
Yessi yang merasa aneh melihat tingkah Elea, segera menghampiri putrinya itu yang sudah berada di dalam kamarnya.
“Elea, apa tadi mama tidak salah dengar?” tanya Yessi memastikan.
“Maksud mama?” Elea malah balik bertanya.
“Tadi kamu bilang kalau Mama jangan menyebut nama Zilya lagi. Memangnya kenapa? Bukankah selama ini kamu ingin sekali bertemu dengannya lagi. Bahkan kamu meminta Mama memyuruh orang untuk mencari keberadaan Zilya.” Yessi mengingatkan hal yang Alesha minta padanya sejak kepergian Zilya tiga belas tahun yang lalu.
“Kalau begitu, sekarang mama suruh orang mama menghentikan pencariannya. Aku tidak mau menemukan Zilya, bahkan kalau bisa cegah Zilya agar tidak datang ke kota ini lagi,” ucap Elea dengan angkuh dan penuh penekanan.
“Apa?” Yessi sangat terkejut mendengar perkataan Elea yang berbanding terbalik dengan yang selama ini sering ia katakan. Bahkan Elea sering memimpikan Zilya saking merindukannya dan merasa bersalah, karena ia belum sempat meminta maaf pada Zilya atas kesalahannya dulu.
“Elea … ada apa ini sebenarnya? Kenapa kamu jadi berubah seperti in,nak?” Yessi yang merasa heran dan aneh kembali bertanya.
“Ma, aku gak mau Zilya menggangguu kebahagiaan ku. Aku gak mau kehilangan Derald lagi!” Elea pun mengungkapkan alasannya.
“Apa? Derald? Maksud kamu apa? Mama semakin tidak mengerti.” Yessi terus bertanya karena semakin bingung dengan semua perkataan putrinya.
Elea menghela nafas panjang untuk menetralkan kemarahannya. “Mama, aku sudah bertemu kembali dengan Derald… Mama tahu kan betapa aku sangat merindukannya? Aku mencintainya sejak aku masih kecil, Ma ….” ucap Elea mengutarakan apa yang dirasakannya saat inii. Takut kehilangan Derald lagi.
“Apa? Derald sudah kembali? Lalu dimana dia?” Yessi kembali dikejutkan dengan ucapan Elea.
“Barusan aku sudah menemuinya di rumah Tante Kartika,” ucap Elea memberitahukan Yessi.
“Bukannya kamu tadi bilang mau menjenguk Andra kesana?” Yessi semakin bingung dan tak mengerti dibuatnya.
“Iya, Ma … Andra dan Derald ternyata adalah orang yang sama ….” Elea pun mengungkapkan kebenaran tentang Andra yang dikenal Yessi sebagai anak dari Kartika, rekan bisnis Razan.
__ADS_1
“Apa?” Yessi kembali terkejut untuk yang kesekian kalinya.
“Iya, Andra adalah Derald yang selama ini aku tunggu dan ku rindukan kehadirannya, Ma ….”
“Tapi … bagaimana biasa? Andra itu kan anaknya Bu Kartika, sementara Derald anaknya Bu Risma ….” Yessi mengenal Risma karena mereka sering mengantar jemput anak- anak mereka ke sekolah. Bahkan tak jarang mereka berdua sering menunggu bersama di sekolah atau di kafe seberang sekolah tempat Elea dan Andra mengenyang pendidikan dulu.
“Andra memang anaknya Bu Kartika, kalau Bu Risma hanyalah ibu asuhnya selama Bu Kartika bekerja di luar negeri dulu. Dan setelah kecelakaan itu Andra hilang ingatan, Bu Risma pun menghilang diculik orang.” Elea menjelaskan sesuai apa yang dijelaskan Kartika padanya. Awalnya ia pun terkejut, dan kini berita itu pun mengejutkan Yessi.
“Apa ? Jadi Derald benar- benar sudah kembali?” ucap Yessi yang nampak bahagia mendengarnya, karena akhirnya orang yang selalu dinantikan oleh putrinya, salah satunya sudah kembali. Dan tinggal seorang lagi, yakni Zilya.
“Iya, Ma … Tapi dia mengalami amnesia sehingga tidak bisa mengingat apa pun hingga kecelakan itu terjadi. Dan sekarang yang dia tahu, akulah sahabatnya satu- satunya. Jadi aku minta sama Mama agar tidak pernah membahas Zilya pada Andra atau pun Tante Tika.” Elea kembali meminta Yessi agar tak mengatakan apa pun mengenai Zilya.
“Tapi kenapa, Elea?” Yessi menanyakan alasan Elea yang terdengar aneh baginya.
“Andrabitu selalu bermimpi bertemu dengan seorang gadis yang ia sendiri tidak tahu wajah dan namanya. Tapi tadi ia mengigau menyebut nama Zilya … Aku gak rela Ma, kalau Andra sampai jatuh cinta pada Zilya. Dia cuma boleh cinta sama aku, Ma … sama seperti aku yang selalu mencintainya sejak masih kecil,” ucap Elea panjang lebar.
Yessi tertegun, hatinya merasa terenyuh mendengar ucapan Elea yang terdegar begitu terobsesi pada Andra dan tak ingin ada wanita lain yang mendekati Andra, termasuk Zilya yang merupakan sahabatnya.
Elea menggenggam kedua tangan Yessi. “Ma, aku mohon … tolong jangan biarkan Zilya merusak kebahagiaanku … Mama tahu betul jika aku sangat mengharapkan Derald kembali dan sangat mencintainya. Aku tidak mau kehadiran Zilya akan merusak hubungan yang susah payah aku jalin dengan Derald. Aku mohon, Ma …” lirih Elea memohon.
Yessi menghela nafas panjang. Ia menatap sendu pada Elea yang begitu ketakutan jika Zilya akan merusak kebahagiaanya. “Baiklah, Mama akan meminta mereka untuk menghentikan pencarian Zilya.” Yessi pun tak kuasa menolak permintaan putri bungsunya itu.
“Makasih, Ma … aku sayang Mama.” Elea memeluk Yessi sembari tersenyum bahagia.
“Mama juga sangat menyayangi mu ….” Ucap Yessi sembari mengusap- usap punggung Elea.
.
__ADS_1
“Mama ingat ya jangan menyebut nama Zilya lagi,” ucap Elea mengingatkan Yessi, ia lalu melepaskan pelukannya.
“Iya ….” Yessi menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia setuju dengan permintaan Elea.
“Makasih, Ma … Em, aku mandi dulu ya, Ma …”
“Iya, sana kamu mandi! Udah lengket gitu badan mu ….”
Elea beranjak pergi ke kamar mandi setelah ia membawa handuk kimono nya. Sementara Yessi duduk di atas tempat tidur Elea.
“Kenapa perasaanku seperti ini? Kenapa bisa sesedih ini? Aku juga sangat merindukan Zilya, tapi aku tak bisa menolak keinginan Alesha … kenapa ini? Ada apa? Kenapa aku seperti memiliki ikatan batin dengan Zilya?” gumamnya dalam hati.
Yessi seolah merasa berat jika harus berhenti mencari Zilya. Ia begitu menyayangi anak itu dan sangat merindukannya. Diam- diam ia sering memandangi foto Zilya kecil yang dulu selalu bermain bersama Elea.
Ia sendiri tak mengerti dengan perasaannya pada Zilya seperti perasaan seorang ibu terhadap anak kandungnya sendiri. Mungkin karena ia sudah menganggap Zilya yang tak punya orang tua sebagai anaknya sendiri.
Ia termenung dengan pikiran yang bergejolak serta perasaan yang aneh dalam hatinya. Ia nampak kebingungan harus berbuat apa. Di satu sisi ingin bertemu dengan Zilya setelah sekian lama terpisah, di sisi lain ia tak ingin jika kehadiran Zilya akan merusah kebahagiaan Elea yang jelas-jelas adalah putri kandungnya.
“Apa sebaiknya aku tetap mencari Zilya tanpa sepengetahuan Elea… Aku sangat merindukan anak itu dan ingin bertemu dengannya. Dia pasti sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan ceria seperti biasanya … Zilya … dimana kamu nak ….?” Lirihnya dalam hati dengan raut wajah sedih.
-
-
-Bersambung …
-
__ADS_1
-
Happy Reading …