
Andra terus mengingat-ingat nama yang disebutkan oleh satpam tadi.
“Kenapa aku begitu tidak asing dengan nama Zilya … siapa dia? Siapa Zilya itu? Argh … kepala ku rasanya pusing.” Andra memijat kepalanya yang terasa sakit. Dan itu biasanya terjadi saat ia berusaha keras megingat suatu hal.
Andra menghela nafas panjak beberapa kali untuk menenangkan pikirannya. Ia lalu berjalan menuju tempat ia memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah Yessi yang terbilang cukup luas dan muat hingga bisa menampung enam sampai tujuh mobil.
Saat mobilnya hendak keluar melewati pintu gerbang, orang yang sudah menemui Yessi baru saja pergi. Andra menurunkan kaca jendela mobilnya dan berpamitan pada Yessi. Ia pun melajukan mobilnya untuk pulang.
Sesampainya di rumah ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi Elea.
“Hallo, Andra ….” Sapa Elea saat mengangkat telpon dari Andra.
“Hallo … Elea kamu lagi dimana?” tanya Andra pura- pura tidak tahu.
“Aku lagi di rumah Opa … Ada apa Andra?” Elea menanyakan tujuan Andra menghubunginya.
“Em, apa malam ini kamu ada acara?” tanya Andra dengan ragu- ragu, karena belum apa- a sudah nerveous duluan.
“Enggak ada … kenapa Andra?” tanya Elea.
“Em, aku ingin mengajak mu makan malam.” Andra langsung to the poin.
“Makan malam?” tanya Elea memstikan.
“Iya … itu pun kalau kamu lagi gak sibuk.” Andra merasa sungkan.
“Iy aku mau…” Elea terdengar bersemangat.
“Kalau begitu aku akan menjemput mu pukul tujuh malam ya nanti.”
“Oke … udah dulu ya, nanti disambung lagi.” Elea memgakhiri percakapan.
“Baiklah … sampai jumpa nanti malam.”
“Siip.” elea menutup sbungan telponnnya.
Andra nampak masih merasa gugup entah kecewa harus mengakhiri pembicaraan mereka. Tapi ia juga tak ingin menganggu acara Elea dan keluarganya.
Ia kini bisa benafas lega, karena rencana untuk menyatakan cinta pada Elea akan berjalan mulus. Ia lalu menghubungi Ferdi untuk menanyakan persiapan di tempat yang sudah di pesannya. Mereka pun melakukan panggilan video call. Dan ternyata persiapannya sudah hampir selesai.
__ADS_1
Andra merasa senang karena dekorasinya sudah sesuai keinginannya. Ferdi pun mengatakan nanti malam ada pengatur acaranya juga.
“Aku sudah tidak sabar ingin segera malam ….” ucap Andra yang terlihat begitu semangat saat melihat foto- foto yang sudah didkirikan oleh Ferdi di layar ponselnya.
Ia memberingkan tuuhnya di atas tempat tidur sembari membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam. Ia senyam- senyum sendiri seperti orang gila. Namun senyumnya luntur saat ia kembali teringat dengan nama Zilya.
“Siapa itu Zilya? Kenapa nama itu kembali muncul di benakku?” Andra kembali bertanya- tanya, hingga tak terasa ia pun tertidur. Sepertinya kepalanya terlalu lelah mencoba mengingat begitu kerasnya.
**
Malam pun tiba, setelah shalat magrib Andra tengah bersiap- siap. Ia memakai celana jeans denga kaos putih yang delengkapi blazer biru dongker yang membuatnya terlihat tampan dan maskulin. Ia tak hentinya tersenyum dalam pantulan cermin. Entah membayangkan apa yang akan terjadi, entah ia mengagumi dirinya sendiri.
Ia segera berangkat untuk menjemput Elea. Sepanjang perjalanan Andra tak hentinya mengulas senyum, karena akhirnya ia memiliki keberanian untuk menyatakan cintanya pada Elea. Sehingga hubungan keduanya menjadi jelas dan resmi, yakni sebagai sepasang kekasih.
Tak lama mobil yang dikendarai Andra sampai di depan pintu gerbang rumah Elea. Ia menurunkan kaca mobilnya agar satpam isa melihat wajahnya dengan jelas.
“Selamat malam Mas Andra.” sapa satpam penjaga pintu gerbang kediaman Elea.
“Malam, Pak … Bisa tolong buka kan pintu gerbangnya?” ucap Andra.
“Maaf Mas … di dalam sedang tidak ada orang ….”
“Semuanya sudah berangkat ke puncak sejak tadi sore.” Sang satpam memberitahukan.
“Apa ke puncak?” tanya Andra yang terkejut memastikan.
“Iya, Mas ….” Angguk pak satpam.
“Apa Elea ikut?” tanya nya lagi.
“Iya Mas, Non Elea juga ikut serta. Bu Yessi bilang semua keluarga Pak Razan pergi ke puncak untuk liburan bersama.”
“Kenapa Elea tidak mengabari ku kalau dia pergi ke puncak?” gumamnya dalam hati.
“Kalau begitu terimakasih ya Pak … saya pamit pulang dulu.”
“Iya Mas ….”
Perasaan bahagia yang sejak tadi pagi dirasakannya pun sirna seketika. Wanita yang akan dijadikan sebagai kekasih hatinya secara resmi, justru malah tidak jadi hadir di acara yang ia sediakan khusus untuknya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Andra terus bertanya- tanya dalam hatinya. Ia merasa sangat kecewa pada Elea yang pergi begitu saja, padahal ia sudah sudah janjian mala mini akan makan malam bersama. Itu membuatnya merasa telah dipermainkan.
“Ada apa dengan Elea? Tak biasanya ia bersikap seperti ini? Bahkan ia tak mengabari ku sama sekali … Tahu gitu kan aku bisa membatalkan acaranya dan memberitahukan pihak restoran itu,” ucap Andra mendengus kesal.
Ia lalu terpikir akan sesuatu yang disinyalir menjadi alasan perubahan sikap Elea yang mendadak. “Apa mungkin dia kesal pada ku karena tak kunjung meresmikan hubungan kami?”
“Argh … aku memang bodoh ….” Andra mengusap kasar rambutnya.
“Aaaaakkkk …..” seseorang di depan sana berteriak.
Cekiiit ….
Andra menginjak rem mendadak saat mendengar suara teriakan seseorang yang hampir tertabrak olehnya.
“Astagfirullahaladziim …. Apa tadi aku menabrak orang?” ucapnya terkejut dan takut.
Andra terdiam mematung di dalam mobilnya dengan mata yang menatap ke depan.
Ia melihat ada beberapa orang yang berkerumun di depan mobilnya yang berhenti di tengah jalan tersebut.
Tok tok tok …
“Hei, keluar ….” Teriak seseorang yang mengetuk kaca pintu mobil Andra. Sontak itu mengejutkan Andra
“Iy iya … Pak,” ucapnya gelagapan yang disertai perasaan takut. Ia takut terjadi sesuatu dengan orang yang ditabraknya itu.
Andra menghela nafas panjang berkali- kali untuk menenangkan dirinya, lalu ia melepaskan sabuk pengamannya dan bergegas keluar dari mobilnya.
“Mas, anda harus bertangung jawab karena sudah menabrak orang.” Ucap seorang bapak- bapak yang lainnya menghampiri Andra.
“Iy iya Pak … saya akan bertanggung jawab,” ucapnya gelagapan. Ia lalu berjalan menghampiri orang yang suduah ditabraknya itu dengan melangkah perlahan.
Betapa terkejutnya ia melihat wajah orang yang tergeletak tak sadarkan diri di jalan itu. Karena dari sorot lampu penerangan di jalan dan dari mobilnya ia bisa melihat jelas wajah itu.
”Queen ....” ucapnya dengan mata terbelak karena terkejut.
-
-
__ADS_1
Bersambung …