Gadisku Yang Hilang

Gadisku Yang Hilang
Jangan Pergi...


__ADS_3

Selama pelaksanaan ujian, Elea selalu memperhatikan Zilya yang menurutnya sudah berubah dan seolah ada jarak diantara kedua sahabat itu.


“Zilya, kita kan sudah selesai ujian. Kita main yuk ke mall sama mama ku.” Elea kembali mengajak Zilya pergi bermain dengannya, mengingat mereka sudah selsai melaksanakan ujian.


“Emm, maaf Elea, aku tidak bisa.” Zilya menolak lagi ajakan Elea.


“Kenapa? Kan ujiannya sudah sudah selesai, jadi kita tidak perlu beajar lagi, kan?” Elea mulai kesal pada Zilya.


“Iy iya … tapi aku … aku … aku harus membantu nenek.” Zilya mencari alasan.


“Membantu apa? Kan kamu sudah tidak berjualan roti karena sudah dititipkan ke kantin. Kamu mau bantu apa lagi?” cerca Elea.


“Em, itu … aku … eng ….” Zilya nampaknya kebingungan mencari alasan.


“Kamu kenapa sih? Apa kamu sudah tidak mau berteman dengan ku lagi?” bentak Elea kesal.


“Bu bukan gitu … aku ini masih sahabat mu kan, aku … aku ….” Zilya kehabisan kata.


“Aku gak mau temenan sama kamu lagi. Kamu menyebalkan,” bentak Elea kemudian pergi begitu saja meninggalkan Zilya yang belum selesai membereskan buku- bukunya.


“Elea …” lirihnya sedih. “Aku tidak bermaksud menyakiti mu, tapi nenek bilang kita boleh berteman dan bermain di sekolah saja, tapi di luar gak boleh. Maaf, aku melakukan ini supaya kita tetap berteman,” lirihnya dalam hati dengan terus memandangi Elea yang berjalan dengan perasaan kesal meningalkannya, hingga ia tak terlihat lagi.


Zilya pulang sekolah dengan perasaan sedih, karena Elea marah dan sudah tidak mau berteman dengannya lagi. Lisda yang melihat itu pun tak tega melihat Zilya bersedih.


Sesampainya di rumah Lisda mengajak Zilya berbicara.


“Zilya, kamu kenapa? Kok kayaknya lagi sedih? Coba cerita sama kakak, siapa tahu kakak bisa bantu,” ucapnya pada Zilya yang masih sedih.


Ia tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya saja. Lalu beranjak pergi dan masuk ke kamarnya dan menutup kembali pintunya.


Zilya melangkah gontai dan ia pun melempar tas nya ke sembarang arah, kemudian ia naik ke tempat tidur membenamkan wajahnya pada bantal.


“Huaaaaaaa…. Huaaaaaa ….”


Akhirnya Zilya pun tak bisa membendung air matanya lagi, saking merasa sangat sedih dan kecewa. Ia menangis seperti merasakan sakit yang begitu dalam di hatinya.


Bagaimana tidak,sahabat yang sangat disayanginya kini sudah tak mau berteman dengannya lagi. Padahal ia menghindari tidak bermain dengannya demi bisa terus berteman dengannya.


Zilya terus menangis hingga ia tertidur tanpa mengganti baju seragam sekolahnya.


**

__ADS_1


Keesokan harinya, Elea benar- benar mengacuhkan Zilya. Ternyata ia sungguh- sungguh dengan perkataannya, bukan hanya marah sesaat saja. Tentunya hal itu membuat Zilya semakin sedih, hingga ia tak mau berangkat ke sekolah lagi.


“Zilya, kamu kenapa ? kok gak biasanya gak mau sekolah?” tanya Lisda heran.


“Elea marah pada ku, kak …Dia sudah tidak mau berteman dengan ku lagi, hiks hiks ....” Zilya terisak.


“Apa? Kok bisa? Kenapa itu bisa sampai terjadi?” Lisda terkejut.


“Soalnya aku selalu menolak jika diajak main ke mal bersama dia dan tante Yessi , hiks hiks.”


“Ya ampun, ternyata Zilya benar benar mengikuti perintah nenek … tapi aku gak tega melihat dia sangat sedih seperti ini,” gumam Lisda dalam hati.


“Zilya, kalau kamu sedang ada masalah , jangan sampai itu menggangu sekolah mu. Kamu kan anak yang baik dan cerdas, nanti kalau malas sekolah bisa jadi anak yang bodoh. Memangnya kamu mau itu?”


“Gak mau … aku gak mau ke sekoah itu lagi … sehabatku Derald udah gak ada, dan sekarang Elea juga tidak mau berteman dengan ku, Huhuhuhu ….” Zikya semakin sedih.


“Sudah Zilya, jangan menangis lagi, fdari kemarin kamu terus menangis. Nanti matanya bisa kering loh ….”


“Jadi cucu nenek ini gak mau sekolah disiana lagi?” nenek yang mendangar percakapan mereka dari luar kamar Zilya, masuk dengan begitu saja.


Nenek menghampiri Zilya yang sedang duduk di ranjang bersama Lisda yang sedang memeluknya.


“Nenek ….” Lisda berusaha mencegah.


“Zilya, kalau kamu mau pindah, nenek bisa mengabulkannya.” ucap nenek.


Zilya yang sedang menangis tiba- tiba berhenti, lalu melepsakan dirinya dari pelukan Lisda.


“Iya nenek … apa itu benar? Nenek akan memindahkan ku ke sekolah lain?” Zilya bertanya sembari sesenggukkan.


“Tentu saja, kebetulan nenek juga ingin tinggal di suatu tempat yang sejuk dana man untuk kita.”


“Tempat apa itu, Nek?” tanya Zilya penasaran.


“Nanti nenek kasih tahu.Kalau begitu nenek akan mnegurus kepindahan mu besok ke sekolah ya.”


“Iya, Nek … hiks hiks ….” Zilya mengangguk dan kembali terisak.


“Sudah, kamu jangan sedih lagi ya, kan kamu masih punya nenek dan Kak Lisda. Kami akan selalu menyayangi mu sampai kapan pun.”


“Iya, nenek …”

__ADS_1


**


Keesokan harinya, nenek datang ke sekolah untuk mengrus surat pindah Zilya. Namun, nenek meminta agar pihak sekolah merahasiakan alamat kepindahan mereka pada siapa pun.


Hingga beberapa hari, Zilya tak masuk sekolah, dan hal itu membuat Elea bertanya- tanya. Ia sebenarnya masih kesal dan marah pada Zilya, namun saat tak melihatnya hingga beberapa hari, membuatnya sedih dan menyesal.


Akhirnya sepulang sekolah, ia mengajak Mama nya untuk mendatangi rumah Zilya. Ia takut terjadi sesuaru dengan Zilya, dan Yessi pun ikut mengkhawaturkan Zilya.


Saat sopir menghentikannya di depan gang yang menuju ke rumah Zilya, mereka melihat ada sebuah truk yang mengakut barang- barang kebutuhan rumah. Keduanya pun turun dari mobil. Betapa terkejutnya dari kejauhan Elea melihat orang yang baru saja naik ke dalam truk di jok depan itu.


“Mama … itu Zilya dan neneknya kan?” tanya Elea menunjuk ke arah truk tersebut.


Yessi pun memperhatikan dengan seksama, dan ia hanya melihat tangan yang menutup pintu truk tersebut. “Mana sayang?”


“Itu mama, aku melihat Zilya bersama neneknya naik ke dalam truk itu.” Elea kekeuh.


“Sayang, mungkin kamu salah lihat,” ucap Yessi.


Saat mesin truk itu dinyalakan, Elea langsung berlari. Namun sayang, sopir truk itu dengan segera melajukan truknya. Yessi dan kedua pengawal pun mengejar Elea.


Elea berlari semakin kencang. “Zilya … tunggu … Zilya jangan pergi ….” teriaknya tanpa menghentikan langkahnya.


“Zilya … jangan pergi … jangan tinggalkan aku ….” Elea terus berteriak, namum itu percuma karena truknya terus melaju dan tak menghiraukannya.


Brukk


Elea pun terjatuh karena tersandun, ia berisaha bangkint namun kakinya terasa sakit. Ia mengangkat tangannya lurus ke depan seolah meminta truk itu berhenti, namun sepertinya sang sopir tak melihat tanda isyarat yang ditunjukkan Elea.


“Zilya jangan pergi … hhuhuhuhuhu … maafkan aku …. Huhuhu.” Elea menangis di tengah jalan sembari terus menatap truk yang terus melaju, hingga tak terlihat lagi.


-


-


Bersambung ….


-


-


Happy reading….

__ADS_1


__ADS_2