Gadisku Yang Hilang

Gadisku Yang Hilang
Terguncang


__ADS_3

“Mas … aku dimna? Uhuk uhuk .…” Yessi yang baru siuman melihat sekeliling dan tak mengenali ruangan itu.


“Sayang, kamu sedang berada di UGD….” Razan mnegusap lembut kepala Yessi.


“Hah? Di UGD? Aku kan sedang tidur di ruang rawat inap. Kenapa bisa di UGD?” tanya Yessi bingung.


“Sayang ….” lirihnya nampak sedih.


“Mas … Ada apa? Kenapa Mas terlihat berantakan seperti itu?” Yessi baru menyadari jika suaminya terlihat kacau.


Razan menghela nafas berat seolah mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan sesuatu pada istrinya.


“Sayang … rumah sakit bersalin tempat mu melahirkan, semalam mengalami kebakaran," ucapnya dengan nafas berat.


“Apa?” Yessi sangat terkejut, ia berusaha bangkit namun tubuhnya terasa lemas.


“Iya .. dan beruntung kamu merupakan salah satu dari korban yang selamat," ucap Razan yang menampakkan raut wajah sedih dengan penuh penyesalan.


“Bayi ku … putri ku dimana Mas?” Yessi teringat pada bayi yang baru dilahirkannya. Ia lalu memposisikan duduk di tempat tidurnya.


Razan terdiam dan menundukkan kepalanya. Seolah tak sanggup berkata lagi.


“Mas, bayi kita selamat juga, kan? Elea selamat kan? ” Yessi menggoyang- goyangkan tangan Razan.


Razan masih diam seribu bahasa. Ia terus menundukkan kepalanya hingga bulir bening pun menetes begitu saja.


“Mas … jawab aku, bayi kita juga selamat kan, Mas?” bentak Yessi dengan ketakutan.


“Maaf, sayang … Mas terlambat datang ke sana.” dengan berat hati Razan menceritakan kebenarannya pada istrinya.


Yessi terkejut bukan main. Ia menggelengkan kepalanya dengan raut wajah tak percaya.


“Gak … gak mungkin, bayiku pasti selamat kan Mas? Elea masih hidup kan, Mas?” Yessi mencengkram kerah kemeja suaminya.


“Maaf sayang … Saat Mas datang mereka sudah membawa mu ke dalam ambulan. Api sudah membakar sebagian gedung rawat inap... Mas sudah masuk ke sana, tapi tidak bisa naik karena apinya sudah menjalar kemana- mana, dan____” ucapannya terhenti karena dadanya terasa sesak mengingat kejadian semalam.


“Di lorong tepat depan pintu kamar rawat inap mu, tim pemadam kebakaran menemukan mayat seorang wanita yang menggendong bayi. Dan itu ___ " Razan tak kuasa berkata lagi.


" Itu apa Mas??!" tanya Yessi semakin cemas.


Yessi terus mengelengkan kepalanya dengan berbsgai prasangka, dan air mata pun mengalir begitu saja melihat suaminya tertunduk menangis.


“Mas … mana bayiku, mana Elea? … Anakku !! Bayi ku!! Huaaaaaaa …” Yessi menangis dengan berteriak histeris.

__ADS_1


Razan yang merasa sangat sedih dengan segera memeluk Yessi untuk menenangkannya.


“Bayiku …. Anakku ... huaaaaaaa ….” Yessi tak hentinya berteriak histeris.


“Maaf sayang, maafkan aku … Kamibbelum bisa menemukan Elea... Tenangkan dirimu, sayang....” Razan merasa sangat bersalah.


Yessi terus menangis histeris hingga membuatnya tak sadarkan diri. Razan oun segera memanggil dokter dan suster.


Setelah beberapa saat, Yessi pun tersadar,. Ia terus meminta suaminya mengantarkannya ke rumah sakit yang sudah hangus terbakar dalam semalam itu.


Razan menolak nya dengan alasan jika Yessi harus beristirahat. Yessi bangkit dari ranjang dan ia berniat melarikan diri, namun berhasil ditahan.


“Lepaskan aku … lepaskan.. aku ingin mencari anakku, lepaskan aku … huaaaaaaa.” Yessi yang terus berontak kembali menangis hitseris.


Razan terus memeluknya untuk menahan serta menenangkan Yessi yang terus mengamuk. Hingga dokter menyuntikan obat penenang pada Yessi yang membuatnya tak sadarkan diri.


“Seharusnya kemarin aku mengikuti saran dokter untuk membawa Elea pulang …” lirihnya sedih dengan penuh penyesalan.


“Jika semalam aku tidak pergi ke pabrik, pasti anakku masih hidup, Wan. Aku memang orang yang tak berguna … sekali lagi aku kehilangan anakku.” Razan tak hentinya menyalahkan diri sendiri karena lalai melindungi putrinya yang baru lahir itu.


“Tenanangkan diri mu, Mas. Aku tahu ini cobaan yang sangat berat. Mas harus bisa menguatkan Mbak Yessi. Dia juga sangat terpukul, Mas.” Riswan berusaha memberi semangat pada kakaknya.


"Bagaimana caranya aku memberi tahukan hal ini pada Yessi... Dia pasti akan sangat terpukul..." Razan merasa bingung.


"Wan, apa ada kenungkinan jika bayi ku masih hidup? Disana kan banyak orang, mungkin saja itu mayat orang lain..." Razan masih berharap jika bayi nya selamat.


"Mas kan sudah melakukan tes DNA pada jenazah bayi itu, kita tinggal tunggu hasilnya besok...." ucap Riswan.


"Iya, kau benar... Dan semoga itu bukan mayat puteri ku..." ucap Razan penuh harap.


“Bagimana kebakaran itu bisa terjadi, Wan?” tanya Razan yang duduk di lantai bersandar pada dinding tembok dengan wajah berantakan dan cemong.


“Penjaga keamanan bilang itu terjadi karena ada kosleting listrik di ruang penyimpanan tabung oksigen dan nitrogen. Dan api dengan cepat menjalar kemana- mana.” Riswan memberitahu penyebabnya.


“Aku minta maaf Mas, hanya bisa menyelamatkan Mbak Yessi saja. Saat itu aku sangat panik hingga tak menyadari jika disana ada Mbak Surti dan bayi kalian.” Riswan pun merasa sangat bersalah.


“Kapan jenazahnya mbak Surti akan dikebumikan? Apa keluarga Bi Surti sudah diberitahu kan?” tanya Razan yang mulai berhenti menangis.


“Papa sedang mengurus semuanya. Mas disini saja temani Mbak Yessi. Aku akan mengurus pemindahan Mbak Yessi ke ruang rawat inap.” Risawan berdiri, ia beranjak pergi menemui petugas administrasi.


**


Yessi semenjak siuman tak berkata satu patah kata pun. Ia hanya duduk dengan memeluk kedua kakinya yang di tekuk. Matanya terbuka namun pandangannya terlihat kosong. Air mata tak hentinya mengalir.

__ADS_1


Setiap orang yang mengajaknya bicara seolah tak dihiraukannya. Ia sudah seperti mayat hidup.


Razan yang melihat hal itu sangat terpukul dan terus menyalahkan dirinya. Akhirnya ia meninggalkan Yessi yang dijaga oleh Anita dan Sukma, ibunya.


Sementara Razan pergi ke pemakaman Surti yang meninggal karena hangus terbakar. Ia masih menunggu hasil tes DNA dari mayat bayi yang dipeluk Surti.


“Maafkan Papa, nak … maafkan Papa ….” lirihnya terisak.


Ia pergi ke rumah sakit tempat dirawatnya korban kebakaran . Ia terus mencari dan berharap jika putrinya masih hidup.


Setelah melihatnya satu persatu bayi yang selamat dari insiden kebakaran itu, Razan kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi istrinya dan menemaninya. Karena ia tak menemukan bayinya disana.


Betapa terkejutnya ia saat mendapati istrinya memeluk sebuah bantal dan mengusap- usapnya seolah menganggap kalau itu adalah bayinya.


“Mama, kenapa Yessi memeluk bantal seperti itu?” tanya Razan pada Sukma.


“Tadi Yessi mengamuk lagi minta bertemu dengan bayinya. Ia tak sengaja menjatuhkan bantal. Lalu mengambilnya. Ia menganggap kalau bantal itu adalah Elea , hiks hiks.” Sukma menceritakan dengan berlinang air mata.


Razan merasa sangat terpukul mendengar hal itu. Ia melihat istrinya sudah seperti orang gila yang tesenyum sendiri sembari menepuk- nepuk bantal ang dipeluknya. Bahkan sesekali Yessi mencium bantal tersebut.


Saat Razan merebut bantal itu dari Yessi, ia sangat marah dan berteriak hiteris.


“Anakku … anakku … berikan bayiku, jangan ambil bayi ku … kembalikan !!!” teriaknya saat berebut bantal itu dengan Razan.


Razan pun melemparkan bantal itu ke sembarang arah lalu memeluk Yessi untuk menenangkannya. Ia terus menangis melihat Yessi yang tak hentinya berontak dan berteriak histeris meminta bayinya di kembalikan.


Dengan terpaksa ia pun meminta dokter menyuntikan obat penenang lagi pada Yessi dan itu membuatnya kembali tak sadarkan diri.


Razan menggendongnya dan membaringkannya kembali di atas tempat tidur.


Razan menjatuhkan dirinya ke lantai. Ia menangis dengan penuh penyesalan.


Sukma yang tak tega melihat kondisi anaknya seperti itu, menghampiri Razan lalau memeluk putranya itu.


“Sabar, nak … kalian pasti bisa melewati ujian ini.” Sukma berusaha menenangkan Razan.


“Bagaimana bisa Mama … Aku sudah kehilangan anak ketiga ku, dan sekarang bayiku bekum ditemukan... Yessi terlihat sangat frustasi … Aku harus bagaimana Mama, aku harus bagaimana? Kenapa nasib buruk ini menimpa keluarga ku?” Razan menangis di pelukan ibunya.


“Sabar nak … sabar ….” Sukma mengsap lembut kepala putranya yang begitu terlihat menyedihkan. Ia yang tak tega melihat Razan dan menantunya sangat terpuruk, entah dari mana Sukma terpikir sebuah ide.


-


-

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2