Gadisku Yang Hilang

Gadisku Yang Hilang
Bagaikan Bumi dan Langit


__ADS_3

"Zilya … jangan pergi … huaaaaaaa ….” Elea yang tak mampu mengejar truk yang diyakini dinaiki oleh sahabatnya itu, hanya bisa menangis di tengah jalan. Nampaknya rasa penesalah dan sedih begitu dalam kini dirasakannya.


Yessi dengan segera menggendong anaknya dan membawanya masuk ke dalam mobil yang mengikutinya dari belakang tadi.


“Sayang, sudah jangan menangis lagi ….” Yessi berusaha menenagkan Elea.


“Lepasin aku Ma, lepasin … aku mau ngejar Zilya ,,, aku mau ngejar dia … dia gak boleh pergi, Ma … huaaa huaaaa …” Elea terus menangis sembari berontak minta diturunkan.


Namun beruntung Yessi mampu menahannya dan terus memeluknya untuk menenangkan putri bungsunya itu.


“Sudah sayang … jangan seperti ini ….” Yessi mengusap lembut kepala putrinya yang kini duduk di dlam mobil bersamanya.


“Zilya udah pergi Ma, huaaaaa … aku gak punya teman lagi, huaaaaaa ….” Elea menangis semakin kencang.


“Sayang, mungkin saja kamu salah … mungkin itu bukan Zilya.” Yessi seolah memberi harapan pada putrinya.


Elea seketika menghentikan tangisannya. “Jadi itu bukan Zilya?” tanya Elea sembari sesenggukan.


“Mungkin bukan sayang … Em, bagaimana kalau kita cari ke rumah nya?” Yessi memberi saran dan Alesha pun menganggukinya. Yessi meminta sopir berputar arah dan kembali ke tempat tadi, yakni di depan gang yang menuju ke rumah Zilya.


“Hapus dulu air matanya ya sayang … kamu gak mungkin kan menemui Zilya dengan keadaan seperti ini?” Yessi mengambil tisu basah dari dalam tas nya, lalu membersihkan ajah putrinya yang sudah basah dengan air mata beserta ingusnya.


Keduanya pun turun dari mobil, mereka berjalan menyusuri jalan ganh kecil. Tentunya dibelakang mereka selali diikuti dua orang pengawal pribadi.


Tak lama, mereka pun sampai di depan rumah Zilya. Yessi mengetuk pintu rumah tersebut. Namun, yang membuka bukanlah orang yang mereka kenal.


“Maaf, mau cari siapa ya?” tanya seorang wanita.


“Selamat siang, Mbak … saya Yessi, mamanya Elea yang merupakan teman sekelasnya Zilya ... Maksud kedatangan kami kemari untuk bertemu dengan Zilya, soalnya sudah beberapa hari ini ia tidak masuk sekolah.” Yessi memperkenalkan diri dan mengatakan tujuan kedatangannya bersama sang putri.


“Oh, kalian terlambat. Baru saja Zilya pergi bersama kakak dan neneknya.” ucap wanita itu.


“Pergi? Kalau boleh tahu pergi kemana ya?” tanya Yessi.


“Oh, kalau soal itu saya kuang tahu. Mereka bilang katanya mau pindah rumah. Makanya rumah ini dikontraan pada saya,” ucap wanita yanh ternyata pengontrak rumah tersebut.


“Oh gitu ya … terimmakasih ya Mbak. Kalau begitu saya permisi. Selamat siang …” Yessi pun pamit undur diri.


“Iya, Bu ….” ucapnya mengangguk.


“Mama … Zilya pergi, Ma … hiks hiks.” Elea kembali terisak.


“Sudah sayang, jangan menangis lagi. Nanti kita cari tahu ya Zilya pindah kemana ….” Yessi mencoba membujuk Elea.


Yessi pun beranjak pergi untuk meninggalkan rumah itu bersama Elea yang kembali bersedih mengetahui sahabatnya sudah benar- benar pergi.


“Bu … bu … tunggu ….” Terdengar suara teriakan dari arah belkang Yessi. Ia pun menghentikan langkahnya dan berbalik.


“Maaf ada apa ya,Mbak?” tanya Yessi heran.

__ADS_1


“Tadi ibu bilang anak ibu temannya Zilya, kan?” tanyanya memastikan.


“Iya benar ….”


“Ini Bu, saya menemukan ini di lantai salah satu kamar. Kalau ibu mengenal mereka, saya titipkan ini pada Ibu saja ya, mungkin Ibu bisa memberikannya saat bertemu mereka,” ucapnya memberikan barang itu.


“Oh, iya .. terimakasih, Mbak ….” Yessi menerima barang tersebut.


“Sama- sama ….”


Yessi memasukan barang itu ke dalam tas nya. Ia kembali melanjutkan langkahnya untuk pulang dengan menggendong Elea.


Semenjak saat itu Elea dan Zilya tak pernah bertemu lagi. Elea sangat menyesali perbuatannya yang sudah marah- marah dan mengacuhkan Zilya, hingga mengatakan ia tak mau berteman lagi dengan Zilya. Kini ia benar- benar kehilangan sahabatnya yang tak tahu tinggal dimana.


Yessi sudah meminta suaminya mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Zilya, namun tak membuahkan hasil. Bahkan dari data kepindahan dari sekolah pun, ia tak bisa menemukannya. Karena ternyata alamat pindah yang diberikan palsu. Zilya bersama kakak dan neneknya hilang bak ditelan bumi.


Hal itu membuat Elea tak pernah memiliki sahabat lagi. Ia lebih suka sendiri dan hanya bicara dengan teman sekelasnnya seperlunya saja. Bahkan ia tumbuh menjadi anak yang sombong, angkuh dan tak pernah memperdulikan orang lain.


**


13 tahun kemudian


**


Gedebuk …


“Aww ….” Elea meringis kesakitan setelah ia terjatuh karena terpeleset. “Bibi !!!” teriaknya saat ia bangkit.


“Siapa yang sudah mengepel lantai ?” tanya Elea mmebentak.


“A anu Nona, yang mengepel lantai Yanih.” ucap ART itu.


“Mana orangnya?” Elea nampak semakin marah.


“It itu Non, masih mengepel di sebelah sana ….”


“Cepat panggil dia kemari!!" titahnya membentak.


“Ba baik, Non ….” Sang ART pun memanggil teman kerjanya. Tak lama ia pun embali bersama Yanih menghadap pada Elea yang sudah bekecak pinggang dengan eautbwajah marah.


“Oh, jadi kamu yang sudah mengepel di sini?” tanya Elea memastikan.


“Iy iya, Non ….” Yanih nampak ketakutan.


“Kamu dipecat!!!” ucap Elea tegas.


“Apa? Saya dipecat? Tapi … salah saya apa Non?” Yanih merasa tak bersalah.


“Pakai nanya lagi! Kerja mu itu gak becus. Tuh lantainya masih licin dan membuat ku jatuh!” Elea menunjuk ke arah lantai.

__ADS_1


“Jangan Non, saya mohon jangan pecat saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini … kalau saya dipecat, nanti anak- anak saya mau makan apa, Non?” ucapnya memohon sambil bersimpuh.


“Itu bukan urusan ku!! Siapa suruh kerja gak becus! Masih untung cuman bokong ku yang sakit, gimana kalau kepala ku yang terbentur, hah?” bentak Elea sembari berkacak pinggang.


“Ada apa ini sayang? Pagi- pagi kok sudah ada keributan gini?” tanya Yessi menghampiri putrinya yang sedang memarahi salah satu asisten rumah tangganya.


“Ini mah, dia kerjanya gak becus … sampai- sampai mencelakai aku ….” Elea mengadukannya pada sang mama.


“Mencelakai bagaimana?” tanya Yessi heran.


“Dia ngepel lantai masih basah gini sampai aku terpelesaet dan jatuh, Ma.” ucap Elea.


“Sayang, kalau kamu jalan harus hati- hati dong,. Kan tahu kalau Bi Yanih ini sedang mengepel, pastinya lantainya masih basah dan licin.”


“Pokoknya aku gak mau tahu. Pecat dia, Ma … Minggir!!” Elea mendorong Yanih yang sudah kembali berdiri hingga hampir jatuh, karena menurutnya Yanih menghalangi jalannya. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan mereka.


“Ya ampun anak itu ….” Yessi menghela nafas lalu menggelengkan kepala melihat sikap Elea.


“Maaf ya Bi, atas sikap Elea... "ucapnya pada sang ART.


“Gak apa-apa Bu, ini memang salah saya. Tapi saya mohon jangan pecat saya, Bu … Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini.”


“Tentu saja saya tidak akan memecat Bibi. Hanya saja mulai hari ini Bibi dipindahkan kerjanya di bagian tempat cuci ya. Supaya Yesi tidak melihat Bibi disini.”


“Iya, Bu … terimakasih banyak ….”


Yessi tersenyum dan menganggukkan kepalannya. “Kalau begitu, lanjutkan pekerjaan kalian, sebentar lagi Bapa turun. Jangan sampai lantainya masih licin ya.”


“Iya, Bu …”


Yessi beranjak pergi ke dapur untuk menyipakan sarapan.


“Bu Yessi kok beda banget ya sama Non Elea, bagaikan bumi dan langit,” bisik Yanih pada teman kerjanya.


“Iya ….” angguknsang rekan kerja.


“Kalau diperhatikan, wajah mereka juga gak ada mirip- miripnya ya. Sama Pak Razan juga gak mirip. Apa jangan- jangan ____” Yanih malah bergosip.


“Huss … jangan bicara sembarangan. Nanti kalau ada yang dengar, kamu bisa dilaporkan pada Pak Razan, habislah kita … Sudahlah, ayo kita lanjutkan pekerjaan kita.”


“Iy iya ….” Yanih merasa takut dengan ucapan rekan kerjanya itu, mereka pun kembali pada tugas masing- masing.


-


-


Bersambung ….


-

__ADS_1


-


Happy Reading …


__ADS_2