Gadisku Yang Hilang

Gadisku Yang Hilang
Helm Ojol Galak


__ADS_3

Andra yang merasa penasaran mengikuti ambulan yang membawa Elea ke rumah sakit. Entah apa yang merasukinya tiba- tiba ia ingin memastikan jika Elea baik- baik saja. Ia bahkan sampai menyegat ojek agar bisa cepat sampai, karena jika ke parkiran dulu akan memakan waktu.


Sesampainya di rumah sakit, Elea segera dibawa ke ruangan UGD oleh Tari ditemani kedua pengawal, agar segera mendapatkan penanganan.


Andra yang juga sudah sampai memilih diam- diam melihatnya dari kejauhan. Sepertinya ada rasa gengsi pada dirinya sehingga membuatnya tak ingin menampakan dirinya di hadapan Elea atau pun temannya yang bernama Tantu itu.


Apalagi ada dua pengawal yang terus berada di sisi Tanti yang sedang menunggui Elea di ruang UGD yang sedang mendapat penanganan. Semakin membuat Andra enggan untuk mendekat.


“Bagaimana dokter keadaan Elea?” tanya Tanti yang melihat dokter sudah selesai memeriksa Elea.


“Pasien mengalami dehidrasi … apakah pasien sedang berpuasa?” dokter menanyakan suatu hal.


“Eng … eng … kayaknya enggak deh….” Tanti menjawab dengan ragu- ragu. Ia membalikan badannya dan menatap kedua pengawal Elea yang sejak tadi berdiri di belakangnya.


“Om, Elea lagi puasa?” tanyanya pada kedua pengawal itu.


“Tidak ….” Salah seorang pengawal menggelengkan kepalanya.


“Sepertinya tidak ….” Temannya yang satu lagi pun tidak mengetahuinya.


“Hargh … kalian ini masa pengawalnya tidak tahu kalau majikannya sedang berpuasa atau tidak. Apa kalian sudah menghubungi orang tuanya Elea ?” cerocos Tanti merasa kesal dan heran.


“Sudah … Tuan dan Nyonya sedang dalam perjalanan menuju kemari.” ucap salah seorang pengawal.


“Syukurlah ….” Tanti bisa bernafas lega.


“Jika pasien sudah bangun, segera beri makan dan minum. Untuk saat ini saya hanya akan memberinya suntik vitamin supaya pasien tidak merasa lemas lagi,” ucap Dokter.


“Kenapa tidak di infus, Dok?” tanya Tanti heran.


“Tidak perlu … ia hanya terkena dehidrasi ringan. Mungkin karena sejak pagi belum makan atau pun minum. Saya permisi, nanti perawat akan menyuntikan vitamin pada pasien.” Dokter pun pamit undur diri.


“Iya, Dok… terimakasih.”


Mendengar hal itu, Andra pun merasa lega. Ia beranjak pergi meninggalkan ruang UGD dan keluar dari rumah sakit tersebut. Ia memesan ojek online untuk kembali ke kampusnya.


Setelah menunggu beberapa saat, ojek online pesanannya pun telah tiba di depan rumah sakit. Ia yang menunggu di halte depan rumah sakit pun memberitahukan titik tempatnya menunggu pada sang driver.


“Mas Andra?” tanya driver ojek online itu.


“Iya, benar ….” Andra menjawab dengan terheran- heran melihat driver itu. “Loh disini kan drivernya Ifan dan seorang laki- laki. Kenapa jadi perempuan?” tanyanya setelah memperhatikan wajah sang driver dengan seksama.

__ADS_1


“Maaf Mas, kebetulan Bang Ifan sedang sakit, jadi hari ini saya yang menggantikannya.” Sang Driver memberi penjelasan.


“Bagaimana bisa? Ini berarti poselnya juga milik Ifan? Jangan- jangan kamu sudah merampok driver yang bernama Ifan itu ya?” Andra malah berprasangka negatif.


“Astagfirulah, Mas … jangan suka main fitnah sembarangan ya. Biarpun saya miskin, pantang bagi saya untuk mencuri, mengemis apalagi merampok. Lagi pula Bang Ifan itu teman kakak saya dan sudah seperti keluarga saya sendiri.” Sang driver tak terima dituduh perampok.


“Lalu bagaimana bisa ponsel Ifan ada sama kamu juga?” Andra kembali menginterogasi.


“Soalnya yang terdaftar sebagai driver ojek online nya kan Bang Ifan. Tentunya menggunakan ponsel Bang Ifan juga. Kalau ponsel saya kan tidak terdaftar, gimana sih ….” Driver wanita itu nampak semakin kesal.


Andra terus memperhatikan driver tersebut dari atas hingga bawah. Walau wajahnya tak terlihat begitu jelas karena sebagian tertutup kaca helm.


“Gimana nih jadi naik gak? Kalau enggak saya batalkan nih!” tanya driver itu sewot.


“Iya iya, baiklah ….” Andra pun bersedia naik.


“Ini helm nya Mas.” driver itu menyerahkan helm dengan nada jutek.


“Terimakasih .…” andra menerima helm lalu memakainya.


“Ke kampus UHB kan?” tanya driver itu saat Andra sudah naik dan duduk di belakangnya.


“Iya ….”


“Kalau gak takut mempengaruhi performa Bang Ifan, udah gue hajar nih orang yang seenaknya negabcot sembarangan,” ucapnya menggerutu kesal. Ia pun membawa motornya dengan mengebut hingga membuat Andra ketakutan sapai memeluk driver tersebut.


Cekiitt ….


Driver tersebut merem mendadak.


“Hei, kenapa berhenti? Kita kan belum sampai ke kampus,” protes Andra.


“Lepaskan tangan anda!! Jangan anda pikir saya ini permpuan murahan yang bisa seenaknya di peluk- peluk oleh senbarang laki- laki!” bentak sang driver kesal.


Andra yang baru menyadari dengan segera melepaskan kedua tangannya yang melingkar di pingang sang driver.


“Ayok jalan lagi ….” Titahnya setelah mengikuti perintah sang driver.


“Enak saja, minta maaf dulu!” Ia tak mau melanjutkan perjalananya sebleum thar meminta maaf.


“Minta maaf untuk apa? Saya gak merasa salah!” Andra menolak untuk meminta maaf.

__ADS_1


“Apa? Anda pikir memeluk orang sembarangan itu bukan kesalahan? Apalagi saya ini seorang perempuan … pelecehan itu namanya.” Cerocos sang driver semakin kesal.


“Salah siapa main kebut- kebutan. Ya saya reflex karena takut jatuh, jadi ya berpegangan pada anda. Sudah cepat jalan!! Kalau tidak, saya akan complain pada perusahaan ojek online yang menaungi anda.” Ancaman pun dikeluarkan Andra yang takut terlambat sampai ke kampusnya, karena ia masih ada kelas.


“Dasar bangsul … beraninya main ancam- ancam segala …” sang Driver mendengus kesal.


Ia pun segera melajukan motornya. Dan kali ini ia tidak mengebut, meski sebenarnya ia ingin sekali melempar penumpang yang menurutnya menyebalkan dan sangat tidak sopan itu.


Setelah menempuh perjalanan 15 menit, mereka pun tiba di depan pintu gerbang kampus. Driver itu pun mengehtikan motornya dan Andravsegera turun.


Ngeeeeng …


Sang Driver ojek online itu pergi begitu saja karena ia malas jika harus berurusan lagi dengan penumpang menyebalkan itu.


“Huh, dasar driver tidak punya sopan santun, main pergi begitu saja.” Andra menggerutu kesal, ia lalu memasuki gerbang kampus.


Andra terus melangkah menuju gedung kampus dan hendak kembali ke kelasnya. Sepanjang jalan ia merasa ada hal aneh. Setiap orang yang melihatnya nampak tersenyum, tapi bukan senyum ramah melainkan tersenyum mengejeknya.


“Ada apa dengan orang- orang itu?” Andra bertanya- tanya dalam hatinya. “Heh, mungkin karena aku mahasiswa baru disini makanya ak menjadi pusat perhatian mereka …” gumamnya dalm hati membanggakan diri sendiri.


Tak lama ia pun tiba di ruangan kelas sebelumnya, namun ia tak melihat seorang pun disana.


“Andra … lo kemana aja tadi, gue cariin?” tanya salah satu temannya.


“Sorry, tadi ada urusan mendadak …. Sekarang mata kuliah apa?” Andra sepertinya lupa dengan jadwal mata kuliah yang terakhir di hari ini.


“Sekarang mata kuliah bahasa inggris, ayok kita ke lantai dua. Kelasnya di sana.” ajak temannya itu.


“Oke ….” ucap Andra.


“Tapi sebelum nya gue kasih tahu sama lo … Kalau lo mau ke kelas, lo musti buka helm lo itu. Apalagi dosen bahasa inggris itu suka mengkritik penampilan. Bisa- bisa lo dilarang masuk ke kelasnya ….” ucap Kemal.


Andravterkejut mendengar ucapan temannya, ia baru menyadari jika ia belum melepas helm milik pengendara ojek online tadi. ia pun segera melepas helm itu.


“Waduh, bagaimana ini? Gimana cara balikin helmnya si ojol galak ini? Mana gak bisa chat lagi di aplikasinya kalau sudah selesai,” gumamnya dalam hati.


Ia pun pergi bersama temannya ke lantai dua menuju kelas bahasa. Sementara helm nya ia titipkan pada penjaga yang parkir yang kebetulan berpapasan dengannya saat akan menaiki tangga.


-


Bersambung …

__ADS_1


Happy Reading ….


__ADS_2