Gadisku Yang Hilang

Gadisku Yang Hilang
Si Sombong Yang Baik Hati


__ADS_3

Elea yang biasanya lebih suka sendiri dan tak pernah terlihat bersama teman kuliah nya, kini terlihat bersama seorang pria. Keduanya saling melempar senyuman dan membuat penghuni kampus saling menggibahkan mereka berdua, saat melihat mereka hendak menaiki tangga.


Tentunya hal itu merupakan berita yang menghebohkan di kampus.


“Hai gurls, apa gue gak salah lihat?” tanya salah satu mahasiswa yang bernama Keisya pada kedua teman satu genk nya.


“Iya, si sombong itu ternyata kepincut sama mahasiswa pindahan dari Amerika itu,”ucap salah satu temannya yang sama- sama terkejut meliha hal itu


“Selama ini cowok- cowok yang mendekatinya selalu ditolak bahkan tak pernah dilirik sama sekali olehnya. Kok bisa ya si anak baru itu menakulkan si sombong?” ucap Keisya lagi degan segala kekepoannya.


“Hebat juga tuh mahasiswa baru.” ucap Nina salah satu temannya.


“Mungkin dia pengen cowok yang selevel dengan keluarganya kali.” Keisha nampaknya belum puas menjelek- jelekan Elea.


“Memangnya si Andre, Petra, Frans, Diego kurang tajir apalagi coba.” Santi sampai hafal pria tajir yang berusaha mendekati Elea, namun gagal total.


“Iya, kayaknya dia tidak melihat dari kekayaan deh.” Nina mengemukakan pendapatnya sendiri.


“Heh, kalian lagi gibahin siapa? Pagi- pagi udah main gibahin orang aja.” ucap Tanti yang merasa jengah dengan trio bang gossip itu.


“Eh, Tanti … biasa aja dong lo. Gak usah sewot gitu kali.” Keisya seolah menantang Tanti yang tomboi itu.


“Ember … lo gak usah deh so so belain si sombong tuh. Lo juga gak pernah dianggap temannya kan, meski lo udah berusaha sekuat apa pun mendekatinya supaya mau temenan sama lo.” Kaisya malah menyindir Tanti .


“Gak usah so tahu deh lo ….” Tanti mulai emosi.


“Emang gue tahu kali, lo suka so akrab sama si sombong itu. Tapi lo gak pernah dihiraukan sama si sombong itu kan? Kasihan banget sih lo.” Keisya menertawakan nasib buruknya Tanti.


“Gue heran deh, kenapa lo masih aja suka ngebelain dia. Otak lo di taro dimana?” Nina ikut menyerang.


“Cukup … lo semua gak usah jelek- jelekin Elea... Meski sering bersikap sombong dan acuh, dia itu sebenanya orang yang sangat baik, tapi dia tak pernah memamerkan kebaikannya. Dia hanya menghindari berteman akrab dengan siapa pun. Apa salahnya? Toh semua orang memiliki kebebasan akan berteman atau tidak berteman dengan orang lain.” Cerocos Tanti merasa sangat kesal.


“Jadi gue ingetin sama kalian, jangan suka menilai orang hanya dari luarnya saja. Dan lo Keisya, dia mundur dari pertukaran pelajar keluar negeri karena dia tahu lo sangat menginginkannya, makanya dia merekomedasikan lo. Seharusnya lo berterimakasih sama Elea,” ucap Tanti memberi saran.


“Apa? Bagaimana bisa itu___” Keisya sangat terkejut mendengarnya.


“Tentu saja bisa … apa lo lupa dia itu cucunya yang punya kampus ini? Seharusnya lo malu menjelek- jelekan orang yang sudah baik sama lo.” Tanti mencebikkan bibirnya dengan tatapan sinis, ia kemudian beranjak pergi dengan menabrakan lengan pada lengan Keisya.


“Masa sih si sombong itu orang baik? Gue gak percaya deh …” Nina masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Tanti.


“Iya sama, gue juga gak percaya.” Santi pun sama halnya.


“Gue pergi dulu,” Keisya iba- tiba berpamitan.


“Mau kemana Keisya?” tanya Nina.


“Ke ruang dosen untuk mempertanyakan kebenaran yang Tanti katakan tadi,” ucapnya lalu ia un segera pergi.


Dan setelah ia mendatangi dosen wali di kelasnya, ia mendengar semua kebaikan Elea yang selalu menolong teman yang sedang kesusahan. Keisya pun merasa sangat malu luar biasa. Ternyata orang yang selama ini dianggapnya wanita sombong dan angkuh, ternyata adalah seorang dermawan yang membantu oang- orang di sekelilingnya.

__ADS_1


“Ternyata ia gadis sombong yang baik hati … benar apa kata Tanti, " gunam Keisya merasa malu.


Sementara dibtempat lain, Elea yang terus mengekor berjalan di belakang Andra membuat semua orang tercengang. Meski ia berjalan dengan tegak dan penuh percaya diri, semua orang mengira jika ia sedang mengejar- ngejar mahasiswa baru pindahan itu.


Ia menyadari tatapan semua orang padanya yang seolah menganggapnya wanita tak tahu malu yang mengejar seorang pria. Akhirnya ia melangkah cepat hingga ia kini berjalan di depan Andra.


“Nah, kalau gini kan kesannya bukan gue yang ngekorin Andra … walau sebenarnya gue suka sih deket- deket sama dia. Pengennya jalan bergandengan sih, hihihihi … Gue musti bersabar menunggu hari itu tiba. Gue bakalan membuatmu betekuk lutut pada ku, Derald.... ” gumam Elea dalam hati dengan penuh percaya diri.


Keduanya telah tiba di kelas yang mereka tuju, beruntung sang dosen yang sangat disiplin waktu itu belum datang. Mereka pun masuk dan duduk di kursi yang agak berjauhan, seolah mereka hanya kebetulan datang bersama, padahal keduanya memang berangkat dari rumah bersama.


Elea memainkan ponselnya dan berkirim pesan dengan seseorang. Ia nampak tersenyum sendiri membaca pesan di layar ponselnya tersebut. Sementara Andra nampak melirikan matanya berkali- kali memperhatikan Elea secara diam- diam.


“Sedang chating dengan siapa dia? Kok kayaknya senang gitu?” gumam Andra dalam hati, nampaknya ada rasa penasaran pada hal yang membuat Elea tersenyum bahagia.


Hal itu pun berakhir, saat dosen memasuki kelas dan prosesi pembelajaram pun di mulai. Andra tak hentinya melirikkan matanya pada Elea seolah ia kini telah menarik perhatiannya dan membuatya tak konsentrasi belajar. Hingga ia di tegur sampai dua kali oleh dosen tersebut karena kepergok melamun.


Saat kelas berakhir, Andra pun menghampiri Ekea dan duduk di kursi sebelahnya.


“Elea , bisakah kita bicara?” ucapnya bertanya.


“Hah? Apa? Mau bicara?” Elea nampak bingung dan heran.


“Iya.” Andra mengangguk.


“Ya bicara aja, apa susahnya?” ucap Elea dengan santainya.


“Em … oke.” Elea pun bersedia menerima ajakan Andra.


Andra lalu bangkit dan beranjak pergi meninggalkan kelas seorang diri.


“Cie … yang mau ngedate,” goda Tanti pada Elea.


“Ck … apaan sih? Bukan urusan lo!!” Elea merasa jengah, ia pun bangkit dari duduknya.


“Semoga sukses ya ngedate nya … babay ….” Tanti pun pergi meninggalkan Elea setelah menggodanya. Ia duduk berkumpul bersama kedua teman sekelasnya.


Elea mendengus kesal melihat tingkah Tanti yang selalu berusaha mendekatinya, namun ia tak pernah berniat berteman dekat dengan siapa pun.


“Kapan dia akan berhenti mengganggu ku dan berusaha mendekati ku. Aku tahu dia melakukannya karena ingin balas budi, tapi aku tak ingin menjadikan kebaikan ku sebagai beban yang harus dibalas olehnya,” gumamnya dalam hati.


“Maaf Tanti, aku tak bisa berteman dengan mu, aku takut semua teman akan meninggalkan ku lagi,” lirihnya pelan sembari melangkahkan kakinya untuk keluar dari kelas. Elea menoleh dari depan pintu, dan ia mendapati Tanti yang tersenyum padanya. Ia pun beranjak pergi.


“Andra gimana sih? Katanya mau ngajakin gue makan siang … tapi ko malah pergi duluan, bukannya bareng sama gue …” keluhnya merasa kesal saat menuruni tangga.


“Kau sedang mengerutuki ku,” ucap Andra yang ternyata berjalan di belakang Elea. Ia pun menghentikan langkahnya dan segera berbalik.


“Andra….” Elea terkejut melihatnya masih berada di sana bahkan di belakang dirinya.


“Bukannya kamu tadi pergi? Aku kira kamu udah pergi ke parkiran.”

__ADS_1


“Aku kan mengajak mu makan siang … mana mungkin aku meninggalkan mu, dasar aneh. Ayok kita pergi,” ajaknya lalu berjalan mendahului Elea.


“Cih, dasar … yang aneh itu kamu ….” Elea lalu mengikutinya hingga keduanya tiba di area parkir. Dan mereka pun mamsuk ke dalam mobil Andra, lalu ia pun melajukannya.


**


Andra menghentikan mobilnya di parkiran sebuah kafe. Keduanya pun masuk ke dalam kafe yang bergaya kekinian itu. Mereka memilih duduk di meja pojok. Bukan berarti mereka ingin mojok , melainkan tempat itu penuh dengan pengunjung, dan hanya tersisa meja itu saja.


“Permisi kaka, ini menu di kafe ini. Silahkan dipilih,” ucap seorang pelayan yang menghampiri meja mereka yang memberikan buku menu.


Elea dan Andra pun memesan makanan sesuai selera mereka masing- masing.


“Tempat ini enak ya?” ucap Elea sembari mengedarkan pandangannya .


“Iya.” ucap Andra singkat.


“Kok kamu bisa tahu sih tempat ini? Bukannya kamu setelah kecelakan dulu pergi ke luar negeri, dan baru kembali akhir akhir ini?” tanya Elea heran.


“Teman- teman ku beberapa kali mengajak ku kemari, kemarin- kemarin.”


“Oh, pantesan … kirain udah tahu sejak lama,” ucap Elea terkekeh. “Oh iya, kamu mau mengajak ku bicara tentang apa?” Elea baru ingat dengan tujuan thar mengajaknya pergi malan siang di luar.


“Em … apa benar kita dulunya pernah satu sekolah saat masih SD?” Andra langsung menanyakan hal itu. Ia mulai mengorek informasi dari Elea tentang masa lalu mereka.


“Iya … dulu sama seperti sekarang ini.” Elea menjawab sembari tersenyum manis.


“Maksudnya?” Andra tak paham.


“Dulu kamu datang ke sekolah sebagai murid baru, dan sekarang pun begitu, kan?” Elea memperjelas perkataannya.


“Entahlah … semenjak bangun dari koma pasca kecelakaan itu, aku tak bisa mengingat siapa pun. Termasuk orang tua ku sendiri,” ucap Andra lirih.


“Apa? Kenapa bisa?” tanya Elea yang terkejut.


“Aku juga tidak tahu … kata dokter aku mengalami amnesia. Lalu Mama membantu ku mengingat- ingat satu persatu. Kecuali satu orang yang tak bisa ku ingat sampai sekarang.” Lirihnya nampak sedih.


“Siapa itu?” tanya Elea penaaran.


“Aku pun tak tahu siapa nama aslinya, yang pasti dia adalah teman sekolah SD ku dulu. Dia sering sekali datang dalam mimpiku.” Andra memberitahu kan pada Elea tentang gadis yang selalu datang dalam mimpinya.


“Apa? Mengingat teman SD kita? Apa jangan- jangan itu ____” Elea tak kuasa melanjutkan perkataannya, ia membekap mulutnya sendiri.


-


-


-


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2