.” Andra nampaknya sulit goyah, jika sudah berkeinginan maka siapa pun tak akan bisa menghalanginya.


Kartika mendengus kesal. “Ya ampun Andra … Mama kan sudah sering bilang, kalau dia itu hanya ada dalam mimpi mu saja bukan dalam dunia nyata … Sudahlah, lebih baik kamu dengan Elea saja yang benar- benar terpampang nyata di hadapan mu. Lupakan saja gadis yang ada dalam mimpi mu itu ….” Kartika menegaskan.


“Enggak, Ma … aku harus tetap menemukannya. Aku merasa kalau dia adalah orang yang kucintai sejak kecil.” Andra tetap kekeuh dengan pendiriannya.


“Tapi kan tadi kamu bilang Elea satu- satunya sahabat mu, berarti memang di gadis itu. Dan itu artinya kamu sudah menemukan gadis yang selama ini kamu cari yang selalu datang dalam mimpi mu itu, Andra.... ” Kartika semakin memperjelas kesimpulan yang ia dapat dari cerita Andra.


Andra terdiam mendengar ucapan Kartika yang memang ada benarnya. Ia pun ingin menyimpulkan seperti itu, namun entah mengapa hatinya seolah menolak mengakui hal itu.


“Mama ke kantor dulu, sebaiknya kamu pikirkan lagi apa yang tadi mama katakan. Dan jika kamu akan ke rumah itu, kamu jangan pergi sendirian. Mama akan suruh dua bodyguard menemani mu, Mama takut penculik Risma juga akan menculik mu juga.”


“Ma, aku ini bukan anak kecil lagi yang bisa ditakuti dengan hal semacam itu.” Andra pun menola pengawalan yang akan diberikan oelh Kartika.


“Mama bukan menakut- nakuti, mama hanya tidak ingin kamu menghilang seperti Risma yang diculik dan tak pernah ditemukan sampai detik ini. Cukup mama kehilangan suami dan kakak mama … Mama tidak mau kehilangan anak- anak mama.”


“Tapi, Ma ____”


“Gak ada tapi- tapian … kalau kamu mau kesana kamu harus menuruti perkataan Mama agar kamu pergi ke sana di kawal.” Kartika lalu mengambil ponsel dari dalm tas nya, dan ia menghubungi pengawal yang akan ditugaskan menemani Andra.


“Bi Minah yang menyimpan kunci rumah itu juga akan menemani mu. Dia kan dulu tinggal disana pasti banyak mengenal tetangga di sana. Lagi pula kamu kan semenjak tinggal di luar negeri tidak pernah ke rumah itu lagi.”


“Iya Ma … terserah mama saja,” ucap Andrs pasrah.


-


-

__ADS_1


Bersambung ….


-


__ADS_2