
"Zilya ….” ucap Lisda dan nenek serentak.
“Kamu … sejak kapan kamu di situ? Nenek kan sering bilang sama kita kalau masuk ke kamar atau rumah orang harus ketik pintu dulu, dan saat masuk harus ucapkan salam.” Lisda mengingatkan Zilya.
“Aku tadi mau simpan piring kotor ke dapur, terus mendengar nenek bilang kalau kita akan pindah. Jadi kita mau pindah kemana, nek?” tanya Zilya.
“Oh … itu kami sedang membicarakan kak Lisda yang akan pindah bekerja, bukan kita yang pindah.” Nenek menyangkal.
“Oh ….” Zilya lalu pergi begitu saja dengan membawa piring serta gelas di tangannya.
Nenek dan Lisda bernafas lega karena Zilya tidak banyak bertanya lagi.
“Nenek, aku keluar dulu ya, mau mandi,” ucap Lisda berpamitan keluar.
**
Dua minggu telah berlalu, Zilya pun di sekolahnya sudah mulai ujian mulai senin ini. Ia mengikuti permintaan neneknya agar jangan bermain diluar sekioah dengan Elea agar ia masih diperbolehkan berteman dengan Elea.
Sementara nenek dan Lisda tengah mempersiapkan kepindahan mereka tanpa sepengetahuan Zilya. Keduanya memasukan barang- barang bawaan mereka ke dalam dus besar, kecuali pakaian dan televisi.
“Nek, bagaimana kita membawa semua barang ini ke kampung ya?” tanya Lisda saat melihat beberapa barang yang sudah dimasukan ke dalam kardus cukup besar.
“Sebaiknya kita membawa pakaian dan barang- barang kecil saja. Sedangkan untuk lemari, kursi, ranjang biarkan tetap disini. Lagi pula kan ini adalah barang- barang milik mendiang orang tua mu.” ucap nenek.
“Tapi kan rumah ini akan dikontrakan, berarti semua barangnya harus kita bawa.” ucap Lisda.
“Nanti kalau kamu mau kembali ke sini pasti akan berabe, Lis.”
“Enggak apa- apa, Nek. Aku akan tinggal di kampung bersama nenek. Jika nenek tidak akan kembali kesini, maka aku juga tidak.”
“Lis, bagaimana mungkin … Kamu harus memikirkan masa depan mu juga, nanti kamu juga akan berumah tangga dan tidak akan terus bersama nenek.”
“Ya ampun nenek, umurku baru 19 tahun dan aku belum memikirkan untuk menikah. Aku pengen membahagiakan nenek dulu.”
“Nenek akan bahagia, kalau kamu juga bahagia. Bahkan melihat mu menikah dengan orang yang mencintai mu serta kau juga mencintainya, itu akan sangat membahagiakan nenek.”
“Ahhh, nenek ….” Lisda nampak malu membahas soal perikahan, karena ia belum memiliki pasangan dan belum terpikir untuk menikah.
“Jadi bagaimana?” tanya nenek.
“Bagaimana apanya, nek?” Lisda malah balik bertanya.
“Barang mana saja yang akan dibawa?”Nenek memperjelas pertanyaannya.
__ADS_1
“Oh, semua barang- barang disini tetap akan dibawa ke kampung, nek. Ah iya, aku punya ide … bagaimana kalau kita sewa truk untuk mengantarkkan kita dan barang- barang kita ke kampung.”
“Jangan Lis … pasti biaya nya mahal.” Nenek semakin tidak enak karena terus merepotkan Lisda.
“Nenek tenang saja, aku masih punya uang tabungan kok.”
“Ya ampun Lis, jangan memakai uang tabungan mu. Pakai saja uang tabungan nenek ya ….”
“Gak apa- pa, Nek. Lagi pula aku sudah menemukan orang yang akan mengontrak rumah ini.”
“Oh ya? siapa itu?” tanya nenek penasaran.
“Anak dan menantunya Pak RT yang baru menikah seminggu yang lalu. Katanya mereka butuh tempat tingal sekitaran sini. Karena tempat kerja keduanya tak jauh dari sini.”
“Oh iya … alhamdulillah kalau begitu.”
“Iya, Alhamdulillah, Nek … dan mereka akan membayar untuk satu tahun ke depan. Jadi kita bisa menggunakan uang itu untuk modal usaha di kampung nanti, Nek.”
”Terimakasih, Lisda … Nenek minta maaf karena sudah banyak merepotkan mu.” Nenek merasa terharu.
“Merepotkan apa nenek? Aku yang selama tujuh tahun ini sering merepotkan nenek. Nenek sampai bekerja keras untuk menghidupi aku dan Zilya. Kini saatnya aku membalas semua kebaikan nenek.”
“Tapi, bukannya kamu ingin mengumpulkan uang untuk kuliah?” tanya nenek.
“Terimakasih, Lis … kamu memang anak yang sangat baik ….” Nenek mengusap bahu Lisda sembari tersenyum haru.
“Sama- sama, Nek ….” ucapnya tersenyum bahagia, karena dia merasa sangat disayangi oleh wanita yang sudah merawatnya selama tujuh tahun ini, semenjak kematian orang tuanya.
**
Sementara di sekolah, Elea dan Zilya yang baru saja selesai melaksanakan ujian di hari pertama tengah bersiap untuk pulang.
“Aduh, ternyata ujian itu seperti ini ya, tidak boleh bertanya pada teman apalagi mencari jawaban di buku pelajaran,” keluh Elea saat membereskan tasnya di dalam kelas.
“Iya benar, tapi tadi kan ibu guru membantu membacakan soalnya, jadi kita tinggal mengisinya,” ucap Zilya.
“Iya, tapi susah tahu ….” Elea pun menggendong tasnya, lalu beranjak pergi meninggalkan kelasnya bersama Zilya.
“Hahahaha, sama aku juga.” Zilya malah menertawakan kesulitannya sendiri.
“Ih, kirain kamu ketawa karena merasa mudah ….” Elea mencebikkan bibirnya pada Zilya untuk mengejeknya. Keduanya pun berjalan meuju pintu gerbang.
“Elea ….” Seru seseorang melambaikan tangannya.
__ADS_1
“Mama ….” Teriak Elea lalu berlari menghampiri Yessi.
“Bagaimana ujiannya? Lancar?” tanya Yessi.
“Lancar dong Ma, kan yang baca soalnya ibu guru, aku yang ngisinya,” ucap Elea.
“Hehehe … kalian kan baru kelas satu, jadi belum begitu lancar membaca. Pastinya akan dibantu oleh ibu guru membacakan saolnya.” Yessi terkekeh.
“Iya, Mama ….” Elea mengarahkan pandangannya pada Zilya yang sudah berada di sebelahnya. “Zilya, kita main dulu yuk ke mall sama mama. Kita main terus beli pizza lagi, yuk.” ajaknya.
“Eng, aku gak bisa Elea, " Zilya terpaksa menolak ajakan Elea, karena ia sudah berjanji pada neneknya, walau sebenarnya ia ingin sekali pergi bermain dengan Elea.
“Loh kenapa? Sudah lama kita gak main?” Elea nampak kecewa dengan penolakan Zilya.
“Kan kita besok masih ujian, jadi kita harus belajar lagi dan jangan banyak bermain dulu, supaya kita mendapat nilai yang bagus.” Zilya mengemukakan alasan yang diberikan oleh neneknya.
“Yah, padahal akau ingin sekali pergi main sama kamu.” Elea merajuk.
“Zilya benar sayang, kamu jga kan harus belajar. Biar mudah mengisi soal ujiannya … Nanti setelah kalian selesai ujain, kan isa bermain sepuas kalian.” Yessi nampaknya mendukung pendapat Zilya.
“Iya, Ma ….” Ucap Elea sedih.
“Elea, aku pergi dulu ya. Itu kaka sudah jemput aku. Dadah Elea, assalamu’alaikum tante.” ucapnya lalu mencium tangan Yessi.
“Wa’alaikumsalam ….” Jawab Elea dan Yessi.
“Kamu jangan sedih gitu dong, sayang … Nanti kan setelah selesai ujian kalian bisa main lagi seperti biasa." Yessi membujuk Elea yang nampak sedih.
“Tapi, sudah beberapa hari ini Zilya selalu menolak kalau aku ajak main … Apa dia tidak mau berteman dengan ku lagi, Ma?” Elea nampak semakin sedih.
“Eh, kamu jangan berpikiran seperti itu sayang. Dia itu kan sahabat mu, dia juga tadi sudah menjelaskan alasannya tidak bisa bermain. Sudah jangan sedih ya … Bagaimana kalau kita beli es krim dulu sebelum pulang,” bujuk Yessi.
Elea mengangguk sembari tersenyum karena akan dibelikan es krim, walau sebenarnya hatinya masih merasa sedih dan kecewa.
“Zilya kenapa ya? ada apa dengan nya?” gumamnya dalam hati saat ia tengah dalam perjalanan di dalam mobil.
-
-
Bersambung …
-
__ADS_1
- Happy Rading ….