Gadisku Yang Hilang

Gadisku Yang Hilang
Rencana Pindah


__ADS_3

Neneknya Zilya seharian terus memikirkan kesalamatan Zilya. Entah menyelamatkannya dari apa dan dari siapa, hanya beliau lah yang tahu.


Saat beliau melihat foto mendiang orang tuanya yang terpampang di dinding kamar, tiba- tiba beliau teringat pada kampung halamannya.


“Ah iya, kenapa aku baru terpikir kesana? sepertinya jika aku membawa Zilya ke kampung akan lebih bisa melindunginya dari kejaran orang- orang jahat yang serakah itu.” gumamnya berdialog sendiri.


“Sebaiknya aku menghubungi adik sepupu ku di sana,” ucapnya lagi.


Nenek pun mengambil ponselnya lalu mencari nomor kontak untuk menghubungi salah seorang kerabat di kampung halamannya. Beliau menanyakan kondisi rumah mendiang orang tuanya yang sebelumnya sudah dibeli olehnya dan diperbaiki.


Namun beberapa tahun ini sudah dilontrakan. Dan beruntung kai ini sang pengontrak tidak memperpanjang kontrakannya, sehingga rumah itu kini kosong.


Seusai itu, nenek pun kembali ke kamar Zilya untuk menemuinya. Ternyata disana juga sedang ada Lisda yang sedang membujuk Zilya untuk makan.


“Zilya, ayo dong makan dulu … dari siang kamu belum makan.” Lisda kesulitan membujuk Zilya.


“Kalau nenek melarang ku berteman dengan Elea lagi, aku gak akan mau makan!” Zilya ternyata memprotes permintaan neneknya dengan mogok makan.


“Zilya, cantiknya nenek … kamu jangan seperti itu ya. Kak Lisda kan sudah menyiapkan makan untuk Zilya. Kalau tidak dimakan nanti jadinya mubazir.” Nenek pun ikut membujuk.


“Gak mau!!” bentak Zilya.


“Jangan begitu, nak … di luaran sana masih banyak oang yang tak bisa mendapatkan makanan, sampai kelaparan. Kita beruntung masih diberi rezeki oleh Allah. Jadi jangan suka menyia- nyia kan makanan ya, Nak … Dan lagi, kalau kamu tidak mau makan nanti kamu bisa sakit.” Nenek memberi pemahaman pada Zilya.


Zilya terdiam sejenak dengan menundukkan kepalanya. Raut wajahnya masih menampakan rasa sedih, kesal dan marah. Ia menghela nafas panjang beberapa kali.


”Aku akan makan … tapi nenek harus memperbolehkan aku tetap berteman dengan Elea... ” ucapnya memberikan syarat.


“Ya ampun … anak ini benar- benar begitu dekat dengan anaknya Bu Yessi. Akan sulit memisahkannya. Mungkin untuk sementara, lebih baik aku membiarkan mereka berteman, supaya Zilya tidak sedih lagi,” gumamnya dalam hati.


Nenek menghela nafas sejenak. “Baiklah, kamu tetap boleh berteman dengan Alesha. Tapi, jangan bepergian kemana- mana lagi dengannya ya, cukup bertemu di sekolah saja.” nenek pun memberikan syarat.


“Memangnya kenapa?” tanya Zilya yang nampak masih kesal.


“Zilya sayang, kamu kan sebentar lagi ujian semester, jadi harus rajin belajar. Kalau main terus nanti saat ujian kamu gak bisa mengisi soal dengan benar,ya,” ucap Nenek memberi alasan.


“Ujian? Ujian itu apa?” tanya Zilya heran dan bingung.

__ADS_1


“Ujian itu, nanti kamu dikasih lembar tugas oleh Bu Guru, terus kamu mengisinya tanpa melihat buku catatan atau buku pelajaran lainnya. Dan kamu uga tidak boleh bekerja sama dengan teman mu, alias jangan menyontek jawaban teman mu.” Lisda memberi penjelasan tentang ujian sekolah yang minggu depan akan dilaksanakan di sekolah dasar.


“Oh, yang kata ibu guru itu ya.” Zilya pun teringat perkataan gurunya yang mengatakan jia sebentar lagi di sekilahnya akan melaksanakan ujian semester ganjil.


“Jadi, Zilya ngerti kan? Makanya Zilya harus rajin belajar. Nanti diajarin sama kakak,” ucap nenek.


“Iya …” Zilya pun mengangguk.


“Nah, kalau nilai- nilai kamu bagus. Nanti nenek akan mengajak kamu dan kakak mu berlibur ke suatu tempat.” Nenek akhirnya mendapat ide untuk mengajak Zilya pergi ke kampung halamannya tanpa harus memaksa dan membuatnya sedih.


“Asiikk … jadi kita akan liburan seperti yang suka Elea ceritakan … hore hore …” Zilya bersorak gembira mendengar kabar tersebut.


Nenek nampak tersenyum, karena ia tak perlu memaksa Zilya untuk pergi bersamanya nanti. Dia mengira kalau itu benar- benar liburan.


“Nenek, memangnya kita mau liburan kemana?” tanya Lisda penasaran.


“Nanti juga kamu tahu, Lis ….” Ucap nenek tersenyum. “Oh iya, gimana kamu udah dapat pekerjaan lagi?” tanya nenek mengalihkan topik.


“Belum, Nek … mending aku jualan roti saja buat bantu nenek. Lagian kan nenek harus banyak istirahat.”


“Iya, nenek ….” Zilya mengangguk tanda setuju.


“Anak pintar, cucu nenek ini.” Nenek mengusap lembut kepala Zilya. Pandangannya tertuju pada Lisda. “Ayok Lisda….” Ajaknya kemudian beranjak pergi meninggalkan kamar Zilya.


“Iya, nek.” Lisda pun mengikuti sang nenek yang daribelakangnya meninggalkan Zilya yang hendak makan.


“Nek, ada apa mengajak ku berbicara disini? Apa ada hal yang sangat penting?” tanya Lisda yang kini tengah duduk bersebelahan di ranjang neneknya.


“Lisda, sepertinya nenek akan kembali ke kampung bersama Zilya.” Nenek mengutarakan apa yang ia encanakan sebelumnya.


“Apa? Kembali ke kampung? Bukannya nenek bilang akan terus bersama ku dan menemani ku tinggal disini?” Lisda terjekut mendengarnya.


“Nenek minta maaf, Lis … kamu kan tahu sendiri semenjak nenek datang kesini bersma Zilya, nenek harus melindunginya dari orang- orang yang bermusushan dengan orang tuanya, karena mereka sangat kejam dan berbahaya.” Nenek mengemukakan alasan kepindahannya.


“Iya … tapi kan nenek juga sudah berjanji akan tinggal bersama ku disini dan menganggap kalau aku adalah cucu nenek sendiri. Kalau nenek dan Zilya pergi, aku akan tinggal dengan siapa, nek? Orang tua ku sudah tiada, tinggal nenek yang aku punya.” Ucap Lisda sedih.


“Nenek minta maaf, nenek juga ingat kalau sudah berjanji pada orang tua mu untuk selalu menjaga mu. Tapi, jika nenek terus disini, nenek takut terjadi sesuatu dengan Zilya. Kalau dibawa ke kampung Zilya akan lebih aman disana.”

__ADS_1


“Tapi, nek … nanti aku sama siapa? Apa nenek sudah tidak menyayangi ku lagi?” Lisda terus membujuk agar neneknya tidak akan pergi.


“Nenek sayang sama kamu … kamu anaknya sahabat nenek saat kami bekerja di tempat yang sama. Nenek benar- benar minta maaf, karena tidak bisa tetap tinggal disini.” Nenek teguh pada pendiriannya.


“Kalau gitu, aku akan ikut nenek pulang ke kampung halaman nenek.” Lisda malah ingin ikut.


“Tapi Lis, kalau kamu pergi bersama nenek, lalu bagaimana dengan rumah mu ini?” tanya nenek nampak bingung.


“Aku akan mengontrakan rumah ini pada orang lain. Banyak kok yang mencari kontrakan, jadi nanti biarpun aku tingal di kampung , tapi masih punya penghasilan dari rumah ini. Jadi aku bisa ikut bersama nenek, dan disana kita bisa buka usaha kan dari tabungan dan uang kontrkan rumah ini.” Lisda langsung berpikir jauh ke depan.


“Tapi, Lis … nenek tidak mau menyusahkan mu. Nenek sudah numpang yinggal disini, ditambah kamu merawat nenek yang udah mulai sakit- sakitan ini. Nenek merasa tidak enak.”


“Nenek jangan bicara seperti itu. aku sudah menganggap nenek seperti orang tua ku sendiri, aku sangat menyayangi nenek …” Lisda lalu memeluk neneknya.”Izinkan aku ikut bersama nenek …” ucapnya dengan penuh harap.


Nenek menghela nafas panjang. Ia sudah tak bisa berkata apa- apa lagi. “Baiklah, kamu boleh ikut nenek.”


“Terimakasih, nek … jadi kapan kita kan pindah?” tanya Lisda.


“Nanti pas Zilya libur sekolah, jadi tdak akan mengganggu sekolahnya dia. Dan satu lagi, kamu jangan memberi tah ilya dulu ya.”


“Baik, nek ….” Ucapnya mengangguk dalam pelukan neneknya.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat dari balik pintu, serta mendengarkan percakapan mereka.


“Kita mau pindah kemana, nenek??” tanya Zilya yangmasuk begit saja tanpa mengetuk pintu atau pun memberi salam.


Sontak itu mengejutkan Lisda dan neneknya, hingga keduanya saling melepaskan pelukan.


-


-


Bersambung ….


-


Happy reading ….

__ADS_1


__ADS_2